Baksos Keempatbelas: Belajar Bersama Anak Kolong – SJORS Foundation

Saya yakin hampir semua pembaca pernah bertemu mereka: anak2 kolong. Mereka hampir setiap hari kita temukan berkeliaran di berbagai persimpangan jalan besar sembari menadahkan tangan dengan wajah yang memelas, atau berjualan koran atau berlari2an di pinggir jalan. Mereka adalah anak2 kolong yang tidak memperoleh kesempatan untuk tumbuh seperti seharusnya anak2 lain yang lebih beruntung.

Team Baksos AdIns kali ini bekerja sama denngan SJORS Foundation mengadakan kunjungan ke salah satu kolong, tempatnya di bawah Jembatan Tiga, Jakarta Utara untuk berbagi kasih dan belajar bersama.

Bagaimanakah kesan2 mereka terhadap anak kolong ini, marilah kita ikuti kegiatan team Baksos AdIns:

Team Baksos numpang berpose dulu sebelum bertugas🙂

Anak Kolong - SJORS Foundation 1

SJORS Foundation adalah yayasan yang bertujuan untuk memberikan anak-anak kurang mampu kesempatan untuk belajar lebih. Yayasan ini didirikan oleh dua orang teman, Georges Hilaul yang lahir dan besar di Belanda dan pernah bekerja sebagai pengusaha, guru dan pesulap serta Jenny Tjoa warna Negara Indonesia yang sempat tinggal beberapa tahun diluar negeri.

Misi dari yayasan ini adalah mendukung anak-anak tidak mampu dengan memberikan alat-alat yang menginsipirasi dan mendidik guna membantu mereka menciptakan impian dan berusaha untuk memenuhi harapan di masa depan.

Yayasan ini mulai aktif di Indonesia sejak 2011 dan bertempat dibawah kolong jembatan tiga Jakarta Utara. Jumlah anak yang terdaftar sampai dengan kegiatan Baksos yang kami laksanakan kurang lebih 150-200 orang.

Tujuan kami mengadakan Baksos ketempat ini adalah untuk melakukan kegiatan belajar dan kreatifitas bersama, serta memberikan bantuan buku bacaan untuk anak-anak. Kegiatan yang dilakukan selama disana adalah membuat finger painting dan juga clay.

Kesan-kesan yang kami dapatkan setelah melakukan Baksos ini adalah :

Maria C: Kesannya untuk Baksos ke BBS, seru, karena bisa berbagi, bermain sama anak-anak kolong, yang masih belum pernah mengenal kegiatan-kegiatan yang kami adakan (finger painting, clay sculpting).

Walaupun capek, karena berhadapan dengan anak2 kecil (kebetulan kebagian untuk mengajar kelas 1), dimana mereka senang banget ngomong di waktu yang bersamaan dan ingin diperhatikan semua, tapi melihat mereka seperti itu rasanya senang😀

Dari Baksos ini, saya jadi melihat sisi lain dari Jakarta. Biasanya hanya berinteraksi dengan anak-anak jalanan di perempatan lampu merah (saat mereka ngamen ataupun meminta-minta), tapi saat Baksos, jadi bisa ngobrol  dan mengenal sisi lain mereka. Ketika mereka dikasih kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak kota yang mampu, anak-anak ini tidak kalah kreatif dan pintar.

Setiap anak-anak mempunyai hak yang sama untuk belajar, apapun kondisinya, karena masa belajar paling baik adalah masa anak-anak.

Anak Kolong - SJORS Foundation 3

Sumatris : Di kegiatan Baksos ini, anak-anaknya bervariasi tingkah dan perilakunya, jadi disini bisa belajar banyak cara untuk menghadapi anak-anaknya, meskipun terkadang speechless dan bingung karena sudah berlarian kesana kemari, dan ada yang minta tolong dari kiri kanan serta depan belakang tetapi semuanya sangat menyenangkan dan saya berharap dari finger painting dan kerajinan clay yang diberikan di creativity day tersebut bisa menginspirasi mereka

Baksos kali ini cukup berbeda, selama ini kebiasaan untuk berbagi kebanyakan melalui sumbangan materiil, mungkin bisa mencoba meluangkan waktunya untuk berbagi onsite, karena pengalaman dan experience yang didapatkan sangat jauh berbeda. Dan mungkin membuat kita tidak mengeluh-ngeluh lagi akan keadaan kita, tapi bersyukur.

