Am I Corrupt ???

CorruptionMelanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai korupsi (baca: Say NO To Corruption !!!), ada satu pertanyaan yang ketika saya bekerja dulu sangat sulit saya jawab. Bagaimana sih menentukan suatu tindakan itu korupsi bukan? Apakah saya melakukan tindakan korupsi?

Saya disini tidak akan mengajak berdebat mengenai definisi korupsi, karena saya bukan ahlinya, tetapi kita semua tentunya mengertilah apa artinya korupsi yang sering didengung2kan oleh media masa itu. Artinya kurang lebih mencuri atau mengutip atau mengambil sesuatu yang bukan miliknya, mungkin kira2 begitu kali ya? Susah juga ya didefinisikan, padahal ketika media masa mengatakan seseorang korupsi, kita sudah langsung bisa mengerti.

Lha kalau mendefisinikannya saja sulit bagaimana pula menentukan tindakan kita tergolong korupsi atau tidak, karena hingga saat ini saya belum pernah membaca SOP (Standard Operating Procedure) Korupsi itu seperti apa🙂. Misalnya, apakah menerima sepasang ballpoint dari vendor itu, korupsi? Apakah menerima hadiah handphone dari vendor itu, korupsi? Apakah menerima seperangkat stick golf juga korupsi?

Masa iya menerima ballpoint yang tidak seberapa harganya itu tidak boleh, dianggap korupsi, diperiksa KPK? Bagaimana dengan gantungan kunci? Dompet untuk kartu nama? Payung? Mug? Terus bagaimana dengan ajakan makan siang atau makan malam? Masa iya diajak makan siang, ngobrol2 aja ditolak, alasannya takut dianggap korupsi? Masa dikasih ballpoint, payung, mug dikembalikan karena takut dicap korupsi, menerima suap? Duhh yang bener aja…

Jadi gimana dong? Diterima salah, ntar dituduh korupsi atau menerima suap, ditolak juga salah, sama2 teman sendiri tidak mau diajak makan siang rame2?

Pusing ya? Saya pernah mengalaminya. Benar-benar pusing menentukan apakah menerima atau menolak hadiah yang diberikan “teman2” vendor/supplier itu. Diterima bagaimana, ditolak bagaimana. Padahal kalau sudah kadung dekat, mereka benar sudah menjadi teman kita, meskipun tentu ada kepentingan di tengah2nya.

Mungkin adik2 yang baru meniti karier belum mengalaminya, tapi tunggu nanti jika adik2 sudah mulai menempati posisi kunci di sebuah perusahaan, posisi untuk menentukan terjadi atau tidaknya suatu transaksi, maka saya jamin pasti akan mengalaminya. Tiba2 adik2 akan dikelilingi oleh “teman2” yang baik2, “teman2” berhati mulia,  yang akan siap sedia membantu kita kapanpun kita perlu🙂.

Saya pernah mengalami kejadian yang sangat memalukan dan membuat saya tampak bloon sekali ketika saya baru menduduki posisi kunci di perusahaan saya bekerja. Ketika itu anak pertama saya masih bayi, dan video camcorder belum terlalu umum seperti sekarang ini. Tidak banyak orang yang memiliki video camera kecuali mereka yang benar2 suka memvideo. Kalau sekarang, hampir semua handphone sudah memiliki kemampuan untuk mengambil gambar bergerak,  bahkan handphone yang paling murah sekalipun.

Nah, suatu ketika, kami, saya dan istri saya, berencana untuk merayakan ulang tahun ke dua putera pertama kami. Karena saya sering membaca akan adanya Video Camera Sony yang menggunakan cassette itu, maka sayapun berniat untuk meminjam dari teman2 yang mungkin sudah memilikinya.

Namun sayang, tidak ada seorangpun teman kantor yang memilikinya, hingga saya dengan polosnya menanyakan ke salah satu vendor, yang memang sudah cukup dekat hubungannya dengan saya. Ternyata, dia punya dan berjanji akan membawakannya beberapa hari kemudian.

Kurang lebih tiga hari kemudian, tiba2 di atas meja kerja saya sudah tergeletak sebuah Video Camera Sony yang saya maksud. Sayapun dengan gembira membawa pulang VideoCam yang masih terbungkus rapi itu.

Sesampai di rumah, setelah saya mandi dan makan malam, tidak sabar lagi segera saya buka bungkusan yang katanya VideoCam itu. Namun saya terkejut sekali karena dosnya masih sangat rapi, masih tampak belum pernah dibuka. Kemudian isinya semua masih sangat rapi terbungkus plastic. Hmm….apa2an ini pikir saya, kok dikirimi VideoCam baru?

