Baksos Keenam: Panti Anak Down Syndrome – Yayasan Tri Asih

Panti down syndrome? Untuk kesekian kalinya saya mengernyitkan alis atas usulan Panitia untuk berbagi kasih ke anak2 di panti down syndrome. Namun saya mengiyakan saja selama tujuannya adalah agar mereka bisa memberikan sesuatu ke anak2 itu.

Tetapi sebenarnya, saya sendiri tidak tahu secara pasti kriteria anak2 down syndrome yang dititipkan di panti itu, hingga team baksos membagikan pengalamannya.

Bagaimana dengan pembaca tercinta, apakah pernah berkunjung ke panti seperti ini? Jika belum, mungkin ada baiknya membaca pengalaman team baksos AdIns mengunjungi mereka di Yayasan Tri Asih:

YDS 1

Yayasan Tri Asih adalah tempat rehabilitasi bagi penyandang tunagrahita. Di tempat ini mereka menerima pendidikan dan pengajaran, pelbagai terapi dan pelatihan kerja. Selain itu, Yayasan ini juga menerima penitipan dan perawatan bagi penyandang tuna grahita berat.

Lokasi : Jl. Karmel Raya No. 2, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Tujuan dari baksos ini adalah untuk berbagi senyum dan keceriaan pada anak-anak penderita Down Syndrome, dan memberikan pengalaman baru bagi karyawan AdIns untuk berinteraksi dan berbagi pada anak-anak penderita Down Syndrome.

Kesan – kesan yang kami rasakan ketika mengikuti baksos ini adalah :

Immanuel : Anak-anak down syndrome??? Pertama sekali yang terpikir oleh saya anak down syndrome itu seperti anak-anak yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), namun ternyata tidak. Anak down syndrome memiliki tingkatan. Anak-anak down syndrome yang ada  di Yayasan Tri Asih adalah yang memiliki IQ dibawah 30.

Jujur saja sesampainya di Yayasan Tri Asih, saya masih bingung bagaimana caranya untuk bersikap terhadap mereka. Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah mewarnai. Dalam kegiatan mewarnai ini saya mengetahui bahwa mereka masih banyak yang kesulitan untuk mengenal warna.

Saya membantu mereka dengan menunjukkan warna yang sesuai. Selain itu kami juga bernyanyi bersama dengan mereka, dan ternyata dengan keterbatasan yang mereka miliki tidak membuat mereka menyerah. Lagu yang paling fenomenal yang kami nyanyikan adalah lagu Indonesia Raya. Hahahaha…. ya lagu Indonesia Raya, ga pernah terbersit sedikitpun kalau mereka mampu menghapal dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Ini adalah baksos pertama yang pernah saya ikuti dan juga memberikan banyak arti bagi saya sendiri. Mereka dengan kemampuan terbatas masih memiliki semangat yang sangat besar untuk berjuang. Padahal sering sekali kita mengeluh dengan segala kelebihan yang kita miliki. Kegiatan ini mengajarkan saya untuk harus selalu bersyukur dalam setiap keadaan baik susah maupun senang.

Peppy : Pertama kali dapat undian untuk baksos ke panti DS saya bingung karena saya tidak tau bagaimana anak DS itu. Ini bukan baksos saya pertama, sebelumnya saya pernah baksos ke panti cacat mental dan juga panti jompo. Saya kira awalnya panti DS ini anak2nya akan sama seperti panti cacat mental.

Ketika saya survey ke sana dan melihat langsung, anak2 panti ini tampak normal seperti kita, hanya kalau diperhatikan lebih dekat, ada yang berbeda terutama di bagian pandangan mata, walaupun ada juga yang mencolok secara fisik tampak tidak seperti kita yang memiliki tubuh yang normal. Dan saya juga kesulitan untuk mencari aktivitas yang cocok untuk mereka yang memiliki IQ < 30.

Akhirnya setelah diskusi dengan bapak pengurus panti saya mengajukan untuk acara yang akan kami lakukan adalah mewarnai dan menyanyi bersama. Anak DS merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Sehingga dari segi makanan minuman dan juga aktivitas sangat dijaga karena bisa memicu agresivitas dan hal lain yang tidak diinginkan.

