How to ride a hoverboard?

Tulisan saya ini saya tulis untuk berbagi pengalaman memilih dan belajar menaiki hoverboard. Jadi bagi yang sudah mahir, silakan di skip saja kecuali lagi nganggur…:)

Salah satu gadget yang paling popular sekaligus controversial saat ini adalah hoverboard,  benda beroda dua yang saat ini sangat digandrungi para remaja di seluruh dunia karena menaikinya membuat kita serasa terbang di atas tanah. Katanya…

Masaaaa sihhh?? Gak percaya… then… keep reading…🙂

Kepopuleran hoverboard (istilah yang salah kaprah itu) semakin menanjak setelah beberapa airline termasuk juga Singapore Air pada 21 Desember 2015 lalu, melarang penumpangnya membawa hoverboard ke pesawat, baik di dalam cabin maupun dimasukkan ke bagasi. Hal ini dilakukan oleh airline itu setelah meneliti banyaknya insiden yang menyebabkan hoverboard ini meledak ketika sedang ataupun tidak di charge. Salah satu video yang saya lihat di youtube, meledak ketika hendak dinaiki.

Selain berita meledaknya hoverboard yang diakibatkan oleh battery overheating pada saat di charge, banyak berita lain yang mengabarkan mengenai kecelakaan yang diakibatkan oleh beda ini. Ada yang nyemplung kolam, kepala bocor nabrak meja, ada yang nabrak pohon, terjengkang, terlempar dlsb.

Hal ini membuat saya tidak tertarik untuk mengikutinya, hingga hari Senin, tgl 8 Feb 2016, pas Chinese New Year lalu. Saya sedang duduk manis menunggu antrian di resto Bebek Tepi Sawah di Living World Alam Sutera, ketika tiba2 seorang anak seusia 10 tahunan dengan santai meluncur di depan saya… werrrrr…

Lohhhh… kok sudah beredar disini, pikir saya? Apa tidak dilarang?

Dasar kuper dan jarang jalan2 ke mall, saya tidak tahu kalau ternyata hoverboard sudah beredar banyak di negara tercinta ini.

Karena penasaran, saya ikuti si anak tersebut, sampai dia berhenti di salah satu booth pameran yang menjual berbagai bentuk hoverboard. Ternyata si bocah tadi sedang mencoba hoverboard yang dipajang disana.

Sayapun iseng melihat-lihat dan menanyakan bagaimana cara menaikinya. Beberapa anak2 yang ada disana, sudah ada yang bisa berdiri di atas hoverboard, ada yang anjrut2an maju mundur, ada pula seorang dewasa saya lihat hampir terjengkang jika tidak dipegangi temannya.

Hmmm… susah gak ya… bikin penasaran bener, pikir saya. Maka sayapun mencoba menaikinya.

Deg2an juga ketika saya mulai menginjakkan kaki kanan saya di hoverboard itu. Bagaimana jika terjerembab atau terjengkang? Bagaimana kalau nabrak kiosk yg lagi pameran disana? Bagaimana kalau kepala bocor?

Namun saya pantang mundur, begitu saya letakkan kaki kanan saya, hover langsung berbunyi tiiitttt…dan beraksi maju. Saya reflex langsung meloncat mundur, kaget…🙂.

Si mbaknya enak aja omong:”Gak papa Pak, injek aja”. Injek palelu… batin saya… hihihi…

Saya kemudian maju lagi mencoba dengan sangat lembut meletakkan kaki kanan saya, kembali si hover begitu mendeteksi ada tekanan langsung bereaksi dan bahkan bergetar. Saya angkat sekali lagi kaki saya. Setelah itu saya nekat, setelah saya taruh kaki kanan saya, tanpa pikir panjang langsung saya angkat dan letakkan kaki kiri saya.

Eittt… sedetik saya bisa berdiri, namun karena belum percaya diri, begitu badan saya condong sedikit ke depan si hover langsung aja mau kabur… eitttt… secara reflex saya menarik badan saya dan si hover langsung mundur. Begitu saya merasa mundur, saya memajukan badan lagi ,dan si hover langsung maju lagi…

Jadilah saya ajrut2an seperti yang saya lihat pada anak2 atau orang lain di depan saya itu… wkwkwk… (nanti perhatikan saya ajrut2an di video yang saya post disini…)

Itu semua terjadi hanya beberapa detik dan saya langsung melompat turun…

Asemmm bener… deg2an juga eh…

Sementara saya menenangkan diri, beberapa bocah sliwar sliwer disekeliling saya sembari cengengesan…

Errrggghhhh penasaraaaannn benar… masa gak bisa sih… lupa dah dengan umur sendiri yang sudah setengah abad lebih🙂.