Rolens: Menurut saya, Baksos yang diadakan ini luar biasa, anak-anaknya sangat aktif dan semangat untuk ikut berpartisipasi dengan segala tingkah laku mereka. Ada yang cuman mainan tinta ada yang cuman duduk sambil melihat teman-teman yang lain yang lagi asik mengambar, walaupun seperti itu mereka tetap semangat untuk ikut berpartisipasi dan belajar dengan sungguh-sungguh ditengah keterbatasan mereka. mereka tetap punya semangat lebih.

Saya sudah cukup lama tinggal di Jakarta, tapi inilah pertama kalinya saya melihat sisi lain dari Jakarta, masyarakat yang hidup dibawah kolong jembatan, WC umum yang benar-benar sangat UMUM dan ternyata banyak juga anak-anak yang tinggal dibawah kolong jembatan dengan segala kekurangannya. Kita sebagai orang yang lebih beruntung karena dapat sekolah dengan segala kelebihan yang kita miliki dan dapat bekerja, seharusnya dapat lebih bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan saat ini tanpa harus berkeluh kesah.

Walaupun sudah cukup lama di AdIns, tapi ini adalah Baksos pertama saya, jangan salah saya juga biasanya ikut Baksos tapi cuman dalam bentuk ikutan secara pasif alias ikutan menyumbang, tapi setelah mengikuti Baksos pertama rasanya ingin dibuat lagi. Dan satu hal yang saya pelajari dari kegiatan bakson ini adalah bahwa tidak semua kegiatan Baksos harus berupa materiil yang dapat disumbangkan ke mereka tapi bisa berbentuk tenaga sukarelawan untuk membantu mereka dan belajar bersama.

Overall, Baksos kali ini sangat berkesan mulai dari acaranya sampai dengan kerjasama team yang luar biasa, mau meluangkan waktu untuk melakukan berbagai persiapan mulai dari belanja-belanja, sampul buku, potongin kertas gambar sampai dengan latihan finger painting dan tentu saja terima kasih untuk TEAM BAKSOS AdIns yang sudah mengeluarkan ide yang luar biasa ini.

Anak Kolong - SJORS Foundation 4

Bangkit : Yang membuat terkesan itu awalnya adalah karena ada orang asing/bule yang peduli sama orang Indonesia, agak merasa malu juga sih, yang seharusnya kita lebih deket lha kok kalah sama orang asing.

Ketika hari H di sana, ternyata sambutan anak-anak sangat antusias dengan apa yang kita berikan dimana menurut saya hal yang sangat kecil, tapi anak-anak disana menerimanya dengan meriah.

Ada yang lucu, ada yang nakal, ada yang saling menjahili tapi mereka tetap kompak untuk mengikuti acaranya.

Hal lain yang berkesan dari Baksos ini adalah persiapan dari temen-teman yang begitu semangat mempersiapkan segala sesuatunya membuat kita semakin solid dalam tim. Ternyata kerja sama kita sangat kompak tidak hanya dalam pekerjaan tapi dalam berbagi ke sesama .

Great Job buat teman-teman juga.

Seharusnya apa yang kita lakukan ini berkelanjutan terus dan diadakan secara rutin tidak hanya satu tempat tapi ke berbagai tempat, supaya kita juga semakin terbuka ke lingkungan.

Glen : Awalnya saya mengira ini program gagal karena baksos kok diwajibkan. Lihat anak-anak juga pesimis bakal niat atau ikhlas, tapi ternyata tidak. Teman yang tidak bisa ikutan pun malah memutuskan untuk tetap ikut baksos meski ke team lain. Sumbangan dari dept PPD yang diperkirakan nilanya sekitar 400rbn (20 orang @20 rb), ternyata terkumpul mencapai 1,4 juta. Bahkan ada ide untuk melakukan ide ini rutin 2 bulan sekali. Keren.