Ketika akhirnya 21 Maret lalu kami mengadakan baksos di Panti DS Yayasan Tri Asih yang terletak di belakang gereja MBK, kita diberi kesempatan bermain dengan anak2 panti dari jam 9-11. Kami datang membawa bantuan berupa sembako dan sempat dibriefing dulu dengan bapak pengurus panti.

Bapak Ignatius Widhi berkata bahwa panti tersebut sangat banyak yang mengantri untuk memasukkan anaknya ke sana, tapi panti tersebut sangat tidak mampu / kewalahan. Anak DS membutuhkan pengawasan 24 jam, berarti dalam 1 hari butuh 3 kakak pendamping untuk mengurus anak2 tersebut. Dan rata2 tidak ada orang yang betah untuk mengurus mereka.

Saya sendiri membayangkan bagaimana jika saya yang harus mengurus mereka, belum tentu saya mampu. Bayangkan betapa kesabaran dan ketelitian yang dibutuhkan oleh para kakak pendamping, anak2 DS untuk buang air saja tidak bisa bilang, sehingga selalu ngompol dan ngobrok sembarangan, dan kakak2 panti inilah yang mengurus mereka.

Dan sebagian dari anak2 DS ini juga hyperactive tidak bisa bersikap tenang, ada yang suka menjahilin temannya seperti anak kecil pada umumnya, tetapi kadang juga suka menusuk temannya dengan pensil dan juga menggigit temannya. Tidak semua anak panti ini usia anak-anak, yang paling tua yang saya temui disana dipanggil Oma dengan usia 50 tahun, sudah tidak bisa berkomunikasi.

Saya banyak menghabiskan waktu di sana menemani seorang anak berusia 25 tahun bernama Putra, satu hal yang sangat membuat saya tak berdaya adalah ketika dia mengatakan bahwa dia sudah tidak punya ortu. Ayahnya meninggal 2010 karena sakit jantung dan ibunya meninggal 2011 karena sakit paru2. Saat itu saya yang biasanya suka ngomong merasa tidak punya kata2 penghiburan yang pas untuk saya berikan ke dia.

Satu lagi ada anak yang ketika hari itu berulang tahun, ortunya menjanjikan akan datang di hari ultahnya, tetapi hari itu tidak ada kabarnya dan tidak datang dan anak tersebut ngambek. Saya bayangkan bagaimana rasanya jika sehari2 sudah dititipkan di panti dan bahkan pada hari spesial dia pun orang yang mungkin dia kasihi satu2nya ya itu ortunya juga tidak muncul sama sekali tanpa kabar. Yang saya pikirkan adalah apakah terlalu muluk untuk mempunyai harapan bagi mereka bertemu dengan ortunya di hari ultahnya?

Perasaan haru lainnya mengalir ketika tiba saatnya kami menyanyi bersama, pertama ada anak yang maju dan menyanyi lagu the Changcuters yang sangat menghibur sekali karena kita bisa bergembira bersama, tetapi ketika seorang anak bernama Wira yang maju menyanyi lagu Kemesraan dan kita menyanyi bersama di situ saya serangan perasaan haru yang menjadi-jadi.

Tak ingin rasanya pulang dan tetap menyanyi dan bergembira bersama mereka, tetapi ya krn mereka tidak boleh terlalu capai akhirnya kami harus pulang dan sebelum pulang Bapak Widi kembali bercerita kepada kami. Bahwa beberapa anak di panti sudah tidak memiliki ortu dan saat ini dibantu oleh saudara2nya. Dan beberapa saudara sudah bilang ke bapak panti bahwa mereka hanya akan membantu mendanai anak tersebut hingga usia tertentu, setelah itu tidak ada dana lagi, krn menganggap tanggung jawab mereka terhadap ortu anak tsb sudah selesai.

Maka dari itu Bapak panti mengajak jika kita memiliki uang lebih 10rb saja sebulan maka tolong bantu mereka, bahkan jika kita datang hanya dengan bermodalkan 1 karung beras sekalipun dipersilahkan.

Saya merasa baksos seperti ini harus sering-sering diadakan / direalisasikan termasuk dari tim baksos jika ada event undang AdIners sehingga kita juga bisa ikut join.

