Ready To Buy A Drone? Read This First! (2/2)

dji-phantom-2-vision-

Melanjutkan posting saya sebelumnya…

6. Drone tidak murah (Hidden Cost)

Tumbuh pesatnya drone, salah satunya adalah karena harganya yang semakin terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Bagi pencinta gadget yang suka gonta-ganti smartphone, harga sebuah drone seperti DJI Phantom 3 hampir sama dengan smartphone kelas atas.

Akan tetapi… ingat ini… ada hal2 lain yang perlu diperhatikan didalam menghitung budget. Ada hidden cost yang bisa membuat kantong jebol jika kita tidak menganggarkannya di depan.

Memiliki drone perlu accessories lain yang ujung2nya membuat total cost of ownershipnya menjadi cukup tinggi. Jadi pada saat membuat budget, harap diperhitungkan hal2 berikut:

Harga DJI Phantom 3 (saat ini ada 4 type Standard, Advance, Professional dan 4K) berkisar antara $499 hingga $1,259 (lebih murah daripada waktu saya pertama menuliskan postingan ini, Phantom 2 Vision Plus ketika itu dibandrol $1,299 dengan spesifikasi jauh dibawah Phantom 3). Harga itu khusus 10th Anniversary DJI yang saya browse baru saja… entah nanti setelah ini menjadi berapa harga normalnya.

Taruh kata pembaca membeli yang tengah2, Phantom 3 Advance / 4K, seharga $799. Untuk harga itu kita sudah memperoleh drone, remote, propeller dan sebuah battery. Sudah cukup bagi kita untuk menerbangkannya sekitar…15 – 20 menit. Ya hanya 15 – 20 menit saja.

Namun, tentu saja kita tidak ingin jauh2  khsuss ke suatu tempat misal ke daerah Bogor atau Sentul, hanya bermain selama 15 menit kan? Perjalanannya saja bisa lebih dari 1 – 2 jam. Saya jamin 15 – 20 menit itu singkat sekali untuk bermain drone.

Paling tidak kita perlu 1 baterai cadangan lagi, atau lebih aman lagi 2 – 3. Artinya tambahkan 2 x $149 ke budget pembaca.

Sudah??

Eitt…belum cukup itu. Kecuali Inspire1, kita harus membeli sendiri tas yang bisa berup soft atau hardcase untuk drone berikut accessoriesnya, masa mau dibawa pakai kantongan kresek…🙂. Nah harga casingnya baik yang softcase berupa backpack maupun hardcase berkisar dari $149 hingga $499.

Contoh soft dan hardcase Phantom/Inspire1

20160220_165106

Plus… Car Battery Charger $99 jika pembaca sering bepergian jauh sehingga perlu mengisi battery selama perjalanan,

Pluss…extra propeller sepasang $15, saya rasa perlu minimal 2 pasang. Dan Propeller Guard $19 bagi yang baru belajar menerbangkan DJI.

Jadi total cost of ownership sebuah drone menjadi $799 + $298 + $149 + $99 + $30 + $19… total jendral sekitar $1,394 (dengan kurs google hari ini , total sekitar Rp. 18.672.630,-). Itu baru base unitnya saja… untuk memiliki DJI Phantom 3 yang saat ini paling popular diantara droner.

Kalau ingin yang lebih bagus, seperti DJI Inspire 1, sediakan budget sedikit lebih banyak karena base unitnya beserta remote, propeller dan 1 battery (Inspire 1 Beginner Kit… duh pake Beginner segala) berharga sekitar $3,099. Tambahan 1 battery TB47 $159, jika perlu cadangan 2, tinggal dikalikan, karena TB47 hanya sanggup menerbangkan Inspire1 secara teoritis 18 menit.

Sudah??….

Maaf… belum!!!

Lho…

Lha terus untuk memonitor dronenya kan perlu smartphone, dan gak bisa yang abal2, apalagi dengan camera resolusi 4K, harus smartphone top end. Jika tidak, saya jamin pembaca akan marah2 karena videonya tersendat-sendat, atau bahkan mungkin gak muncul.

Perhatikan benar2 hal ini… karena ini berarti akan ada tambahan budget 10 juta an lagi. Atau pembaca juga bisa membeli iPad 3/4.

Plus… masih ada lagi…memory card.

