A small but nice town called SALATIGA (2/2)

Saya juga sempat mampir di warung Gudeg Aan, warung gudeg yang sangat terkenal, terutama diantara anak2 Fakultas Teknik Jurusan Elektro. Gudeg Aan ini menurut saya adalah jenis gudeg kontemporer, rasanya sama sekali berbeda dengan style gudeg Yogya. Khasss…mantappp…bikin kangen🙂.

Beberapa teman kuliah saya bahkan bisa bertahan bertahun-tahun makan pagi setiap hari disana, benar2 setiap hari. Tidak tahu karena rasa atau karena harga🙂. Tapi yang pasti si penjualnya ko Aan ini tadi orangnya amat sangat humble, sangat dekat dengan mahasiswa, dan suka guyon.

Pertama kali saya makan disana, selesai makan saya tanya berapa koh An semuanya, dia dengan wajah serius menjawab: Tujuh Juta Lima Ratus saja… What???? Saya sampe pucat. Kemudian saya tanya lagi, berapa??? Tujuh ratus lima puluh, katanya sambil cengengesan. Fiuhhhh….

Banyak orang2 yang belum kenal beliau yang juga kena batunya seperti saya, tetapi setelah tahu malah terbahak-bahak🙂.

Kemarin ketika saya sempat mampir, beliau juga sama sekali tidak berubah wajahnya. Saya malah tampak lebih tua dari beliau yang sudah bercucu beberapa. Hmmm…apa saya pindah Salatiga aja ya, biar awet muda kekekekek…

Beliau sempat menitipkan salam bagi semua teman2 yang dulu pernah mampir…

Selesai mampir ke Gudeg Aan, saya juga menyempatkan mampir ke kost2an saya yang berada di jalan Diponegoro. Saya tinggal hampir 2 tahun disini. Ketika saya mampiri kemarin, tampak luarnya sudah kelihatan kusam tidak terawat.

Segera setelah saya memotret bagian luarnya, dengan langkah mantap saya masukin pintu gerbangnya yang terbuka lebar. Dulu kost2an ini merupakan kost campur, cowok dan cewek. Namun setelah melalui gerbang, saya terkejut, lha kok bergelantung CD and BH di jemuran2 di depan kamar.

Waduhh…saya jadi serba salah, mau teriak2 minta ijin kok nanggung, gak minta ijin ntar diteriakin mailng gimana. Hmmm…saya jadi ragu2, kost2an sepiii sekali. Bagaimana ya? Mau minta ijin juga gak ada kelihatan sebatang hidungpun, sunyi sepiii. Jadi saya putuskan tetap jeprat jepret wkwkwk…sambil deg2an kalau ketahuan mau menjelaskan apa🙂

Di kamar ini dulu saya tinggal selama beberapa tahun. Sederetan kamar di sebelah kanan ini dulu dihuni oleh anak2 teknik elektro yang isinya cowok semua. Tepat di depan kamar kami, deretan sebelah kiri, berderet kamar cewek2 anak2 ekonomi.

Kami, para cowok teknik elektro ini, adalah makhluk2 culun yang bisanya belajar dan belajar melulu. Sangat kontras dengan teman2 anak2 ekonomi di seberang kamar kami. Hampir tiap malam ketika kami belajar atau membuat laporan, mereka duduk2 di depan kamar mereka sembari cekikikan dan main gitar.

Kalau mengingat jaman kuliah dulu, hidup kami anak elektro sangatlah suram🙂, kami jarang menikmati hidup seperti teman2 ekonomi kami. Bahkan hubungan pertemanan kami dengan mereka juga tidak begitu akrab, karena kejengkelan dan rasa isi melihat kesantaian mereka wkakakak…

Sekarang saya jadi rindu ketemu mereka, mereka yang kami anggap berandalan itu, yang saya yakin sekarang telah menjadi boss disana sini. Semoga kalau ada yang masih ingat saya, bisa menghubungi saya melalui email.

Setelah berhasil mengendap-endap dan memotret kost2an saya dulu, saya kemudian mampir ke Gereja Katholik Salatiga. Saya melihat perubahan yang sangat banyak dengan yang pernah saya lihat dahulu.

Sekarang Gerejanya jauh lebih bersih dan bagus. Kursi dan ornamen2 gereja tertata dengan rapi. Langit2 sudah dilapisi dengan papan2 yang membentuk garis2 yang indah. Deretan bangku2 kayunya juga tampak kokoh dan berbaris rapi.

Saya sempat berdoa sejenak dan mengambil beberapa foto disini.