Meskipun tidak merasa iba sama anak-anak karena mereka terlihat happy, tapi ada perasaan kesal karena sikap anak-anak yang masih tidak peduli teman-teman mereka. Dari situ justru semakin merasa bahwa kegiatan ini diperlukan untuk mendidik mereka, agar membentuk masyarakat yang lebih baik, dimulai dari anak-anak.

Kita harus bisa mencontoh dari George, walaupun dia adalah warga Negara asing tetapi punya passion untuk menolong Indonesia. Kita harus meningkatkan semangat berbuat baik terhadap sesama, bisa melalui baksos di AdIns maupun ditempat lain.

Anak Kolong - SJORS Foundation 5

Fiona: Senang bisa ikut ambil bagian dari kegiatan Baksos kali ini karena walaupun mereka adalah anak-anak jalanan tetapi mereka sangat antusias / bersemangat saat mencoba finger painting dan juga saat menghias bingkai menggunakan clay. Selain itu, ternyata banyak dari mereka juga yang cukup kreatif mulai dari kelas matahari sampai dengan kelas 6 SD, misalnya ada yang mewarnai 1 halaman kertas, ada yang membuat kepiting,ikan sampai dengan huruf-huruf dengan aneka warna dan bentuk.

Dari kegiatan Baksos kali ini saya bersyukur atas segala hal yang pernah saya peroleh, karena banyak hal-hal kecil bagi kita tapi ternyata bagi sebagian dari “mereka” adalah sesuatu yang wah, misalnya saja ketika bagi-bagi ice cream. Bagi saya ataupun kita pada umumnya ice cream adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, tapi bagi anak-anak ini itu adalah sesuatu yang mewah dan wah.

Muh. Ichsan : Bagi saya ini adalah kegiatan Baksos pertama yang dilakukan dan rasanya senang sekali bisa berbagi dengan anak-anak kolong. Pada saat pembagian tugas kebetulan saya mendapatkan kelas yang konon katanya susah diatur yang isinya adalah anak-anak yang tidak berpendidikan sama sekali, tapi kenyataanya ternyata mereka sama seperti anak-anak pada umumnya. Mereka tertawa riang dan gembira ketika ada temannya yang salah pada waktu melakukan finger painting dan kenyataanya mereka ternyata cukup mudah untuk diatur.

Dari kegiatan Baksos ini saya belajar bahwa kita harus lebih banyak bersyukur atas apa yang telah diberikan karena sebagian besar dari kita adalah anak-anak kecil yang tumbuh hampir tidak punya kekurangan dan bisa belajar saling berbagi. Hidup akan terasa lebih Indah dengan mengucap syukur atas apa yang telah kita peroleh dan saling berbagi.

Gigin : Mendapatkan pemahaman baru tentang sisi lain kota Jakarta dan kehidupan anak-anak di sekitar kolong. Tentang semangat dan rasa ingin tahu anak-anak yang begitu besar untuk mau belajar hal-hal baru. Anak-anak yang selalu ceria, yang sering bertengkar dan mudah memaafkan serta melupakan pertengkaran mereka sebelumnya. Anak-anak yang pantang menyerah dalam menuntut ilmu.

Itu semua memberikan makna tersendiri bagi saya khususnya. Saya mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan dan mendapatkan banyak pelajaran hidup dari mereka dan menimbulkan rasa rindu untuk kembali berbagi dan mengajari mereka banyak hal-hal baru yang bermanfaat untuk masa depannya, karena masa depan mereka masih panjang dan bisa diarahkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bahagia itu bisa datang dari mana saja. baksos ini bisa dijadikan tempat untuk berbagi kebahagian dengan sesama. Jadi kurangilah mengeluh, banyaklah bersyukur  dan mulailah berbagi !! 

Dyah : Waktu pertama datang dan melihat tempatnya menurut saya ini tidak layak untuk dihuni karena kotor dan banyak sampah dimana-mana. Saya kira masih bersih walaupun di bawah jembatan. Kebetulan waktu itu karena saya termasuk salah satu volunteer yang tiba-tiba datang dari Malang hehe, jadi tidak sempat milih kelas, saya kebagian kelas anak-anak TK kelas Matahari. Daaan super duper hiperaktif lari sana sini sampai saya bingung sendiri.

