Say NO to Corruption !!!

Say No To CorruptionWajib baca bagi adik2 yang baru mulai meniti karier, atau bagi pembaca yang sering berhadapan dengan tawaran pemberian hadiah barang/jasa dari vendor/supplier rekanan. 

Korupsi: rasanya tidak ada topic yang lebih sering diulas di media cetak dan elektronik Negara ini selain yang satu ini. Saya yakin semua pembaca sama muaknya dengan saya ketika membaca maupun mendengar berita mengenai hal  ini. Namun melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud mengulas kejadian korupsi di Negara ini, tetapi saya akan mencoba berbagi pengalaman saya berkenalan dengannya dan bagaimana kemudian mengambil hikmah supaya bisa mengatakan TIDAK pada korupsi.

Topic ini sebenarnya sudah sangat lama ingin saya tulis, bahkan sebelum saya memiliki blog ini, namun entah kenapa kok tidak pernah kejadian. Mungkin karena tulisannya saya bayangkan akan sangat panjang dan membosankan, atau mungkin juga karena saya tidak menemukan alasan kenapa kok saya harus menuliskannya.

Saya akhirnya memutuskan untuk menuliskannya setelah kegemasan saya tidak tertahankan ketika menonton acara Indonesia Lawyers Club yang saya tulis di postingan saya berjudul Maaf ya, saya mau ngomel. Sejak itu saya mulai berpikir untuk membagikan pengalaman saya berkenalan dengan korupsi ini, dan membagikannya ke adik2 yang baru memasuki dunia kerja atau meniti karier.Tulisan ini berdasarkan kejadian yang saya alami sendiri, yang kemudian menyebabkan saya memiliki satu prinsip dasar di dalam menghadapi suap selama saya bekerja sebagai professional di perusahaan tempat saya bekerja dulu. Semoga bermanfaat …..

Pada awal karier saya di awal2 tahun 90 an, saya diberkati oleh kesempatan yang sangat luar biasa untuk mengelola IT Department salah satu anak perusahaan Astra yang bergerak di bidang kartu kredit. Mungkin sebagian pembaca ingat dulu pernah ada kartu kredit dengan nama Astra Card yang kemudian hari berubah nama menjadi GE MasterCard.

Ketika itu saya bertiga dengan rekan sekerja saya bahu membahu membangun perusahaan ini dari NOL hingga kemudian beroperasi selama kurang lima tahun diambil oleh GE Capital. Saya katakan dari NOL, benar2 dari kertas kosong, mulai dari mempelajari bisnis proses kartu kredit, merancang  proses bisnisnya, membangun solusi IT, membangun team untuk menangani operasi, marketing hingga customer servicenya.

Saya yang kebagian membangun system komputernya, memperoleh budget yang cukup besar untuk membangun local area networknya, memilih dan membeli perangkat keras seperti pc, printer, router serta license untuk database, desktop dan servernya. Pokoknya semua kebutuhan agar perusahaan kartu kredit ini bisa beroperasi. Oleh karena itu, begitu saya mulai mencari supplier yang bisa memenuhi kebutuhan yang saya cari, sayapun mulai dikejar-kejar oleh supplier2 / vendor2 rekanan, bak seorang Princess yang diperebutkan oleh pangeran berbagai kerajaan wkwkwkwk…

Salah satu vendor yang sangat bersemangat untuk memperoleh pekerjaan ini, entah bagaimana caranya tiba-tiba “mampir” ke rumah kontrakan saya yang seperti kandang kelinci di kawasan Kelapa Gading ketika itu. Saya yang masih bego dengan urusan begini, sama sekali tidak mengira maksud dan tujuan kunjungan mereka, dan saya menerima mereka dengan keramahan masyarakat timur pada umumnya.

