UC Berkeley Commencement 2013 (part 2)

Setelah seminggu lebih mencoba menyelesaikan tulisan saya mengenai commencement di UC Berkeley, akhirnya selesai juga tulisan ini. Semoga pembaca masih bersemangat membaca sharing saya ini. Saya mohon maaf atas keterlambatan ini, karena saya harus memilih dan mengedit foto2 yang ternyata banyaknya luar biasa🙂.

Enjoy!

Hampir telat bangun

Pagi hari tanggal 18 Mei 2013 itu, saya terkejut bangun karena serasa ada yang mengguncang-guncang badan saya. Samar2 saya mulai membuka mata, ehh ternyata Ivan yang sedang berusaha membangunkan saya dan istri saya yang tidur bagaikan habis dibius saja🙂.

Setengah ngantuk, saya tanya jam berapa sekarang? Eh ternyata sudah pukul 7:15. Waduh!!, meleset jauh dari rencana saya untuk bangun pukul 6:00 pagi. Kok bisa sih? Samar2 sayapun teringat beberapa saat sebelumnya dengan mantap mematikan alarm handphone saya seakan-akan tidak ada acara penting hari itu🙂. Weleh2…

Begitu menyadari keterlambatan kami, kamipun segera bergegas bangun, bergiliran menggunakan kamar mandi, berganti pakaian dlsb. Padahal malam sebelumnya saya dengan percaya diri meyakinkan ke istri dan anak2 untuk jangan sampai terlambat bangun, karena khawatir tiba di Stadium orang2 sudah pada antri berdesak-desakan masuk. Hal yang juga sudah diingatkan di surat edaran ke seluruh wisudawan.

Acara sendiri sebenarnya baru akan dimulai pada pukul 10 pagi, dan diperkirakan selesai setelah pukul 14:00 atau 15:00 sorenya. Pintu gerbang Stadium akan dibuka pukul 8:00, oleh karena itulah saya pikir dengan bangun pukul 6:00 ditambah segala macam persiapan ini itu, saya harapkan sekitar pukul 7:30 sudah tiba di lokasi.

Namun apa daya, kami bangun saja sudah merupakan keberuntungan. Jika saja Ivan juga tertidur pulas seperti kami, wah gak tahu apa yang akan terjadi J. Itu semua gara2 kami baru mulai bisa tidur pukul 3:00 pagi karena harus mempersiapkan segala sesuatu untuk hari istimewa ini, mempersiapkan kamera (jangan lupa men-charge baterai), menyetrika jubah wisuda, stola, celana dan tidak lupa batik saya🙂.

Dress code

Setelah mencuci muka seraya menggigil-gigil karena kedinginan, tanpa sempat lagi mandi, saya mulai ragu2 kembali apa masih mau nekat pakai Batik ya? Temperature ketika itu seingat saya berkisar antara 10 derajat Celcius-an, dingin banget. Saya benar2 bingung, mau pake batik pasti menggigil, tapi mau pake jaket tebal juga aneh bener. Hmm…gimana ya?

Atau pakai Batik dilapisi jaket tipis saya yang mirip seperti jas itu? Aneh juga, karena baju Batik kan tidak cocok diselipkan dipinggang celana, sehingga di bagian bawah baju nongol2 dari dalam jaket saya. Hmm…saya jadi terpikir, kok gak ada ya jaket dengan pola batik? Jadi bisa dipakai acara untuk cuaca dingin … hahaha…:)

Beberapa saat saya ragu2, namun akhirnya setelah mempertimbangkan dinginnya suhu pagi itu, sayapun mengenakan baju casual lengan pendek dengan jaket hitam yang tampak seperti jas. Dan untungnya, keputusan ini merupakan keputusan yang tepat karena ternyata setelah acara wisuda di Stadium selesai, saya lha kok lebih banyak jadi tukang foto daripada di foto🙂.

Kami akhirnya tiba di lokasi, dengan persiapan seperti diburu hantu, sekitar pukul 8:00. Semakin mendekati lokasi tampak semakin banyak anak2 muda berduyun-duyun berjalan menuju Stadium dengan mengenakan jubah hitam kebesarannya plus berbagai aksesori wisuda menempel  di badan.

Kami segera mendrop Ivan di dekat tempat berkumpulnya wisudawan, dan segera mencari tempat parkir yang jaraknya cukup membuat kami terengah-engah ketika mencapai Stadium.

