1.2 Miracles of Walking: Life Begin At 40?…

Pada postingan sebelumnya saya menguraikan LifeStyle saya, yang saya perkirakan tidak akan jauh berbeda dengan sebagian besar karyawan yang bekerja di kota2 besar dimanapun juga.

Pada bagian ini saya akan menceritakan apa yang terjadi pada tubuh kita akibat puluhan tahun menjalani LifeStyle kurang gerak dan bagaimana saya mencoba mencari solusinya.

Nah dengan pola hidup seperti itu, saya mengalami semua masalah yang sudah saya uraikan pada bagian pengantar tulisan saya ini. Saya sering sakit kepala, leher kaku, badan pegal, bahu sakit (istilah kerennya Frozen Shoulder), otot kaki hingga punggung kaku, jari2 kaku (istilah kerennya Trigger Finger) dan hal2 lain yang berhubungan dengan otot. Dll… dll…

Bagi2 adik2 yang sekarang masih berusia muda, seperti saya dulu ketika saya masih berusia di bawah 40 tahun, saya tidak terlalu merasakan semua hal itu. Saya tidak suka dan tidak pernah merasa membutuhkan pijat kaki maupun badan, bagi saya kegiatan itu hanya buang2 waktu saja. Sementara beberapa teman saya, sangat gemar berpijat ria, sampai2 memiliki jadwal teratur berpijat ria itu.

Saya tidak pernah merasa capek, saya biasa tidur larut malam, bahkan sering tidur hanya 4 – 6 jam setiap hari selama berminggu2, tidak apa2. Mengapa demikian? Saya rasa karena semua otot2 kita pada saat muda masih sangat lemas, flexible, bisa ditekuk sana sini.

Saya mulai merasakan kebutuhan pijat seingat saya setelah melalui usia 40 tahun, badan ini rasanya gampang sekali remuk. Gampang sekali lelah,  sehingga saya mulai mencoba ikut2an istri saya yang sangat gemar pijat.

Namun sejak awal mula saya mencoba pijat, saya tidak pernah bisa menikmati pijat memijat ini, setiap kali tukang pijat memulai memijat ujung jari2 kaki saya, saya sudah mulai was2.

Hal ini membuat saya amat sangat jarang ke tukang pijet, kecuali kalau badan sudah benar2 remuk… dan semakin bertambah umur, semakin sering saya rasakan.

Mencoba berbagai therapy…

Pada awalnya saya tidak pernah menyangka bahwa semua ini hanya karena selama ini saya sangat kurang gerak. Sehingga semua rasa sakit yang saya rasakan pada badan saya, saya coba cari penyelesaiannya dengan berbagai macam therapy. Saya pikir dengan segala macam pijet, chiropractic, physiotherapy, tusuk jarum dlsb itu bisa selesai.

Saya pernah melakukan refleksi selama 16 kali secara rutin, setiap 3 hari sekali… sampai kaki saya biru2, tetap saya jalani… Hasilnya nihil…

Kemudian mencoba pijet badan rutin, dengan frekwensi hampir sama… Hasilnya juga nihil…

Selain itu, saya juga pergi ke berbagai macam pengobatan lain, dari traditional sampai modern. Saya pergi ke berbagai sinshe, ke berbagai acupuncture, ke dukun pijet, ke dokter top urusan otot, kaki dan sejenisnya.

Saya menghabiskan ratusan juta dan effort yang nilainya jauh lebih mahal lagi, namun sia2.

Saya juga pernah ke dokter di RS PIK, dokter top urusan beginian. Daftar berminggu-minggu baru dapat giliran. Antri berjam-jam baru dapat panggilan. Setelah masuk ruang praktek, saya disuruh berdiri, diteropong depan belakang kanan kiri, di ketok2 dengkul saya, terus disuruh melakukan gerakan2 warming up, tidak sampai 2 menit, dengan biaya dua juta lima ratus ribu…

Beneran dua setengah juta!!!… Sampai saya bertanya 3x ke susternya apa sudah termasuk obat? Nggak! Apa termasuk therapy? Nggak!! Apa termasuk rontgen? NGGAK!!!! Edann bener mahalnya. Benar2 sentuhan dewa… dewa mata duitan maksud saya 😦 …

Hasilnya juga NOL…

Saya kemudian juga menjalani therapy Chiropractic selama 2 sesi di Plaza Fx, kalau tidak salah per sesi 16x therapy sampai akhirnya seluruh praktek Chiro ditutup di seluruh Indonesia karena satu malpraktek yang merenggut nyawa seseorang.

