Tulisan saya ini saya tulis untuk berbagi pengalaman memilih dan belajar menaiki hoverboard. Jadi bagi yang sudah mahir, silakan di skip saja kecuali lagi nganggur…:)
Salah satu gadget yang paling popular sekaligus controversial saat ini adalah hoverboard, benda beroda dua yang saat ini sangat digandrungi para remaja di seluruh dunia karena menaikinya membuat kita serasa terbang di atas tanah. Katanya…
Masaaaa sihhh?? Gak percaya… then… keep reading… 🙂
Kepopuleran hoverboard (istilah yang salah kaprah itu) semakin menanjak setelah beberapa airline termasuk juga Singapore Air pada 21 Desember 2015 lalu, melarang penumpangnya membawa hoverboard ke pesawat, baik di dalam cabin maupun dimasukkan ke bagasi. Hal ini dilakukan oleh airline itu setelah meneliti banyaknya insiden yang menyebabkan hoverboard ini meledak ketika sedang ataupun tidak di charge. Salah satu video yang saya lihat di youtube, meledak ketika hendak dinaiki.
Selain berita meledaknya hoverboard yang diakibatkan oleh battery overheating pada saat di charge, banyak berita lain yang mengabarkan mengenai kecelakaan yang diakibatkan oleh beda ini. Ada yang nyemplung kolam, kepala bocor nabrak meja, ada yang nabrak pohon, terjengkang, terlempar dlsb.
Siapa yang tidak pernah mendengar Kawah Ijen yang terkenal itu? Saya rasa hampir semua pembaca pernah mendengar, bahkan mungkin sudah mendakinya. Saya juga, tapi baru sekedar mendengar saja, belum pernah mendaki apalagi menuruni Kawahnya, hingga tanggal 24 Desember 2015 lalu.
Beberapa waktu lalu, tiba2 salah satu group chat saya yang biasanya sepi, sekonyong-konyong bergairah, sedari pagi tang ting tung bertubi-tubi hingga saya tidak tahan dan akhirnya saya silent.