Pulau Merah Swallowed My Inspire … :(

dji inspire 1Ketika mengetahui bahwa saya sedang merencanakan perjalanan ke Jember dalam rangka menengok mertua saya yang tinggal disana, seorang teman SMA langsung mempromosikan keindahan Pantai Pulau Merah (PPM) di Pesanggaran, dekat Banyuwangi, Jawa Timur, sana.

Saya sama sekali tidak pernah mendengar mengenai PPM ini, bahkan istri dan adik ipar saya yang sedari kecil tinggal di Jember pun tidak pernah mendengarnya. Lebih parah lagi, supir yang saya sewa, orang Jember, juga tidak pernah mendengarnya.

Namun ternyata, setelah saya Googling, PPM yang berada di daerah Pesanggaran ini cukup terkenal di antara para surfer dalam dan luar negeri, karena pantainya yang berombak. Bahkan pantai di daerah ini pernah menjadi ajang kompetisi surfer international, International Surfing Competition, selama dua tahun berturut-turut, 2013 dan 2014 lalu. Jadi mestinya layak untuk dikunjungi.

Saya kemudian mencoba melihat beberapa ulasan dan foto2 mengenai tempat ini. Hmmm… memang tampak sangat indah sih… pantainya putih bersih dengan aksen warna biru laut ditingkahi buih2 ombak …indah…. apalagi kalau difoto dari udara pikir saya … Hmmm pasti jauh lebih indah deh, begitu pikir saya.

Kemudian sayapun memutuskan untuk mengunjunginya, bukan untuk menginap apalagi bermain surfing, yang sudah pernah membuat kepala saya njendol ketabak surf-board, tetapi untuk memotretnya dari udara menggunakan drone terbaru saya, Inspire 1. Jiahh…mantep kan…🙂

Selama perjalanan, saya sibuk membayangkan route penerbangan dan sudut pengambilan gambar yang paling bagus seperti apa, karena saya hanya mempunyai 2 battery drone yang total hanya mampu memvideo kurang lebih 30 menit maximum. Selain itu saya juga sibuk berharap semoga langit disana cerah… demikian doa saya dalam hati.

Hari Sabtu kemarin, tanggal 28 Maret 2015, saya, istri, kedua mertua saya dan supir berangkat menuju lokasi dengan mengendarai mobil. Kami berangkat pukul 7 pagi agar tiba di lokasi tidak terlalu siang, karena menurut informasi yang kurang begitu jelas di internet, perjalanan menuju lokasi dari Jember ditempuh kurang lebih 3 jam.

Selama perjalanan saya mencoba menghidupkan Waze, lokasi tidak ditemukan. Saya ulang beberapa kali, tetap tidak ketemu. Akhirnya saya menggunakan Google Maps, ketemu Pulau Merah, tetapi tidak ketemu route nya, karena Google menganggap tidak ada jalan darat menuju Pulau itu, kecuali mau berenang🙂.

Saya pada akhirnya hanya menggunakan desa Pesanggaran sebagai patokan/tujuan, saya pikir nanti saja sesampai disana saya menggunakan Google Mouth (pake mulut nanya2…getoo maksud saya :)).

So singkat cerita, setelah melalui kota Genteng, kemudian menuju kota Jajag, perjalanan mulai melewati jalan yang hanya pas untuk dua mobil berpapasan. Jalanan juga tidak terlalu mulus, namun cukup lancar untuk dilalui mobil sejenis Kijang (tidak saya sarankan menggunakan sedan).

Ini kondisi jalan menuju PPM

Pantai Pulau Merah 1Sepanjang jalan di antara Jajag, terutama daerah Pesanggaran, saya menemui pemandangan yang cukup mencengangkan. Di sepanjang jalan itu banyak sekali saya lihat tanaman buah Naga, yang dulu pernah menjadi buah mahal ketika pertama kali diperkenalkan di Jakarta.

Buah Naga 0

Saya ternganga, pertama karena melihat jeleknya bentuk tanaman buah naga itu, mirip seperti kaktus yang memanjang, kedua ternyata di daerah itu buah Naga ditanam dimana-mana (bahasa kerennya “telecekan”), mulai dari kebun yang memang sengaja dijadikan kebun buah Naga, di pekarangan rumah2 penduduk hingga di pinggir2 jalan. Gila bener… saya pikir dibudi dayakan di perkebunan khusus dengan treatment istimewa, maklum namanya mirip dewa gitu.

