Twitting and Facebooking, Why Should You? (3/4)

FB dan Twitter menjadi sedemikian addictive karena mereka secara jitu menemukan titik lemah seluruh umat manusia, yaitu keinginan untuk diperhatikan. Ya betul, keinginan untuk diperhatikan, dipuji, disapa, diakui keberadaannya.

Saya rasa hampir semua orang senang diperhatikan, dipuja-puji atau diakui keberadaannya, termasuk saya sendiri. Dan FB serta Twitter memungkinkan hal itu terjadi.

Coba jawab secara jujur, dalam hati saja, nggak usah teriak2 ntar dikira edan🙂.

Setelah kalian ngepost, misalnya: “Duhh nyebelinnn deh….”.

Apa yang kalian harapkan dari posting seperti itu? Tidak berharap apa2? Cuma iseng saja??

You expect someone will reply to your posting, betul?? You expect someone to say something, betull??? Semakin banyak yang reply/comment semakin seneng, betull?? Apalagi kalau yang reply/comment orang yang kita hormati, orang yang kita kagumi, apalagi orang yang lagi kita sayangi…wadawwww….sik asikkkk🙂.

Dari posting iseng seperti itu, yang ngetik dan ngepostnya gak sampe semenit, jeglekkk…langsung nongol di FB kita, total waktu effective yang kita buang bisa seharian. Lohhh…kok…gah lah…masa seharian?

Masa tidak sadar? Setiap beberapa menit setelah kalian post, kalian pasti merefresh untuk ngecek apa ada yang comment, kalau belum ada ntar beberapa menit lagi refresh lagi….betull tidak??? Sampai muncul satu komentar:

“Emang lagi sebel sama sapa sii?”…. atau “Jangan sebel2 dong say…”

Yeeyyyy….hati kalian melonjak kegirangan, ada komentar dari si Doi ehh…., terus direply lagi:

“Iya tuh atasan gw nyebelin pollll….errrghhhh rasanya pingin gw giles aja”….click…posted…

Tunggu lagi….refresh lagi….belum ada yang comment….tunggu lagiii ahh….refresh lagi….. Eittt..di comment lagi oleh si doi, atau temen lain, atau dari saya, kemudian reply back lagi, tunggu lagi, refresh lagi, tunggu lagi, refresh lagi….

At the end, the whole day wasted just because one “not-so-important” posting just like the above.

Am I right or wrong?? Betull atawa salah ????

Hal ini juga saya rasakan pada saat pertama kali menggunakan FB. Setiap kali saya posting sesuatu, baik Update Status atau Upload Foto, saya selalu menantikan comment dari teman2 saya. Saya akan senang sekali kalau ada yang comment, dan saya jadi rajin me-refresh FB, bentar2 cek ada yang comment gak, ada yang ngeLIKE gak…ada yang…gak??.

Dan akhirnya saya menyadari, gilee seharian gelisah cuma nungguin orang kasih comment😦, betapa bahayanya. Betapa mengerikannya, kalau saya tidak bisa membatasi diri terhadap godaan me-refresh FB ini.

Continue to Part 4…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s