Hasilnya… NIHIL…

Saya juga menjalani physiotherapy traditional maupun ultra modern di salah satu RS Swasta di bilangan Kebon Jeruk yang bekerjasama dengan team ahli dari Korea dengan biaya super mahal.

Hasilnya…GAK ADA…

Saya juga pernah ke acupuncture, di Kelapa Gading untuk membereskan bahu kiri kanan saya yang di vonis  Frozen Shoulder. Saya ditusuk pakai jarum khusus, bukan seperti jarum halus seperti biasanya tetapi seperti jarum suntik. Sebelum saya diaccupuncture menggunakan jarum besar itu, saya harus disuntik pain killer dulu di beberapa titik sekitar tempat saya akan ditusuk, kemudian saya baru ditusuk jarum sampai berdarah netes2. Dan biayanya sekali therapy, sama gilanya… dua setengah juta juga…

Hasilnya… bisa ditebak sama dengan sebelumnya…NOL…

Terakhir, saya sudah tidak tahan, akhirnya saya menyetujui pengobatan yang pernah diusulkan dokter yang menangani saya, namun selalu saya tolak, yaitu disuntik pakai steroid untuk mengatasi Frozer Shoulder saya…

Hasilnya… beberapa bulan membaik, kemudian kambuh lagi…

Waduhhh… kalau saja ada para dokter dan tukang pijet atau sinshe itu mengeluarkan membership… Saya rasa saya pasti sudah masuk level Platinum atau yang lebih tinggi lagi karena seringnya bolak balik setor duit.

Oya, saya juga sempat berobat sampai ke Singapore, hanya disuruh berlengang-lenggok bolak balik untuk si dokter melihat postur tubuh saya miring kiri atau kanan, atau doyong ke depan atau belakang.

Hasilnya… capek dehhh…NOL juga…

Intinya I’ve done everything…

Hasilnya… SAMA TIDAK BERUBAH…

Semua itu saya alami selama kurang lebih 10 tahun lamanya…

Saya bukannya mau pamer kegemaran saya menghabiskan uang dan waktu untuk berobat, akan tetapi saya ingin pembaca tahu seberapa banyak uang, waktu dan effort saya habiskan untuk memperbaiki badan saya, namun semuanya NOL…

Bagi adik2 pembaca, jika nanti setuju dengan solusi yang saya jelaskan di belakang, mulailah dari sekarang. Namun adik2 perlu tahu why and impact dari semua perlakuan kita terhadap tubuh ini.

Mari kita lanjut… 1.3 Miracles of Walking: It is just a Walk…

Salam,

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

Jakarta, Kebon Jeruk,

Selasa, 7 Juli 2020, 18:00

***000ooo000***

Dear Pembaca terkasih, 

Terima kasih telah bersedia membaca postingan saya di atas. Saya sangat berharap pembaca bersedia menuliskan komentar, komentar apapun juga, atau hanya  sekedar LIKE. Komentar pembaca penting buat saya untuk meningkatkan kwalitas tulisan saya, dan akan sangat menguatkan bagi pembaca2 lain. Mari kita saling berbagi agar semakin banyak teman2 lain yang bisa mengalami hidup sehat dan panjang umur…

***000ooo000***

8 thoughts on “1.2 Miracles of Walking: Life Begin At 40?…

  1. Halo, apa kabar Om ??
    Akhirnya post lagiiii!! Hahaha
    Aku selalu suka baca tulisan Om! Jadi ketawa sendiri loh! Hahaha.

    Wah Om mah uda jadi donatur lah selama 10 tahun ini 😂😂.

    Begitu dulu commentku mau baca chapter selanjutnya 😁. Hahahha

    • Hallo Desy… Kabar baik, ya spt yg km baca di blog Om itu 🙂

      Iya tuh, nanti tolong kamu tagih balik beserta bunganya ya… wkwkwk…

      Thanks buat komentarnya… yang baca ribuan yang komentar cuma 1, really appreciate it… 🙂

      • Aku juga berterimakasih om sudah meluangkan waktu untuk menulis di sela kesibukannya.
        Ga terasa loh da berapa tahun aku follow blog Om! Aku ketemu pas cari review samsung galaxy note yg besar itu, berapa tahun lalu tuh hahhaha *eh aku masih ada loh si samsul nya. Hahahah

        Dari artikel itu aku baca semua blog post om dari awal.☺️☺️🙏🏻

  2. Thanks Om Guntur, akhirnya nulis lagi… sudah sering bolak balik tahun lalu tapi gak update.. sekali balik ke website ini langsung banayk bahan bacaan…he he..
    Nampaknya saya juga bagian yang banyak penyakit seperti ini.. he he.. 90% sesuai…
    Siap baca chapter berikutnya nich…. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s