2.1 Miracles of Fasting: Diabetes – The Mother of All Diseases

Bagi pembaca yang langsung menemukan page ini, silakan membaca bagian Introduction (2.0 Miracles of Fasting: Introduction) atau ke bagian pertama (1.0 The Miracles of Walking, Fasting and Sleeping) dari tiga bagian tulisan saya, agar pembaca lebih memahami inti seluruh postingan saya.

Saya akan mengawali bagian kedua tulisan saya ini dengan membahas mengenai Diabetes yang juga memperoleh gelar sebagai The Mother of All Diseases. Mengapa kok mendapat gelar seperti itu? Karena jika kita menderita penyakit ini ada kemungkinan kita juga bisa menderita kelainan berbagai macam organ tubuh, dari mata, jantung, lambung, hati, ginjal, kulit sampai kaki.

Mengapa Diabetes yang saya pilih sebagai pembuka? Terus terang karena dari sinilah awal mula saya secara tidak sengaja mengexplore keseluruhan pengetahuan yang panjang lebar saya tuliskan ini. Dan jika tidak kita sadari sedini mungkin, maka dengan lingkungan kerja dan Lifestyle hidup jaman modern sekarang ini, hanya tinggal menunggu waktu saja bagi kita untuk mengidap Diabetes.

Saya sendiri sebenarnya tidak pernah memiliki gejala gula darah. Saya sebelum merit seperti tiang listrik, kurusnya. Setelah merit naik tapi tidak sampai obesitas. Saya rasa saya baru mulai diperingatkan dokter setelah saya mulai memasuki usia 45 tahun ke atas. Saya mulai didiagnosa pre-diabetes  karena kadar gula darah puasa 100-125 mg/dl.

Sejak itu saya mulai dioleh2i dokter obat penurun gula darah setiap kali saya memeriksakan diri. Bahkan salah satu dokter senior di RS Swasta besar di bilangan Kuningan pernah memvonis saya bakal seumur hidup meminum obat diabetes, yang ternyata… TIDAK BENAR!. TIDAK BENAR bahwa saya bakal seumur hidup harus minum obat penurun gula darah…

Kita bisa mengatasinya… kita tidak harus tergantung 100% dengan obat2an asal kita mau mempelajarinya, dan menjalankan apa yang nanti sayal uraikan pada postingan2 saya berikutnya.

Terus terang saya sangat kecewa terhadap nasehat yg saya terima mengenai kadar gula darah saya, karena semua dokter yang pernah saya kunjungi, TIDAK ADA satupun yang secara tegas berani mengatakan bahwa saya bisa mengatasinya, dan bagaimana caranya! Semuanya begitu melihat hasil test Lab, langsung coret2 di kertas resep… 3 bulan obat diabetes plus cholesterol plus asam urat plus triglyceride… biasanya sepaket itu.

Inilah salah satu tujuan saya bersusah payah menuliskan sharing saya ini agar kita tidak harus percaya atas vonis dokter, tetapi berusaha untuk mencari cara untuk mengatasinya juga. Dan saya yakin PASTI BISA!.

Pada saat ini, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari website PDPERSI (Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) disebutkan:

Indonesia kini telah menduduki ranking keempat jumlah penyandang diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat, China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang diabetes pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta penyandang diabetes dengan tingkat prevalensi 14,7 persen untuk daerah urban dan 7,2 persen di rural.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Sedangkan Badan Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2009 memperkirakan kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus dari 7,0 juta tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030.

sedangkan:

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008, diketahui bahwa 3 dari 50 orang Indonesia mengidap diabetes. Dan yang mengejutkan, jumlah penderita pre-diabetes jauh lebih tinggi. Statistik menunjukkan bahwa 1 dari 10 orang Indonesia menderita pre-diabetes. Padahal, orang yang menderita pre-diabetes biasanya akan menderita diabetes sekitar 5 sampai 10 tahun kemudian.

selain itu:

Berdasarkan data Sample Registration Survey tahun 2014, diabetes menempati peringkat ketiga penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Persentasenya sebesar 6,7 persen, di bawah stroke (21,1 persen) dan penyakit jantung koroner (12,9 persen). Fakta ini diperkuat pula dengan hasil survei Sun Life Asia Health Index 2015, yang melaporkan bahwa diabetes menjadi penyakit yang paling ditakuti di Indonesia (37%), diikuti oleh penyakit jantung (31%) dan gangguan pernafasan (29%).

