Please, don’t bring your baby to the Movie Theater!

Baby On Board

Tulisan ini saya tujukan bagi pasangan muda yang suka mengajak balitanya menonton film diluar batas usia tonton di gedung bioskop.Semoga tulisan ini bermanfaat!

Seorang bocah laki-laki berumur kurang lebih 4 – 5 tahun mencoba meraih kran air di toilet bioskop Premiere di Senayan City hari Sabtu lalu. Saya kebetulan sedang hendak mencuci tangan juga ketika saya lihat dia sedang berjingkat-jingkat hendak menghidupkan kran air.

Melihat tingkahnya yang lucu itu, saya segera membantu mengangkat badannya sehingga dia bisa meraih kran air dan mencuci tangan. Dia menoleh ke saya sebentar untuk kemudian meletakkan tangannya di bawah kran air. Sementara dia mencuci tangannya, sayapun tergelitik untuk menanyakan kenapa kok dia sendirian? Katanya papanya ada di depan bersama dengan mama dan adiknya.Terus saya tanya lagi siapa yang ngajak nonton? Rasa iseng saya muncul karena film yang akan saya tonton bukanlah film anak2 yang pantas untuk anak seusia dia. Ketika itu film yang saya akan tonton adalah film orang dewasa, film berjudul Elysium yang dibintangi Matt Damon dan Jodie Foster itu.

Saya tanyakan apakah dia atau papanya yang mengajak nonton? Papa, katanya. Ooo…hanya itu yang bisa saya katakan sembari memaki dalam hati betapa tidak bertanggung jawabnya orang tua si anak ini. Segera setelah dia selesai mencuci tangan, dan mengeringkan tangannya dengan tissue, saya menurunkan dia ke lantai.

Si bocah menoleh ke saya, dengan sopan mengucapkan terima kasih, kemudian ngloyor keluar toilet. Saya yang kemudian menyusul tidak lama setelah itu tertegun melihat yang dia maksudkan adik itu adalah seorang bayi berumur kurang dari 6 bulan sedang tiduran di kereta bayi di sebelah sepasang orang tua muda yang sedang sibuk bermain handphone / ipad.

Hmm…ini untuk kesekian kalinya saya menyaksikan pasangan muda yang mengajak anak balitanya menonton film di bioskop dengan tata suara yang luar biasa keras.

Terus terang saja saya sangat tidak setuju dengan tindakan pasangan muda yang mengajak anak2nya untuk ikutan menonton film di luar batas usia tonton mereka, dengan alasan apapun juga. Tindakan mengajak anak2 menonton film yang tidak sesuai dengan usia tonton adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana, egois dan merusak.

Mengapa saya sangat terganggu dengan hal ini? Karena pengklasifikasian film berdasar usia tonton tentu ada maksudnya. Film dengan klasifikasi Dewasa berisi adegan atau pembicaraan yang belum pantas dilihat atau didengar anak2. Dan intensitas suara serta perubahan cahaya di ruang yang sedemikian gelap, tentu sangat berpengaruh terhadap indera bayi / anak2 kecil yang masih sensitive.

Saya adalah orang yang termasuk amat sangat suka menonton film. Namun sejak dulu saya menyadari akan hal ini. Ketika dulu anak2 saya masih kecil, saya sangat tersiksa sekali jika mengetahui ada film bagus yang sedang diputar di bioskop, karena ketika itu kami tidak memiliki kemewahan untuk menitipkan anak2 ke orang tua / mertua yang semuanya tidak tinggal di Jakarta. Kami juga tidak memiliki sanak keluarga di Jakarta ini, sehingga selama bertahun-tahun kami tidak berani menonton sampai anak2 bisa ditinggal dirumah dengan pembantu.

Untuk mengurangi kerinduan saya menonton film, saya akhirnya membeli perangkat Home Theater yang masih terbilang sederhana dibandingkan dengan teknologi jaman sekarang. Ketika itu belum ada yang namanya LCD/LED/Plasma TV, dan tata suara yang ada masih Surround Sound, setingkat di atas Stereo System. Namun demikian, suaranya sudah bisa dikatakan menggelegar di rumah kontrakan saya yang sebesar kandang ayam itu.

Selama beberapa tahun saya menyetel perangkat ini tanpa menyadari efek yang dirasakan anak saya pertama, Ivan. Beberapa kali saya menonton film dengan intensitas suara keras menggelegar, ketika dia tertidur di ruang keluarga, tempat saya meletakkan Home Theater saya. Seringkali dia terkejut ketika mendengar dentuman suara yang keras, namun setelah saya pok-pok pantatnya dia segera tertidur lagi.

Semua itu tidak saya sadari pengaruhnya, sampai dia mulai bisa berbicara. Setiap kali saya menyetel music atau film dengan suara keras, dia ketakutan. Sejak saya menyadari hal itu, saya berhenti menyetel perangkat Home Theater saya keras2. Saya merasa sangat bersalah.