Setelah beberapa saat berbasa-basi tibalah saatnya mereka menembakkan tujuan khususnya “mampir” ke rumah saya ketika itu. Mereka menyatakan bahwa mereka amat sangat berminat dengan proyek IT yang sedang saya tenderkan, serta mereka mengatakan sanggup untuk melakukan semuanya sebagai “turn key project” dan…nah ini tembakannya, jika mereka terpilih, mereka telah menyisihkan sedikit “dana” bagi saya. Yang dimaksud dengan “sedikit dana itu “ ternyata cukup membuat jantung saya berhenti berdetak dan membelalakkan mata saya. Kalau tidak salah sekitar hampir 40 – 50x gaji yang saya terima ketika itu. Byuhhh….byuhhhh…byuhhhh…

Saya yang amat sangat terkejut dengan hal ini tidak mampu berkata apa2 selain mengucapkan terima kasih dan akan memikirkannya nanti, kemudian mengantarkan mereka keluar rumah dalam keadaan setengah linglung wkwkwkwk…

Bagaimana tidak linglung, 40 – 50x gaji saat itu merupakan jumlah yang amat sangat besar bagi saya, dan terus terang saya lagi sangat membutuhkannya. Saya ketika itu baru saja memiliki anak pertama saya, dan saya masih tinggal di rumah kontrakan type 4L – Lu Lagi Lu Lagi,  type paling kecil di kawasan Kelapa Gading.  Saya juga masih mengendarai mobil butut yang ingin sekali saya ganti. Saya sangat membutuhkan uang itu, ciyusss….

Meskipun saya diajarkan sejak kecil untuk tidak menipu, atau mengambil barang yang bukan hak saya, tetap saja saat itu pikiran saya terganggu. Selama dua hari kemudian, saya selalu gelisah membayangkan hal ini. Saya jadi susah tidur dan kerap menarik nafas dalam2, dan tentu saja menarik perhatian istri saya, hingga sayapun menceritakan perihal tawaran ini ke dia.

Malam ketiga ketika saya berguling sana berguling sini karena gelisah, istri saya akhirnya menyatakan hal yang tidak akan pernah saya lupakan hingga kini. Dia mengatakan begini: “Pa, tidak akan akan ada yang tahu, kalau papa memutuskan menerima uang itu. Mereka itu sudah professional, mereka tidak akan cerita2 ke atasan papa kalau hal itu yang papa takutkan”. Ya memang betul, itu yang selama tiga hari ini mengganggu pikiran saya. Saya takut ketahuan boss saya jika menerima “hadiah” itu.

“Namun….”, begitu lanjut istri saya “Papa tidak akan bisa bersembunyi dari YANG DI ATAS SANA. DIA tahu semuanya”. Jegerrrrr….seraya disambar geledek saya malam itu mendengar kalimat terakhir istri saya ini. Saya melongo seperti orang yang baru tersadar dari mimpi buruk saja.

Iya ya pikir saya, mereka pasti tidak akan memberitahu siapapun juga, termasuk atasan saya. Mereka pasti menjaga rapat hal ini, karena kalau tidak, pelanggan mereka yang lain tidak akan berani menggunakan mereka lagi. Tapi, bagaimana dengan yang DI ATAS sana? Apakah saya bisa menipuNYA? Apakah saya bisa bersembunyi dari YANG MAHA TAHU itu? Saya yakin tidak, saya tidak akan bisa menyembunyikannya dari DIA, DAN…  dari NURANI saya sendiri.

Malam itu, setelah kesadaran saya digampar oleh istri saya, kami berdoa bersama, memohon ampun dan… saya menangis sesenggukan. Saya merasakan seakan-akan ada kelegaan yang luar biasa menghiggapi saya, seakan-akan ada batu yang teramat sangat berat terangkat dari dada saya. Saya merasa merdeka. I am FREE. (Baca juga Fight for Nurani)

Kejadian yang tampak sederhana ini ternyata merupakan cara Tuhan untuk mempersiapkan saya untuk menerima godaan yang jauh lebih besar ketika kemudian perusahaan kartu kredit yang kami rintis bersama-sama mulai berkembang.

Kurang lebih 1.5 tahun kemudian saya memperoleh budget kurang lebih 5 Milyar untuk membeli perangkat EDC (Electronic Data Capture) yang sering kita jumpai ketika kita berbelanja menggunakan kartu kredit. Alat ini berfungsi untuk menangkap informasi yang tersimpan di magnetic stripe yang ada di belakang kartu kredit ketika penjaga toko menggesekkan kartu kita di alat tersebut.

Setelah berusaha mencari perusahaan yang menjual EDC ini kesana kemari, ternyata hanya ada satu distributor yang memonopoli penjualan area Indonesia. Saya sudah berusaha mencari kesana kemari dan juga mencari alternative merk lain lain, namun yang EDC terbaik dan dipakai oleh bank2 lain adalah juga dari vendor satu ini. Padahal agar supaya bisa memperoleh harga terbaik, saya perlu pembanding harga supaya tidak ‘dikadali’ oleh distributor tunggal ini. Ketika itu saya masih idealis2nya, sekarang juga masih sih🙂, I just want to get the very best price, that’s all.