Setelah itu pikiran saya tidak lepas dari si hover ini… benar2 membuat saya penasaran.

Sesampai di rumah… eh belum ding… masih dalam perjalanan pulang, saya coba cari2 info lebih detail, menonton youtubenya, mencari petunjuk bagaimana menaikinya…dan mencari sellernya di Jakarta, ternyata… wuihhhh buanyak sekali yang jual… Bermacam-macam merek, model, ukuran, warna, harga dlsb. Saya jamin bingung deh…

Saya coba refer ke Amazon karena biasanya review2 disana cukup bisa dipercaya, namun sayang sekali model yang popular disana tidak ada disini. Dan sama juga masalahnya, merk, model, harga di Amazon juga bermacam-macam… benar2 membingungkan.

So in short, setelah saya menetapkan pilihan maka hari Kamis minggu lalu saya memesan barangnya dan hari Jumat siang lalu dikirimkanlah sebuah hoverboard berwarna hitam dengan ukuran wheel 6.5” ke kantor saya.

Berikut ini saya akan menceritakan pengalaman saya menaikinya mulai dari nol hingga sedikit bisa menikmatinya. Mudah2an sharing saya ini bermanfaat bagi yang sedang mencari atau setelah membaca tulisan saya ini hendak mencobanya.

Hoverboard

Pertama saya ingin membahas sedikit mengenai hoverboard ini, just skip bagian ini kalau pembaca sudah mengetahuinya. Bagi yang masih awam silakan lanjut membacanya.

Istilah hoverboard sebenarnya muncul dari papan terbang (melayang) yang digunakan oleh Michael J. Fox di film Back To The Future Part III (film lawas yang dulu pada jaman saya masih muda sangat popular).

Michael J. Fox di film Back To The Future

Michael J Fox

Ide mengenai papan layang ini kemudian sempat direalisasikan prototypenya oleh Lexus dan dipublikasikan sekitar pertengahan tahun 2015,seperti foto di bawah ini. Product ini sangat canggih, memanfaatkan technology super conductor seperti yg digunakan pada kereta api cepat (bullet train). Namun hingga sekarang belum juga jelas spesifikasi teknis, harga serta kapan akan diluncurkan.

 

Masyarakat yg sudah tidak sabar menunggu tiba2 disuguhi dengan product dengan technology auto balance seperti yang digunakan oleh Segway beberapa tahun lalu. Namun dengan bentuk yang jauh lebih compact disbanding Segway dan harga yang terbilang ramah di kantong.

Tampang si Hoverboard gadungan…

hoverboard

 

Bentuknya jauh berbeda dengan hoverboard di film Back To The Future atau besutan Lexus di atas. Namun, meskipun memakai roda, perasaan ketika meluncur dengan hoverboard KW2 alias gadungan ini…(bwakakakak… geli sendiri saya dengan istilah ini…) memang serasa terbang… werrrrr… angin bertiup di sekujur tubuh kita, menyibakkan rambut yang tak seberapa dalam kondisi badan diam tidak bergerak… mirip lah seperti melayang… kalau gak mirip ya dimirip2in lah…. Wkwkwk…

Ada yang memberi nama hoverboard gadungan ini dengan smart wheel atau self-balancing scooter atau self-balancing two-wheeled board… Jiahhh… lidah sampai terlipat-lipat menyebutkannya… Dah daripada susah2… kita pakai hoverboard aja ya… atau hover aja…lagian lebih keren rasanya… wkwkwk…

So si hover ini ada berbagai macam model seperti di bawah:

 

Selain bentuk dan warna yang bermacam-macam, ukuran bannya juga bermacam-macam, mulai dari 6.5, 8, 10, 12 hingga 14 inch. Selain itu ada yang menggunakan remote untuk memati hidupkan hoverboard, ada pula yang menggunakan aplikasi smartphone sehingga hovernya bisa dipanggil kesana kemari🙂. Hal lain yang membedakan adalah harganya.

