Tersesat di hutan jati gara2 supir sok tahu

Kemarin pagi, tepat begitu kaki saya menginjak halaman kantor saya, BB saya berbunyi. Segera saya baca, dan saya terkejut membaca berita bahwa ibu dari salah satu kepala divisi saya meninggal dunia dan akan dimakamkan di Pucakwangi, Juwana, Jawa Tengah sore itu juga.

Saya yang tadinya berencana menghadiri acara Microsoft Partners event, karena diundang sebagai VIP (jarang2 dpt undangan VIP:)), langsung balik badan, masuk lagi ke mobil dan pulang mengambil pakaian untuk kemudian menuju Cengkareng. Adalah penting bagi saya untuk hadir pay respect ke ibu dari orang yang saya hormati.

Selama perjalanan pulang hingga ke Airport, saya mengatur pembelian tiket dan persewaan mobil. Singkat cerita setelah tiba di Semarang, saya segera menelpun supir sewaan yang ternyata telah menunggu saya di depan pintu kedatangan. Kali ini supirnya benar menjemput saya, tidak salah kota lagi🙂 (baca: Saya di parkiran pak…).

Saya yang tadinya kebingungan karena tidak tahu dimana letak Pucakwangi ini secara kebetulan bertemu dengan adik ipar Kadiv saya ketika turun dari pesawat. Dan kami akhirnya sepakat untuk mengikuti mobil yang dia tumpangi bersama dengan kedua anaknya.

Perjalanan dari Semarang hingga ke lokasi pemakaman memakan waktu kurang lebih 3 jam, yang saya tempuh dengan hati berdebar-debar. Mobil yang kami ikuti dari belakang ini ternyata ngebut untuk mengejar waktu. Berdasarkan kalkulasi kami ketika di airport, karena keterlambatan Garuda selama 45 menit, kami bakalan telat menghadiri pemakaman ibu Kadiv saya itu, sehingga kami harus cepat2.

Namun rupanya supir saya ini orangnya sok tahu, sejak keluar dari area airport, dia selalu berusaha berada di depan, padahal dia tidak tahu lokasinya. Sehingga dua orang supir ini seperti balapan F1 aja, alamakkkk… Saya yang duduk di belakang jadi terguncang-guncang dan enjot2an karena jalanan yang tidak rata, bahkan beberapa kali hampir almarhum karena hampir bertabrakan dengan mobil atau motor yang datang dari arah berlawanan.

Setiap kali saya ingatkan, dia melambatkan mobilnya, untuk kemudian tancap gas lagi. Errrghhhh…sebel banget, saya sampai mual dibuatnya. Namun syukurlah pada akhirnya kami tiba dengan selamat di lokasi pemakaman meskipun acara pemakaman telah selesai dilakukan sekitar tidak puluh menit sebelumnya.

Setelah mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan dan mendoakan arwah ibu Kadiv saya, sayapun berpamitan untuk segera kembali.

Ketika saya meninggalkan lokasi, jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 16:30, masih sesuai perhitungan saya. Sebelum berangkat saya memang sudah memutuskan untuk menginap semalam karena jika ditambah perjalanan balik ke Semarang sekitar 3 jam lagi, saya pasti tidak akan sempat mengejar pesawat terakhir dari Semarang ke Jakarta pada pukul 18:30.

Nah, ketika memasuki mobil, si supir menawarkan saya jalur yang lebih cepat, jalur short cut katanya. “Bagaimana pak, apa mau balik jalur kita datang tadi atau jalur potong lewat hutan jati?”, tanyanya. Saya tanya bagaimaa menurut dia? Dia secara meyakinkan menganjurkan saya memilih jalur potong ini, pasti lebih cepat katanya.

“Ya sudah kalau bpk yakin, daripada kita lewat jalur tadi yang bergelombang, sempit dan ramai begitu”, sayapun menyetujui.

Diapun memutar mobil menuju hutan jati, sementara saya menarik nafas lega sembari mengambil cracker dan aqua yang secara tergesa-gesa saya beli di airport tadi. Saya beruntung sempat membeli sedikit makanan kecil ini, karena selain bisa mengganjal perut yang belum sempat saya isi sedari pagi, ternyata kemudian cracker ini menjadi penolong saya ketika saya tersesat pada malam harinya.

Selama beberapa menit saya bisa duduk lebih tenang karena si supir tidak sedang mengejar siapa2 dan saya juga tidak ada beban akan terlambat seperti sebelumnya mengejar jam pemakaman ibu Kadiv saya.

Sekitar setengah jam kemudian jalan mulai semakin rusak, mobil mulai gedubrakan, tapi tidak saya pedulikan. Saya masih sibuk ber BB ria dengan beberapa rekan kantor dan teman2. Namun semakin lama saya rasakan semakin menjadi-jadi, dan saya perhatikan jalan semakin menyempit.