Kelas yang lain mungkin masih bisa gambar yang “ada bentuknya”, di kelas ini gambarnya ga ada bentuknya, sambil bikin prakarya mereka cerita kalau tiap hari mereka tinggal disini, kalau siang mereka sekolah. Ada yang bercerita tentang orang tua, tempat tinggal, dan kegiatan mereka selama tinggal disitu yang akhirnya bikin “melek”.

Selama ini selalu mengeluh sana sini, jadi malu kalau lihat mereka. Dan saya jadi sangat bersyukur bukan karena melihat kekurangan mereka, tapi melihat senyum dan semangat mereka untuk terus belajar dan berusaha. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak🙂

Liliani : Saat pertama kali di beritahukan kegiatan baksos akan mengajar kesenian ke anak-anak kolong jembatan, yang pertama terlintas ke kepala saya adalah bagaimana saya bisa mengajar anak2 itu kesenian padahal saya bukanlah orang yang kreatif dan saya juga tidak begitu suka dengan anak-anak.

Meskipun saya berpikir seperti itu tetapi saya juga senang bercampur gugup dengan kegiatan ini, karena ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan seperti ini secara langsung dan gugup karna tidak tahu akan mengajarkan apa ke mereka dan bisa atau tidak mengajar anak-anak kolong, kerena ketika kecil kalo di suruh gambar palingan gambar 2 gunung, 1 matahari ditengah, sawah dan beserta kawan-kawannya.

Saya memutuskan untuk mengajar anak kelas 6 SD. Ketika sampai dilokasi ternyata seru dan menyenangkan juga mengajar anak-anak untuk berkreasi. Selama proses memperhatikan mereka berkreasi saya sebenarnya cukup kaget dengan perbincangan mereka, soalnya perbincangan mereka lebih ke percintaan, dan perbicangan mereka yg lebih mengagetkan adalah  ternyata pulang kerumah jam 22.00 WIB itu hal yang biasa dan menurut beberapa temannya itu masih tidak terlalu malam alias masih kepagian.

Sempat terlintas dalam pikiran saya, kok  bisa yah mereka pacaran dan pulang jam segitu, emang orang tua mereka tidak memarahi mereka. Tapi saat itu saya pikir ya sudahlah mungkin karna beda zaman dan daerah kali yah makanya beda-beda juga anaknya.

Selain itu saya juga menyadari ternyata anak2-anak yang masih kecil mempunyai kreatifitas yg lebih besar di banding anak-anak yang sudah besar soalnya anak kelas 6 Cuma membuat hasil karya yg sesuai dengan contoh ato Cuma menulis nama mereka sendiri.

Dari kegiatan kali ini saya merasa lebih bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki karna di luar sana masih banyak anak-anak yg kekurangan dalam hidupnya.

Anak Kolong - SJORS Foundation 6

Usfita: Salut untuk semangat anak-anak didik di SJORS, mereka tetap bersemangat untuk belajar walaupun mereka harus belajar dibawah kolong jembatan dalam suasana yang berisik kendaraan seperti itu dan juga untuk ketangguhan mereka, mereka bisa bermain dengan siapa pun yang datang, dan juga menghargai kakak-kakak yang membantu disana.

Mereka yang ikut belajar walaupun di kolong jembatan saja semangatnya begitu besar, seharusnya kita yang di sini tiap hari bisa merasakan internet harus lebih semangat dong belajarnya dan pastinya kita harus selalu bersyukur atas apa yang kita punya.

Nurhayati : Sangat menyenangkan kerena bisa mengajar anak-anak kecil, walaupun itu hanya kerajinan tangan tapi hal seperti itulah yang mereka (anak-anak kolong jembatan) ingin rasakan.

Saat itu saya mengajar anak-anak yang sudah kelas 6 SD , cukup besarlah dibanding yang yang lainnya. Mereka lebih senang sharing tentang percintaan, saya sempat mikir ‘kenapa orang tuanya tidak melarang mereka ya?’ dan dari hal tersebut sebagian besar dari anak-anak yang saya ajarkan lebih focus ke handphone mereka, padahal kalau di rumah saya sangat melarang adik-adikku menyentuh smartphone kecuali ada keperluan.

