Masih seputar AC Inverter

Tulisan saya mengenai AC Inverter, AC Inverter, Apa Sih Hebatnya?, yang saya post sejak tanggal 26 July 2012, ternyata hingga hari ini, sudah hampir setahun, setiap hari selalu menjadi referensi pembaca yang mungkin kepanasan dan kebingungan di dalam menentukan jenis AC yang hendak dibelinya.

Beberapa pembaca masih menanyakan hal yang sebenarnya sudah dibantu jawab oleh beberapa pembaca yang mau berbaik hati berbagi pengalaman di bagian komentar. Namun karena tidak semua pembaca membaca bagian komentar yang banyak berisi info2 berguna, maka disini saya copy paste komentar2 itu agar pembaca bisa lebih mudah memutuskan untuk membeli AC jenis apa.

Terus terang saya seperti didaulat menjadi ahli AC, padahal kagak ngerti apa2 mengenai jeroannya AC J. Nah mudah2an info di bawah bisa membantu:

Anonymous, July 27, 2012

Leie, urun rembuk yang aku tau ya…

soal mahalnya ac inverter dan penghematan listrik memang belum tentu sepadan memang.
Apalagi kalau yang dipikirkan adalah hemat listrik dalam arti hemat biaya. (rupiah)
hal ini kita perlu pelajari lebih cermat.
maksudku begini.

AC inverter , pemakaian daya listrik nya tentu lebih rata, katakan 600 W x 8 jam.
AC konv, pemakaian dayanya bisa jadi 900 W x 5,5 jam , karena 2,5 jam diantaranya off.
jadi bedanya tidak seberapa.

Dalam hal ini oleh orang marketing AC inverter seringkali digembar gemborkan bahwa AC inv hanya butuh daya 600 w sedang AC konv 900 W

Energi (kWh) = Daya (kW) x Waktu (h)
dan yang kita bayar ke PLN adalah Energi. (kWh)

AC inv hemat daya( kW) memang iya, tapi… belum tentu menghemat Energi (kWh)

Pipa khusus untuk AC Inverter ?
Sebenarnya pipa khusus yang dikatakan penjual memang ada benarnya, tapi sebenarnya
lebih karena yang dipakai adalah refrigerant 410A.
R 410A ini mempunyai tekanan kerja kira kira 2x dari Freon R22 . ( unit2 AC lama pakai R22)
jadi dibutuhkan pengantian pipa bukan karena sifat korosif , tapi lebih karena tekanan kerja unit dengan R 410 memang lebih tinggi.

Proses pendinginan AC inv lebih lama dari AC konv ?
Mestinya ya tidak ya…, kalau cooling capacitynya sama .
coba check di name platenya kalau mudah n masih ada tertempel berapa Btuh atau berapa kW
cooling capacity dari unit baru n lama kamu…
Awas pinggang kecentit lho !

Wis wis … tak kerja lagi aku…

Josh, November 12, 2012

@Guntur Gozal:


hal yg sama jg sy alami, setahun yll sy mengganti AC kamar sy dg 1 PK Inverter, yg semula ½ PK, (ke2nya merk P*****c) dg harapan bs lbh dingin dan hemat listrik. Tapi ternyata hasilnya tdk seperti yg dibayangkan, bahkan kalah dingin dengan AC yg sebelumnya yg hanya ½. PK.
Td mlm sy ukur dengan Termometer ruang, hanya menghasilkan angka 26~27˚C utk setelan 17˚C di ACnya.
Kalah dingin dg kamar lain yg menggunakan AC conventional yg semuanya sy pasang AC ½ PK (luas kamar hampir sama).

Josh, November 14, 2012

Barusan ktmu tman yg pk MKP, katanya freon hrs diisi dg tekanan150, biar bs dingin (+/- 500rb). Dia pasang di posisi 21 dianya kedinginan.