Pada baksos kali ini insight yang saya dapat, saya harusnya bersyukur karena saya memiliki kondisi yang normal, bisa mandiri dan tidak ditinggalkan oleh ortu saya, saya bisa tumbuh dengan fasilitas yang lebih baik dibandingkan mereka tetapi justru kadang saya masih sering mengeluh dan tidak mensyukuri apa yang saya punya.

Ketika kita selalu membandingkan kehidupan kita dengan yang di atas kita juga harus membandingkan kehidupan yang kita punya dengan yang ada di bawah kita. Karena selalu ada orang lain yang pasti berandai-andai memiliki kehidupan yang kita punya sekarang yang tidak kita syukuri.

Menyanyi bersama

YDS 2

Wiwin : Awalnya ketika diberi tau bahwa tim  saya akan baksos ke panti down syndrome, agak bingung juga, mau ngapain ya di sana, acaranya apa ya,  nanti anak anaknya bisa ngikutin atau nggak ya. Setelah survey ke sana pun masih tetap bingung, mau ada acara apa, pesan dari pak Pembina pokoknya yang mudah saja, karena penghuni panti memang IQ nya di bawah 30.

Sampai dengan hari hari terakhir, saya masih bertanya ke bapaknya via telepon kalau mewarnai gimana pak, kalau main puzzle gimana pak, jawaban bapaknya tetap konsisten, yang penting yang mudah, dan mesti didampingi anak anaknya  jangan sampai dengan property yang ada, anak anak ini jail malah dibuat colok mata temennya,  dilempar ke temannya.

Ketika Hari H, kami datang, disambut sama anak anak di sana, surprise banget sama antusiasme dan semangat mereka. Acara hari itu, kami mewarnai dan menyanyi bersama. Ketika acara mewarnai, ada penghuni yang bahkan membuka karton pensil warnanya tidak bisa, memegang pensil tidak bisa, apalagi mewarnai dengan rapi.

Ada yang cuma coret coret, ada yang bahkan cuma dipegang doang buku dan pensil warnanya tapi tetep antusias. Melihat mereka, rasanya sedih juga, para penghuni panti ini secara umur sudah bukan anak kecil lagi, bahkan sudah ada yang umurnya lebih dari 50 tahun, tapi kok  untuk memegang pensil, mewarnai dengan rapi, hanya ada beberapa saja yang benar benar bisa melakukannya dengan baik.

Salut juga dengan kakak kakak pembinanya yang mendedikasikan diri untuk merawat mereka. Saya yang sering mengeluh kurang ini kurang itu rasanya malu juga, kok nggak sering sering bersyukur sih, padahal udah dikasih tubuh dan pikiran yang sehat.

Nur Janua : Pandangan saya pertama kali saat akan baksos di tempat down syndrom adalah sedikit jijik, karena selama pengalaman saya, orang yang seperti itu biasanya aroma badannya agak bau seperti muntahan makanan. Tetapi setelah saya mengikuti baksos ke down syndrome ternyata pikiran saya tentang itu salah besar, ternyata di sana itu tempatnya bersih, dan anak anak nya juga bersih.

Saya tersentuh dengan anak anak / orang orang yang ada di panti tersebut mereka sebagian adalah anak yang dulu nya tidak di inginkan orang tuanya untuk lahir di dunia ini dengan cara mencoba di gugurkan namun gagal untuk di gugurkan yang menyebabkan mereka kelainan. Secara perlahan perawat yang ada di panti membantu para anak anak tersebut agar menjadi lebih baik.

Pesan yang dapat saya ambil, kita harus dan wajib banyak banyak bersyukur apa yang telah Tuhan beri ke kita, dengan kondisi fisik dan mental yang alhamdulillah sehat walafiat.

Toby : Ketika saya pertama berdiri di depan anak-anak down syndrome dan memiliki kecacatan mental lainnya, mata saya langsung tertuju ke 1 anak perempuan, kurang lebih umur 8 – 10 tahun, yang masih belum bisa berdiri, atau bahkan duduk tegap pun perlu bantuan support.

Awal nya saya agak bingung dengan model sepatu yang dikenakan oleh anak tersebut. Sepatu itu mirip sepatu gladiator, yang menutupi seluruh telapak kaki dan juga sebagian betis nya.