Saya tidak tahu ini dampaknya negative atau bukan, ‘as long as nilai mereka tidak turun sih saya tidak masalah’ itu yang saya pikirkan.Secara keseluruhan, ada beberapa diantara mereka yang memang benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar gratis ini.

Hal yang paling membuat saya kaget adalah setelah acara baksos selesai, ketika mau berangkat pulang. Saya melihat ke arah kolong jembatan ternyata ini adalah tempat pembuangan sampah dan tinggi kolongnya mungkin tidak seberapa dan ternyata di samping pembuangan sampah tersebut ternyata digunakan oleh masyarakat sebagai tempat tinggal mereka.

Hal ini membuat saya kaget, kagum sekaligus terheran. Kaget karena ternyata ada rumah di kolong tol tersebut dengan tinggi yang seperti itu, kagum karena mereka bisa membuat rumah tersebut dan heran karena bagaimana bisa mereka tinggal dengan tepat disamping rumah mereka adalah tempat pembuangan sampah. Dan dari hal tersebut, saya merasa amat sangat bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki hingga saat ini.

Riri : Senang rasanya dapat mengajarkan anak-anaka tersebut bermain finger painting dan clay, berbaur bersama mereka dan tertawa bersama, hal ini membuat saya dapat lebih bersyukur atas apa yang saya miliki sekarang dan berusaha untuk “stop complaining”, karena tidak semua orang diluar sana merasakan apa yang kita bisa rasakan.

Sudiarto Winata: Menyenangkan dan seru ikutan Baksos walaupun anak-anakanya suka kabur-kaburan, yah namanya juga anak-anak. Saya sendiri juga sempat bingung saat menjawab pertanyaan tentang gambar yang mereka buat itu bagus ataut tidak, walaupun saya sendiri tidak tahu gambar apa yang mereka buat tetapi dengan sedikit pujian atas hasil karya mereka akhirnya kami bisa tertawa bersama dan mereka sangat senang dapat melakukan kegiatan finger painting ini.

Dari kegiatan Baksos ini saya merasakan bahwa saya harus dapat lebih bersyukur atas apa yang saya miliki karena masih banyak orang di luar saya yang tidak seberuntung saya.

Danny : Ini adalah aktivitas pertama saya lakukan untuk mengajar anak-anak kurang mampu. Meskipun mereka tergolong anak-anak kurang mampu tetapi mereka memiliki spirit yang tinggi dengan segala keterbatasan ekonomi mereka. Mereka tetap semangat belajar dan bermain, bahkan ada anak yang datangnya lebih pagi dari kami-kami ini.

Bagi saya arti dari kegiatan Baksos ini adalah untuk mengajarkan kepada kita semua untuk dapat mensyukuri apa yang sudah kita punya, karena di luar sana banyak orang yang kurang mampu untuk mendapatkan hal yang sepantasnya.

Yoga : Selama melakukan kegiatan disana rasanya sangat menyenangkan dapat mengajar mereka walaupun saya sendiri tidak mahir mainan finger painting, dapat tertawa dan bercanda bersama.

Dari kegiatan Baksos ini saya merasa bahwa harus lebih lebih bersyukur atas apa yang telah saya peroleh di dunia ini, dan dari kegiatan ini saya dapat melihat dan mengenal lingkungan sekitar saya yang ternyata tidak seindah yang saya bayangkan. Selain itu juga  ternyata masih banyak orang yang perlu bantuan terutama pendidikan di kalangan anak-anak, tidak selalu harus berupa materi, tetapi dapat berupa pemikiran dan waktu.

Anak Kolong - SJORS Foundation 7

Edward: Sangat menyenangkan, terutama ketika melihat anak-anak begitu bahagia dalam bermain finger painting, mereka punya semangat serta aktif dalam kegiatan bermain.