Saya ketika itu masih tidak mengerti maksud vendor teman saya ini ‘meminjamkan’ VideoCam barunya ke saya. Sayapun segera men-charge baterainya, dan kemudian mencoba menggunakannya. Semua perfect, sempurna seperti yang saya harapkan.

Segera setelah acara ulang tahun putera saya selesai, dan saya juga selesai menggunakan VideoCam pinjaman itu, sayapun berniat mengembalikannya. Maka saya membeli dan mengganti Cassette yang telah saya gunakan dengan yang baru, membersihkannya sebersih mungkin, membungkus dan memasukkan ke dosnya serapi mungkin untuk saya kembalikan keesokan harinya.

Besoknya, VideoCam Sony itu saya bawa ke kantor, dan saya menelpun teman vendor saya itu untuk menyuruh supir atau orang suruhannya mengambil kembali VideoCam dia, dengan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih. Namun apa jawabannya:”Oooo gak usah dikembalikan, pakai saja. Itu buat kamu kok”. Dhienggg…gubrakkk…. Saya seperti orang tolol, melongo atas jawabannya itu. Oooo…pantesss barangnya masih kinclong, masih fresh from the oven🙂.

Duhhhh gobloknyaaaa!!!! Saya memaki-maki diri saya sendiri. Entah bagaimana wajah saya ketika itu, sayangnya VideoCamnya sudah saya bungkus rapi, jika tidak kan bisa dipakai untuk memvideo wajah ‘kucluk’ saya yang pastinya bagus sekali untuk diabadikan wkwkwk….

Untungnya pada saat itu saya tidak kehilangan kata2, beberapa saat setelah shock saya hilang saya malah ngomel:”Heiii, please jangan begitu. Tolong kamu suruh aja orang ambil ke kantor saya, saya tidak mau seperti ini. Dipinjami saja saya sudah beruntung sekali kok”, begitu kata saya.

Dianya mana mudah menyerah, wong memang tujuannya untuk memberi saya, kemudian dia mengatakan:”Gak apa-apa kok, bener, itu buat kamu saja. Itu sudah masuk di budget saya kok. Pake aja”. Lahhh…begitu mendengar hal ini saya malah jadi marah, saya katakan:”Tolong kamu ambil saja. Kalau VideoCam ini masuk budget kamu, lebih baik kamu discount saja peralatan2 yang kami beli dari kamu. Lagipula saya tidak mau gara2 VideoCam ini kamu kemudian bisa mengatur saya”. Fiuuhhhh….mungkin kata2 saya itu terlalu jahat, tapi ketika itu saya juga tersinggung karena kegoblokan saya sendiri, dan juga karena saya tidak mengira akan seperti ini jadinya.

Akhirnya VideoCam itu diambilnya kembali, dan pada suatu kesempatan bertemu muka, sekali lagi saya tekankan bahwa saya tidak mau seperti itu, karena saya tidak mau keputusan saya terpengaruh oleh hal2 seperti ini. Dan saya yakinkan ke dia, bahwa keputusan yang akan saya ambil selalu yang terbaik bagi Perusahaan, jadi selama dia tidak mengambil keuntungan keterlaluan, saya akan selalu mempertimbangkan support, service, professionalism dlsb. Dan sejak saat itu dia menjadi SAHABAT saya, tanpa tanda petik hingga HARI INI🙂.

Sejak saat itu pula saya mengerti bahwa ternyata keluguan saya “meminjam” itu sebenarnya adalah kata sandi untuk minta dibelikan wkwkwkwk…. So berhati-hatilah dengan signal yang kita kirimkan ke teman2 vendor, karena bisa2 nanti di garasi adik2 sudah nongol Ferrari wkwkwkwk…. susah deh nolaknya🙂.

So kembali ke topic awal saya di atas, jadi bagaimana menentukan kita boleh menerima atau harus menolak suatu ajakan atau pemberian?????

Issue ini cukup lama menghantui saya dan teman saya yang Manager Marketing itu. Kadang pemberian dari vendor kami terima, kadang kami tolak, tetapi kami tidak tahu apa batasan kami menolak atau menerimanya. Hingga suatu ketika, setelah beberapa kali berdiskusi, kami menyimpulkannya sebagai berikut:

Kami akan menerima ajakan atau pemberian vendor, jika ajakan atau pemberian itu tidak akan membuat kami terikat atau mempengaruhi keputusan kami. Dan kami mampu, dengan mudah, melakukan hal yang sama terhadap si pengajak atau pemberi sesuatu itu.