Sayapun kemudian teringat salah seorang teman saya di Surabaya yang saya tahu sering mengimport barang2 dari US, asal pabrikan EDC ini. Saya mencoba menghubungi dan menanyakan dia untuk menjajaki kemungkinan mengimport langsung dari US. Selain itu juga, salah satu teman saya yang juga bergerak di penyediaan hardware di Jakarta saya minta untuk melakukan hal yang sama sebagai pembanding nantinya.

Ternyata hanya dalam waktu sekitar dua – tiga minggu, kedua orang teman saya itu sudah bisa memasukkan penawaran dengan harga yang jauhhhhh di bawah distributor resmi alat itu.

Hingga disini saya mengalami dilemma karena kedua orang ini merupakan teman2 saya, maka sayapun meminta kolega sekantor saya, yang ketika itu memegang jabatan sebagai Marketing Manager, untuk melakukan penawaran harga hingga salah satu menyerah tidak bisa lagi menurunkan harganya. Dan harga terbaik yang kami peroleh ketika itu HANYA 55% dari harga distributor tunggal EDC ini. Itupun dengan embel2 mereka bersedia mengatur untuk menuliskan invoice tagihan berapapun sesuka kami. Hmm…

Nah disinilah ketabahan saya diuji kembali setelah berhasil lolos dari ujian pertama saya di atas. Hal pemilihan dan pemenuhan EDC ini seratus persen berada di tangan saya, dan hanya saya beserta teman saya yang Marketing Manager itu yang tahu. Atasan saya benar2 percaya ‘bongkokan’ (percaya habis2an gitu lho J) atas saran dan keputusan kami berdua.

Hal ini membuat kami memiliki kesempatan luar biasa untuk bermain-main dengan selisih harga 45% itu. Oleh karena itu kami berdua kemudian berandai-andai demikian, jika saja kami memasukkan harga 80% dari harga distributor resmi, apakah perusahaan akan dirugikan? Coba bagaimana menurut pembaca? Kira2 perusahaan dirugikan tidak, sementara harga dari distributor resmi sudah tidak bisa ditawar lagi.

Menurut hemat kami berdua perusahaan tidak akan dirugikan, dan kami juga sudah melakukan THE BEST FOR THE COMPANY, betul tidak? Bahkan jika kami masukkan dengan harga 90% pun perusahaan tidak dirugikan. Lha wong harga resmi di pasaran bisa dicek dengan mudah.

Nah sekarang mari kita berhitung.

Jika kami memasukkan harga hingga 90%, maka “keuntungan” kami berdua adalah 35%. Atas budget sebesar 5M, kami berdua akan memperoleh untung sama dengan 1.65 M. Kurs USD saat itu sekitar Rp. 1.800,- per USD. Berarti “keuntungan” kami berdua sekitar 900.000 USD. Gimana, lumayan gak? Hmm..lebih dari lumayan untuk dua orang manager yang baru berpengalaman kerja tidak sampai 5 tahun. Betul tidak?

Jikapun kami tidak serakah2 amat, misalnya kami masukkan 75% dari harga pasar. Maka “keuntungan” kami berdua masih 20% atas 5M atau 1 Milyar atau sekitar 550.000 USD. Masih lumayan kan, dibagi dua masih 275.000 USD.

Saya masih ingat sekali bagaimana kami tertawa-tawa membicarakan hal ini. Namun beban berat seperti yang saya alami dulu tidak terjadi SAMA SEKALI. Kebetulan juga teman saya, Marketing Manager ini, adalah seorang pemeluk agama Katholik yang taat, yang pernah saya ceritakan pengalaman yang saya alami dulu.

Jadinya kami malah cengengesan membicarakan berbagai scenario  yang akan kami lakukan dengan uang sebesar itu. Ketika itu rumah di Kelapa Gading dengan luasan tanah berukuran 200 m2 sekitar 250 jutaan. Jika kami membagi dua “keuntungan” kami, maka masing2 dari kami akan memperoleh 500 juta per orang. Jadi setelah membeli rumah, kami masih ada sisa 250 juta untuk dibelanjakan.