Lusi : Sangat senang bisa punya kesempatan untuk ikut serta dalam Baksos di kalangan anak kolong jembatan dan hasilnya sangat diluar dugaan, karena tidak semudah yang dibayangkan.

Mengajar anak-anak kecil dengan berbagai jenis karakter, dengan sikap yang berbeda-beda dari situ mendapatkan pengalaman bagaimana menghadapi anak kecil sesuai dengan kepribadiaannya. Sedikit bertanya-tanya kepada sebagian dari mereka ternyata mereka memang memiliki orangtua yang (maaf) kurang mampu, dan karena kurang perhatian sehingga anak-anak itu bisa dibilang beda dengan anak-anak yg lain yg banyak diajarkan dan ditanamkan nilai-nilai oleh orangtuanya.

Saya bersyukur atas semua yang telah saya dapatkan dimasa kecil saya dan berusaha untuk lebih berpikiran terbuka.

Anggiat : Seru banget, soalnya ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi tempat seperti ini dan juga baru pertama kali bermain finger painting. Diawalnya sih cukup sulit mengatur mereka untuk tetap kumpul di lingkaran kelas mereka, apalagi pada saat menjelaskan cara melakukan finger painting, tetapi ketika sudah saatnya untuk prakteknya, ternyata mereka langsung sangat antusias untuk mencoba yang namanya finger painting.

Walaupun sedikit lelah mengatur dan mengurus mereka, tapi melihat mereka bahagia dan senang serta tertawa membuat semua rasa lelah tersebut terbayarkan dan sangat puas rasanya.

Dengan kegiatan ini saya menyadari bahwa saya harus lebih bersyukur dan menghargai apa yang telah saya dapatkan, karena belum tentu apa yang kita punya orang lain juga mempunyai itu.

Bong Ridwam : Seru sekali bisa berbagi kasih bersama mereka yang nasibnya sering terlupakan. Setidaknya, apa yang kita lakukan untuk mereka dapat memberi seberkas warna indah untuk memotivasi mereka menjalani tantangan hidup yang keras ini.

Kita perlu menunjukan rasa syukur kita dengan melakukan segala sesuatunya dengan yang terbaik. Dengan demikian, kita menghargai setiap kesempatan yang ada dalam hidup kita. Jika ada yang berputus asa, cobalah lihat keluar sana, masih banyak mereka yang lebih buruk keadaannya dan menginginkan posisi di mana kita berada.

Jangan sia-siakan waktu hidup yang tersisa. Ingatlah untuk berbagi kasih yang nyata untuk mereka yang ada di sekitar kita.

Karena berbagi itu indah dan dapat memberi mereka harapan untuk hari esok yang lebih cerah.

Anak Kolong - SJORS Foundation 2

—————————————————————————————————

Salam,

Guntur Gozali,

Jakarta, Kebon Jeruk,

Minggu, 19 Juli 2015, 19:45

http://www.gunturgozali.com

http://gunturgo.wordpress.com

Baca juga:

– Baksos Ketigabelas: Korban Kebakaran Tanah Abang

– Baksos Keduabelas: Apresiasi Kepada Suku Dinas Kebersihan Kebon Jeruk

– Baksos Kesebelas: Panti Werdha Marfati

– Baksos Kesepuluh: Pendidikan Luar Biasa – Bakti Luhur Malang

– Baksos Kesembilan: Panti Asuhan Nusantara Foundation

– Baksos Kedelapan: Panti Tuna Netra – Yayasan Mitra Netra

– Baksos Ketujuh: Kunjungan ke Pasien dan Keluarga di RS Dr. Cipto Mangunkusumo

– Baksos Keenam: Panti Anak Down Syndrome – Yayasan Tri Asih

– Baksos Kelima: Anak Cacat Ganda – Yayasan Sayap Ibu – Bintaro

– Baksos Keempat: Berbagi Ilmu di Rumah Sakit Jiwa DR. Soeharto Heerdjan

– Baksos Ketiga: Rumah Singgah Anak Kanker YKAKI – Bandung

– Baksos Kedua: Pemakaman Umum Lenteng Agung

– Baksos Pertama: Rumah Singgah Sekar

– Menolong Orang Itu Keren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s