2.12 Miracles of Fasting: IF & Mindset

Apa yang telah saya uraikan pada 11 postingan sebelum ini merupakan upaya saya untuk meyakinkan pembaca akan latar belakang dan benefits menjalani Fasting (baik Intermittent maupun Prolonged) terutama Autophagy (2.11 Miracles of Fasting: Autophagy). Dengan hanya membaca semua postingan saya sebelum ini, saya yakin pembaca sudah tahu garis besar benefit2nya, namun belum tentu percaya, karena saya tidak qualified untuk mengulas detail hasil2 penelitian atau ulasan2 para ahli itu.

Oleh karena itu saya harap apa yang sudah saya tulis pembaca jadikan semacam trigger / pemicu untuk mengexplore lebih dalam lagi. Dengan mempergunakan keyword seperti autophagy, benefits of fasting, intermitten fasting atau miracle of fasting, saya percaya pembaca akan memperoleh ratusan bahkan mungkin ribuan ulasan mengenai hal2 itu.

Mengapa kok saya berulang kali menyarankan pembaca untuk mengexplore sendiri?

Karena apa yang akan kita lakukan pada diri kita ini adalah merubah kebiasaan, merubah LifeStyle kita. LifeStyle yang terbentuk karena kebiasaan yang ditanamkan kepada kita selama puluhan tahun. Jika mindset kita tidak kuat, atau kita tidak benar2 mengerti mengapa kita melakukannya, maka sebentar saja menjalaninya kita akan kembali ke kebiasaan lama.

Selain itu, jika kita merubah LifeStyle namun lingkungan kita tidak mengerti atau kurang mendukung, maka justru nanti orangtua, suami/istri, adik/kakak atau teman2 malah menjadi batu sandungan. Kita malah dianggap aneh, sok2an, dan akhirnya digila-gilain… 😝😝😝

Contoh sederhana saja misalkan kebiasaan kita sehari-hari makan makan 3x sehari dan selalu pakai nasi. Kemudian tiba2 kita hanya makan sekali, dan tanpa nasi… Wahhh bisa ribut… Betul nggak? Ortu kita bisa kalang kabut, dipikir lagi ngambek atau lagi demo… 😝😝😝. Atau lebih parah lagi, kita bisa dianggap sudah mulai Gila… seperti komentar saya dulu… wkwkwk. Sebagai akibatnya… setelah menjalani sebentar, belum merasakan benefitnya, sudah bubar jalan, karena digila-gilain tiap hari… 😝😝😝.

Selain itu pula, jangan menjadikan penurunan Berat Badan sebagai tujuan utama. Jadikanlah Healthy and Longevity atau Kesehatan dan Umur Panjang sebagai tujuan utama, dan sebagai bonus tambahan adalah penuruan Berat Badan. Mindset ini penting seklai.

Jika Healthy & Longevity sudah menjadi mindset baru kita, meskipun BB sudah mencapai ideal maka LifeStyle ini tetap berlanjut sampai selamanya. Akan tetapi, jika penurunan BB adalah tujuan utama, maka ketika BB sudah mencapai berat ideal, kita akan kehilangan arah. Makanan dan minuman yang berseliweran di depan mata semakin hari semakin aduhai tampilannya, sekali dua kali nyuil… icip2… coba2… udah dehhh bablassss angineee… wkwkwk  dan pola makan kita akan kembali ke pola lama…

Ini saran saja sih 😃.

Beberapa teman yang menanyakan ke saya mengenai IF & PF, biasanya saya kasih 1 atau 2 video mengenai Fasting, nanti akan saya post pada bagian akhir. Jika yang bersangkutan sanggup menyelesaikan menonton video itu, dan yakin akan manfaatnya, baru saya akan ladeni. Kalau tidak, percuma.

Sama halnya dengan pembaca, jika pembaca sudah membaca hingga bagian ini, saya rasa pembaca cukup serius untuk merubah LifeStyle. Kalau pembaca bisa selesai hingga 3 bagian tulisan saya ini, saya percaya pembaca sangat serius untuk beroleh hidup yang lebih sehat. Semoga demikian adanya.