Kami membudgetkan 75 juta untuk isi rumah, kulkas, AC, TV, bed set, perangkat dapur dlsb. Masih ada 175 juta tersisa, kami budgetkan untuk membeli Honda Accord, sedan paling favorite ketika itu, untuk anak muda sekelas kami, dengan harga sekitar 125 juta. Masih tersisa 50 juta, kami budgetkan untuk membeli arloji, jalan2 keluar negeri dlsb. Hmmm…perfecto….rencana yang sempurna bukan?

Tapi…. Sesudah itu apa? Uangnya habis hanya untuk belanja kebutuhan di atas. Bagaimana dengan kebutuhan lain, sekolah anak2, pakaian, tas belanja untuk istri dlsb dlsb…

Hmmm…gak perlu khawatir. Kan masih ada tahun depan. Tahun depan kan masih perlu pengembangan lagi, kan kami berdua juga yang merancang budgetnya. Teman saya yang menentukan jumlah EDC yang dibutuhkan, saya yang akan memenuhi kebutuhan itu.

So, gampang sekali, tahun depan naikkan saja budgetnya 25%, atau 50% atau kalau nekat sekalian 100%, karena perkembangan kartu kredit dan juga bidang usaha Multi Finance sedang tumbuh gila-gilanya. Induk perusahaan kami sedang kaya-kayanya, uang sebesar itu tidak menjadi masalah sama sekali.

Jadi tahun depan, kira2 “keuntungan” kami berdua juga akan naik 25%, 50% atau bahkan bisa mencapai 100%. Lets say 100%. Maka masing2 dari kami akan memperoleh bagian 1M. Terus kamipun berandai-andai lagi untuk membeli rumah lebih besar, mobil lebih mewah, sekolah anak lebih mahal, arloji lebih kinclong dlsb dlsb.

Sudah punya rumah 200 m2, pingin yang 400 m2. Sudah punya di Kelapa Gading kepingin di Pondok Indah, Pantai Indak Kapuk, Menteng dst. Sudah punya Avanza, kepingin Kijang, kemudian pingin Alphard, BMW, Porche, Ferari, Lamborghini dst. Sudah punya jam tangan Casion, kepingin Seiko, Bulgari, Omega, Rolex dst.

Begitu bukan sifat manusia?

Kemudian, tahun berikutnya begitu lagi, tahun berikutnya juga, dan seterusnya…

Sampai kapan?

Sampai puas??

Sampai terpenuhi nafsu kita?? Akankah itu?

Akankah ada ujungnya kepuasan atau nafsu kita??

Akankah ada batasannya??

Terus terang saya terkejut juga dengan ending dari analisa asal2an kami berdua ini. Namun dari sana kemudian kami menyadari betapa luas nafsu manusia, dan betapa nafsu ini tidak akan pernah tertutup oleh materi.

Oleh karena itu saya jadi teringat akan ajaran di agama saya, Katholik, bahwa KasihNYA tiada batas. Rupanya kalimat sederhana ini bermakna luar biasa. Hanya orang yang menerima DIA seutuhnya, nafsunya akan terpenuhi. Mereka yang menerima DIA seutuhnya tidak akan perlu hal lain lagi, bukan rumah, bukan mobil, bukan kapal pesiar dlsb, karena nafsunya sudah tertutup oleh KasihNYA yang tiada batas. Selain itu tidak mungkin. Caileeee…sok kotbah, tapi ya kira2 begitulah saya menterjemahkannya.

Tapi memang benar kan bahwa nafsu duniawi tidak akan ada batasnya?

Bukankah itu yang terjadi saat ini.

Duluuu, katanya korupsi yang terjadi di Departemen Pajak karena gaji pegawainya terlalu kecil, sementara mereka setiap saat berurusan dengan uang dalam jumlah yang menyilaukan mata. Oleh karena itu gaji di Departemen Pajak kemudian disesuaikan sehingga merupakan gaji tertinggi di Negara ini, namun apakah kenakalan petugas pajak hilang atau berkurang? Rasanya tidak.

Bagaimana pula dengan anggota legislative atau pejabat yang tadinya hidup sangat sederhana, merakyat, yang dulunya getol menyuarakan hati nurani masyarakat. Setelah diguyur dengan segala fasilitas dan kemewahan apakah berhenti mencuri atau mencuri-curi uang rakyat? Rasanya juga tidak.