Sesampainya di depan gerbang masuk, ehhh…ternyata antriannya tidak semengerikan yang saya bayangkan. Saya rasa kami hanya berada di urutan ke 30 an dari depan pintu. Rupanya banyak wisudawan yang datang tanpa orang tua atau keluarga. Mereka datang sendiri untuk persiapan masuk ke Stadium, sedangkan orangtua dan sanak saudara menyusul kemudian.

Queue Entry to UC Berkeley Stadium

Pada saat lagi antri inilah saya leluasa memperhatikan pakaian yang digunakan oleh ortu2 lain, ternyata…banyak yang casual. Kalaupun yang resmi rata-rata menggunakan jas pria tanpa dasi, semi formal lah. Sedangkan ibu2 lebih banyak menggunakan celana panjang dengan blazer. Ada juga ibu2 yang pakai rok, atas tahan masuk angin aja hehehe…. Intinya tidak banyak yang berpakaian resmi/formal, bahkan banyak yang menggunakan jeans dan kaos.

Sekali lagi saya sarankan tidak perlu berpakaian terlalu formal, apalagi buat ibu2, tidak perlulah make up berlebihan apalagi rambutnya dibuat sarang burung J. Karena ya itu tadi, setelah selesai acara, anak2 lebih heboh dengan teman2nya sendiri, baik teman se fakultas, teman satu apartment, atau teman kumpulan sesama mahasiswa Indonesia.

Kita benar2 seperti dayang2 mengikuti mereka berpindah-pindah tempat, dank arena kampusnya gede, sebaiknya berpakaian casual dengan sepatu yang enak dipakai berjalan jauh. Ibu2 sebaiknya tidak pakai high heel, apalagi sampai 15 – 20 cm. Dan jangan lupa, keliling kampus itu di bawah panggangan sinar matahari lho🙂.

Oleh karena itu pada hari H wisuda, jangan berpikir untuk berfoto keluarga, biarkan anak2 berfoto ria dengan teman2nya. Sayang sekali kalau kesempatan mereka berfoto bersama-sama teman2 itu hilang digunakan untuk berfoto dengan keluarga, kecuali memang tidak ada waktu lagi.

Sesi foto dengan orangtua, atau adik kakak, atau jika membawa Opa/Oma atau Om/Tante sebaiknya sediakan satu hari khusus setelah hari wisuda sembari mengelilingi kampus dan tempat2 atau kelas2 yang meninggalkan kenangan indah. Hal ini bisa kita lakukan karena semua aksesori wisuda adalah milik anak2, tidak seperti jaman wisuda dulu, peralatan wisuda dipinjamkan oleh Universitas dan harus dikembalikan setelah wisuda.

Berhubung semua perlengkapan wisuda milik sendiri, foto keluarga bisa dilakukan kapan saja dan bisa sepuas-puasnya. Tips: perhatikan ramalan cuaca, agar supaya pada saat pengambilan foto mendapatkan hasil maksimal. Ramalan cuaca disana, hampir 80% akurat.

Barang bawaan

Kembali ke antrian tadi, setelah mendekati pintu masuk, tiket kita diperiksa dan tas digeledah. Kami membawa dua tas ransel yang isinya penuh dengan segala perlengkapan ‘perang’ kami🙂.

Beberapa barang yang perlu dan tidak perlu dibawa:

1. Tiket masuk

Jangan sampai ketinggalan benda satu ini, karena akibatnya tidak bisa masuk🙂.

 2. Camera dan tripod

Bagi saya camera dan tripod ini adalah perlengkapan paling penting pada acara seperti ini. Saya mempersiapkan 2 camera (satu cadangan) dengan masing2 memiliki baterai cadangan yang sudah terisi penuh. Khusus jika acaranya diadakan di Stadium seperti yang saya alami, bawalah juga lensa Tele dengan daya jangkau jauh atau membeli camera dengan jangkauan lensa yang jauh.

Sehari sebelum acara saya baru teringat kalau camera SONY NEX-7 saya, yang berlensa 55 – 210 mm, tidak mampu menjangkau podium dari posisi tempat duduk yang saya pilih. Oleh karena itu, saya mencari di internet, camera poket yang memiliki jangkauan jauh.