Harga hover di Indonesia dan juga di seluruh dunia berbeda-beda, mulai dari sekitar 2.5 jutaan hingga ada yang menjual 8 jutaan. Masing2 mengunggulkan fitur masing2.

Secara teknis benda satu ini cukup menakjubkan. Hanya 2 – 3 jam di charge sudah bisa dipakai untuk dinaiki sejauh 15 – 20 km atau nonstop kurang lebih 3 – 4 jam, berarti dalam hal saya, bisa pulang pergi dari rumah ke kantor hampir 2 kali, dengan beban maksimum 110 kg.

Kecepatannya? Untuk jenis yang saya beli sekitar 10 km/jam, namun ada juga yang hingga 21 km/jam… Cukup cepat lho… Kecepatan rata2 kita berjalan hanya sekitar 5 km/jam, berarti paling tidak 2x kecepatan kita berjalan. Dengan speed spt ini, pada saat menikung atau berputar, kita bisa terlempar lho, jangan macam2. Jadi saya pikir sangat perlu menggunakan pelindung jika menggunakannya di jalan beraspal.

My Hoverboard…

Jika pembaca masih awam dengan dunia hover seperti halnya saya, saya jamin pembaca akan bingung memilihnya. Semakin di browse semakin bingung. Dan kalau kita tanya keunggulan produk mereka, ya semua mengatakan kecapnya nomor satu…wkwkwk…

Saya sendiri setelah membaca sana sini semakin bingung, akhirnya saya putuskan membeli hover dengan roda kecil. Lho kan semakin sulit pengendaliannya? Tidak ada yang bisa  mengkonfirmasi pertanyaan ini, tetapi logika saya memang akan lebih sulit. Tadinya sempat hendak membeli Mi Ninebot seperti foto di atas, yang ada tongkatnya itu. Rodanya besar 14”, dan tampak stabil.

Namun saya tetap memutuskan untuk membeli roda kecil 6.5” dengan pertimbangan jika saya bisa mengendalikan roda kecil itu, maka hover dengan roda besar tentu akan lebih mudah saya kuasai. Lagipula pada saat awal, saya membayangkan hover saya akan nabrak sana sini termasuk sayanya juga wkwkwk… Sehingga saya jadikan saja hover pertama ini sebagai kelinci percobaan dengan harapan nanti JIKA sudah mahir baru membeli yang lebih bagus dan mahal. Setuju gak pembaca?

So, sayapun mulai memburu yg wheelnya 6.5” plus beberapa kriteria lain yang akan memudahkan kita mencarinya.

Salah satu masalah yg sering dibicarakan di internet adalah meledaknya battery hover ini, sehingga pemilihan hover dengan battery yang bagus tentu akan mengurangi resiko itu. Nah salah satu review yang saya baca mengatakan bahwa hover dengan battery Samsung lebih baik daripada battery antah berantah. Hal inipun kemudian menjadi kriteria kedua saya.

Selebihnya adalah remote. Ada yang pakai remote, ada juga yang tidak. Namun karena harga yang pakai dan tidak pakai, kurang lebih sama, sementara saya tidak tahu gunanya, maka saya pilih yang pakai. Akan tetapi setelah saya pakai, tidak terlalu banyak manfaatnya, hanya mengurangi kita membungkuk-bungkuk untuk menghidup-matikan hover plus buzzer yg bunyinya tidak sekeras yang seharusnya.

Sedangkan hover dengan Bluetooth dan smartphone application tidak saya lirik, lha buat apa manggil2 hover kesana kemari kayak mainan mobil2an pake remote aja wkwkwk… Jadi kriteria ini saya abaikan, kecuali pembaca ada yang suka melihat hovernya muter2 sendiri untuk menakut2i kucing, anjing atau tetangga wkwkwk…

Selanjutnya pilihlah hover yang dijual beserta tasnya, ada yang menjual terpisah ada yang sudah include. Coba cari yang sudah include, just in case pembaca ingin membawanya ke taman atau tempat lain. Ada yg menjual tas hover secara terpisah, tetapi karena ukuran wheelnya berbeda-beda, kita bisa jadi susah mencari tas yang pas. Jadi saran saya beli saja yang sudah include tasnya sekalian.