Data statistik yang menggetarkan hati bukan? Bayangkan 1 dari 10 orang Indonesia menderita pre-diabetes… dan itu data tahun 2008. Padahal, seingat saya tahun 2008 itu caffe2 belum sebanyak sekarang, belum ada minuman Bobba2 itu, belum banyak bakery dengan cake2nya yg membuat kita “ngecessss”…

Pertumbuhan luar biasa penderita pre-diabetes bukan hanya di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Pembaca bisa mencari sendiri data pertumbuhan penderita pre-diabetes ini di website. Grafiknya semua mengerikan!!!

Sekarang ini penyakit gula bukan lagi merupakan “penyakit orang kaya” seperti anggapan dulu hanya menyerang kalangan menengah ke atas, namun segala kalangan mengidapnya. Malangnya, 2 dari 3 orang pengidap diabetes tidak menyadarinya, karena indikasinya tidak langsung tampak, akan tetapi perlahan-lahan menumpuk hingga kita telat menyadarinya.

Penyakit gula juga bukan lagi penyakit orang dewasa atau orang tua, sekarang sudah mulai menyasar anak. Berdasarkan statistic di US, pada tahun 1990, 1 dari 11 anak/remaja di Amerika menderita pre-diabetes atau diabetes. Saat ini menjadi 1 dari 4. GILA nggak???

Dan impactnya luar biasa mengerikan bagi yang terdampak, biaya hidup menjadi tinggi, bisa mengalami kebutaan, penyakit jantung dan ginjal, amputasi (aduh saya pernah melihat keluarga sendiri yang kakinya diamputasi karena Diabetes) dan seumur hidup harus diinjeksi insulin.

Saya harap pembaca benar2 serius untuk meluangkan waktu membaca mengenai penyakit ini, karena kita tidak merasakan gejalanya, hingga sudah muncul komplikasi yang disebabkan oleh Diabetes ini. 

Mengapa pertumbuhan diabetes semakin cepat dan menyerang segala lapisan masyarakatt? Karena ketidaktahuan mengenai apa yang kita konsumsi sehari-hari. Karena apa yg kita pikir sehat untuk dikonsumsi, ternyata tidak.

Namun untuk memahami bagaimana kita bisa terserang Diabetes, kita perlu sedikit memahami sedikit cara kerja tubuh kita.

Yuk kita explore bersama-sama.

Apa yang terjadi ketika kita makan?

Ketika saya mulai mengexplore mengenai hal2 yang berhubungan dengan diabetes dan lain lain itu, video yang pertama saya tonton kok secara kebetulan pas banget  membukakan pikiran saya mengenai cara kerja organ2 di dalam tubuh kita ini.

Melihat video itu membuat saya terkesima, betapa hebat cara kerja tubuh kita ini, betapa hebat Sang Maha Kuasa mendesign tubuh manusia ini. Selama ini saya tidak terlalu care dengan cara kerja organ tubuh manusia, namun video yang simple berikut membuat saya menjadi bersemangat mengexplore video2 lain.

Pembaca bisa menontonnya sendiri dengan lebih detail di bawah ini

https://www.youtube.com/watch?v=X9ivR4y03DE&t=11s

Pada intinya begini, setelah makanan yang mengandung Carbohydrate masuk ke tubuh, Carbohydrate ini diurai di lambung dan sistim percernaan tubuh kita menjadi Glucose, yang diperlukan untuk menghasilkan energy alias tenaga. Singkatnya, Carbo masuk perut diolah jadi Glucose. Ini kelihatan sederhana, tetapi ini adalah kunci yang sangat penting.

Jenis makanan yang mengandung Carbohydrate itu adalah seperti nasi dan tepung2an (roti, kue, mie dll), makanan manis/mengandung gula, susu dan turunannya seperti keju, yoghurt dan juga buah2an. Pada jaman sekarang jenisnya luar biasa ragamnya.

Glucose kemudian beredar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah kita. Ketika tubuh kita mendeteksi kadar Glucose di darah meningkat, maka organ tubuh kita yang bernama Pankreas,  mulai melepaskan hormone Insulin ke peredaran darah kita. Insulin inilah yang membantu tubuh kita memperoleh energy dari pembakaran Glucose.

Bagaimana caranya?