Josh, November 19, 2012

MKP & KKP saya sudah diisi sampai tekanan 150psi (kondisi hidup) utk kondisi mati terukur 120psi.
Sudah saya ukur suhu ruang, di posisi 24˚C thermometernya tepat menunjuk ke angka 24 dan saya turunkan ke 20˚C angka thermo juga menunjuk ke angka 20.

Tadi malam saya pakai AC sudah di posisi 24˚C, sudah tidak perlu lagi di posisi 16/17˚C.

Kris, February 23, 2013

Saya kebetulan google ttg ‘AC Inverter’ dan mendarat di sini.
Agak sedikit terusik dengan pengalaman Pak Guntur dengan AC inverter.
Kebetulan saya sendiri punya usaha yang bergerak dibidang elektronik dan khususnya AC.
Di rumah saya pun sudah menggunakan 2 buah AC inverter selama 3 tahun lebih (dugaan saya merk yang sama dengan initial P).
AC 1.5pk untuk kamar tidur utama dan 1pk untuk kamar tidur anak.
Selama ini performanya memang seperti yang diharapkan atau di-iklan-kan, lebih cepat dingin dan tagihan listrik turun cukup signifikan.
Dan ini juga yang meyakinkan saya untuk encourage konsumen untuk memilih AC inverter untuk digunakan di kamar tidur.

Memang teknologi inverter masih relatif baru untuk AC.
Paling, baru 6 tahun beredar di Indonesia.
Edukasi tentang AC inverter lewat media massa lebih berbau marketing, ketimbang ulasan plus minusnya AC inverter itu sendiri.
Kalau boleh saya izin sharing sedikit tentang AC inverter, yang mana mungkin bisa menjadi input buat Pak Guntur atau para pembaca yang lain.

Yang pertama harus diluruskan adalah pipa khusus AC inverter sebenarnya salah kaprah.
Lebih tepatnya, sistem AC yang menggunakan refrigerant (freon) R410A, diwajibkan oleh produsen AC untuk menggunakan standard material pipa tembaga dengan ketebalan d=0.61mm.
Kebetulan saat ini semua AC inverter branded (kecuali Daikin seri FTKD) menggunakan refrigerant R410A.
Sementara AC non inverter masih menggunakan R22 yang sudah dikurangi penggunaannya secara bertahap dalam kaitannya dapat merusak lapisan ozon.
Konvensi PBB menetapkan R22 akan stop diproduksi hingga tahun 2030 nanti.

Karakteristik R410A sebagai refrigerant dalam sistem AC, bekerja pada tekanan yang hampir 2x lebih tinggi dari R22, sehingga butuh spec dinding pipa yang lebih tebal.
Tekanan R22 paling rendah di dalam instalasi pipa AC nya berkisar 70-80 psi
Tekanan R410A paling rendah di dalam instalasi pipa AC nya berkisar 120-130 psi
Sebagai pembanding tekanan ban mobil 30-an psi

Untuk itu beberapa merk pipa AC yang sering direkomendasikan misalnya Hoda, Saeki atau Tateyama sesuai dengan kebutuhan R410A. Atau dengan produk pipa tembaga Australia merk Kembla atau Crane Enfield tentu lebih baik lagi.

Refrigerant R410A ini juga bekerja dengan lubricant/pelumas khusus (ester based) yang tidak boleh kontak dengan udara atau tercampur oli ex R22 (instalasi lama), agar fungsi pelumasan pada kompresor bekerja dengan baik (kompresor tidak macet/tersendat-sendat).
Untuk itu, saat pemasangan unit AC, instalasi pipanya wajib di vacuum.
Pengetahuan dan pengalaman teknisi dalam instalasi unit AC nya sangat menentukan performa AC nya.