Terakhir, banyak yang menjual hover tanpa garansi. Pilih yang ada garansinya, meskipun saya tidak menggaransi bahwa tokonya akan menggaransi wkwkwk… Bukan saya ngeledek ya, tapi merek hover itu sudah gak karu2an banyaknya, sehingga saya curiga mereka asal tempel merek saja. Akan tetapi kalau ada garansi meskipun abal2, paling tidak kita bisa menuntut toko penjualnya untuk bertanggung jawab.

Saya rasa dengan kriteria yang saya jelaskan di atas pembaca akan lebih mudah memilih hover yang diinginkan. Saya tidak mengatakan merek hover yang saya beli karena saya sendiri tidak yakin apakah pilihan saya ini benar. Namun jika pembaca ingin tahu pilihan saya, silakan email saya, asal resiko ditanggung sendiri :p.

How to ride it…

Nah bagian ini tentu yang paling pembaca tunggu. Saya mencari-cari info ini tidak ada yang menjelaskannya secara detail. Semoga saya berhasil menjelaskan dengan lebih gamblang ke pembaca semua.

Pertama, untuk bisa segera menguasai hover ini, sangat penting untuk memupuk kepercayaan diri. Menurut saya ini penting sekali. Nanti saya akan jelaskan kenapa.

Jadi akan lebih cepat penguasaan hover jika kita yakin bisa, mantappp… gak pake ragu2. Dan jangan takut jatuh, anggap itu adalah harga yang harus dibayar🙂. Kan katanya No Pain No Gain🙂.

Bagi anak2 akan lebih cepat, karena mereka menaikinya tanpa banyak pertimbangan, namun seiring usia, maka semakin besar juga rasa takut, termasuk saya juga😛. Saya rasa mirip seperti ketika pertama kali kita belajar naik sepeda, hanya ini sedikit lebih… mengerikan🙂.

Kedua, prinsip kerja hover ini cukup sederhana meskipun secara electronic sangat complex. Otak hover ini adalah main logic board yang terletak di dalam body hover. Salah satu komponen dari main logic board ini adalah gyroscope yang bertugas menyeimbangkan hover agar tetap balance.

Hover akan maju ke depan jika kita menyondongkan badan ke depan, atau mundur jika kita mendoyongkan badan ke belakang. Paling tidak seperti itu instruksinya.

Hoverboard manual

Saya ulang sekali lagi, hover akan bergerak maju jika kita condongkan badan ke depan, dan bergerak mundur jika kita mendoyongkan badan ke belakang. Simple.

hoverboardInstructions_0001_Layer-2

Sekarang bagaimana kita bergerak ke kanan atau kiri?

Struktur hover terdiri atas 2 bagian dihubungkan tuas di bagian tengah. Bagian kiri dan kanan bisa berputar sekitar 1 cm ke depan / belakang secara independent (mandiri).

hoverboard 2

Jika bagian kanan kita tekan ke depan, maka bagian kanan hover akan maju, namun jika saat itu bagian kiri tidak kita tekan maka sebagai akibatnya hover akan berputar ke kiri. Demikian pula halnya jika bagian kiri kita tekan ke depan, sementara bagian kanan tidak kita apa2kan, maka hover akan bergerak ke kanan.

Jika kedua bagian kita tekan ke depan atau dengan mencondongkan badan ke depan, hover akan maju.

Hal yang sama akan terjadi kalau kita injak bagian belakangnya atau badan kita doyongkan ke belakang, maka hover akan mundur. Jika hanya satu bagian yang kita tekan ke belakang, maka hover akan berputar mundur ke kiri atau ke kanan, tergantung bagian yang kita tekan.

Pembaca seusia saya tentu tahu mesin jahit manual seperti Singer itu kan, nah menggerakkan bagian kiri dan kanan hover itu mirip seperti menjahit itu…sok sok saya bisa menjahit aja… wkwkwk… Tapi seriously seperti itu yang saya rasakan…

Cukup dengan sedikit menggerakkan pergelangan kaki kanan ke depan, hover langsung bergerak ke kiri… werrr… tekan kaki kiri  ke depan, hover bergerak ke kanan. Tekan kedua kaki kedepan, hover melaju ke depan… Demikian pula halnya dengan mundur, secara prinsip sama.