Sel2 tubuh kita tidak bisa dengan serta merta menjadikan Glucose sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energy. Sel tubuh membutuhkan Insulin untuk membukakan pintu untuk masuknya Glucose ke dalam sel2 tubuh, dan kemudian membakarnya. Jadi Insulin seakan-akan bertindak sebagai kunci untuk membukakan pintu sel bagi jalan masuk si Glucose. Kurang lebih ilustrasinya seperti di bawah ini:

How Insulin Works

Akibat terserapnya Glucose ke dalam sel tubuh kita, maka kadar Glucose / Gula di darahpun turun.

Namun penting diperhatikan: tidak semua penyerapan Glucose ke sel tubuh dijadikan energy. Jika kita sedang beristirahat atau tidak melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga banyak, maka Glucose yang diserap oleh sel tubuh akan dirangkai menjadi Glycogen, yaitu cadangan Glucose yang bisa digunakan oleh tubuh pada saat kadar Glucose / Gula di darah berkurang.

Perhatikan sekali lagi bagian ini:

PADA SAAT KITA BERISTIRAHAT atau TIDAK MELAKUKAN KEGIATAN YANG MEMBUTUHKAN TENAGA BANYAK, maka Glucose akan dirangkai menjadi GLYCOGEN, yang merupakan CADANGAN jika sewaktu2 Glucose dalam darah berkurang.

Tubuh kita yang hebat ini juga memiliki indicator canggih yang selalu berusaha mempertahankan kadar Glucose / Gula tetap berada di daerah aman.

Jadi tubuh kita akan memonitor apakah di dalam kekurangan atau kelebihan Glucose. Kalau kurang, cadangan Glucose di Glycogen diurai menjadi Glucose dan dilepas ke darah. Kalau kelebihan Glucose di darah, maka akan dirangkai jadi Glycogen untuk dijadikan cadangan.

Ciamik kan?

Namun, kapasitas simpan Glycogen juga ada batasnya. Nahhh… jika ternyata cadangan Glycogen sudah cukup, maka tubuh akan mengubah Glucose menjadi… apa ayooo… FAT alias LEMAK.

Perhatikan lagi bagian ini:

NAMUN, JIKA TERNYATA CADANGAN GLYCOGEN SUDAH CUKUP, maka tubuh akan MENGUBAH Glucose menjadi FAT alias LEMAK.

Mohon pembaca membaca berulang2 bagian di atas kalau belum memahami, karena hanya ini kunci dari tulisan saya panjang lebar berikutnya. 

Jadi JIKA kita MAGER tapi RAJIN MENGUNYAH / MAKAN, apa yang terjadi?

Jika di tubuh kita sudah KEBANYAKAN CADANGAN GLUCOSE dalam bentuk GLYCOGEN, makan semua makanan mengandung GLUCOSE akan diuban menjadi… FAT / LEMAK.

Maaf ya pembaca, saya mengulang2, karena kunci semua yang akan saya share di bagian kedua ini ada di beberapa paragraf di atas.

Jadi singkatnya, lingkarannya mungkin seperti ini:

Carbohydrate – Glucose – Insulin – Energy – Glycogen – Fat

Carbo jadi Glucose dengan bantuan Insulin diserap sel tubuh jadi Energy, kelebihannya dirangkai jadi Glycogen, kalau masih lebih jadi Fat… Mudah2an bener… 🙂

Ini karangan saya sendiri untuk memudahkan mengingatnya… maap2 para Dokter ya 😃😃😃😃…

Two Compartments Model

Dr. Jason Fung, MD seorang nephrologist dari Canada, expert di bidang Intermittent Fasting dan low carb, menggambarkan pemanfaatan Glycogen dan Fat ini sebagai Two Compartments Model yang bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Hubungan Glycogen dan FAT ini analogynya sama seperti koki di restoran atau ibu2 di keluarga besar/kaya menggunakan kulkas dan freezer. Biasanya mereka meletakkan kulkas di dapur, sedangkan freezer kadang diletakkan di garasi atau basement rumah.

Mereka menyimpan semua kebutuhan sehari2 seperti minuman, sayur atau daging yang dibutuhkan di kulkas, dan menyimpan daging atau bahan2 makanan lain yang dibutuhkan jangka panjang di freezer atau bahkan di kamar pendingin khusus.

Pada kegiatan masak memasak, koki / ibu2 akan lebih banyak membuka kulkas untuk mengambil kebutuhan sehari-hari. Jika ada kelebihan daging yg tidak muat lagi di kulkas, maka daging itu akan dipindahkan ke Freezer jika suatu ketika dibutuhkan.