Jangan salah beli memory card yg performancenya buruk atau asal2an, at least micro SD Class 10 atau UHS 1. Lebih baik lagi kalau UHS 3, tapi harganya ya nayamul… alias lumayan mahal. Beli 2 atau lebih untuk cadangan. Jangan sampai menyesal sudah susah2 mencapai lokasi, sudah terbang di atas target yg hendak difoto atau divieo… ehhh… kehabisan memory. Berarti tambahan budget lagi antara 500 ribu – 2 juta tergantung kapasitas dan merek memory cardnya.

Satu lagi, sorry ya, supaya pembaca tidak sampai nanti batuk2 setelah beli drone, mending sy beritahu lebih dahulu. Pembaca juga perlu mempehatikan player, editing machine adan display yang mumpuni… yang akan kita bahas di point berikutnya.

7. Perlu player, editing machine dan display yang mumpuni

Sudah memperoleh rekaman video yang menarik, foto yang indah, terus mau diapakan? Disimpan saja sampai jamuran atau diedit untuk dishare ke sanak saudara, teman2 atau youtube? Kalau hanya untuk disimpan ya silakan skip bagian ini, tapi kalau untuk di share, silakan dilanjut.

Pertama masalah nge-play, untuk hasil perekaman Phantom dalam format High Definition (1980 x 1024 mpx), saya rasa hampir semua PC/Notebook/Laptop yang berumur 2 – 3 tahun masih mampu memainkannya. Namun untuk hasil perekaman UHD (Ultra High Definition) 4K, seperti yang dihasilkan oleh Inspire 1 atau Phantom 3 4K, hmmm…. saya sangat meragukan PC/Notebook/Laptop jadul sanggup.

Saya pikir karena ketika itu kebanyakan aplikasi yang terbuka, maka saya close semua, saya reset laptop saya, kemudian saya coba lagi… tetap hasilnya… Duhhh saya benar2 kecewa… kok gak mampu ya… Kemudian, saya copy ke iMac saya, harap2 cemas, saya coba… sama hasilnya. SAMA SEKALI TIDAK BISA DINIKMATI.

Saya baru bisa memainkannya dengan cukup sempurna setelah menggunakan laptop di kantor yang memiliki spesifikasi lebih tinggi. Itupun kalau ada aplikasi lain sedang terbuka, tersendat-sendat juga. Itu baru baru bicara playing ya… belum editing.

Selain itu, untuk menikmati hasil perekaman video 4K, tentu perlu display yang sesuai, jika tidak buat apa ngeplay 4K video di HD display or even lower?. Saya kebetulan karena 2 tahun lalu TV saya rusak dan menggantinya dgn TV LG 4K, jadi tidak perlu invest lagi. Tetapi bagi yang belum memilikinya, terpaksa harus merogoh kocek lagi untuk bisa menikmati hasil yang maximal.

Itu kalau kita bicara play dan display. Lha, bagaimana dengan editing?

Proses editing memerlukan perangkat dengan performance lebih tinggi lagi. Dan… saya terpaksa harus belajar lagi video editing plus synchronizing dengan audio… padahal untuk urusan spt ini sy tuh paling bloon… tapi ya sutralah…

Untuk hasil video recording HD, saya laptop saya buatan 2011  berjalan dengan mulus, hanya saja saya tidak pernah mengira proses renderingnya lamanya minta ampun, serta file hasilnya besar sekali. Tetapi paling tidak, berhasil…

Sedangkan untuk mengedit 4K, just forget it! Padahal spec MacBook Air saya juga tidak buruk2 amat lho.. (1.8GHz Intel Core i7), 4 GB 1333 MHz DDR3 dengan Intel HD Graphics 3000 384 MB.

Saya baru bisa mulai mengedit hasil recording Inspire1 saya setelah menggunakan laptop kantor yang specnya tinggi. So, Total Cost of Ownership hobby ini tinggal pembaca hitung sendiri: Unit base drone + Smartphone + Laptop + Monitor…

Oya, perlu dicatat, hasil recording Inspire 1 tidak bisa diplay di iPad (saya menggunakan Mini Retina) dan juga iPhone (saya menggunakan 6 Plus), kecuali diturunkan resolusinya. Amazingly, berjalan dengan amat sangat lancar di Samsung Galaxy Note Edge.