Setelah ada kesempatan bertanya dengan ibu pembimbing yang sedang menemani anak itu, barulah saya tahu bahwa sepatu tersebut adalah untuk support bentuk kaki anak tersebut supaya tidak bengkok. Singkatnya, tulang anak tersebut tidak bertumbuh kuat seperti tulang anak lainnya. Sehingga tulang nya masih belum dapat men support size badan layaknya anak umur 8 tahun. Sehingga anak tersebut perlu menyender ke ibu pembimbing supaya dapat duduk tegap, dan sesekali ibu pembimbing tersebut membantu meluruskan tangan anak tersebut.

Ketika saya mencoba tersenyum dan menanyakan nama dan umur anak tersebut, ibu pembimbing menjawab “Namanya Jasmine, umur nya 8 tahun, tetapi Jasmine masih memiliki kemampuan otak layaknya bayi dibawah 1 tahun, jadi belum dapat dapat me-respond dan menanggapi senyum dan pertanyaan saya”. Detak jantung saya pun sekejap berhenti sejenak.

Tidak lama kemudian semua pikiran akan tuntutan hidup menyelimuti pikiran saya. Bagaimana saya masih harus bisa support diri saya, beli rumah untuk calon keluarga saya nantinya dan segala keperluan lainnya. Sedangkan, anak di depan saya ini sudah umur 8 tahun berbicara pun belum, berdiri tegap dan berjalan pun belum bisa.

Tanpa saya sadari, saya pun bertanya “Tuhan, rencana apa yang Kau punya untuk anak ini? Mau jadi apa anak ini nantinya?”

Tidak lama setelah itu, dengan agak segan saya tanya apakah orang tua anak tersebut suka datang. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan terselubung akan keinginan tahu saya apakah anak ini masih ada orang tua yang perduli dengan nya. Dan saya sangat senang sekali ketika ibu pembimbing menjawab bahwa kedua orang tua anak itu sibuk bekerja sehingga mereka menitipkan anak nya di panti tersebut, dan kedua orang tua nya masih membayar biaya hidup anak perempuan tersebut selama di panti.

Dalam perjalanan pulang dari panti, saya baru sadar. Pertanyaan saya ke diri saya itu salah. Justru rencana Tuhan itu adalah untuk orang-orang seperti saya bisa rehat sejenak dan bersyukur atas segala pencapaian yang telah saya dapat saat ini.

Additional info:

Seperti yang Peppy telah sampaikan sebelum nya, pak Pendeta mengingatkan kami yang masih belum married untuk melakukan pre-marriage check. Tujuan ini sangatlah simple, yaitu untuk mengetahui bahaya yang dapat di detect secara dini jika pasangan suami-istri tersebut ingin mempunyai anak. Sehingga kita masih punya kesempatan untuk mencari alternative untuk menghindari bahaya-bahaya tersebut.

Berinteraksi dengan anak-anak penyandang tunagrahita

YDS 3

Victor : Suatu kesempatan untuk berbagi kasih dan berbela rasa dengan teman-teman down syndrome. Yang cukup mengagetkan dan membuat saya sedih adalah penjelasan dari pengurus panti bahwa anak-anak yang ada di panti tersebut ada yg disebabkan karena “kekejaman” orang tua, seperti gagal aborsi dan juga kekerasan pada anak sehingga anaknya cedera otak.

Saya sangat salut kepada pengurus dan juga para pembimbing di panti ini karena walaupun pekerjaan mereka sulit tapi tetap mau menjaga anak-anak down syndrom yang tentunya sangat sulit sekali.

Ikut ambil bagian dalam baksos ini menjadi momen yang tak terlupakan dan membuat saya belajar untuk menghargai kehidupan yang sudah diberikan Tuhan, walaupun anak-anak down syndrome ini ada yng sudah “tidak diinginkan” oleh keluarga mereka tapi masih ada orang yang peduli. Kiranya AdIns bisa terus menjadi berkat buat orang lain..

Rubianto : Pada awalnya saat saya mendapatkan informasi mengenai acara baksos ke panti pengidap penyakit Down Syndrome, saya benar-benar buta mengenai penyakit ini. Yang ada dalam pikiran saya adalah autisme dan penyakit cacat mental. Setelah googling mencari tahu, ternyata down syndrome adalah penyakit yang dikarenakan kelainan pada kromosom yang menyebabkan gangguan pada perkembangan fisik dan mental.

