Defeating Angels Landing: Tips

Angels Landing 24Tulisan ini saya tujukan bagi pembaca yang mungkin tertarik dengan pendakian saya ke Angels Landing, dan berencana suatu ketika menyusul kesana, selain juga sebagai catatan pribadi saya untuk pendakian berikutnya.

Bagi sebagian hikers yang sudah terbiasa mendaki gunung/tebing, tentu merasa geli membaca cerita pendakian saya ke Angels Landing. Namun bagi yang belum berpengalaman seperti saya dan anak2 saya, pendakian seperti ini perlu persiapan yang baik agar terhindar dari hal2 yang tidak diinginkan.

Pada tulisan ini saya akan mencoba membagikan beberapa hal yang saya rasa perlu dipersiapkan dengan baik bagi pembaca yang mungkin tertarik untuk mendaki Angels Landing, ataupun juga pendakian lainnya. Mohon pembaca yang sudah berpengalaman, untuk menambahkan atau mengoreksi tulisan saya ini.

Duluuuu…ketika masih SMA / kulia, saya pernah lah beberapa kali hiking, meskipun di bawah hitungan jari telapak kanan alias gak nyampe hitungan lima kali, tetapi ya pernah lah ngos2an naik gunung J. Nah duluuu itu, saya tidak mempersiapkan apa2 selain sepatu, minuman dan camilan untuk di perjalanan.

Namun ketika memperhatikan medan Angels Landing, saya tidak mau gegabah, saya benar2 memikirkan apa saja yang perlu saya persiapkan, meskipun di beberapa video pendakian yang dilakukan orang2 kesana, mereka tampak santai sekali. Ada yang bahkan pakai sandal japit. Namun saya benar2 tidak mau gegabah, lebih baik hati2 daripada terjadi apa2, betul tidak pembaca?

Setelah membaca sana sini mengenai tips pendakian, dan memelototi peralatan hiking di beberapa website. Menurut saya, yang sekali lagi masih sangat awam dengan urusan daki mendaki, ada tiga hal yang perlu dipersiapkan:

Pertama adalah fisik.

Jika memungkinkan, berlatih jalan atau lari akan sangat besar pengaruhnya. Paling tidak sebulan atau kalau bisa dua bulan sebelumnya, jalan2 pagi. Tidak perlu terlalu lama, 5 km per hari atau sekitar 60 menitan jika jalan santai rasanya sudah cukup, apalagi kalau bisa 10 km tiap hari, mantapp dah.

Janganlah seperti saya, yang nekat naik meskipun SAMA SEKALI tidak berlatih apa2…wakakak… Ya bener ini, saya sama sekali tidak berlatih apa2 sebelumnya. Pernah terpikir untuk berlatih tapi berhenti di angan2 doang🙂. Nah sebagai akibat nekat itu tadi, keesokan hari setelah pendakian, saya jalan seperti anak yang baru disunat, selangkah demi selangkah wkwkwkw….

Pada saat saya mendaki, ketika itu kondisi tubuh saya tidak benar2 fit, karena sehari sebelumnya baru mengalami perjalanan panjang dari Jakarta – San Francisco, tubuh saya masih mengalami jetlag, dan kekurangan tidur yang cukup parah. Plus pula tidak sarapan dengan proper.

Hal itu menyebabkan saya mengalami kelelahan yang luar biasa, sehingga beberapa kali saya hampir terpeleset karena kaki sulit saya control. Jika saja saya pada kondisi prima, apalagi berlatih sebelum berangkat, saya rasa pendakian itu tidak terlalu berat. Jiaaaahhhhh….gayanya🙂, tapi memang benar, kalau dipersiapkan baik2 saya yakin tidak berat2 amat.

Berdasar pengalaman saya ini, bagi pembaca yang tidak pengalaman dan kurang latihan seperti saya, seharusnya akan bisa sampai ke puncak Angels Landing🙂. Jadi kalau belum ada waktu latihan jalan, jangan menjadi halangan untuk naik. Tancap saja🙂.

Kedua adalah psikis.

Factor ini merupakan factor paling penting dari segalanya. Perlu beberapa waktu bagi saya untuk menetapkan hati menaklukkan Angels Landing. Perlu berkali-kali meyakinkan diri bahwa saya akan mampu menaklukkannya dan pendakian ini memang benar2 saya inginkan🙂. Jika tidak, rasanya bakal tidak terlaksana, atau tidak akan sampai puncak.

Kengerian yang tampak di video2 di internet itu, pada kenyataannya di lapangan tidaklah semengerikan itu, terutama pada saat mendaki. Mengapa? Karena pada saat kita menapak jalan yang hanya selebar tubuh kita itu, terutama pada saat memanjat, sudut pandang kita hanya sekitar selebar 60 – 80 cm. Sehingga yang tampak hanya batu2an saja, sedangkan jurang di kanan kiri tidak tampak.

Selain itu juga karena kita takut jatuh, maka kita hanya focus atau berkonsentrasi pada area sekitar selebar 60 – 80 cm di depan kita itu. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi yang memiliki ketakutan pada ketinggian (acrophobia).

Perjalanan turun justru lebih “mengerikan” dibandingkan dengan pada saat naik, namun setapak demi setapak asal kita berhati-hati bisa juga kok kita lewati.

Jadi tetapkan pikiran dengan mantap dan kemudian jalani.