Intermittent Fasting… How…???

OK, jika pembaca sudah merasa yakin dan ingin mencoba menjalankannya, berikut adalah beberapa cara yang disarankan di dalam menjalani Intermittent Fasting:

Bagi pemula seperti saya pada awalnya, kita bisa memulainya dengan IF 12:12.

Apa itu artinya IF 12:12?

Artinya: PUASA dalam rentang waktu 12 jam, MAKAN dalam rentang waktu 12 jam.

Gampang kan? Total kan pasti 24 jam…

Perhatikan ilustrasi menggunakan jam dinding 24 jam di bawah ini (mohon perhatian, jam dinding di bawah adalah jam dinding 24 jam 😃)

IF 12 12

Zona Merah berarti rentang waktu kita Fasting (Puasa), Zona Hijau berarti rentang waktu kita EATING (Makan). Jadi jika kita makan terakhir pada pukul 18:00, maka buka puasanya adalah setelah pukul 06:00 pagi. Setelah pukul 06:00 kita sudah bebas makan hingga pukul 18:00 berikutnya.

Gampang kan??? Gampangggg bangettt… 😃

Selama 12 jam dari pukul 18.00 hingga pukul 06:00, kita tidak boleh makan apapun, akan tetapi kita boleh minum air (biasa saya tambahkan beberapa irisan lemon) atau kopi pahit (tidak disarankan buat yang pencernaan sensitive) atau tea (saya menyarankan green tea, krn katanya mengandung anti oksidan yang tinggi).

Apakah Puasa harus dimulai pada pk 18.00? 

TIDAK!, bebas aja kapan mau mulainya, pembaca silakan menentukan sendiri jam yang paling enak, asalkan konsisten. Supaya kita sendiri gak bingung. Kalau berubah2 terus, saya kok ragu bisa berjalan dengan lancar.

Saya sendiri menyarankan makan terakhir pk 18.00, mengapa? Nanti ya sekalian kita sedikit membahas mengenai Circadian Rhythm… apa pula itu? Sabar ya… 😃.

OK, sampai disini rasanya sih simple ya?

“Tidakkkkk…!!!!”, protes pembaca yang terbiasa pesan martabak atau sate atau makan Internet (Indome Terlor Kornet) sebelum tidur … seperti saya dulu juga… wkwkwkwk…

Nah oleh karena itu, di atas saya sudah menjelaskan bahwa semua ini hanya masalah mindset. Serius ini masalah mindset. Jika kita tidak merasa membutuhkan benefits dari IF/PF ini, sebaiknya tidak perlu ikut2an. Akan tetapi, jika kita sudah percaya bahwa IF/PF ini memberikan benefits yang luar biasa ke tubuh kita, maka “sedikit” godaan / halangan di atas, tidak akan menjadi masalah.

Tapi… ada lagi nih tetapinya…

“Saya tuh kalau malam suka lapar… dan kalau sudah begitu pasti gak bisa tidur dehhh…” atau ada lagi yang beralasan “Saya tuh gampang kumat maag saya… jadi gak boleh laper sedikit aja…”

Ternyata kita samaan ya… sama banyak alasannya bwakakak…tossss duluuu… tossss 😝😝😝 .

Saya dulu juga sama, jam 19.00 – 19.30 baru selesai makan malam, jam 21.30 – 22.30 sudah mulai mengobrak-abrik kulkas atau telpun2 mas Martabak atau mas Sate 😃… Dan saya juga takut maag saya kumat kalau sampai perut kruyuk2 tidak segera ditenangkan.

Hal ini juga yang dulu membuat saya sangat yakin gak bakalan bisa menjalankan Puasa saya seringan apapun juga.