Bertepatan dengan hari Down Syndrome sedunia yang jatuh setiap 21 Maret, tim kami mengunjungi Yayasan Tri Asih yang berada di jalan Karmel Raya Kebon Jeruk. Disana kami disambut oleh bapak Ignatius selaku kepala yayasan tersebut. Kami diinformasikan mengenai sejarah yayasan tersebut yang telah berdiri sejak tahun 1969, aktivitas yang dilakukan, fasilitas yang tersedia, dan bagaimana cara untuk mencegah munculnya penyakit down syndrome ini sendiri.

Sesuai dengan survey sebelumnya, tim kami menyerahkan bantuan berupa beras, kecap manis, sabun cuci piring, dan popok yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Kami juga mengadakan acara mewarnai bersama.

Pada saat mendampingi mereka mewarnai, saya merasa sedih karena secara fisik anak-anak tersebut terlihat sangat normal, namun ketika diajak berbicara mereka tidak dapat menangkap hal yang saya ucapkan. Untuk mewarnai sesuai garis dan membedakan jenis warna pun tidak dapat dilakukan oleh mereka. Anak-anak yang berada di panti tersebut memiliki IQ dibawah 50 dan harus selalu didampingi setiap saat karena mereka tidak dapat melakukan segala sesuatu sendiri.

Selepas acara ini saya merasa sangat bersyukur bahwa saya terlahir dengan normal. Terkadang saya masih sering mengeluh mengapa saya mengalami hal ini, mengapa nasib buruk menimpa saya, dll namun hal itu tidak sebanding dengan penderitaan yang mereka rasakan. Berbagi dan berinteraksi secara langsung dengan mereka sangat berbeda dibanding dengan memberikan sumbangan saja. Baksos ini akan menjadi pengalaman hidup saya yang tidak akan dapat saya lupakan.

Danady : Bagi anak-anak down syndrome itu untuk membedakan warna saja mereka kesulitan padahal usia mereka ada yang sudah diatas 30 bahkan 40 tahun. Ada yang sama sekali tidak dapat melakukan apa apa. Ketika melihat satu anak yang sudah bisa membantu cuci piring, mengelap piring tersebut dan merapikannya di meja itu saja sudah suatu hal yang sangat luar biasa bagi mereka.

Melihat itu perasaan saya menjadi miris, sedih dan tidak habis pikir mengapa mereka tidak bisa melakukan yang kita dengan sangat mudah lakukan. Betapa bersyukurnya saya dikaruniai kemampuan berpikir yang mungkin jarang saya syukuri karena memang seperti sudah biasa saja malah kadang berpikir mengapa saya kok kurang ini itu.

Di akhir acara kami mengadakan acara menyanyi bersama dan tidak disangka-sangka mereka malah mengajak bernyanyi lagu lagu band padahal diawal kami rencananya mengajak lagu anak sekolah minggu yang mudah, hal itu sangat luar biasa bagi saya. Hikmah yang saya dapatkan adalah sekedar memberi sumbangan saja berbeda dengan kita terjun dan merasakan langsung maka rasa syukur kita akan jauh lebih besar.

 Membantu anak-anak mewarnai

YDS 4

Eunike : Sebelumnya saya pernah mengikuti kegiatan baksos, tapi lebih banyak ke panti asuhan & panti jompo jadi ini adalah pengalaman pertama saya baksos ke panti down syndrome.

Awalnya saya bingung, bagaimana cara berinteraksi dengan mereka yang berkebutuhan khusus, jelas ini akan menjadi sulit. Tapi setelah tiba disana, membantu mereka mewarnai dan bernyanyi ternyata tidak sesulit bayangan saya. Mereka sangat menyambut kedatangan kami, mengajak kami berkenalan, bahkan beberapa dari mereka bisa mewarnai dengan baik dan bernyanyi tanpa nada fals (sesuatu yang sulit saya lakukan).

Selain para penderita down syndrome yang juga menarik perhatian saya adalah kakak-kakak pembinanya. Salah satu pekerjaan yang tidak akan saya anggap remeh selain programmer adalah kakak-kakak pembina anak down syndrome.