Saya tanyakan ke supir apa gak salah jalan nih, dia jawab dengan meyakinkan bahwa jalan itu memang betul. Bahkan kemudian beliau ngoceh bahwa kerusakan jalan ini gara2 otonomi daerah, dan lain sebagainya yang saya sendiri juga bingung apa hubungannya🙂.

Setelah semakin parah terguncang-guncang karena jalan semakin rusak, saya mulai meragukan arah yang dia ambil, apalagi selama hampir 30 menit terakhir kami tidak bertemu dengan seekor mahluk apapun selain hutan jati di kanan kiri jalan yang sudah sangat memprihatinkan karena pohonnya meranggas dan kurus-kurus.

Si supir yang sok tahu mulai khawatir juga, nadanya mulai berbeda, tidak sok tahu seperti sebelumnya. Tapi saya tidak menyarankan untuk kembali ke lokasi pemakaman, terus terang saya sudah tidak mampu lagi membayangkan kesengsaraan yang akan saya alami. Lha saat itu saja, koper, hp, battery charger, snack dan barang2 di atas jok mobil sudah terlempar kemana2 karena goncangan mobil. Kepala saya sudah beberapa kali “kejeduk” kaca mobil, jadi saya sendiri enggan juga menyuruh dia balik.

Selagi kami kebingungan ehhh tiba2 ketemu sekumpulan sapi lagi beriringan, wahhh leganya melihat makhluk hidup wkwkwk….dan yang lebih melegakan lagi adalah adanya dua ibu2 yang menggembalakannya. Segera si supir membuka jendela dan menanyakan apakah arah yang dituju itu benar ke Wirosari, kota yang kami tuju sebelum ke Purwodadi. Si ibu tanpa menoleh menjawab “Enjihhh” yang artinya Iyaaaa.

Kamipun melanjutkan perjalanan lagi, terguncang-guncang lagi, namun jalanan bukan tambah bagus, malahan jalanan berganti jadi batu2 sebesar bola volley :p. Wuaduhh…badan saya sudah remuk rasanya, tapi kami jalan terus, dan jam sudah menunjukkan pukul 17:30. Duh pikir saya kalau sampai salah jalan, bakal tambah susah pada kondisi gelap.

Setelah beberapa saat meneruskan perjalanan ehhhh…kami melihat sebuah Isuzu Panther dari arah depan. Satu2nya mobil yang kami temukan sejam terakhir. Saya minta supir saya menanyakan lagi, dan jawaban si supir Isuzu benar2 membuat saya lemas. “Salah pak…bapak harusnya pertigaan tadi belok kiri, bukan ke kanan. Bapak harus kembali ke pertigaan tadi, terus bapak nanti lewat Gagaksari (keknya gitu deh :))…”. Duhhh mual saya membayangkan melalui jalan neraka itu sekali lagi.

Supir saya menanyakan pendapat saya apakah mau meneruskan atau kembali sesuai saran supir tadi. Hmmm…maunya sih tidak mau kembali, tapi kalau sampai salah gimana?

Tentu pembaca dari tadi sudah gemes aja kok gak pake GPS sihhhh…goblok amat. Hehehehe…sabar…sabar. Saya sejak dari Semarang selalu menggunakan GPS, saya menggunakan iPad saya sebagai petunjuk jalan. Selain itu saya juga membawa BB, Galaxy Notes dan iPhone 4 saya kok dan ternyata GPS iPad paling sensitive dibanding BB dan Galaxy Notes lho :).

Namun meskipun sudah bawa segala macam gadget, Google Maps tetap tidak berdaya di tengah hutan seperti itu, bukan karena tidak ada signal GSM tetapi karena mapsnya sudah tidak tepat lagi.

Saya beruntung menggunakan SIM Card Telkomsel untuk iPad saya (ini bukan promosi lho ya, tapi ya kalau dibayar sama T-Sel ya kamsia kikikiki…), karena XL yang selama ini saya pakai sebagai nomor HP utama saya, sama sekali tidak ada signal di tengah hutan jati itu. Boro2 di hutan jati, selama perjalanan dari Semarang – Kudus – Juwana – Pucakwangi – Wirosari – Purwodadi – Salatiga, signal XL selalu SAS SOS SAS SOS melulu.

Selain ketidak tepatan Google Maps, beberapa jalur jalan di GM ini juga tiba2 bisa putus padahal secara fisik ada. Ditambah pula desa Wirosari yang selalu dikatakan si pak supir itu tidak saya temukan di peta, jadi saya seperti orang buta harus ke arah mana. Sama seperti pembaca membaca tulisan saya ini, benar2 buta.

