2.13 Miracles of Fasting: Hormone Grhelin

Pada postingan saya sebelumnya (2.12 Miracles of Fasting: IF & Mindset saya membahas mengenai pentingnya kita menetapkan Mindset yang kuat ketika hendak menjalani IF / PF ini, agar bisa kita jadikan New LifeStyle. Salah satu hal yang membantu kita menjalani IF / PF ini lebih mudah adalah jika kita tidak lagi takut dengan RASA LAPAR.

Aneh ya statement saya ini? 😝

Selama hidup saya, puluhan tahun, saya sangat takut dengan rasa lapar. Begitu perut memanggil2, saya sudah bingung mencari ganjel, apapun yang bisa saya makan (bukan ganjel pintu yang pasti 😃). Saya selalu diingatkan jangan sampai telat makan karena nanti tubuh bisa lemas, gak bisa mikir dan bisa menderita sakit maag. Itu Mindset saya seumur hidup saya sebelum mengenal IF / PF ini.

Hari ini saya merasa sudah lepas dari rasa lapar. Ketakutan sudah lewat. Sekarang kalau lapar, saya cari air saja, atau saya biarkan, dia akan berlalu sendiri.

Mengapa bisa begitu? Apa penyebab rasa lapar itu? Apakah karena tubuh kita kekurangan makanan, membutuhkan energy sesegera mungkin, sehingga kalau tidak segera makan sesuatu kita akan pingsan?

Hormon Ghrelin alias Hormon Lapar…  Continue reading

2.12 Miracles of Fasting: IF & Mindset

Apa yang telah saya uraikan pada 11 postingan sebelum ini merupakan upaya saya untuk meyakinkan pembaca akan latar belakang dan benefits menjalani Fasting (baik Intermittent maupun Prolonged) terutama Autophagy (2.11 Miracles of Fasting: Autophagy). Dengan hanya membaca semua postingan saya sebelum ini, saya yakin pembaca sudah tahu garis besar benefit2nya, namun belum tentu percaya, karena saya tidak qualified untuk mengulas detail hasil2 penelitian atau ulasan2 para ahli itu.

Oleh karena itu saya harap apa yang sudah saya tulis pembaca jadikan semacam trigger / pemicu untuk mengexplore lebih dalam lagi. Dengan mempergunakan keyword seperti autophagy, benefits of fasting, intermitten fasting atau miracle of fasting, saya percaya pembaca akan memperoleh ratusan bahkan mungkin ribuan ulasan mengenai hal2 itu.

Mengapa kok saya berulang kali menyarankan pembaca untuk mengexplore sendiri? Continue reading