Bagaimana mungkin mereka yang tidak sedarah, tidak ada hubungan keluarga tapi mau mendedikasikan dirinya untuk merawat anak-anak orang lain? Saya pernah membaca sebuah kutipan dari seorang ibu yang memiliki anak penderita down syndrome bahwa ,“anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak spesial yang memerlukan banyak cinta. Mungkin Tuhan tahu bahwa saya memiliki cukup banyak cinta jadi saya dititipkan seorang anak spesial”. Berdasarkan kutipan ini kesimpulan yang bisa saya ambil adalah kakak-kakak pembina anak down syndrome memiliki cinta yang berlimpah sehingga berkesempatan merawat anak-anak spesial seperti mereka.

Echo : Have You ever imagine play and sharing with people that have down syndrome?

Sebelum saya ikut baksos ini, saya sedikitpun tidak pernah membayangkan bermain dan berbagi dengan teman-teman yang ada di Yayasan Tri Asih. Karena saya belum pernah mengenal secara dekat, saya hanya tau dari melihat sekilas karena perjalanan saya ke kantor melewati salah satu sekolah luar biasa negeri di belakang mercu atau dari liputan acara di televisi.

Kesempatan baksos itulah yang mempertemukan saya dengan teman-teman di Yayasan Tri Asih.

Pada awalnya saya dan umumnya kami agak kikuk dan tidak tahu harus melakukan apa, karena itulah pengalaman saya berhadapan langsung dengan teman-teman di sana. But, bukan saya yang melakukan ice breaking tetapi ada satu teman di sana yang bernama Putra.

Putra bercerita perihal dirinya dan saya mendengarkan cerita dia sambil sesekali mengomentari dan menimpali ceritanya, dan juga dia sesekali bertanya ke saya. That’s amazing sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bisa ngobrol dengan Putra, sangat sangat berkesan.

Kami melaksanakan beberapa kegiatan di sana seperti mewarnai dan bernyanyi, dan yang paling seru adalah pada saat bernyanyi. Mereka sangat antusias sekali ketika kami ajak bernyanyi, tidak hanya itu bahkan beberapa dari mereka ada yang menjadi sukarelawan untuk bernyanyi.

Alhamdulillah setelah mengikuti Baksos ini, banyak hal yang saya pelajari tentang bersyukur, berbagi, menerima sesama dan masih banyak lagi lainnya ^^.

Menjawab pertanyaan saya di awal :

Have You ever imagine play and sharing with people that have down syndrome? Yes I have, and that’s awesome

Candra : Ini Baksos pertama saya. Pertama kali tiba di sana saya agak2 takut apalagi ketika masuk ruangannya itu di beri pagar dari besi. Tapi setelah masuk ke dalam, ternyata anak-anak down syndrome itu baik2 walaupun umur nya sudah dewasa tetapi kelakuannya seperti anak kecil.

Ketika aktivitas mewarnai membantu anak2 mewarnai diantara mereka ada yang kesulitan untuk mengikuti arahan yang diberikan oleh pembimbing dan teman-teman baksos yang lain.Tetapi ada juga yang dapat mengikuti arahan dari pembimbing nya, mereka juga sangat senang ketika bernyanyi bersama dan melakukan aktifitas lainnya.

Yang membuat saya kagum itu, mereka dididik dan dibina supaya mereka dapat bekerja, dan membiayai hidup mereka sendiri.

Haryanto: Ini bukanlah baksos saya yang pertama kali. Kesan pada setiap baksos tidak sama dan masing masing membawa cerita dan memory yang menguatkan jiwa saya untuk menjadi sumber kekuatan dalam membimbing keluarga.

Terutama baksos-baksos yang saya ikuti setelah saya mempunyai keluarga dan menjadi orang tua, semakin saya mencintai secara lengkap hidup ini seperti kepada orangtua, istri, anak-anak, para guru, kolega dan sahabat-sahabat kita, semakin kita merasakan betapa pricelessnya kehadiran mereka di dalam hidup kita.

Pada awal tahun 2015 ini saya bersyukur kembali berkesempatan menghadiri kegiatan baksos dengan kolega di AdIns. Memang yang paling saya harapkan adalah baksos yang dapat bersentuhan langsung dengan para disable. Karena semakin dekat kita dengan mereka, semakin kita akan menghargai seluruh anugrah Tuhan atas diri kita.