Coba lihat, pada posisi spt di peta di bawah ini, kita benar2 tidak tahu harus kemana

Di map di bawah, kanan kiri mobil hanya hutan melulu

Kembali ke route saya tadi, setelah sempat ragu2 akhirnya saya putuskan untuk memutar balik mengikuti Isuzu Panther. Nah hanya untuk berbalik arah saja, kami kesulitan karena sempitnya jalan, jadi kami harus meneruskan perjalanan terlebih dulu hingga memperoleh jalan yang agak lebar untuk memutar balik mobil.

Setelah itu kami mulai mengejar Isuzu yang sudah tidak tampak karena mungkin menganggap kami tidak mau menuruti saran dia. Supir saya mengejar si Isuzu seperti kesetanan karena takut tertinggal, dan saya sudah seperti obat sirup yang dikocok-kocok dulu sebelum diminum hahaha…

Hampir lima belas menit kemudian kami baru berhasil mengejar si Isuzu, ketika itu hari sudah mulai gelap. Selama mengejar Isuzu supir saya ngomel panjang pendek, dia menyalahkan si ibu penggembala sapi tadi:”Dasar wong wedok, ngapusi tok”, katanya wakakakak… (artinya: Dasar perempuan, nipu aja :)). Saya diem aja, udah males mau omong, wong salahnya dia sendiri pake sotoi segala.

Sekitar lima belas menit kemudian supir Isuzu berhenti karena dia akan membelok ke arah lain, dan kami diberi petunjuk jalan bahwa sekitar 2 km lagi kami akan menemukan patung Gagak, kemudian harus mengambil jalan ke kanan.

Kami mengucapkan terima kasih dan mulai mencari-cari patung Gagak yang dia katakan. Hmmm…sampai melotot mata saya, gak juga ketemu, sementara si supir nanya mulu ke saya, sudah dua km belum, sudah ada belum…nyebelin bener dah.

Kami mungkin sudah menempuh lebih dari 5 km tapi tidak ketemu juga patokan dan jalan yang dikatakan si supir Isuzu. Setiap ketemu orang di jalan, kami bertanya, dia katakan 2 km lagi, ketemu pengendara motor, nanya lagi, beda lagi jaraknya. Hmmm…saya jadi geli juga, saya pikir2 mereka tuh omong 2 km, 5 km kan asal2an, mana bisa dijadikan patokan hahahaha… Emangnya mereka tahu 1 km sejauh apa, 2 km sejauh mana wakakakak…akhirnya saya suruh dia nanya aja kalau ada orang, and forget it yang namanya km. Dan yang lucu, dia konsisten tidak mau lagi bertanya ke ibu2 gara2 si ibu gembala sapi tadi wakakakak..

Selama perjalanan di malam gelap gulita itu, kami mungkin berhenti dan bertanya ke hampir 50 orang,hingga akhirnya kami menemukan jalan yang sesuai di Google Maps, dan kamipun melaju ke arah Wirosari. Selama itu si supir sudah benar2 jinak, tidak sotoi lagi wkwkwk…

Ketika kami akhirnya sampai di Wirosari dan tiba di Purwodadi, jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 20:30. Artinya dari Pucakwangi hingga Purwodadi, kami menempuhnya selama 4 jam, padahal kami masih harus melanjutkan ke Salatiga, kota yang saya pilih untuk tempat menginap malam itu.

Saya segera melakukan pengecekan di Google Maps, ternyata muncul 3 alternative route. Satu route melalu hutan jati, lagi-lagi hutan jatiiii hikksss, yang paling cepat dan pendek. Yang lainnya lewat Solo, lebih jauh dan lama. Hmmm…

Pak Supir sotoi mengusulkan lewat hutan jati, tapi sekarang bahasanya tidak sesotoi sebelumnya, bahkan dia berhenti untuk menanyakan ke beberapa orang di pinggir jalan untuk meyakinkan diri. Padahal sebelum kami tersesat itu, dia dengan yakinnya mengatakan nanti setelah sampai di Purwodadi, tinggal lewat hutan jadi, cepet deh sampainya🙂.

Info yang dia dapatkan ternyata kurang menggembirakan, supir2 yang kami temui rata2 tidak menyarankan kami menempuh jalur hutan jati itu. Mereka lebih menyarankan memutar lewat Solo, karena jalur potong ini gelap, sempit, berkelok-kelok dan berbahaya, bukan karena kondisi jalannya, tetapi karena banyak perampok katanya. Haizzzz….saya sudah cuapekkkkk…lapar karena perut hanya diisi Malkist Cracker dan Aqua, ehhh kok masih dapat info aneh2 begitu.

Supir saya menanyakan keputusan saya, apakah jalan potong atau muter. Bedanya bisa satu jam, kalau tidak macet atau ada kejadian lain. Waduhh…potong atau muter…potong atau muter. Jalan potong cepet sampe, jalan muter lama. Saat itu sudah pukul 21:00. Saya pandangi iPad saya, saya lihat jalurnya kok jauh bener, sementara badan sdh remuk, keringetan, bau, capekkk…dan lapar.

