Have you said “Love you Ma/Pa” lately ??

Bulan lalu saya bertemu dengan seorang teman saya yang baru saja ditinggal pergi oleh ibunda tercintanya karena usia yang sudah lanjut. Saya, ketika beliau meninggal, tidak sempat untuk hadir memberikan saya hormat saya ke tempat persemayaman di salah satu RS Jakarta.

Saya kemudian menanyakan penyebab kepergian beliau. Teman saya lalu menceritakan bahwa kepergian beliau cukup cepat karena beberapa minggu sebelumnya beliau tampak sangat sehat. Sehingga meskipun usia beliau sudah lanjut, tak urung hal ini menyebabkan keterkejutan di keluarga.

Namun dari apa yang saya dengar dari cerita teman saya itu, saya benar2 merasa iri. Kenapa? Karena saya tahu bagaimana besar perhatiannya terhadap mamanya ini, dan bahkan pada mendekati akhir hayatnya, teman saya sempat menemani mamanya keliling dunia, dan yang lebih membuat iri saya, pada detik2 terakhir berada disisi mamanya tercinta.

Continue reading