8. Lebih mudah take off daripada landing

Seperti pula halnya dengan menumpang pesawat terbang, setiap kali take off perasaan kita rasanya tidak sewas-was ketika sedang landing, bukannya begitu. Ternyata drone juga demikian.

Pada saat take off mudah sekali, tinggal naikkan aja tuasnya ke atas, berrrr…. Naiklah si drone dengan gagahhh….asallll…. di atasnya bebas tidak ada atap atau pohon atau atap lho ya… Kalau ada, ya gubrak atau nyangkut di pohon… wkwkwk…

Sedangkan pada saat landing, kita harus lebih berhati-hati, terutama untuk Phantom. Kaki-kaki Phantom menurut saya kurang lebar (oleh karena itu ada yg menjual kaki Phantom yang lebih lebar), sehingga pada saat mendarat, jika kita tidak berhati-hati sering terguling.

Apalagi jika kita mendarat di tempat yang tidak rata atau berbatu, wahhh…bakal oleng dan kemudian… gubrak … kratak-kratak dehh… Oleh sebab itulah perlu membawa cadangan propeller untuk mengantisipasi hal seperti ini.

Pembaca yang membeli Phantom 3 dan Inspire 1 sudah dimanjakan dengan fitur auto take off dan auto landing. Pada saat landing meskipun sdh auto, tetap harus sedikit di tune supaya tidak terganjal batu atau permukaan tanah tidak rata.

9. Perlu mental yang kuat

Menurut saya menerbangkan drone perlu nyali yang kuat. Mengapa? Karena banyak sekali factor yang bisa menyebabkan investasi kita lenyap dalam sekejap, benar2 lenyap tanpa bekas.

Sehingga saran saya, sebelum bermain drone, sebaiknya kita sudah siap mental drone yang kita beli dengan tabungan dan keringetan itu, lenyap, karena fly away, rusak karena menabrak sesuatu atau jatuh karena sesuatu yang tidak jelas. Hal yang sudah alami semuanya🙂.

Berikut adalah kompilasi dari video dari beberapa kecelakaan drone yg saya temukan di youtube:

Mental tidak takut hilang/rusak ini sangat diperlukan untuk bisa menikmati ‘mainan’ canggih ini. Kalau masih takut hilang, nabrak dlsb, saran saya ditunggu dulu mainnya, tunggu nanti ada drone yang benar2 anti jatuh/nabrak/hilang🙂. Karena kalau tidak, jantung bisa berdebar kencang atau copot…kalau tiba2 drone tidak terkendali, atau yang paling sering lost signal…

Berbeda dengan investasi kita di smartphone, laptop, smartwatch atau gadget lain, kalau rusak atau bermasalah, barangnya masih kita pegang. Kalau drone sekali lost signal dan kabur… kita cuma bisa melongo… Paling2 kita diwarisi remote dan accessories lainnya, yang tidak berguna tanpa dronenya.

Saya sejak awal menyadari hal ini, dan terus menekankan di kepala saya bahwa resiko bermain ini adalah hilang. Itupun saya masih sering deg2an.

Ini beberapa kejadian yang hampir membuat jantung saya copot :

Pertama, ya itu peristiwa yang saya ceritakan di bagian pertama dimana baru 5 menit drone saya sudah nabrak dinding.

Kedua, ketika saya mencoba memvideo pohon dari dekat. Maunya begini nih… pelan2 mendekat pohon dari bawah terus naikkkk ke atas melihat effectnya. Eh alih2 lihat effect, karena sulitnya memperkirakan jarak terhadap object seperti penjelasan saya sebelumya, saya gagal mengira-ngira jarak antara drone ke pohon, akhirnya ya krosok…krosokkk…gubrakkk…drone jatuh ke tanah mematahkan propellernya.

Ketiga, ketika saya ingin tahu bisa setinggi apa sih si drone bisa terbang. Stick saya tekan full ke atas, drone dengan gagahnya naik ke angkasa. (Jangan lakukan ini ya…Ini hanya sekali saya lakukan, untuk keperluan pendidikan🙂 … So SafeFly… inget itu! :)). Beberapa kali saya lost signal, tapi saya pikir kalaupun sampai jatuh, pasti deket2 saya aja, maka saya hajar terus, sampai akhirnya limit ketinggian tercapai, artinya saya tidak bisa naik lagi.