Namun ternyata tidak separah itu… karena penyebab rasa lapar itu bukan karena tubuh kita kekurangan kalori / energy, tetapi karena Hormone Grhelin. Ini adalah Hormon Usil (ini istilah saya sendiri, jangan di Googling yaaa… 😝😝😝) yang selalu mengetuk2 perut kita hingga berbunyi grak gruk grak grukkkk…

Apaan Hormone Grhelin itu? Jika pembaca sudah mengerti cara kerja si Hormon Usil ini… saya yakinnnnn pembaca tidak lagi takut dengan rasa lapar…

Nah ini dia yang akan saya bahas berikutnya, sebelum kita meningkatkan IF kita menjadi 14:10, 16:8, 18:6 dst…

Mari kita lanjutkan dengan topik Hormone Usil ini :)… 2.13 Miracles of Fasting: Hormone Grhelin

Salam,

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

Jakarta, Kebon Jeruk,

Minggu, 12 Juli 2020, 13:45

*** Special Note ***

Dear Pembaca terkasih,

Terima kasih telah bersedia membaca postingan saya di atas. Saya sangat berharap pembaca bersedia menuliskan komentar, komentar apapun juga, atau hanya  sekedar LIKE. Komentar pembaca penting buat saya untuk meningkatkan kwalitas tulisan saya, dan akan sangat menguatkan bagi pembaca2 lain. Mari kita saling berbagi agar semakin banyak teman2 lain yang bisa mengalami hidup sehat dan panjang umur…

***000ooo000***

4 thoughts on “2.12 Miracles of Fasting: IF & Mindset

  1. Dulu bb saya 82 kg ga turun turun walaupun sdh gowes 20 km tiap pagi. Akhir Februari 2020 saya ketemu pak Guntur , saya coba rubah pola makan , dinner maksimal jam 18.00 (sebelumnya jam 19.30 – 20.00) dan besok paginya jam 7.30 baru breakfast, tetap ditambah gowes tiap pagi. Juni 2020 saya timbang bb saya turun jadi 71 kg . Thanks pak Guntur atas sharingnya.

    • Wuikkk turun 11 kg yaaa???

      Padahal cuma IF 14:12 ya???

      Tapi kemungkinan besar Gowesnya sangat membakar kalori, makanya bisa turun sebanyak itu…

      Luar biasa…

      Thanks atas sharingnya…

        • Secara singkat jawabannya iya…

          Akan tetapi apakah karena ZQ tidak menyembuhkan? Ini yang sekarang sedang saya cari jawabnya.

          Saya mengenal ZQYX sdh sangat lama, tetapi apakah saya menjalankannya dengan benar? Sama sekali tidak!.

          Seperti apa yang saya tulis, saya tahu berenang itu bagus. Atau secara umum, kita semua tahu berolahraga itu baik. Akan tetapi seberapa serius kita berolahraga sehingga memberikan efek kesembuhan? Saya sendiri baru 3 tahun terakhir berolahraga pada level seharusnya, dan saya baru merasakan benefitnya.

          Selama saya mengenal ZQ sejak 2009, baru kurang lebih 2 minggu terakhir, saya baru bisa melakukan ZQ setiap malam berturut2 selama 1 – 1 jam 15 menit. Selama ini, 15 menit saja sudah hebat, paling lama 30 menit.

          Jadi apakah ZQ tidak menyembuhkan? Saya tidak mengatakan demikian hingga saya nanti membuktikannya.

          Mengapa demikian? Karena ZQ berbeda dengan OR yg lsg bisa kita rasakan impactnya secara fisik. ZQ lebih abstract dan saya agak sulit menerima hal2 abstract kecuali ada bukti atau bisa diterima akal saya. Nah gadget2 modern sekarang ini, memungkinkan saya mengukur hasil ZQ ini, dan ini yang sedang saya lakukan beberapa waktu terakhir ini.

          Semoga dalam waktu dekat saya bisa membuktikan hasilnya, dan saya tuliskan hasil analisa saya.

          Semoga menjawab pertanyaan Anda, terima kasih atas komentarnya.

          Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s