Ini yang dibudi dayakan khusus di kebon

Buah Naga 1

Ini ditanam sekenanya di pekarangan rumah

Buah Naga 2

Buah Naga 4

Ini penjual buah Naga yang banyak ditemukan di sepanjang jalan

Buah Naga 3

Lihat tampang tanamannya, seperti kaktus, spy buah tidak menempel ditanah, maka tanaman ini ditempelkan ke pohon lain. 

Buah Naga 5

Buah ini dulu jadi buah exclusive yang sangat mahal harganya, disana sekilo hanya Rp. 8.000,- (delapan rebuu…), itupun belum saya tawar. Duhh… mana tega rasanya menawar buah yang di pasar Jember mereka sebut buah Imlek itu (entah siapa yang memberi gelar buah ini buah Imlek…, pinter aja marketingnya :)).

Setelah melalui banyak tikungan yang kurang jelas tanda arahnya (sayang sekali lokasi seperti ini kurang petunjuk jalan yang jelas, khas Indonesia), dikombinasi antara Google Maps and Mouth, maka tibalah kami di lokasi sekitar pukul 11 an.

Petunjuk arah yang kudu jeli melihatnya

Pantai Pulau Merah 2

Memasuki pintu masuk Pantai Pulau Merah, kita akan dikenakan retribusi yang saya lupa berapa, tetapi masih sangat terjangkaulah untuk masyarakat kecil:

Pantai Pulau Merah 3Setelah membayar retribusi, kita disuguhi pemandangan warung-warung yang berjejer tidak tertata rapi.

Pantai Pulau Merah 4

Kemudian tampak berjejer mobil pribadi serta bis-bis rombongan memarkir kendaraannya sesuka hati. Asal ada tanah kosong, silakan parkir. Bebas merdeka🙂.

Kamipun mencari tempat yang teduh dan memarkir mobil kami.

Begitu keluar dari mobil, alamakkk….puanasssnya minta ampun, byuhhh…luar biasa panasnya, sampai2 kaki saya tidak tahan menginjak pasir yang sudah terpampang matahari sejak pagi itu. Untungnya ibu mertua saya ingat membawa sunscreen lotion (orang tua memang berpikiran jauh ke depan ya… ), jika tidak saya sudah hitam legam saat ini.

Kami segera duduk di bawah tenda yang disewakan oleh penduduk setempat seharga Rp. 20.000,- perjam atau Rp. 50.000,- per tiga jam. Memesan es kelapa muda, sembari melihat-lihat dan memotret pemandangan indah di depan mata saya.

 Panorama View Pantai Pulau Merah

Pantai Pulau Merah 5Pantai Pulau Merah 10 Pantai Pulau Merah 9 Pulau Merah yang dimaksud ternyata adalah sebuah pulau kecil yang hijau karena pepohonan yang tumbuh sangat subur. Saya mencoba mencari-cari warna merah yang dimaksud tetapi tidak ketemu tuh…

 Pulau Merah tampak di latar belakang

Pantai Pulau Merah 6 Pantai Pulau Merah 7 Pantai Pulau Merah 7b Pantai Pulau Merah 8Setelah memotret-motret sebentar pantai yang indah namun very hotto itu. Sayapun mulai mempersiapkan drone saya. Memasang baterai, menaikkan landing gear, memasang camera, memasang propeller, memasang ipad, menghidupkan remote, menghidupkan iPad, mencolokkan kabel ke ipad, mensinkronkan remote dengan Inspire, berputar putar seperti orang India untuk menyelaraskan kompas dsb dsb sehingga semua siapp…

Angin bertiup cukup kencang namun Inspire mampu menjaga kestabilan penerbangannya dengan sangat baik.

GPS signal full.

Remote battery full.

Inspire battery full.

Video signal full, gak pake mbrebet…

Perfecto !

Saya menekan tombol auto take off…. Propeller berputar…. Dan brrrrr…. si Inspire naik ke atas…

Saya senang sekali melihat video streaming yang ditampilkan di iPad saya, clear dan stabil, karena saya kebetulan saya bisa berteduh di bawah naungan pohon sambil tetap mempertahankan posisi LOS (line of sight).

Inspire terbang menyusuri pantai hingga kurang lebih berada di selat antara pantai dengan Pulau Merah dan saya bermaksud mengelilingi Pulau untuk kemudian kembali ke menyusuri pantai kembali ke posisi Home.