Semua itu penyebabnya bukan karena kekurangan penghasilan atau gaji, namun karena tidak memiliki mental dasar yang kuat, karena nuraninya sudah hilang. Sekali saja berani mencoba untuk korupsi, selanjutnya tidak akan terbendung lagi.

Oleh karena itu bagi adik2 tercinta yang nanti akan mulai meniti karier, dan kebetulan berada diposisi ‘basah’, ingatlah tulisan saya ini. Kenikmatan yang kita peroleh dari uang tidak halal itu, tidak akan berlangsung lama. Easy come, easy go. Namun, tekanan batin karena rasa bersalah, akan kita tanggung seumur hidup.

Jangan pedulikan cemoohan orang2 yang mengatakan kita bodoh, sama seperti yang saya alami ketika saya menceritakan hal ini ke beberapa orang. Mereka menganggap saya bodoh, tolol, goblok dslb karena melepaskan kesempatan emas, sehingga akibatnya ya gak kaya2🙂. Lha wong perusahaan gak dirugikan kok, argumentasi mereka.

Tapi saya cuek saja. Saya tetap bertahan dengan prinsip saya. Biarlah saya edan, goblok, tolol, bodoh dlsb, tetapi hati saya damai. Daripada saya pintar, brilliant, kaya raya, tapi dari mencuri milik orang lain, membuat orang lain sengsara seperti pengedar narkoba itu, buat apa?

Memang betul perusahaan saya tidak rugi, tetapi saya belum do the best seperti janji saya ketika saya join perusahaan pada awalnya, dan hati saya tidak akan pernah bebas begitu saya melakukannya. Saya percaya suatu ketika saya akan memperoleh gantinya, mungkin bukan dalam bentuk kekayaan materi, namun bisa saja berupa kesehatan di seluruh keluarga saya, kedamaian di hati kami sekeluarga, anak2 yang diberkati sekolah bagus, diberkati beasiswa, kebahagiaan,  dlsb dlsb.

Yang pasti I’m FREE🙂. Legooo..

So that’s how to say NO to corruption. Easy right? Frankly, it is easier said than done.

Ehhh ada yang teriak: “Pancen pak Guntur B O D O H, pantesan K E R E!!!!” …. Yo bennn tohhh, sing penting atiku seneng (translation: Ya biar toh, yang penting hati saya senang :))…hahahahaha….

Next: Bagaimana menentukan pemberian itu suap atau bukan?

4 thoughts on “Say NO to Corruption !!!