“Hajar dah pak, lewat hutan jati”, kata saya nekad.

“Siap”, kata si sotoi..

Dan kamipun menempuh jalan seperti gambaran para supir tadi, sempit berkelok-kelok, sepiiiiiii dan gelappppp. Tapi dibandingkan dengan jalur Pucakwangi hingga Purwodadi yang baru kami lalui sebelumnya, ini lebih lumayan, paling jalur ini ada di peta, dan supir saya pernah lewat jalur ini meskipun di siang hari, tambahan lagi sesekali masih berpapasan dengan sepeda motor / mobil.

Saya sama sekali tidak takut gelap dan sepi….malahan saya sempet iseng2 membayangkan jika seandainya di kegelapan malam itu tiba2 ada kuntilanak duduk di sebelah saya wakakakakak…. Wis edan karena kecapekan kali wkwkwk…sekalian juga test nyali.

Saya tidak takut, tapi yang paling saya takutkan adalah mogok, ban pecah atau kehabisan solar. Wuahhh…amit amit… Mau minta tolong ke siapa? Berapa lama saya bakal berada di tengah hutan gelap itu…weleh2 untung gak kejadian…

Namun rupanya Tuhan masih sayang saya, setelah menempuh sekitar 2 jam yang penuh penderitaan, sayapun tiba di Hotel di Salatiga pada pukul 23:30 dalam keadaan remuk redam.

Saya segera check in, mandi dan bobo….dan…bermimpi menuliskannya hahahaha…:)

 Jalur perjalanan saya selama 10 jam🙂

Salam,

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Baca juga pengalaman unik saya yang lain:

18 thoughts on “Tersesat di hutan jati gara2 supir sok tahu

  1. Membaca cerita ini serasa saya berada di mobil sewaan itu bersama Guntur… seru … pusing mabok dan laper juga jadinya. Kayaknya mobil2 sewaan senantiasa memberikan kenangan manis kepada Guntur yg lalu menghibur para blog follower dengan cerita2 nya. Kita tunggu jilid 3 nya.

  2. Hahaha… ntah kenapa aura supir2 mobil sewaan and auranya Guntur ini blend perfectly sampai bisa buat cerita spontan yg seru… specially yg Jilid 1 itu is very original script, it is not only funny but surprising and refreshing…. kalau jilid 2 ini nuansanya “Suspense”….. kayak naik roller coaster ……buru2 di patenkan sebelum di bajak samsung.

  3. wah Pak, saya ni ketawa sampai tidak tertahankan ketika Bapak sangat bersyukur melihat segerombolan sapi… wakakakakaka…😛
    saya akan inget cerita ini ketika suatu saat saya juga bisa merasa bersyukur melihat sesosok mahluk hidup walau hanya seekor sapi mungkin😀

  4. maaf pak, bukannya maksud gimana2, tapi sungguh, saya ngakak baca cerita ini, sampe kadang belibet antara mbaca ama ngguyu 😛
    sekali lagi maaf loh pak, dan mohon dimaklumi, atas pengertiannya, saya ucapkan terima kasih.
    tapiiii….setidaknya, jadi punya pengalaman asik kan pak 😀

  5. Hahaha, pasti ngeselin bgt ya di supirin ama org sotoi kyk gt…
    Gpp di ambil hikmah nya aja pak, setidak nya pengalaman ini bs buat bahan di blog kan, wkwkwkwk :p
    Tp di akhir cerita sy msh penasaran. Gmn ending cerita wkt di sala3?
    Hepi kah? Nostalgia kah? Atau mgkn ada pengalaman kuliner yg bs dshare di sini.
    Hehe,soalnya sy jg msh terhitung penduduk sana pak😀

    • Ya betul semua peristiwa pasti ada hikmahnya, plg tidak banyak yg terhibur membaca sy tersiksa wkwkwk…
      Saya akan tulis re: Salatiga n UKSW, tenang aja🙂. Banyak foto yg sy ambil, ini yg bikin lama, milih, edit dan upload🙂, but I will.
      Oya sy br tahu si Aan itu Om kamu🙂, kmrn sempat ketemu Do.

      • Hahaha,bukan seneng melihat Pak Guntur tersiksa, tp ceritanya bs seru bgt smpe ikut terhanyut gt pak.
        Iya, Ku An adik dr mama. Ku An jg pernah cerita jaman Pak Set dl kul dsana krn jd langganan gt pak🙂
        Kalo gt sy tggu tulisan berikutnya ttg salatiga pak🙂

  6. Lanjutkan juragan…

    Punya bakat menulis yang harus dikembangkan nie.. tulisannya bikin kebawa…

    Mantap.

    titip saklam juga buat sapi-sapinya ya…hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s