Inspire mulai berputar ke kanan, video masih lancar, mulai menghilang di balik Pulau dan tiba… Signal Lost… Bluppp…. Layar iPad hitam… Saya kaget… lho… jaraknya ketika itu seingat saya masih sekitar 800an m, signal masih sangat kuat. Seharusnya masih bisa sampai 2 km mengingat daerah sana bebas signal aneh seperti Operator Telpun, Wifi, Stasiun Televisi dlsb.

Saya menunggu sebentar, mencoba menekan tombol Home, tidak bereaksi. Panik mulai menjalari tubuh saya. Saya maju beberapa meter, keluar dari naungan pohon, tetap tidak bereaksi. Saya maju beberapa meter, tidak bereaksi.

Saya mulai berjalan menyusuri pantai untuk mendekati Pulau Merah yang ternyata berjarak lebih dari 1 km. Saya sudah tidak perduli lagi sengatan panas matahari dan panasnya pasir di kaki saya. Tetap tidak ada reaksi. Saya mulai berjalan cepat karena takut battery Inspire tidak cukup untuk kembali ke Home base. Tidak bereaksi juga.

Terakhir sayapun berlari menuju ke Pulau Merah agar supaya bisa mencapai bagian belakang Pulau, karena disana terakhir posisi Inspire saya. Sembari berlari saya mencoba mengganti iPad saya dengan iPhone 6+, karena sebelumnya saya pernah mengalami iPad saya tiba2 hang. Tidak bereaksi juga.

Ketika akhirnya saya berada di depan Pulau, dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran, dan saya juga bisa melihat posisi terakhir Inspire saya, tetap tidak ada signal dan tidak tampak si doi di langit, sayapun pasrah.

Posisi terakhir berada di sebelah kiri Pulau Merah ini

Lokasi Inspire HilangSupir saya yang ketika itu berlari mengikuti saya, mengajak saya untuk menyebrang ke Pulau Merah. Saya lihat ada beberapa orang sedang berendam di dekat saya berdiri, terheran-heran melihat saya yang berlari2 membawa sesuatu di tangan dalam kondisi panic🙂.

Saya perhatikan dan saya pertimbangkan ajakan supir saya yang malah lebih panic daripada saya🙂. Setelah sesaat saya mulai tenang, saya katakan yuk balik saja. Eh si supir malah ngeyel, malah ngajakin nyebrang ke Pulau Merah: “Pak kita kesana aja, kita cari”. Saya bilang percuma sudah, ayo balik.

Saya berbalik pelan sembari mengutuki nasib apes siang itu. Namun remote dan iPad tetap tidak saya matikan, karena saya masih berharap terjadi mukjijat Inspire saya kembali ke Home base pada saat saya berjalan menuju Pulau Merah. Namun hingga saya mencapai lokasi awal mobil saya parkir, tetap tidak ada signal apa2, dan sayapun menyadari Inspire saya telah lenyap.

Saya mengambil foto ini dari posisi di dekat Pulau Merah

Lokasi Inspire Take Off

Mertua saya yang tadinya tidak tahu apa, hanya melihat saya melintas berlari menyusuri pantai, terbengong-bengong begitu mengetahui apa yang terjadi. Saya yang sudah pasrah, segera duduk di bawah tenda, menghabiskan es kelapa yang belum sempat saya minum sembari membereskan peralatan yang tersisa.

Mertua dan istri saya yang masih tidak bisa menerima kehilangan ini, mengajak saya menyewa jukung (perahu) nelayan untuk mendatangi lokasi terakhir hilangnya Inspire itu. Tapi saya tolak mentah2🙂.

Lha gimana mau sewa perahu sementara lokasi persisnya saja tidak bisa saya pastikan, karena view terakhir berada di balik Pulau.

Peta lokasi jatuhnya drone

MapFlight Log

Flight Log Saya menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

Pertama, Inspire fly-away, istilah untuk drone yang kabur karena kehilangan signal. Hal yang semestinya tidak terjadi jika Auto Return Home (RTH) berfungsi baik. Namun beberapa kejadian di berbagai belahan dunia, si drone kadang2 bandel, mau menentukan nasib sendiri, jadi membelot tidak mau balik ke Home base wkwkwkwk… Untuk kasus ini, mana bisa dikejar pakai jukung heheheh…

Kedua, Inspire kehilangan signal, tidak melakukan RTH, tetapi bengong sampai kehabisan battery dan nyemplung ke laut atau jatuh di bebatuan di Pulau Merah. Untuk kasus ini jukung juga tidak membantu kecuali Inspire sudah belajar berenang di air wkwkwk… atau hancur berkeping-keping di bebatuan.