Yang kedua, tentang AC inverter dan AC konvensional
90% orang yang mengganti AC lamanya dengan AC inverter akan mengatakan AC inverter tidak sedingin AC lamanya. Dan memang demikian kenyataannya.
Dengan AC konvensional, jika suhu remote di set 25C, dinginnya tidak stabil. Kadang cukup memadai dinginnya, kadang kurang dingin. Sehingga umumnya remote di set 22C atau 23C, agar dinginnya lebih stabil. Bila diukur dengan thermometer ruangan, suhu yang terjadi di dalam kamar paling berkisar 24-25C dan semakin menjelang pagi dimana suhu udara di luar rumah sudah lebih dingin, maka suhu di dalam kamar semakin mendekati 22C atau bahkan melampaui hingga 21C.
Dengan setting remote pada 22C hampir dipastikan kompresor di outdoor unit sangat sedikit beristirahat. Sehingga tagihan listrik bisa diasumsikan = lamanya AC dinyalakan x daya kompresor x TDL

AC inverter cukup di setting 24C atau 25C. Pada suhu ini, umumnya dinginnya terasa pas tidak berlebihan. Apapun yang terjadi, misalnya diluar tiba-tiba hujan lebat, AC inverter dengan regulasinya berusaha mengunci suhu yang terjadi di dalam ruangan tetap pada 24 atau 25C sesuai setting pada remote. Sebagai kompensasinya, ia menurunkan daya listriknya. Disini letak hemat tagihan listriknya.

Namun jika mau memaksakan agar AC inverter bekerja layaknya AC konvensional, tidak perlu menurunkan daya, selalu bekerja full power, maka ini bisa diakali dengan setting remote pada suhu terendah 16C, yang mana suhu tersebut tidak akan pernah bisa dicapai oleh AC, sehingga inverter tidak akan berfungsi.

Jadi sebenarnya perlu ada penyesuaian dari pemakainya bila hendak menggunakan AC inverter, misalnya tidak perlu lagi selimut yang tebal untuk tidur. Tidak perlu lagi baju piyama lengan panjang dan celana panjang.
Dengan AC inverter, saya bangun pagi tidak pernah merasa kedinginan.
Memang diawal saya harus beradaptasi dulu, tapi sekarang sudah terbiasa.

Semoga bermanfaat..

Sedikit tambahan informasi : korelasi antara tekanan refrigerant R410A, kapasitas pendinginan dan konsumsi listrik.
Tekanan R410A yang diukur (pada suction kompresor) :
120 psi identik dengan 4.9 ‘C
130 psi –> 7.2 ‘C
140 psi –> 9.6 ‘C
150 psi –> 11.8 ‘C
Dengan instalasi pipa AC yang pendek dan tidak berliku-liku, suhu di atas bisa diasumsikan sebagai suhu refrigerant di dalam evaporator indoor AC.
Bahasa sederhananya, tekanan freon menentukan suhu evaporatornya.
Yg sebenarnya terjadi di dalam evaporator adalah freon cair mendidih menjadi freon gas pada suhu dan tekanan seperti di atas.
Seperti halnya air yang dipanaskan (menyerap panas) dan mendidih pada suhu 100C pada tekanan 1 bar (tekanan udara pada sea level).
Tapi di gunung/dataran tinggi, tekanan udara lebih kecil dari 1 bar, sehingga air pun mendidih pada suhu <100’C

Memang dengan tekanan 120psi, didapatkan suhu refrigerant yang lebih dingin dibandingkan 140psi. Tapi justru kapasitas pendinginan AC pada setting-an 140psi lebih besar dari pada 120psi.
Penjelasannya, semakin tinggi tekanannya berarti semakin banyak jumlah freon yang harus dimasukkan ke dalam sistem AC. Ini paralel dengan semakin banyak freon cair yang terjadi di dalam evaporator saat kompresor bekerja.
Sebagai ilustrasi, tekanan 120psi, hanya 1/4 bagian evaporator yang dingin / terisi freon cair dengan suhu 4.9 ‘C.
Sementara 140psi, lebih dari setengah evaporatornya terisi freon cair dengan suhu 9.6 ‘C.
Jika di total jendral, jumlah panas yang diserap oleh refrigerant pada ilustrasi dengan tekanan 140psi lebih besar dibandingkan dengan 120psi.