Setelah itu pelan2 saya turunkan. Nah sekitar tinggal 100 m dari tanah, tiba2 drone beneran oleng seperti layang2 putus…, mungkin mabok ketinggian kali🙂 dan akhirnya jatuh nyangkut di pohon. Waktu dia oleng tidak terkontrol, jantung saya hampir copot bukan takut rusak, tapi takut jatuh di jalan toll yang kebetulan memang sangat dekat dengan perumahan saya. Duhhh… kalau sampai terjadi… matilah saya..

Keempat, ketika saya mencoba jarak jelajahnya. Saya terbangkan hingga 800 m jauhnya, untuk mengetahui How Far Can You Go…hehehe… Setelah beberapa kali disconnect tetapi berhasil saya reconnect, yang terakhir sama sekali tidak bisa dipanggil2 lagi. Drone saya tiba2 jadi sombong, putus hubungan!

Seharusnya dalam 3 detik dia akan pulang sendiri. Eh ini nggak, saya tunggu 10 detik, gak ada kabar, 30 detik tetap sombong, 1 menit masih cuek aja dan saya sudah mulai panik, 2 menit masih juga bandel saya semakin panic dan keringetan, akhirnya setelah 5 menit saya deg2an sayapun pasrah. Ya udah deh lu pergi sono…

Ehhhh… setelah hampir 10 menit tiba2 nongol dengan suara tettt…tettt…tettt tanda baterai hampir habis, dan mendarat dengan sempurna di depan saya.

Kelima, ketika saya bawa ke Rawa Pening, Salatiga. Ketika itu battery saya tinggal 2 strip, saya pikir masihlah mampu untuk terbang mengitari Rawa Pening dan kembali. Ketika sudah take off, baru juga terbang beberapa detik tiba2 muncul indicator bahwa baterai tidak mencukupi untuk  Return Home, saya cek percentage nya, masih cukuplah saya pikir.

Ketika lagi mengudara, tiba2 indicator batt sudah sekarat, muncul. Saya tidak segera memanggil si doi pulang, saya suruh berputar dulu. Namun karena baterai sudah lemah, putaran 360 derajat mengakibatkan beberapa kali putus sambung. Saya rasa karena drone berusaha mengirim signal lebih keras, akibatnya menghabiskan daya battery lebih cepat dari perkiraan saya. Selagi saya mencoba memaksa untuk berputar, tiba2 drone memaksa pulang, benar2 memaksa pulang, sambil teriak2 tattt…tettt…tatt…tett…tanda protes hehehehe…

Eh sekitar 50 meter dari tempat saya berdiri si doi kagak sanggup lagi dan kamikaze di sawah …..hahahaha…. Byurrr…. Saya terpaksa berlari-lari nyemplung ke sawah juga,  sampai sepatu dan celana saya penuh lumpur. What a day…

Keenam, baru saja kejadian tahun lalu. Kali ini lebih mendebarkan lagi karena terjadi dengan Inspire1 saya. Saya juga lagi iseng ingin tahu sejauh mana dia bisa terbang.

Pertama saya tancap hingga ketinggian 500m, suksesss. Jempol dua…

Setelah itu saya tancap horizontal, 100m mulus, 300m mulus, 400 m mulus, kalau Phantom sudah mulai putus2 di daerah saya.

Saya tancap lagi 600m, mulai hilang2, 700m masih sama, 800m putus…

Herannya signal di iPad saya masih kelip2 merah.

Saya cepat2 tekan tombol Home supaya dia pulang, berhasil. Tetapi setelah itu tidak ada indikasi apa2 kecuali video yang putus2, saya tidak bisa mengontrolnya lagi. Tidak bisa digeser atau naik turunkan. Namun drone tetap mengarah ke saya.

Yang membuat saya jantungan, pada saat turun, landing gearnya kagak mau turun (Inspire1 memiliki landing gear yang naik kalau take off dan turun kalau landing), yang bisa menyebabkan cameranya patah.

Saya panic, berusaha menurunkan landing gear secara manual, tidak bisa. iPad saya karena saya tekan2 sembarang malah hang. Akhirnya ketika mendekat tanah…sekitar 30 m dari atap rumah saya, landing gear turun, dan Inspire1 saya mendarat secara automatic.  Fiuhhhhh….