Nah sekarang coba pembaca bayangkan, jika setiap hari kebutuhan daging untuk memasak adalah 2 kg, tetapi si Ibu selalu membeli 3 atau 5 kg. Akibatnya setiap hari kita kelebihan 1 atau 2 kg daging kan? Terus kelebihannya diapakan? Tentu disimpan di kulkas. Lha kalau tempat penyimpanan daging di kulkas itu hanya cukup menyimpan 2 kg daging, kelebihan daging diapakan? Maka setiap hari kita akan menumpuk kelebihan daging di Freezer. Simplenya kan begitu.

Betul tidak? Lalu kapan kita akan menggunakan cadangan daging di Freezer? Tentu jika cadangan daging di kulkas sudah kita gunakan? Betul kan?

 

Two Compartments Model

Sama halnya dengan analogi di atas, jika tubuh kita mendeteksi penurunan kadar Glucose / Gula di darah, maka secara otomatis tubuh akan membuka kulkas alias Glycogen untuk dilepaskan ke aliran darah supaya kita tidak sampai pingsan karena kadar Glucose / Gula terlalu rendah. Apabila cadangan Glycogen sudah habis barulah tubuh mengolah Fat / Lemak.

Kira2 begitu Inventory Management Glucose/Fat di tubuh kita…

Canggih ya… 😃…

NOW…

Jika pembaca sudah memahami Inventory Management di tubuh kita ini, maka kita akan lebih mudah memahami bagaimana proses naik turunnya kadar gula dalam darah dan naik turunnya berat badan. Setuju tidak pembaca?

Simplenya, kalau ingin gemuk, ya simpanlah lemak sebanyak-banyaknya. Caranya? Makanlah sebanyak-banyaknya makanan mengandung carbo / gula, kemudian jangan banyak bergerak… mager aja… Maka kadar gula darah akan naik dan kelebihan Glucose akan diubah pertama menjadi Glycogen. Kalau tubuh kita sudah memiliki kecukupan cadangan Glycogen maka selanjutnya dirubah jadi FAT / LEMAK. Maka Gembul lah kita… sederhananya begitu.

Sebaliknya juga demikian, kalau ingin kurus, bakarlah lemak sebanyak-banyaknya. Atau dengan kata lain, makanlah kurang dari jumlah kalori yang diperlukan tubuh sehari-hari. Atau bergerak / berolah-ragalah sehingga energy yang dibakar tubuh, lebih dari kalori yang kita makan sehari2.

Bukannya begitu? Ini masih simplified theory… nanti kita akan bahas lebih dalam lagi…

Oleh karena itu muncul dua istilah Sugar Burner dan Fat Burner…

Apakah itu, mari kita lanjut…2.2 Miracles of Fasting: Sugar vs Fat Burner

 

Salam,

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

Jakarta, Kebon Jeruk,

Minggu, 12 Juli 2020, 12:05

***000ooo000***

Dear Pembaca terkasih, 

Terima kasih telah bersedia membaca postingan saya di atas. Saya sangat berharap pembaca bersedia menuliskan komentar, komentar apapun juga, atau hanya  sekedar LIKE. Komentar pembaca penting buat saya untuk meningkatkan kwalitas tulisan saya, dan akan sangat menguatkan bagi pembaca2 lain. Mari kita saling berbagi agar semakin banyak teman2 lain yang bisa mengalami hidup sehat dan panjang umur…

***000ooo000***

2 thoughts on “2.1 Miracles of Fasting: Diabetes – The Mother of All Diseases

  1. Jujur bahasa yg Om pakai ini mudah banget dimengerti!! Aku sering baca artikel kesehatan terkadang suka njelimet… 😂😂
    Ini ak langsung inget uraian karbo- glukosa – insulin – energi – glikogen – fat. ( uda kaya rangkaian cerita, jadinya gampang di inget! )

    Jaman sekarang aja anak2 kecil juga uda mager Om, terlebih kalo da pegang hp / tab 😂.
    Aku bersyukur pas aku kecil dulu masih bisa ngerasain permainan sosialisasi *petak umpet, tak jongkok, taplak meja, main karet dll
    Yah meskipun skrg uda ga main lagi… 😂😂 hahaha

    • Thanks Desy, semoga pembaca lain juga merasakan hal yg sama. Saya malah khawatir uraian saya terlalu mbulet, makanya tidak ada yg berkomentar 😝…

      Justru karena saya tahu anak2 sekarang SANGAT mager, makanya saya bela2in nulis ini :). Krn anak sy juga begitu :), tp mrk untungnya sdh amat sangat aware dengan makanan… Puji Tuhan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s