Eh ternyata ada, compact camera dengan daya jangkau luar biasa, Optical Zoom 50x dan dengan harga yang masih ramah di kantong, dibandingkan dengan lensa DSLR yang puluhan bahkan ratusan juta. Setelah sempat ragu2 akan kemampuannya, akhirnya saya beli juga, dan…saya terperangah dengan hasilnya. Meskipun tidak setajam lensa tele DSLR, tetapi dengan harga yang saya bayarkan, saya amat sangat puas. Baca tulisan saya mengenai camera sakti ini (sabar ya, saya tulis dulu :)). Update 9/8/13: Ini tulisan saya mengenai kamera yang saya maksud: Amazing Super Zoom Compact Camera.

 3. Sunscreen lotion

Jangan lupa mengolesi tangan dan wajah dengan sunscreen, karena sinar matahari bersinar sangat kuat. Jika lupa, karena udara juga dingin, kita tidak merasakan sengatan matahari itu, namun tiba2 kulit hitam atau terbakar.

 4. Air dan makanan kecil

Bawa air dan makanan kecil secukupnya, karena prosesi wisuda sangat lama dan dilakukan dibawah panggangan sinar matahari. Namun tidak perlu juga berlebihan seperti yang kami bawa, karena ternyata di dalam Stadium juga dijual hotdog dan minuman.

Kami membawa makanan banyak bener, karena takut kelaparan🙂. Namun setelah sampai di dalam Stadium, ternyata ada kios2 yang berjualanan makan dan minuman. Jadi menurut saya, cukuplah makan pagi sekali, dan membawa makanan kecil serta minuman secukupnya.

5. Payung

Karena takut terpanggang sinar matahari, kami membawa beberapa payung. Weleh.. ternyata payung dilarang dibawa masuk karena bisa mengganggu pengunjung di belakang atau samping kita. Akibatnya, payung yang khusus kami beli sehari sebelumnya, terpaksa harus masuk tempat sampah dipinggir pintu masuk.

Suasana di dalam Stadium sebelum acara dimulai

Segera setelah melewati bagian pemeriksaan tiket, kami segera bergegas memasuki selasar Stadium. Dari bagian ini kami harus naik beberapa tangga lagi untuk bisa masuk ke dalam Stadium. Nah ketika hendak memasuki arena Stadium, istri saya mengatakan ingin ke kamar kecil terlebih dahulu.

Pada awalnya saya sempat ragu2, apakah akan menunggu istri saya atau saya biarkan istri saya ke kamar kecil sendiri, untuk kemudian menyusul saya ke atas. Ketika saya pikir belum terlalu banyak orang, sementara saya perlu mencari tempat duduk yang enak, maka diapun saya tinggal sendirian mencari kamar kecil. Saya berdua dengan putera kedua saya, Calvin, langsung melanjutkan menaiki tangga dan memasuki arena Stadium untuk mencari posisi tempat duduk yang paling ideal.

Setelah memperoleh tempat yang saya rasa paling sip, sayapun segera berkeliling Stadium untuk memotret-motret suasana Stadium pagi hari itu yang ternyata masih belum terlalu ramai seperti dugaan saya. Saya bisa bebas bergerak dari satu ujung ke ujung naik, naik ke posisi paling atas sampai daerah yang tidak boleh dimasuki lagi.

Suasana Stadium masih kosong disana-sini, hanya separuh bagian depan podium yang boleh digunakan, di belakang podium dikosongkan.IMG_0068

IMG_0062View Far Right

Deretan kursi untuk wisudawan yang masih kosong

Kursi untuk wisudawan 1a Kursi untuk wisudawan 2aSementara saya berkeliling Stadium, saya juga berusaha menghubungi istri saya yang tadi pamit mau ke kamar kecil, ternyata tidak bisa dihubungi. Saya coba menanyakan ke Calvin, dia juga tidak tahu. Hampir satu jam kemudian ketika saya kembali ke tempat duduk, istri saya belum juga nongol.

Duh kemana ya? Suasana Stadium sudah mulai penuh manusia, saya turun lagi ke sekitar toilet tempat istri saya masuk tadi. Suasana sekitar sana sudah mulai sepi. Selama saya berkeliling mencari, saya tetap berusaha menelpun atau mengirim message, tapi tanpa hasil. Haisss…kemana pula si Nyonya ini? Berbagai pikiran buruk yang mencoba mampir, berusaha saya tampik.

Kenapa ya? Apa terpleset di toilet? Atau terjatuh karena kurang tidur? Atau … ditodong orang ya? Aduhh… saya benar2 bingung. Saya sempat terpikir memasuki saja toilet wanita di sekitar sana, tapi apa betul itu toilet yang dimasuki istri saya? Lha kalau salah terus saya kepergok, bisa babak belur saya digebuki cewek2 bule yang badannya bisa 2x lebih besar dari badan saya.