Tampak dalam gereja di bagian belakang:

Ada beberapa tempat lain dan beberapa tempat makan favourite yang belum sempat saya kunjungi karena keterbatasan waktu, namun gambaran sekilas ini mudah2an cukup memberikan bayangan bagaimana suasana kota kecil yang dulu sejuk itu.

Sekarang kota ini sudah tidak sesejuk dulu, tetapi jauh lebih bersih daripada ketika saya kunjungi terakhir satu atau dua tahun lalu. Dulu saya masih merasakan menggigil dan kemana-mana harus menggunakan jaket untuk menahan dingin, sekarang boro2 pakai jaket. Tapi dibandingkan dengan Jakarta, disana kita masih bisa hidup tanpa AC, bayangkan kalau di Jakarta tanpa AC🙂.

Setiap saat kota ini masih juga menarik ex mahasiswa2nya untuk datang mampir bernostalgia dan mengisi perut mereka, termasuk saya🙂

Semoga Salatiga tetap indah seperti dulu, tetap ramah seperti dulu dan makanannya tetap yummy seperti dulu.

See you again Salatiga, gonna miss you all the time.

Update: 5  February 2015

Kalau masih kangen dengan Salatiga: click ini juga : Salatiga Like You’ve Never Seen Before

20 thoughts on “A small but nice town called SALATIGA (2/2)

  1. Mantap pak ulasannya smpe waktu sy liat poto2 makanan (khususnya pecel madya) menelan ludah berkali2, hahaha
    Salatiga mmg cm kota kecil tp selalu ‘ngangenin’…
    Ntar kl sy pulang, sy akan tunjukin blog ini ke Ku An spy dia tau kl Gudeg Aan msh selalu digemari oleh ex-mahasiswa UKSW yang sudah jauh sekalipun😀

  2. Wah thank’s banget, saya waktu ke S3 th lalu malah gak sempat ngunjungi UKSW, soale diculik Dewa Kwan kong ke Semarang…..Bagus blog nya, membuat saya jadi pingin mangan gudeg Aan….

    • Malah elek Jo, perasaan dulu lebih lega. Itu dinding ditempelin keramik, jadi aneh. Terus di depan kamar ditambah pot yang menyebabkan halaman jadi menyempit. And sekarang jadi menyilaukan mata karena CD n BH bertebaran di depan kamar wakakakak…

      • Prasaan dulu blm ada potnya deh, lali…tapi skr kesannya sumpek. Itu perabotan ya disensor lah, ntar ada girap2 gara2 liat itu wkwkwkwk…
        Lha ya itu untunge gak ada anak2 kost, kalau ketemu bisa diteriakin maling CD🙂

    • Hallo, sorry for this late reply. Saya sampai geli membaca komentar kamu wkwkwkwk… Jadi betul kah kost2an itu sekarang jadi kost2an cewek? Wah untung waktu itu saya gak diteriakin maling CD ya wkwkwkwk…

  3. Salam kenal Pak Guntur, thanks atas postingnya benar benar menarik sekali untuk bernostalgia.
    Udah belasan tahun nggak ngunjungin Salatiga, jadi terkenang-kenang lagi, mesti menyisihkan waktu suatu saat kesana. Tapi keadaannya pasti sudah jauh berbeda dengan waktu saya kuliah disana, jadi image yg tempo dulu itu sudah hilang untuk selamanya ya, biarpun sempat kesana lagi.
    Salam,
    Yohanes FTJE’88

    • Hi Yohanes,

      Salam kenal juga.

      Meskipun beberapa lokasi sudah berubah, tetapi Salatiga tetap Salatiga🙂. Udaranya, suasananya, makanannya terutama tidak banyak berubah. Saya rasa Anda harus luangkan waktu ke sana untuk menjenguk kampus dan membandingkannya dengan memori Anda, serta jangan lupa…wisata kuliner🙂.

      Salam,

  4. Salam kenal Pak Guntur.

    Nama saya Christa, dari Jakarta. Saya besar dan kuliah pun juga di Jakarta. Jadi bisa dibilang anak kota lah gitu.. hahhaha
    Tapi saya suka baca postingan anda, dan sering denger cerita kerabat atau temen yg kuliah di luar kota.. temen2 ada yg dulu kuliah di jogja, kalo denger cerita mereka (makan di angkringan, teh manis yg cuma seribu perak, nongkrong di alun-alun, dll) bikin saya lumayan iri.. hahahaha.
    Dan baca tulisan anda ttg indahnya Salatiga dan kuliah disana..jd bikin nyesel knp dulu ga kuliah di daerah aja, hehehe.. di Jakarta mah smuanya uda jadi anak mall, pak! hehehe.
    Ditunggu postingan berikutnya.🙂

    Salam sukses,
    Christa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s