Contoh: jika kami diberi ballpoint, dan menurut kami harganya wajar, kami akan menerimanya karena kami juga bisa memberikan ballpoint sejenis ke pemberi tanpa merasa keberatan. Namun jika kami diberi ballpoint MontBlanc Meisterstuck Solitaire Platinum Classique Rollerball seharga kurang lebih 15.000 USD itu, so pasti akan kami kembalikan. Karena kami tentu tidak akan sanggup memberi tanpa berkedip ke si vendor.

Demikian juga halnya dengan makan siang atau malam, atau ajakan bermain golf ke luar negeri (untungnya tidak ada yang mengajak karena saya tidak bisa bermain golf, kecuali main golok :)). Jika saya yakin bisa mengajak mereka makan siang atau malam di hotel atau restoran yang sama tanpa berkedip, maka akan saya terima ajakan itu.

Itulah akhirnya yang menjadi patokan kami untuk menolak atau menerima ajakan atau pemberian dari “sahabat2” vendor itu. Dan believe it or not, guideline sederhana ini ternyata ampuh, buktinya saya dulu adalah penawar yang cukup alot sampai2 beberapa vendor yang sudah dekat dengan saya pernah sembari guyon mengatakan :”Duhh Gun, kamu ini kayak pemilik perusahaan aja sihhh”. Hehehehe…entah guyon atau mungkin lebih tepatnya menyindir ya🙂.

Tetapi saya berusaha fair, dan saya menghargai professionalism. Saya pernah menjadi penawar yang sadis dengan membandingkan harga mereka dengan harga di Glodok atau Mangga Dua, tetapi akhirnya saya sadar bahwa harga saja tidak akan menjamin hasil terbaik. Kita harus memperhitungkan Total Service Level yang mereka berikan, yang termasuk di dalamnya: service, documentation, penguasaan produk/jasa, keramahan dlsb.

Semoga tips sederhana di atas bisa mengantar adik2 menjadi seorang professional yang handal, yang akan memperoleh TRUST dari atasan dan teman2, yang valuenya saya jamin jauhhhh lebih tinggi daripada hanya sekedar harta benda tidak halal berikut bonus tekanan batin yang akan kita rasakan sepanjang hidup kita.

May God Bless Your Way….

8 thoughts on “Am I Corrupt ???

  1. GREAT!!!

    Semoga saya juga bisa melalui hal seperti ini tanpa tekanan batin atau kesulitan dilemma super …
    Sampai saat ini untungnya masih lolos, karena harus sangat berhati-hati.

    Thanks sharenya sangat bermanfaat ..🙂

  2. Can’t agree more pak Guntur,
    Saya sudah menjadi pengikut setia blog Bapak, dimulai karena ketidak sengajaan rindu dengan salatiga dan membaca artikel Bapak dan berlanjut sampai sekarang,

    Thanks a lot for the share and salam kenal Pak, akirnya saya comment juga setelah sekian lama hahaha,

    Pembahasan ini yang juga sedang saya renungkan, sebatas manakah kewajarannya untuk menerima dan memberi,

    Once again thanks a lot pak Guntur, looking forward to your next post

    God bless

  3. simple yet complicated ya pak hahaha.. semoga tetap bisa memegang teguh guideline tersebut.. semoga saya jg bisa ikutan memegang teguh guideline tersebut😀 thanks share nya..

  4. Thank u pak Guntur dengan guideline
    “Kami akan menerima ajakan atau pemberian vendor, jika ajakan atau pemberian itu tidak akan membuat kami terikat atau mempengaruhi keputusan kami. Dan kami mampu, dengan mudah, melakukan hal yang sama terhadap si pengajak atau pemberi sesuatu itu.”

    I think this is one simple sentence that describes it all.

  5. Wah pak, saya sampe senyum2 baca kata2 “MontBlanc Meisterstuck Solitaire Platinum Classique Rollerball”. Ini nih..sampe detik ini, mata saya gk bs menelusuri hurup per hurup dr nama ballpoint td. Terlalu keren, padahal fungsinya buat nulis, ya kan pak? Apa ada fungsi laen lagi?

    • Lidah sampe melet2, tapi fungsinya yang buat corat coret doang🙂. Oh bisa juga buat garuk2 sih Jo, atau korek2 upil, tapi kemahalan dong ya wkwkwk…Atau bisa juga tuh buat nyoblosin koruptor2 itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s