Maaf ya, saya mau ngomel

bawang merahGila. Edan. Keterlaluan. Arrrghhh…Tidak habis2nya saya mengomel sepanjang menonton acara Indonesia Lawyers Club malam ini, yang topiknya  “Siapa Bermain Di Balik Daging & Bawang”.

Apalagi sihhh ini?? Belum juga jelas solusi kekurangan kedelai beberapa waktu lalu, disusul kemudian kelangkaan dan kenaikan harga cabe, dilanjutkan dengan masalah daging sapi, sekarang muncul aktor baru bernama bawang.

Aduhhh…apa sih yang terjadi dengan Negara kita ini? Bahkan bawang merah dan putih yang menjadi komponen paling utama di segala macam masakan dari Sabang sampai Merauke ini, dipermainkan oleh segelintir pengusaha dan mungkin penguasa (??) untuk menggelembungkan kantongnya sendiri.

Masa iya kita tidak bisa swasembada beras, cabe, bawang merah/putih, kedelai dan berbagai kebutuhan pokok ibu2 di dapur di Negara yang gemah ripah loh jinawi ini? Masa sih harus import? Apa yang salah? Apakah buku2 SD/SMP/SMA yang dulu saya pelajari yang mengatakan bahwa Negara kita ini sangat kaya akan sumberdaya alam, salah? Atau apakah guru2 pengajar saya salah? Atau sayakah yang salah dengar?

Saya rasa tidak. Saya ingat dan hafal sekali lagu2 Koes Plus yang sangat mengagungkan kekayaan Negara indah ini, salah satunya mungkin pembaca ingat, judulnya Kolam Susu. Liriknya kalau tidak salah seperti berikut:

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

 

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

 …….

Ketika dulu saya berteriak-teriak menyanyikan lagu ini, saya tidak benar2 mengerti arti lirik itu. Pokoke menjerit dan megal megol. Namun semakin bertambahnya umur saya, semakin seringnya saya berkeliling di beberapa pelosok Negara ini, semakin saya berkesempatan mengunjungi negara2 tetangga lain, semakin saya yakin bahwa lirik itu betul adanya.

Di beberapa Negara tidak semua tanahnya memiliki kesuburan yang semerata di Negara kita. Apalagi Negara dengan empat musim, mereka hanya bisa bertanam, maksimum 3 musim, karena pada saat musim dingin semua tertutup salju. Sedangkan di Negara kita ini, sepanjang tahun kita bisa bercocok tanam.

Beberapa tahun lalu, ketika pertama kali saya pindah ke perumahan saya yang saya tempati sekarang, di sepanjang jalan perumahan ditancepin batang2 pohon setinggi kurang lebih 1.5 m dengan diameter kurang lebih selengan balita. Ketika melihat “pohon2” kurus tanpa daun itu, saya bingung ngapain kok batang seperti itu ditancepin sepanjang jalan. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa setelah beberapa tahun kemudian, batang selengan balita itu tumbuh subur menjadi pohon2 rindang sepanjang jalan masuk perumahan saya. Amazing.

Saya ingat sekali akan hal ini, dan oleh karenanya saya sangat percaya bahwa dengan tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Apapun yang ditancapkan di tanah surga ini pasti akan tumbuh.

Demikian juga halnya dengan laut kita, hampir semua ikan yang berkeliaran di dunia ada di lautan kita. Wakatobi, Bunaken, Raja Ampat adalah bukti betapa kayanya kandungan laut kita, disana tempat bercokolnya ribuan jenis ikan, dari ikan kecil, sedang, dan besar, ikan hias dan ikan jelek, ikan yang bisa dimakan dan ikan tidak bisa dimakan, semua ada.

Demikian juga dengan sumber daya alam, seperti minyak, gas, uap apalagi sinar matahari, berhamburan dari Sabang sampai Merauke.