Ketujuh: ini yang paling menyesakkan, sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya, ketika saya kehilangan Inspire1 saya di Pulau Merah (baca Pulau Merah Swallowed My Inspire.)

Itulah beberapa pengalaman yang saya alami, yang saya ingat, masih banyak lagi kejadian2 kecil yang bikin jantung berdetak lebih keras. Nanti kalau saya ada waktu saya akan menuliskan lebih detail cerita2 horror yang saya alami itu.

Saya pernah menanyakan ke supplier saya, apakah hanya saya saja yang mengalami hal ini. Dia bilang banyak pak yang cameranya hancur gak bisa dipakai, bapak punya masih bisa diservice, berarti masih lumayan🙂. Demikian pula kalau kita baca di forum2, banyak yang nyemplung air, jatuh berantakan, tertabrak mobil, nabrak garasi dll dll.

Oleh karena itu, jika pembaca memutuskan untuk main2 dengan mainan ini, saran saya persiapkan mental baik2. Kecuali mau main aman, terbang di bawah 50 meter sejauh kurang dari 50 m juga. Tapi kalau demikian buat apa beli Phantom apalagi Inspire 1 yah?

Ibarat beli Ferrari cuma mutar muter sekitaran perumahan, atau lebih parah lagi cuma berani maju mundur di carport…wkwkwkwk… Menurut pendapat saya, kalau sudah berani beli Ferrari ya coba lah ditancap di Sentul  hingga maximum jantung kita sanggup menahannya. Jika tidak, ya beli sepeda aja ya….

Atau beli mini drone atau micro drone atau nano drone seperti foto yang saya post di awal postingan ini.

Saya sudah mencoba mini / nano drone ini, dan tak lupa menabrakkannya ke tembok berkali-kali (tentu saja tidak sengaja lho ya wkwkwk…) hingga bodynya pecah dan propellernya copot2, tetapi tetap bandel tuh, terbang aja lagi. Bahkan membuat saya terpingkal-pingkal…wkwkwk…

Setelah mantep baru beli Phantom / Inspire 1.

10. Sangat sensitive terhadap signal dan membutuhkan GPS

Musuh paling mengerikan dan tak tampak mata dari drone adalah gelombang electromagnetic  yang dipancarkan oleh base stations atau pemancar gelombang emf lain yang dewasa ini bertebaran dimana2.

Pemancar gelombang electromagnetic ini kadang tampak ditempel di tower2 yang bisa kita lihat, kadang ditempel di gedung2 atau rumah2 bertingkat. Bentuknyapun semakin lama semakin kecil, apalagi kalau dari kejauhan.

Ketika saya hendak menerbangkan drone saya di Mt. Emei, Leshan, Sichuan, China, saya tidak berhasil mensync antara remote dgn drone saya. Berulang kali saya coba gagal, messagenya karena ada medan magnet kuat di sekitar saya. Padahal membawa drone ke puncak Emei dengan ketinggian 3,099 meter itu kita harus harus naik cable car dan mendaki mungkin seribuan anak tangga.

Saya berkeringat dingin menyaksikan kesialan saya itu, duhhh kok bisa, padahal sebelumnya sdh saya cek baik2 saja, sampai saya sadar ternyata di belakang tembok ada menara pemancar radio… Haizzz… kemudian setelah saya pindah tempat, langsung connect.

Demikian juga dengan GPS, berkali-kali saya tidak memperoleh signal GPS yang cukup, padahal signal ini diperlukan oleh drone sebelum terbang untuk menandai awal terbangnya sebagai Home. Sehingga jika komunikasi putus, si drone bisa kembali ke titik awal.

Namun, kadang medan electromagnetic bumi juga bisa menyebabkan drone berperilaku aneh, atau medan magnit lain yang tidak kita ketahui. Salah satu pengalaman saya ketika saya dlm perjalanan dari Jember – Surabaya, di sekitar Jatiroto saya melihat hamparan sawah yang menghijau.

Wahhh… saya terpesona sekali untuk memvideonya. Namun baru terbang sekitar 100 m, drone tiba2 tidak terkendali, dianya tiba2 pelan2 turun, mau ikut2an ibu2 disana nyawah.  Koneksi putus, padahal ketinggian baru sekitar 50 m, jarak 100 m. Dan… tidak ada antenna, tidak ada tower, tidak ada apa2 kecuali sawahhh… Atau sawah bisa memancarkan medan electromagnetic ya… wkwkwk…

Setelah saya berlari2 tergopoh-gopoh mendekat, baru koneksinya tersambung kembali.

