Panggilan2 yang menjengkelkan

TelemarketerSaya sedang menghadapi seorang client penting ketika tiba2 handphone saya berdering, saya lirik nomor yang terdisplay, tidak saya kenal. Namun saya tidak berani tidak mengangkatnya, karena nomor hp saya tertera di kartu nama saya, yang artinya setiap orang yang pernah saya beri kartu nama saya boleh menelpun saya setiap saat.

Setelah meminta maaf ke client saya, sayapun segera menerima telpun tersebut:”Hallo….”, sapa saya, namun tidak langsung terdengar jawaban. Beberapa saat kemudian baru terdengar click suara telpun diangkat dari hooknya, hmmm…pikir saya kok tidak sopan sekali.  Saya panggil lagi: ”Hallo…”.

Setelah hallo yang kedua baru terdengar jawaban mantap dan bersahabat dari sisi sebelah sana:”Eh…haiiii… pak Guntur, bagaimana kabarnya sekarang? Mudah2an baik2 saja ya”, terdengar suara pria yang memberi kesan sudah lama saya kenal.

Continue reading

Do you move enough?

Pernahkah pertanyaan ini mampir di benak pembaca? Pertanyaan yang tidak penting2 amat, terutama bagi pembaca yang masih muda belia. Begitu pula halnya dengan saya, tidak pernah saya peduli seberapa banyak saya bergerak dalam sehari, hingga…seingat saya…umur saya mulai mencapai kepala empat, ya betul kepala empat.

Begitu umur mulai memasuki kepala 4, yang katanya “Life begin at Forty” yang juga merupakan judul buku karya Walter B. Pitkin pada tahun 1932, maka terasa sekali badan ini tidak muda lagi. Rasa capek yang dulu jarang terasa, sekarang rasanya mulai seneng mampir. Istilah tertidur yang dulunya tidak pernah saya pahami, sekarang lebih sering mengalami.

Dulu saya paling tidak suka kalau dipijat, geli dan sakit rasanya. Saya sering heran melihat orang2 yang senang sekali dipijat sampai berjam-jam, sampai ‘grak-grok-grak-grok’ ketiduran. Ngapain pikir saya buang2 waktu tengkurap disiksa berjam-jam, habis gitu masih disuruh bayar pula :).

Tapi…mendekati kepala 4, Continue reading

Nurani yang hanyut terbawa banjir bandang…

Banjir 1Saya baru saja selesai makan malam dan beranjak dari meja makan menuju sofa di ruang keluarga ketika hujan tiba2 turun lebat sekali disertai angin yang menderu-deru. Luar biasa derasnya, suaranya terdengar menderu-deru sangat mengerikan, ditingkahi suara geledek yang menggelegar berulang kali. Saya segera menutup jendela dan pintu rumah saya dari tempias air hujan yang sudah tiga hari terakhir ini mengamuk di lingkungan perumahan saya.

Seakan-akan tidak mengenal lelah, hujan turun terus menerus sejak tiga hari terakhir. Dua hari terakhir ini bahkan semakin menggila, sebentar deras sekali, kemudian berhenti seakan-akan menarik nafas beberapa saat untuk kemudian mengamuk lagi. Lingkungan perumahan saya yang berada tepat dipinggir sungai sudah tergenang hingga 30 – 40 cm sejak beberapa hari ini.

Ketika baru saja meletakkan pantat saya di sofa ruang keluarga, tiba2 listrik mati…..pet. Duh pikir saya, baru juga mau nonto TV. Sayapun beranjak dari sofa untuk mencari senter yang berada di salah satu cabinet di dekat meja makan. Selagi saya meraba-raba isi cabinet, tiba2 saya mendengar suara gemeretak dan teriakan mengerikan dari kanan kiri tetangga saya. Suara gemeretak itu sedemikian keras dan memekakkan telinga diiringi dengan dentuman keras dan guncangan seakan gempa. Continue reading