Tapi kenapa kok kita bisa sedemikian kere???? Kenapa kok rakyat hidup susah??? Kenapa kok mau makan pake bawang aja muahalll????

Kenapa kok Negara Agraris dan Maritim ini malah mengimpor beras, cabe, kedelai, buah dlsb dari Negara tetangga sehingga harga bawang, kedelai dan sapi menjadi termahal di dunia??

Kenapa kok kita tidak focus aja mencetak Sarjana2 Pertanian dan Perikanan? Melakukan Research and Development di dua bidang itu? Daripada kita mengimpor durian dari Thailand yang rasanya kalah jauh dibandingkan dengan Durian Petruk. Daripada kita membuat pesawat terbang yang musuhpun tidak mau menembak karena katanya bakal jatuh sendiri, padahal memenuhi kebutuhan bawang saja kagak becussss!!!

Arrrghhh….jengkel sekali saya.

Beruntung malam ini ada si Babe, Ridwan Saidi, Budayawan favourite saya yang kalau omong ceplas ceplos, mencela Departemen Pertanian dan Perdagangan yang dikatakan beliau tidak berpihak ke rakyat kecil. Mengomeli habis2an kebijakan kedua department ini sampai saya, dan juga seluruh peserta ILC, bertepuk tangan saking senengnya.

Malam ini tidak seperti pada acara2 sebelumnya, beliau tampak sangat emosional sekali, apalagi melihat jawaban Dirjen Pertanian yang, sorry, plintat plintut begitu. Ketika ditanya oleh Karni Ilyas, kok sampe emosi begitu, Babe menyatakan bahwa dia adalah rakyat, yang sudah sangat gemes dengan keadaan ini.

Ya betul, rakyat sudah benci sekali dengan keadaan seperti ini, sudahnya korupsi dimana-mana, mau makan dengan bawang aja kagak bisa. Bagaimana ntar kalau Indomie Rasa Bawang menghilang di pasaran, kan susah sayanya…

Haizzz…sementara negara2 lain berlomba-lomba membuat satelit, rudal, explorasi laut dalam, explorasi bulan, mars dan planet lain, kita masih bingung dengan beras, cabe, kedelai, sapi, alaaaamaaaakkkkk…..

Errghhhh….mbencekno…tidur ah…gud nait pembaca.

*Maaf ya pembaca, saya baru agak legaan nih, sekarang saya baru bisa tidur :b.

10 thoughts on “Maaf ya, saya mau ngomel

  1. Saya yakin sang pencipta paling bangga dengan orang Jepang , tanah yg terbatas dan kurang subur itu bisa mereka pelihara dengan sangat baik. Manusia yg paling tahu diri , dikasih lahan, bener2 diolah. Soal komoditas pangan yg volatilitas harga nya jauh melebihi volatilitas harga emas…. itu prestasinya para mafia komoditas pangan yg jauh lebih powerful dan pintar dari pada yg lagi experiment stop import ah…. biar kita bisa swasembada. Lebih enak memang nyomot dari rakyat langsung dari pada dari kas apbn yg disorot pengeluarannya kemana saja.

  2. Harga pangan yg senantiasa naiknya gila2 an , kalau ngak cabe … ya daging …ya bawang….pokoke setiap tahun ada gilirannya ….. koq ngak ada yg demo? Jangan2 harga pesanan untuk demo juga lagi naik jadi sponsor nunggu turun. Harga nasi bungkus naik…

  3. kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.. pepatah yang mungkin sudah saya dengar dari sejak kecil pak, tapi kayanya kok mengena banget buat pemerintahan Indonesia.. lah gimana petani pada mo nanem, kesejahteraan mereka dipermainkan segitunya.. ampe beras ama gula kita pake impor (masi impor ga yah? perasaan dulu masih)

    konon sih sekarang sudah rada menurun pak harga-harga bawang.. semoga aja menurun terus biar ga bikin yang lain ikut-ikutan naik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s