Hal yang sama terjadi ketika saya menerbangkan Inspire 1 saya di Pulau Merah, sama kejadiannya, tiba2 putus begitu saja….

Jadi meskipun kita jagoan neon di dalam mengendalikan drone, kalau ada gelembang electromagnetic menghantam… saya jamin si drone bakal klenger… hahaha… Tinggal nasib baik, apakah dia ingat kembali, atau fly away… (coba cari di youtube dengan keywords: drone fly away).

Begitu indicator lost signal muncul di layar smartphone kita, jamin deh adrenaline memuncak… jantung berdebar2… doa terpanjatkan plus maki2an keluar tanpa sadar… hahahaha…

Eittt hampir lupa… ada dua lagi… angin dan burung… Kalau angin lagi kencang, wah menurunkannya susyahhh banget, pake deg2an segala. Saya pernah perlu waktu 5 menit lebih untuk bisa mendaratkan drone saya. Dan burung… mereka akan serang drone kita kalau mereka merasa terganggu… ada beberapa kejadian drone diserang elang, mungkin merasa terganggu atau dikira makanan enak…pake kedip2 mata segala…🙂

7. Perlu “ritual” untuk menerbangkannya

Untuk menerbangkan drone, perlu sedikit bersabar baik sebelum maupun setelahnya. Menerbangkan drone tidak seperti menggunakan point and shoot camera, teristimewa Inspire 1.

Pra-penerbangan.

Sebelum berangkat ke lokasi, saya sarankan sebaiknya memeriksa beberapa hal ini terlebih dahulu:

  1. Battery terisi penuh,
  2. Remote control juga terisi penuh (untuk Phantom ada 2 bagian yang harus di charge, remote dan extendernya, sedangkan untuk Phantom 3 dan Inspire1 hanya remotenya saja),
  3. Yakinkan juga MicroSD sudah dibackup dan dikosongkan.

Pada saat hendak menerbangkan, kita harus:

  1. Memasang keempat propellernya (kecuali kita menggunakan hardcase yang bisa memuat drone berikut propeller terpasang) dan memastikan propeller terkunci dengan baik.
  2. Mencabut tutup dan penyangga camera.
  3. Memasang dan menghidupkan battery.
  4. Memasang smartphone / tablet holder ke remote, mengkoneksi smartphone dengan remote.
  5. Mengkoneksi drone dengan remote.
  6. Mengkalibrasi kompas.
  7. Dan…barulah menerbangkannya.

Fiuhhh…cukup ribet ya…nggak seperti ngeluarin camera, tekan tombol ON, terus jepret… jeprettt… jeprettt… gitu🙂

Ritual Inspire 1 lebih ribet lagi…duhhh males dah saya menuliskannya…🙂

Ini akan sangat terasa kalau kita sering berpindah-pindah lokasi pengambilan gambar.

Post-penerbangan.

Juga hampir sama, hanya saja kebalikannya dan tidak memakan waktu lama.

12. Support yang buruk, anggap beli drone tanpa garansi

Bagian ini adalah bagian paling penting dari keseluruhan tulisan saya ini mengingat rentan dan mahalnya ‘mainan’ ini.

Berdasarkan pengalaman saya, support DJI amat sangat buruk di Indonesia, sekali lagi saya tekankan ‘amat sangat buruk’, dan hingga saat ini belum ada authorized service center disini padahal sudah ribuan unit product ini dijual di Indonesia.

Authorized dealer tempat saya membeli sebagian besar DJI saya hanya berupa kiosk satu pintu di Lippo Karawaci, dan belum memiliki service centre sendiri. Perbaikan dilakukan oleh teknisi tanpa pelatihan formal dari DJI, dengan cara trial error dan kanibal komponen drone lain yang tidak bisa dipakai.

Pengalaman saya berikut mungkin bisa memberikan gambaran akan buruknya service DJI di Indonesia. Penangan customer service DJI Pusat cukup baik, tapi untuk mengirimkan ke DJI Shenzhen, biayanya sangat mahal. Ongkir Phantom plus remote, tanpa batt, kurang lebih 3 juta. Itu belum biaya service dan ongkir + biaya masuk kembali, kalau sudah diperbaiki.

