Ketika AI Kabur dari Sandbox

Pelajaran dari insiden OpenAI dan Hugging Face

Disclaimer:

Tulisan saya ini tidak bermaksud untuk menguliahi, menggurui atau menakut2i, tetapi untuk membuka wawasan kita semua akan potensi luar biasa AI yang saat ini sudah menjadi makanan sehari2 hampir seluruh Masyarakat pengguna internet. Tulisan ini saya research menggunakan AI, termasuk juga beberapa bagian penulisannya.

Pertama2 perkenankan saya menyapa pembaca setia saya yang masih tetap mengunjungi blog saya meskipun sudah hampir 3 tahun saya tidak menulis.

Kali ini, ditengah kemalasan saya akibat banyaknya hiburan di telapak tangan saya (baca: HP :)), saya memaksakan diri untuk untuk mengetikkan tulisan yang menurut saya sangat perlu teman2 ketahui mengenai resiko terbesar AI yang mungkin belum terbayang selama ini. 

AI berpotensi lebih berbahaya dibanding NUKLIR

Ini adalah pernyataan salah satu dedengkot AI yang juga merupakan pengusaha terkaya di dunia, Ellon Musk. Pada bulan Agustus 2014 (dua belas tahun lalu) melalui account Twitter (sekarang X) pribadinya dia mengatakan: 

“Kita harus sangat berhati-hati dengan AI. Berpotensi lebih berbahaya dibanding nuklir.”

Hal ini dia sampaikan setelah membaca buku berjudul Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies karya filsuf Nick Bostrom.

Continue to page 2 —> please click 2 below…

Camino de Santiago: 2.8. Physical and mental preparation

2.8.        Physical and mental preparation

Kuat gak ya saya menjalani ziarah ini? Inilah pertanyaan yang mengelayuti kepala saya sejak saya mulai serius ingin menjalaninya. Tidak ada satupun jawaban yang memuaskan pertanyaan saya ini, bahkan semakin mendekati hari H, semakin saya tidak yakin akan mampu menjalaninya.

Nah pada bagian ini saya akan mencoba memberikan jawaban yang saya harapkan bisa paling tidak memberikan gambaran ke teman2 pembaca di dalam mempersiapkan diri menjalani ziarah ini.

Bagian persiapan fisik dan mental ini bagi saya adalah salah satu bagian yang paling menarik, karena dari pengalaman menjalani ziarah ini saya menjadi semakin menyadari bahwa ternyata kekuatan mental itu jauh lebih penting daripada kekuatan fisik.

Continue reading

Camino de Santiago: 2.7. Essential Gear & Packing Tips

2.7.       Essential Gear & Packing Tips

Setelah kita membicarakan semua hal2 penting mengenai perjalanan ziarah Camino ini, dan pembaca sudah merasa mantap untuk menjalaninya, maka mari kita bicarakan Gear atau peralatan penting yang perlu benar2 dipersiapkan.

Pada bagian ini saya tidak akan merinci seluruh peralatan yang diperlukan, untuk itu saya akan membahasnya secara detail di bagian kedua tulisan saya. Pada postingan ini, saya hanya akan membahas perlengkapan yang paling penting yang perlu kita perhatikan dan persiapkan.

Banyak sekali peralatan kecil lain yang akan saya bahas pada bagian kedua tulisan saya, yang tadinya tidak terpikir ternyata menjadi sangat penting ketika kita menjalani ziarah panjang ini. Continue reading

Camino de Santiago: 2.6. Cost

2.6.        COST

Pertanyaan yang juga sering ditanyakan teman2 ke saya adalah mahal gak sih ziarah Camino de Santiago ini ? Mahal apa nggak sangat tergantung, keinginan dan kesanggupan kita tentu ya. Sorry memang tidak ada jawaban textbook disini.

Secara umu, logikanya pasti lebih murah daripada perjalanan ke luar negeri dalam rangka plesiran atau hura2, karena selama perjalanan ziarah ini yang pasti biaya transport sangat minim karena hanya pakai kaki… :), selain itu tentu penginapan dan makanan yang menurut pendapat saya sangat sederhana.

Selebihnya adalah tiket dan dokumen2 yang akan saya uraikan secara singkat berikut ini: Continue reading

Camino de Santiago: 2.5.6. Receptionist

2.5.6.     Receptionist

Hal lain yang tidak umum saya alami adalah ketika check in di penginapan. Hal ini juga perlu teman2 ketahui supaya tidak bingung seperti yang saya alami :). Mungkin karena tenaga kerja mahal disana, maka resepsionisnya bisa merangkap apa saja, ibu rumah tangga, pelayan restaurant, penjaga mini market dll :).

Ini hal yang umum disana, tapi bukan hal umum bagi kita, jadi jangan berharap kita akan dilayani dengan welcome drink segala… hahaha… boro2 welcome drink, yang melayani bisa kasir atau pelayan resto dimeja yang bukan untuk menerima tamu :).

Biasanya ketika kita tiba di hotel, setelah melalui pintu masuk, kita langsung berhadapan / menuju meja resepsionis kan? Bahkan di kota kecil tempat kelahiran saya di Kotabaru Pulau Laut nun jauh terpencil di Tenggara Kalimantan sana, yang namanya Hotel ada tuh yang meja receptionist dan penerima tamunya.

Nah di beberapa hotel di Spanyol, tidak memiliki meja resepsionis khusus. Kita bisa saja masuk melalui restaurant atau melalui mini market, kemudian dilayani oleh pelayan restaurant atau pelayan minimarket, check in di meja bar atau cashier untuk diberikan kunci kamar :). Bingung kan… pada awalnya saya benar2 bingung, celingak celinguk seperti monyet kebingungan gitu. Lha judulnya Hotel tapi kok saya disuruh masuk ke resto? wkwkwkwk… Continue reading