Fiuuuhhh… susah juga ya menjelaskannya…

Namun pembaca tidak perlu pusing mengenai hal ini, setelah pembaca menguasai bagian paling sulit yang akan saya bahas berikut ini, maka saya jamin penjelasan saya di atas akan terasa mudah.

Ketiga, bagian tersulit dari mengendarai hover ini adalah ketika pertama kali kita menaikinya. Nah pada bagian inilah sedikit kepercayaan diri diperlukan.

Permukaan hover yang kita injak, memiliki sensor yang sangat sensitive. Sedikit saja kita menempelkan kaki, hover langsung mendeteksinya. Hal ini akan diinformasikan oleh hover melalui bunyi beep. (Lihat video di bawah)

Jika kita ragu2 menempelkan telapak kaki, maka hover akan bergerak2 maju. Kalau kita tempel kelamaan maka dia akan bergetar, seperti isolation begitu. Sehingga, pada saat menaiki harus langsung dengan yakin menempelkan kaki kanan/kiri, diikuti dengan kaki lainnya.

Masalahnya bagi kita yg belum terbiasa, tentu kita takut “njlungup” alias terjerembab ke depan. Sehingga ketika kita naik dan hover bergerak ke depan, kita berusaha memundurkan badan, akibatnya hover mendeteksi kita hendak mundur dan bergerak mundur. Karena bukan maksud kita mundur, secara reflex akan menyeimbangkan badan ke depan, akibatnya hover maju… Itulah penyebab terjadinya “ajrut-ajrutan” wkwkwk…(lihat di video saya di bawah).

Lalu bagaimana dong supaya langsung bisa gak pake ajrut2an???

Saya rasa sebagian besar, bahkan mungkin hampir semua orang, yang pertama kali menaiki hover akan mengalami proses “ajrut-ajrutan” ini. Jadi tidak perlu khawatir tidak kebagian hahaha…

Yang membedakan satu dengan yang lain adalah tingkat kepercayaan diri masing2 orang.

Ada yang stress, deg2an karena takut jatuh, kemudian berhenti menaikinya.

Ada pula yang kemudian tetap nekat mencobanya dan … ajaib, seperti dulu kita belajar naik sepeda, tiba2 tubuh manusia ciptaan Tuhan yang luar biasa ini akan dengan secara luarbiasa menyeimbangkan diri. Pada saat itulah kita akan mulai merasakan kenikmatannya… Hohoho… nikmattt bokkk…

Jadi sebelum mulai menaiki hover, tetapkan di kepala, saya pasti bisa, paling2 juga jatuh… Dan tanpa ragu2 naik dan berusaha menyeimbangkan diri dengan tenang.

Jika pembaca sudah bisa melakukannya, maka selamat, congratulations, pembaca tinggal mengexplore penjelasan saya di atas untuk maju, mundur, berputar kiri/kanan, mundur kiri/kanan dll manouver2 lain yang saya sendiri juga belum bisa🙂.

My experience:

Pada saat saya menuliskan postingan ini, saya baru mulai mencoba pertama kali menaikinya sepulang dari kerja kemarin malam. Plus sedetik dua ketika di Alam Sutera itu… that’s all…

Video berikut saya rekam mulai dari percobaan pertama, kedua hingga beberapa menit dari pertama kali menaiki hoverboard…

 

Setelah itu saya masih mencoba sekitar 15 – 20 menit sebelum saya tinggal tidur dengan bonus dua kali terbanting ke lantai dan tangan hampir keseleo🙂.

Pagi hari setelah saya berolahraga kecil, saya mencoba kembali, takut sudah hilang ilmu saya…wkwkwk… Saya lihat sekilas hover saya, saya hidupkan dan hopppp… langsung inget🙂. Mirip seperti kita pertama kali bersepeda dulu waktu kecil.

Dan Sabtu sore ini, selagi saya menuliskan postingan ini, saya meminta istri saya merekam ilmu saya sudah seperti apa, ternyata lumayan juga…hehehe… gak kalah dengan bocah2 di Mall Alam Sutera kemarin🙂. Semua ini adalah hasil dari berlatih secara total selama kurang lebih 1 jam terhitung dari kemarin malam.