Tiga pengalaman saya berikut cukup untuk saya memberikan cap After Sales Service DJI termasuk kategori AMAT SANGAT BURUK:

Pertama:

Pada bulan Oktober 2014 lalu, Phantom 2 saya menabrak water toron ketika sedang mencoba auto route. Seharusnya drone naik vertical pada ketinggian yg saya set, baru dia meluncur ke titik yang saya maui. Tetapi entah kenapa, dia bergerak naik gradually dengan jalur miring, dan kebetulan ada water toron di dekat sana.

Saya panic, mencoba menaikkan drone, tapi terlambat. Lagi2… brakkk… camera patah lagi… padahal  ini drone baru pula.

Saya bawa ke “authorize dealer” DJI di Lippo Karawaci. Pemiliknya sangat baik orangnya, namun belum berpengalaman mengatasi permintaan drone yg tiba2 meningkat drastic. Beliau berusaha dengan sungguh2 untuk memperbaiki, namun karena barang ini sendiri barang yg tidak mudah ditangani tanpa bimbingan yang benar, dan tanpa didukung spart part yang lengkap, maka drone sayapun terbengkalai.

Berulang kali saya hubungi tapi statusnya tidak jelas. Mau marah gimana, diem aja gimana. Serba salah. Saya sadar beliau tentu lebih sibuk berjualan drone baru yang lebih menguntungkan daripada mengurusi complain customer yang barangnya rusak. Masuk akal sih… tapi ya gimana ya kitanya sebagai konsumen…

Pembaca bisa tebak berapa lama service camera drone saya?

Saya baru menerima kembali camera itu sekitar Sept/Okt 2015, SETAHUN kemudian. Itupun setelah berulang kali saya tagih. Masalahnya, katanya, krn biaya perbaikan dari China sangat tidak masuk akal, sama dgn harga baru, sehingga tidak terjadi kesepakatan. Namun kami, saya dan katanya 7 orang lain, tidak tahu kapan dan bagaimana diselesaikan. Hal ini berlarut-larut tanpa penyelesaian, hingga saya marah dan menulis complain langsung ke DJI dan barulah diselesaikan.

Kemudian setelah dipasang, ternyata tidak terdeteksi oleh smartphone saya, dan kembali saya kembalikan untuk di service sejak Okt 2015. Saya tunggu2 tidak juga kunjung selesai, hingga setelah TIGA BULAN tanpa kejelasan akhirnya saya tarik kembali setelah ybs menyerah tidak bisa memperbaiki.

Itu authorized dealer lho, padahal saya sudah mengatakan bersedia membayar biaya untuk dikirim balik ke DJI Pusat di Shenzhen sana, jika memang diperlukan. Namun tidak diapa2kan juga.

Akhirnya pertengahan Feb 2016 lalu,  saya ambil krn sudah tidak tahan lagi. Atas referensi sana sini, saya bawa ke dua tempat service di Mangga Dua yang katanya bisa service Phantom. Setelah seminggu nyerah juga. Selama itu saya tetap rajin complain ke DJI pusat untuk minta diperbaiki, jawabannya seperti saya duga disuruh kirim dan kena biaya segala macam. Haizzz…

 

Kedua:

Ketika saya mengalami lost signal terhadap Inspire 1 saya di Pulau Merah (baca postingan saya mengenai ini). Saya complain berat ke DJI, karena menurut saya ketika itu drone masih tampak mata, jaraknya masih 1 km separoh dari daya jelajahnya.

Mereka menanggapi complain saya namun caranya adalah dengan meminta flight log data, saya berikan login ke account saya sehingga mereka bisa melakukan pengecekan langsung. Jawabannya: tidak ada yang salah dengan dronenya🙂. Jawaban paling gampang…

Saya complain berat, kalau begitu kenapa kok drone tidak auto return, padahal battery masih lebih dari cukup kembali. Setelah beberapa tik tok email, mereka akhirnya minta data yang ada di drone. Lha wong drone nya nyemplung entah dimana… errrggghhh…. Saya benar2 marah besar ketika itu, tapi mereka bilang tanpa data itu, tidak bisa dibantu.

Ketiga

Bulan Agustus 2015, DJI mengumumkan update firmware baru. Setiap kali ada perubahan firmware, ketika kita melakukan sync dengan aircrfat (Phantom/Inspire1), akan muncul notifikasi di layar smartphone kita.