Melihat saudara-saudari penghuni di Panti Down Sydrome kemarin, saya teringat adik ipar saya yang menderita cacat mental. Meski terkadang saya bersungut saat adik ipar saya ini ber-ulah nakal layaknya anak-anak (tetapi dengan tenaga fisik orang dewasa karena sudah berusia 29 tahun), karena terkadang tidak jarang membutuhkan biaya besar karena merusak property rumah hingga kadang property tetangga. Jajan ke warung tanpa membayar sehingga menjadi hutang bulanan orang tuanya. Papa mamanya yang notabene-nya adalah mertua saya pun kadang dipukulinya. Saya terpancing menjadi sangat galak sekali jika hal ini terjadi. Namun bersyukur karena adik ipar saya ini masih bisa buang air sendiri, mandi sendiri, makan  sendiri dsb. Tetapi jangan diharapkan kerapihan dan kebersihannya.

Saya sangat menikmati waktu bersama para penghuni panti down syndrome kemarin seakan bermain bersama adik-adik dan kakak-kakak saya. Sedih melihat mereka tidak berdaya, tidak berkemampuan untuk hanya hidup mandiri karena bermacam-macam ketidakmampuan mereka. Dari mulai tidak dapat buang air hingga tidak dapat berdiri maupun berinteraksi. Seperti seakan hanya menjadi beban orang lainlah tujuan kehidupan mereka di dunia ini.

Tetapi itu tidak benar! Saya tidak meyakini mereka adalah hanya beban masyarakat setelah mendengar mereka yang bisa bercerita, bernyanyi, tertawa, menikmati mewarnai gambar, dsb. Bahkan menurut Bapak pimpinan Panti, mereka yang berkemampuan lebih akan dapat dilatih untuk menjadi penambal ban, tukang parkir, hingga pelayan hotel.

Kitalah yang harus tegar dan menjadi kaki dan tangan yang kokoh dihadapan mereka. Sayangi dan mengerti keterbatasan mereka. Tersenyum, bernyanyi dan berpeluk berdekat dengan mereka malah mengajarkan banyak hal kepada hati dan jiwa saya. Saya merasa sebenarnya merekalah yang telah memberikan hal yang berguna bagi kehidupan saya. Siapa yang bilang mereka tidak berguna di dunia ini? You are completely wrong!

Mewarnai bersama

YDS 5

————————————————————————————————-

Memang betul kadangkala kita sering meremehkan orang lain, terutama orang yang kita anggap cacat, orang yang tidak sempurna sebagai mahluk tidak berguna. Namun sebenarnya kita hanya tidak tahu rencanaNYA terhadap mereka, bisa jadi salah satu rencanaNYA atas keberadaan mereka adalah untuk menyadarkan kita untuk lebih bersyukur atas segala yang telah kita miliki.

Paling tidak kehadiran mereka telah mengetuk hati kakak2 team baksos itu untuk lebih menghargai sesama, mencintai mereka yang kekurangan dan mau berbagi.

Semoga…

Salam,

Guntur Gozali,

Jakarta, Kebon Jeruk,

Kamis, 8 Juni 2015, 19:15

http://www.gunturgozali.com

http://gunturgo.wordpress.com

Baca juga:

Baksos Kelima: Anak Cacat Ganda – Yayasan Sayap Ibu – Bintaro

Baksos Keempat: Berbagi Ilmu di Rumah Sakit Jiwa DR. Soeharto Heerdjan

Baksos Ketiga: Rumah Singgah Anak Kanker YKAKI – Bandung

Baksos Kedua: Pemakaman Umum Lenteng Agung

Baksos Pertama: Rumah Singgah Sekar

Menolong Orang Itu Keren!

One thought on “Baksos Keenam: Panti Anak Down Syndrome – Yayasan Tri Asih

  1. Siang, saya mau informasi lokasi tempat untuk bisa melakukan Baksos Kantor tempat saya beekrja. ini pertama kalinya kantor saya melakukan kegiatan Baksos. Mohon bantuan dan arahan nya agar niat kami utk membantu saudara2 bisa terlaksana dengan baik dan tepat sasaran. Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s