Disisi lain dengan semakin tingginya tekanan, beban kompresor juga lebih tinggi, yang artinya ampere listriknya lebih tinggi (walaupun tidak terlalu signifikan), yang berbanding lurus dengan daya konsumsi listrik dan tagihan listriknya.
Pada outdoor unit selalu terdapat plakat/sticker yang tertera batasan arus listriknya.
Ini semata-mata untuk durability dan life time dari kompresornya.

Sebagai catatan : Tekanan freon pada AC inverter tidak konstan seperti pada AC konvensional. Dia bervariasi tergantung dari rpm putaran kompresor yang diatur oleh controller inverternya.

————————————————————————————–

Semoga rangkuman sharing dari pembaca di atas bermanfaat sehingga pembaca bisa memilih AC yang paling tepat, sehingga bisa tidur nyenyak sambil ‘krukupan’ di bawah selimut…Brrrrr….🙂

Saya berterima kasih kepada pembaca yang luar biasa, yang mau bersusah payah meluangkan waktunya untuk berbagi. Semoga Tuhan memberkati bapak2/ibu2 semua.

Saya rasa demikianlah seharusnya blog itu berada, sebagai tempat kita berbagi rasa dan pengalaman, baik atau buruk. Bukan hanya mengambil ilmu tetapi tidak bersedia berbagi.

Semoga semakin banyak pembaca yang mau berbagai ilmu dan berbagi rasa.

Ohhh betapa indahnya berbagi🙂

 

Salam,

 

 

Guntur Gozali

3 thoughts on “Masih seputar AC Inverter

  1. Akhirnya sy membeli AC Inverter (nekat) soalnya penasaran. Pilihan jatuh pada merk P*****C 1 pk (CS-S10**P).
    Sebelumnya saya memakai AC Funai (asli made in Japan) 1 PK yang akhirnya harus pensiun setelah 16 tahun++ berbakti.

    Pengalaman pertama soal AC inverter ini:
    Dari sisi part:
    Unit outdoor nya enteng banget ya.. diangkat oleh 1 orang saja kuat, beda dengan AC Funai lama saya yg harus diangkat keroyokan bertiga baru kuat. Semoga aja kualitasnya gak byk “disunat” dibanding AC lama😀

    Pemakaian:
    Lebih cepat dingin, hmm ini betul sih (saya set di 23-24 derajat), tapi setelah itu suhu tidak kunjung mendingin lagi (alias sensasi super sejuk ala AC lama hilang), beda dengan sensasi AC Funai saya yang dinginnya lebih lama tp kontinyu (dengan settingan yang sama), jadi saya simpulkan sementara AC ini memang lebih ditujukan untuk kestabilan suhu. Buat yg ingin AC dengan sensasi dingin yang tinggi, disarankan memilih AC biasa. (Saya juga bandingkan dengan AC C********g 2 PK di ruang tengah dimana sensasi sejuk ala AC biasa sangat terasa.

    Di manual disarankan setting suhu 25 derajat untuk penghematan listrik maksimal (untuk penghematan saya belum ukur karena umur AC baru 3 hari 2 malam)

    Note: saya tetap menggunakan freon R22 , bukan R410A😀. Luas ruangan sekitar 22 m2

    Salam,
    Chris
    http://www.satyrwebstore.web.id

  2. Kalo ada yg bilang ac inverter tdk dingin mungkin itu hanya sugesti saja, karna saya pernah memasangkan dua unit ac di kamar juragan kaya dgn merk ac P….C, yg kamarnya lumayan besar yg menurut teori perhitungan, ac1 pk tdk akan cukup terasa dingin di kamar tsbt. Saya pasang 1 unit ac konvensional 1 pk, si juragan merasa kurang dingin, dan akhirnya juragan pasang lagi 1 pk yg inverter, ternyata ruangan yg lumayan besar tersebut cukup terasa dingin dgn hanya menggunakan ac 1 pk yg inverter saja, sementara yg 1 pk ac konvensionalnya tdk digunakan, hanya sebagai cadangan saja. Semoga pengalaman saya bermanfaat untuk an ada yg sedang bimbang menentukan pilihan jenis ac nya, Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s