  1. Saya teringat alm.papa saya yg hidupnya sangat sederhana dan tentu saja hidup kami sekeluarga juga Alm papa kedudukannya cukup tinggi di perus. Belanda, sebagai wk.dir.utama.tapi yg namanya jas cuma punya 1,sehingga karena sering dipake , lama2 ujung lengannya jadi pendek karena brodol waktu kegesek meja dan mama hrs gunting benang2nya biar rapi. Baju lengan panjang putih juga cuma 2, 1 dipakai , 1 dicuci.jaman dulu tidak ada mesin cuci,kalau ada juga mungkin tidak terbeli.Papa pernah ditawari rumah dinas yg boleh dipakai, dan tentu saja rumah mentereng didaerahCandi, yg untuk orang Semarang , semua tau itu daerah elite.tapi papa tidak mau, alasannya karena nanti biaya akan membengkak, untuk sopir, bensin,kebersihan dll.lagian kalau tinggal disana juga harus menyesuaikan dengan tetangga2 yg memang benar2 kaya.Papa selalu bilang kita hidup harus liat income yg kita punya , jadi kita harus menyesuaikan diri dengannya.Kalau dirut pulang kenegeri Belanda, otomatis seluruh operasional perus. papa yg pegang kendali, tapi tidak pernah sekalipun terbersit ingatan untuk melegalkan semua yg ilegal , hanya untuk memperkaya diri/keluarganya.Biarpun perus. tidak akan dirugikan seperti yg dituliskan pak Guntur , seperti itulah vendor2 menerangkan bla bla bla dan uangnya nanti akan masuk sekian ………
    Semua vendor , supplier, makelar entah apa namanya datang dan membujuki, tapi papa tetap wae bilang tidak . dia tidak geming.Mama kadang sewot juga , liat duit ,perhiasan , vespa , mobil disodorkan tapi ditolak mentah2. sering mama harus memeras pikiran bagaimana mencukupi hidup sekeluarga bersama 7 anak, yg butuh banyak gizi dalam masa pertumbuhan mereka.tapi karena papa tetap tegar ya mama menyerah dan ikutan bantu jual makanan dan makelaran.pokoknya halal.Kita dididik untuk selalu bangga dengan diri kita , miskin tidak mengapa, sebab kita tidak pernah menyusahkan orang lain, tidak pernah minta2, kita berdiri sama tegak.selalu ditekankan , orang kaya atau miskin sudah ada suratannya , yg penting kita usaha , pasti bisa , Orang sudah dikasih tangan kaki , mata ,otak dsb .jangan sekali 2 pernah pingin atau tergoda untuk punya sesuatu yg bukan milik sendiri atau yg tidak mungkin terbeli dengan uang yg kita punya.Kalau kita mencuri, itu termasuk korupsi, itu hal yg sangat merendahkan diri , sebab orang bisa memilih untuk berbuat atau tidak berbuat.
    Yah banyak sekali wejangannya yg tiap hari kami telan, yg dulunya sebagai anak kecil kami kurang paham. tapi sesudah kami sendiri jadi ortu , baru sadar itulah pendidikan budipekerti yg di jalankan benar2 dalam hidup se hari2.
    Tuhan mengasihi papa , dia meninggal dalam damai , tanpa sakit dan seumur hidupnya sakitnya juga cuma kadang2 masuk angin dan sembuhnya dengan kerokan.
    sampai usianya 87 th papa tidak punya kolesterol , darah tinggi, diabetes atau jantung dll seperti penyakit yg banyak diderita orang2 masa kini.. Waktu mau meninggal dia cuma bilang “aku kesel,[ maksudnya capai].itu 4 orang dayoh[tamu] mbok dimasukkan , jangan dibiarkan dimuka pintu. tapi kita tidak liat siapapun , mama langsung tau/berfirasat.Begitulah dia pergi sesudah minta ketemu anak2nya semua pagi harinya.dan menerima sakramen tobat.
    Sekarang ,kita baru menyadari bagaimana kuat efek penanaman budipekerti ini , tidak pernah kita pingin hal2 yg wah2, seperti yg ditulis pak Guntur ,punya rumah kecil lalu liat orang bisa beli rumah yg besar lalu,pingin , atau bisanya cuma punya arloji casio lalu liat rolex pingin punya juga , kalau liat teman pakai , ya kagum saja , bilang wah bagus ya , tapi ya cuma sebatas itu.
    Maaf ya pak Guntur, membaca tulisan bapak saya jadi teringat alm papa , jadi komen nya mungkin njelehi…..

    • Justru sebaliknya, komentar seperti inilah yang saya harapkan dari pembaca2 saya. Komentar yang saling menguatkan, yang saling membangun. Komentar yang langka🙂.

      Saya membaca komentar Anda sampai merinding, bagus sekali. Saya yakin Anda bangga sekali dengan papa Anda. Itulah warisan yang tidak akan lekang oleh waktu, karena menancap di sanubari kita. Warisan abadi yang membuat kita menegakkan kepala menghadapi siapa saja, karena apa yang kita peroleh adalah atas usaha kita sendiri, bukan karena pemberian orang lain, apalagi karena mencuri dari orang lain.

      Semua jabatan, harta benda, kekayaan, dlsb hanya sementara. Semua titipan dariNYA, tidak ada bangga2nya kalau kita miliki bukan karena usaha kita sendiri. So just be who we are, sanggupnya beli Kijang ya pakai Kijang lah, paling gak punya sendiri atas keringat sendiri. Daripada pake Porche tapi atas keringat orang lain, atau malah atas penderitaan orang lain dari jual beli narkoba :p.

      Terima kasih atas sharingnya yang luar biasa.

      Happy Easter, semoga berkatNYA melimpahi Anda dan seluruh keluarga.

      Regards,

  2. Klo korupsi khan artinya mencuri tuch pak, terus klo mencuri inovasi dari Xerox terus klaim jadi milik sendiri. Tapi yg satu ini dibangga-banggain dan dibilang super genius.
    Klo model seperti ini bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s