Ketiga, Inspire melakukan RTH, namun karena ketinggian RTH saya set hanya 120m, kemungkinan si doi menabrak Pulau karena tinggi Pulau sepertinya lebih dari itu. Jika ini terjadi maka Inspire entah hancur atau nyangkut di pohon ( namun yang aneh saya tidak dapat signal sama sekali. NOL). Untuk kasus ini juga tidak ada guna menggunakan jukung, karena untuk mendekati Pulau saja sudah susah, apalagi harus mendaki Pulau itu… Lha nanti terjadi kecelakaan, kan lebih mahal lagi biayanya…haizzz…

So, saya selesaikan minum es kelapa muda… dan saya ajak pulang….

Dalam perjalanan pulang, semua tampak murung. Melihat kemurungan di dalam mobil, sayapun mencoba bergurau sambil mengatakan begini: ”Sudahlah, mungkin si Dewa Laut tertarik melihat Inspire saya terus mau dipinjem, atau drone saya terpesona dengan pemandangan laut biru yang sedemikian, jadi pingin ikutan nyemplung”….🙂

Grrrr…. Semua tertawa… legaaaa… cuma sayanya aja yang senep (tahu senep gak ya … apa yahhh terjemahannya… “ngap” kali ya… apaan pula tuh “ngap”… ehhh… ya gitulahh pokoknya ….wkwkwkwk….)

So sayonara my Inspire 1… nikmatilah surfing disana…

Salam,

Guntur Gozali,

Jember, 1 Maret 2015, 6.30

http://www.gunturgozali.com

Silakan baca juga tulisan saya sebelumnya mengenai drone:

– Fly Like A Bird

The Good things Drone Can Do…

The Scary Things Drone Can Do…

Salatiga Like You’ve Never Seen Before

And…Universitas Kristen Satya Wacana Like You’ve Never Seen Before Too…:)

11 thoughts on “Pulau Merah Swallowed My Inspire … :(

  1. Waduh saya turut berduka pak atas raibnya drone sakti.. Hehehe
    Ga apa pak sekarang hilang mungkin nanti akan digantikan dengan yang jauh lebih bagus lagi

    Anyway menurut saya mungkin itu pantai namanya Pantai Merah karena kalo dr atas tampak merah payung-payung berteduh yang disewakan hahahaha
    Yah tapi pantai yang baguslah ga kalah ma Kuta

    • Terima kasih atas simpatinya Pep. Analisamu masuk akal juga, jangan2 merahnya karena payung2 itu ya wkwkwk… Emang bener kalau difoto dr atas akan lbh jelas lagi🙂
      Kalau pantai lbh bagus dr Kuta. Ini landai dan bersih sekali, kuta kotor sekali kan skr ini.

    • Hahahahaha….terima kasih simpatinya ya. Masa semuanya kudu happy ending?🙂. Katanya kita kudu kesandung supaya lbh tough hehehe… tapi pantainya bagus kan? :)… ya lihat yg indah2nya saja ya…

  2. sayonara drone sakti, turut berduka ya pak, semoga hilangnya sang Drone sakti ini, tidak membuat hilang semangant pak Guntur berbagi cerita di blog..🙂

    btw senep itu kayaknya gak ada bahas indonsianya hehehe atau kalo istilah jaman sekarang pak “sakitnya tuh disini”

    • Terima kasih Victor atas simpatinya. Saya belum kehilangan semangat kok, tapi jadi lebih berhati-hati aja kalau lagi terbang🙂. Tunggu tulisan saya bagi yang sudah ngebet beli drone…
      Iya yahhh senep itu “sakitnya tuh disini” wkwkwk…. ada ada aja..

  3. wah pak, baru baca ceritanya nih..turut berduka drone saktinya mencari nasibnya sendiri😦
    boleh juga pak pantai merahnya buat referensi jalan-jalan, bagus sekali pemandangannya.😀

    • Terima kasih atas simpatinya. Setelah beberapa saat kemudian, saya sempat menghubungi orang lokal untuk mencari, dan setelah kurang lebih dua minggu akhirnya ketemu sedang nongkrong di atas pohon hehehe… Skr sdh saya perbaiki, dan bisa terbang kembali🙂.

      Salam,

  4. Pak, kok ngga nulis lagi ya? Saya suka baca semua cerita Bapak dan menunggu-nunggu hadirnya post baru (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s