Faktor ketiga adalah peralatan.

Khusus untuk ini ada banyak catatan yang ingin saya bagikan bagi pendaki pemula yang ingin mencoba mendaki Angels Landing:

  1. Sepatu: ini sangat penting, belilah sepatu khusus mendaki yang bagus. Saya tidak mengira sepatu khusus mendaki punya peran sangat besar, saya kira cukup asal pakai sepatu yang biasa saya pakai jalan2 pagi seperti Reebok, Adidas atau Nike. Sepatu mendaki yang bagus benar2 menapak dengan mantap di bebatuan berpasir sekalipun. Jangan sembarangan menggunakan sepatu, karena bebatuan yang berpasir akan menyebabkan kita mudah sekali tergelincir, hal yang paling tidak kita inginkan terjadi disana.
  2. Sun screen lotion: Kalau tidak ingin kulit gosong, sebaiknya meluluri wajah dan tubuh dengan lotion yang ber SPF tinggi. Saya sangat beruntung ketika itu, karena perkiraan cuaca memprediksi panas menyengat, tetapi di lapangan tidak semengerikan yang diramalkan. Namun secara umum, Negara bagian Arizona yang mayoritas gurun, memang terkenal berdarah panas J. Jadi jangan lupa luluran sun screen lotion🙂.
  3. Topi: jangan lupa membawa topi, sangat membantu melindungi wajah dan kepala kita dari sengatan panas matahari.
  4. Hydration Pack: mendaki Angels Landing yang sangat terbuka dengan suhu udara di atas 35 derajat Celcius, tentu akan dengan mudah membuat kita kehausan. Oleh karena itu disarankan untuk membawa air paling tidak 1 – 2 liter.

Nah dengan medan pendakian seperti Angels Landing, membawa beban terlalu berat dan banyak, akan sangat merepotkan, karena kita membutuhkan kedua belah tangan untuk berpegangan. Oleh karena itulah dibutuhkan botol air yang mudah dibawa.

Saya beruntung, atas nasehat teman saya Ningsih Feryanto, yang telah hidup lama di Amerika, menyarankan saya untuk membeli botol minum merk Camelbak. Ketika saya mencari-cari produk ini, saya malah menemukan Hydration Pack yang menurut saya amat sangat membantu kita mengatasi masalah membawa botol minum.

Hydration Pack berbentuk seperti ransel, dengan kantong air di belakang, dan selang air di depan, sehingga pada saat kita memanjat, tangan kita bebas, dan kita bisa minum dengan leluasa. Selain itu juga ada kantong2 yang bisa kita manfaatkan untuk membawa Energy Bar atau Handphone.

Hydration Pack

Keputusan saya membeli Hydration Pack ini, merupakan keputusan yang saya anggap paling pintar hehehehe… Sekarang Hydration Pack ini saya pakai ketika saya bersepeda.

  1. Energy drink & energy bar: Beli beberapa tablet energy drink yang bisa dilarutkan di kantong Hydration Pack. Entah karena effect ini atau tidak, tetapi buktinya dengan kondisi tubuh tidak prima, saya tetap bisa menyelesaikan pendakian saya J. Demikian juga dengan energy bar, bawalah beberapa potong energy bar yang dengan mudah kita dapatkan di supermarket. Meskipun rasanya amat sangat tidak enak, tetapi pada kondisi darurat sangat membantu.
  2. Camera: Benda satu ini adalah benda yang paling menyita pikiran saya. Mengapa? Karena pada awalnya saya berencana membawa semua perlengkapan camera saya, bahkan terpikir membawa “drone” saya🙂. Namun setelah beberapa kali menonton video pendakian yang banyak di upload di youtube, saya harus sadar diri. Saya harus memastikan barang bawaan saya sesedikit mungkin, dan tangan sebebas mungkin.

Namun demikian tetap saja saya sulit membayangkan bagaimana cara membawa camera DSLR saya yang lensanya cukup panjang itu? Saya mencoba mencari2 alat bantu untuk memundahkan saya membawa camera saya, tetapi tidak ada. Dan…memang, ternyata benda satu ini benar2 menyulitkan saya di lapangan. Jadi saran saya, kalau ada camera kecil yang bagus, sebaiknya tidak membawa camera gede kecuali sudah pengalaman mendaki. Kalaupun harus membawa DSLR, tidak perlu membawa semua lensa, apalagi tripod🙂.

Sedangkan bagi yang ingin mengabadikan seluruh perjalanan dalam bentuk video, gunakanlah GoPro. Namun jangan lupa membawa extra battery sebanyak-banyaknya, karena 5 battery yang saya bawa ternyata masih juga tidak cukup untuk mencover seluruh perjalanan.

Terakhir jangan lupa membawa cadangan battery camera dan juga SD Card. Jangan sampai kehabisan battery dan memory ketika sudah di puncak, tidak ada yang jual🙂.

 Saya rasa itulah beberapa tips yang bisa saya bagikan untuk pembaca yang ingin menjajal nyali ke Angels Landing🙂.

Semoga ada pembaca yang sudah berpengalaman mendaki yang bersedia membagi ilmu.

 

Salam,

 

Guntur Gozali,

Jakarta, Kebon Jeruk,

Sabtu, 26 Oktober 2014, 11:30

http://www.gunturgozali.com

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s