Penutup

Banyak komentar yang saya peroleh ketita saya menceritakan bahwa saya membeli hoverboard. Ada yang mengatakan gokil, keren, ciamik, hebat dlsb… Namun secara umum jika saya terjemahkan secara kejiwaan…:)… mereka pada terheran-heran dengan tindakan saya ini, mungkin di hati kecil mereka berkata:”Ini udah pantes jadi opa2 kok mainan hoverboard…”…bwakakak….

Pertama kali saya membelinya tidak lain dan tidak bukan hanya karena saya tertantang untuk menguasainya, tidak peduli nanti akan dipakai untuk apa. Beruntung dengan sedikit keyakinan saya bisa mencobanya dan hingga detik ini sama sekali tidak menyesal membelinya.

Setelah mencobanya hingga sore hari ini, saya menganggap hoverboard KW2 ini termasuk gadget yang benar2 luar biasa, diantara gadget2 luar biasa lain yang sekarang tumbuh subur bak jamur.

Perasaan ketika kita meluncur dengan desiran angin di pipi, rambut dan telinga kita sungguh luar biasa… cialleeee… Wuuzzzz…. Wuuuuzzz… Wuzzzz… You should try…

Kemudian ketika kita bisa berputar bak ballerina, saya bisa membayangkan betapa… pusingnya si ballerina…wkwkwk… saya berputar 2 – 3 kali saja bumi serasa bergoyang-goyang padahal putarannya pelan sekali. Bagaimana pula tuh si pebalet dan orang2 yang main ice skating muter seperti gasing… luar biasa…

Perkembangan alat ini entah akan menjadi seperti apa, untuk sementara saya kira hanya akan  menjadi alat untuk bersenang-senang saja, belum menjadi alat transportasi yang bisa diandalkan.

Bagi pembaca yang berencana membelinya, teristimewa untuk dipakai anak2, saya sangat menyarankan untuk memakai sarung tangan, alat pelindung lutut, siku dan kepala. Meskipun kecepatannya hanya 10 km/jam, tetapi lontarannya bisa membuat kita gegar otak, atau lutut bolong tergores aspal.

Kita yang sudah berumur tentu lebih sadar untuk mengira-ngira impact dari luncuran hover, namun anak2 yang masih tidak punya takut, akan ngebut atau berputar tanpa kendali dan bisa terlempar.

So… buy one and enjoy while you still can… (ini nasehat untuk pembaca seumuran saya… :P)…

Please komentarnya dong…🙂

 

Salam,

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

Jakarta, Kebon Jeruk,

Sabtu, 13 Feb 2016, 23:28

7 thoughts on “How to ride a hoverboard?

  1. alamak.. terlihat keren pak, saya pernah liat sih orang ajrut2an, tapi belum pernah coba langsung ini hoverboard… kalo jalannya turunan atau tanjakan di GA1 kira2 si hover kuat gak pak?

    • Ayooo dicoba-dicoba… Katanya sih bisa nanjak 15 – 25 derajat, itu cukup tajam, tapi… belum berani coba🙂. Kemarin sy coba turunan cuma 5 cm hampir terpelanting krn kaget tiba2 hovernya meluncur tidak terkendali…🙂

  2. Waw.. P Guntur sy sangat senang baca tulisan bapak… Cucu saya yg 7 th sdh bisa, tapi belum sy belikan… Krn anak sy (Mamanya cucu sy) belum mengizinkan, main di Mall dan sewa aja katanya.. Tapi sy sendiri gak punya keberanian lagi Pak.. Kalau boleh tau rekomendasi merk apa ya pak ..

  3. Keren tulisannya..
    Komplit, lucu dan menggugah selera, wkwkwk..
    Itu cara ngeremnya tinggal seimbangkan tubuh dan kaki saja ya?

    • Hmmm… mereknya berinitial V… Harganya saya kok lupa ya, tapi harusnya skr sudah semakin murah dan semakin canggih ya…

      Hingga hari ini masih bagus tuh, tadi juga baru saya pakai muter2 di rumah… hehehehe…

      Salam,

      • Mantabs, om.
        Terima kasih udah di-reply.
        Itu merek V***N yah, om? Harga 3 jutaan.
        Rencana mau beli yang 2jutaan aja dulu untuk ujicoba.
        Ndak tau apakah seawet punya om atau ndak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s