Setelah membaca di website resmi tujuan dari upgrade ini, sayapun mulai mengupgrade satu persatu drone saya. Yang pertama saya coba adalah Inspire1 saya, berhasil mulus, kemudian Phantom 3 juga berhasil mulus, setelah itu Phantom 2 V+ ver3.0 berhasil juga.

Namun setelah saya coba, I1 dan P3 berjalan sempurna, P2V+ saya tidak berhasil melakukan koneksi dengan camera. Seharian saya coba tidak berhasil, saya cari2 di internet ternyata banyak sekali yg mengalami hal yg sama. Setelah upgrade firmware, tidak bisa conncect dgn camera. Dan beberapa dari mereka suspect, DJI melakukan pembiaran dan tidak mengakuinya.

P2V+ kemudian saya bawa ke dealer. Kami analisa bersama-sama, kami ulang prosedurenya dari nol, kami reset dan install ulang. Bahkan kami sempat mencoba mengganti wifi modul yang menjadi suspect biang keroknya, tidak hanya 1, tapi dengan 2 new wifi module. Tetap tidak bisa…sampai 1 hari full tidak bisa.

Kemudian wifi module saya pinjam dan saya bawa pulang, sy utak atik beberapa hari dan saya menyerah. Saya complain ke DJI Shenzhen, jawabannya enteng: coba aja lakukan ini itu, sepertinya saya anak kemarin sore. Saya jawab sudah dan tidak bisa. Kemudian mereka minta coba bawa ke dealer untuk test module wifi. Sudah juga, saya bilang. Akhirnya kirim kembali saja ke Shenzhen, kayak Shenzhen itu deketnya seperti Alam Sutera aja🙂.

Besoknya, saya cek biaya pengirimannya, ya itu tadi 3 jutaan :)… fiuhhh…

Akhirnya… kebetulan ada yg ke US, Phantom saya titipkan untuk diservice anak saya disana. Dan setelah diperbaiki, Phantom saya tinggal di US. Saya tidak dikenakan biaya apa2… salut untuk ini tapi juga berarti mereka mengakui kesalahan ini.

Gara2nya sederhana kan? … Hanya upgrade firmware. Belum pernah sepanjang sejarah hidup saya, upgrade firmware bisa menyebabkan kesulitan seperti ini.

Itulah beberapa pengalaman buruk saya berurusan dengan after sales service barang canggih ini…

Oleh karena itu, lebih baik pembaca BERASUMSI membeli ‘mainan’ ini sama seperti membeli barang tanpa garansi dan jaminan perbaikan, daripada kecewa di belakang hari.

Jadi siap2 kalau rusak, anggap seperti fly away….away… seperti Phantom saya🙂.

———–000OOO000———–

Fiuhhhh… selesai juga akhirnya…

Saya rasa itulah beberapa catatan dari pengalaman saya bermain drone, yang tampak sangat canggih dan mudah dikendalikan itu, yang perlu pembaca ketahui sebelum membeli drone.

Tentu ada beberapa droner yang dikaruniai talenta sangat baik yang mungkin tidak mengalami hal seperti yang saya alami di atas.

Jika setelah membaca pengalaman saya di atas, pembaca masih penuh semangat membelinya… just go ahead… Karena jika pembaca sudah menguasainya, dan menikmati hasilnya, maka kepuasannya memang tiada duanya…benar2 ciamikkkk…

Banyak sekali aerial foto / video yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sekarang bertebaran di internet. Indah-indah dan luar biasa sekali…

Namun jika sekiranya untuk membeli ‘mainan’ ini, pembaca harus berjuang menabung, apalagi sampai harus berhutang, dan apalagi sampai harus berantem dengan pasangan… wisss jangan dehh… nunggu nanti sampai ada drone yg anti nabrak, hang, jatuh dlsb🙂. Seriusss…

Berikut 2 video aerial yang saya edit seadanya:

 

 

So if you decide to buy… then… enjoy the fly and FlySafe…

 

PS: Mudah2an para experienced droner yang sudah sangat banyak sekali di Indonesia ini, mau berbagi pengalaman disini…

 

Salam,

 

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

Jakarta, Siloam – Kebon Jeruk,

Kamis, 18 Feb 2016, 23:15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s