Saya mencoba menanyakan ke security, tetapi mereka hanya menyarankan saya untuk menunggu di depan Toilet, haduhh….kacau bener, sementara itu pengumuman acara akan dimulai sudah diumumkan😦. Saya benar2 tidak tahu harus bagaimana, saya coba telpun Ivan, tapi dia juga tidak tahu dimana.

Akhirnya setelah berputar-putar beberapa kali hingga kaki saya hampir patah, sayapun menyerah dan kembali ke tempat duduk untuk meneruskan memperhatikan acara yang mulai berlangsug. Namun perhatian saya tidak bisa penuh karena pikiran saya kacau dan hati ketar-ketir.

Hingga acara selesai saya tetap tidak berhasil menemukan istri saya, dan saya juga tidak memperoleh kabar dia berada dimana. Saya dengan perasaan khawatir ikut arus ribuan manusia yang mengalir keluar gedung. Saya juga tidak tahu harus kemana setelah keluar gedung, apakah mencari Ivan atau kembali ke mobil, atau kembali ke apartment atau ke kantor polisi?

Kami berdua perlahan-lahan berjalan keluar hingga ke selasar di luar gedung dimana rombongan manusia mulai terpecah kemana-mana. Ketika sampai di luar gedung, saya mencoba menoleh kesana kemari, ehhh…tampak si doi lagi berdiri mencoba memasang baterai handphonenya. Duhhh…saya tidak tahu apa yang saya rasakan, antara seneng, gregetan (karena hanya gara2 urusan buang air kecil jadi begini) dlsb.

Setelah saya tanyakan kenapa kok gak menghubungi saya, ternyata Blackberrynya tiba2 tanpa sebab ngadat, padahal malam sebelumnya baterai sudah terisi penuh. Dia juga sudah menggunakan powerbank, tetapi tidak bisa mengisi.

Saya sempat menanyakan kok tidak jalan aja di selasar di depan deretan kursi2 itu untuk mencari kami. Kan di setiap section itu ada selasar tempat untuk kita berjalan, ternyata sudah dia lakukan juga tapi tetap tidak melihat kami.

Istri saya mengatakan bahwa dia melihat saya saya berjalan menelurusi gang di depan deretan kursi2 itu, dan sempat berteriak memanggil dan melambai-lambaikan tangan, namaun saya tidak melihat.  Bahkan dia sempat turun mengejar saya, tapi katanya tidak terkejar dan saya menghilang. Padahal ketika itu saya ingat sekali, saya berjalan pelan-pelan sembari menyapu dengan mata deretan kursi2 itu dari bawah ke atas, tetap tidak terlihat. Apa karena terlalu banyak nona2 bule yang cantik2 sehingga mata saya silau ya…wkwkwkwk… Hushh!!!🙂.

Ini merupakan pengalaman buruk yang sangat berharga sekali, jangan sekali-sekali terpisah pada saat berada di kerumunan masa yang jumlahnya puluhan ribu seperti itu. Sekali terpisah, rasanya susah sekali untuk bisa bertemu kembali.

Inilah suasana Stadium pada saat acara sudah hampir dimulai:

View center to right View from righ View to leftView from Far Right 21Bandingkan dengan sebelumnya:

View from Far Right 3Part 3: Acara Wisuda 

5 thoughts on “UC Berkeley Commencement 2013 (part 2)

  1. wow, saya terpingkal-pingkal membaca pengalaman Pak Guntur kehilangan istri
    lalu galau mau mencari atau mau menonton, udah kaya anak muda jaman sekarang aja pak, penuh kegalauan hehehehe😀
    ditunggu update nya lagi pak😀

  2. What a moment ya……
    soal HP di Mal sana juga bermasalah ntah kenapa ngak ada signal ….masih bagusan di Jakarta sinyal nya …🙂 Jadi make sure sebelum mencar di test dulu HP nya nyambung ngak.

  3. buat rekan rekan alumni darma pesbedarasetulnya untuk kampus sangat enak mudah di jangkaudari segi mana saja untuk prasarana masih banyak yang kurang mendukung dari segi fakultas sampai prasarana nya untuk masalah lapangan kerja sangat mudah dan banyak perusahaan yang mengambil lulusan dari darma persadaseperti saya, sekarang bekerja di Pertamina ONWJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s