Saya tidak menyadari bahwa variable suara yang sangat keras itu bisa sedemikian berpengaruh terhadap anak saya sampai waktu yang cukup lama.

Lha jika dengan perangkat yang seadanya itu saja sudah bisa menyebabkan pengaruh sedemikian lama, bagaimana pula dengan balita yang diajak menonton di Studio 21 atau Premiere yang menggunakan Dolby Digital 7.1 itu? Bagaimana pula pengaruhnya terhadap telinga dan mungkin psikologis mereka setelah dibombardir dengan dentuman menggelegar yang memang sengaja dimaksimumkan agar memberikan effect suara terbaik bagi penonton dewasa?

Belum lagi adegan2 tidak pantas, baik berupa kekerasan, darah, sex dan kata2 kasar yang sudah menjadi bumbu penyedap nomor satu di setiap film apapun, bahkan termasuk film animasi?

Oleh karena itu saya katakan bahwa mereka yang mengajak anak2 balitanya menonton film diluar batas usia mereka adalah orang yang sangat tidak bertanggung jawab, apapun alasannya.

Semoga tulisan ini dibaca oleh seluruh pasangan muda yang suka mengajak anak balitanya untuk menonton, mohon perhatikanlah effek yang akan dialami oleh putera/puteri kalian nantinya. Titipkan anak2 ke orang tua atau saudara atau teman, jika memungkinkan. Jika tidak, ya sebaiknya tidak usah menonton sampai mereka sudah bisa diajak menonton.

Maaf ya atas kekurang ajaran tulisan saya ini, namun saya yakin apa yang saya katakan ini adalah demi kebaikan putera/puteri kalian semua juga. Ini tidak mudah, terutama bagi yang suka menonton, tetapi pantas dilakukan jika kita menyayangi anak2 kita.

Salam dari orang tua ceriwis,

Guntur Gozali

Jakarta, 26 Agustus 2013, 19:00

http://www.gunturgozali.com

8 thoughts on “Please, don’t bring your baby to the Movie Theater!

  1. Setuju pak. Hehehe saya sudah hampir 2 tahun ini ga pernah nonton bioskop. Bahkan nonton di rumah aja sampai ikut2an disney junior. Hahaha.
    Regards,

    Arthur

    • senasib pak. semenjak anak saya lahir sampai sekarang saya tidak pernah injak bioskop lagi. anak saya sudah 2 tahun 3 bulan. saya tidak tenang tinggalin anak dirumah sampai lama. saya di jakarta juga hanya berdua sama suami, jadi anak tidak bisa titip ke ortu. hehe, tapi saya tidak merasa rugi hanya karena tidak menonton film tertentu.
      sama pak saya juga nontonnya hi five, mickey, sama timmy time channel disney junior.

  2. setuju banget nih pak. kejadian nyata yang saya alami waktu nonton Batman, ceritanya waktu beli tiket, saya posisinya ke 4 dari bangku kiri (ada 3 bangku di sebelah kiri saya) Pikir saya saat itu mungkin 3 orang ini adalah 2 orang pacaran + 1 nyamuknya hehehe
    ternyata 3 orang penonton itu adalah sepasang suami istri muda + 1 anak lelakinya yang kira2 usia 8-9 tahun pluss 1 anak lelaki sekitar 2 tahun atau kurang.
    terus terang sebagai “tetangga” saya cukup prihatin dan terganggu loh, prihatin koq ya tega anak sekecil gitu diajak nonton yang bahkan dia nggak ngerti itu film apa. dan terganggu karena si anak itu sebentar2 jalan ke sana sini mencari susternya atau mbak nya karena mama papa nya sibuk melototi layar, lalu karena gelap, anak tersebut pun jatuh dan soundtrack berubah jadi suara tangisan.. cape deehh

    • Hahahahaha…terima kasih atas komentarnya yang lucu🙂. Udah bayar mahal2 soundtracknya cuma ‘hwaaa…. hwaaa… hwaaa….” ya hehehehe…
      Ya semoga para ortu, terutama pasangan muda, sempat membaca posting saya ini.

      Salam,

  3. setuju, kemarin waktu saya nonton the conjuring juga ngeliat byk orang tua yg bawa anak kecil yg mungkin masih berusia sekitar 5-10 tahun. Selain salah orang tua, menurut saya, pihak pengelola bioskop juga tidak becus, harusnya pihak bioskop tidak boleh mengizinkan anak kecil untuk nntn film yg ratingnya bukan SU. Diluar sana mau beli video game aja kalau rating dewasa dan yg beli anak kecil tidak bakal dijual tapi diindo semua serba bebas yg penting bayar.

    • Ya beginilah kalau pengusaha dan penguasa sudah berorientasi duit…duit…duit… Mana ada aturan yang bisa diterapkan dengan baik.
      Harusnya orangtua ybs yang lebih mawas diri, masa anak2 di bawah 10 tahun diajak nonton Conjuring, bukannya film horror itu ya? Haizzzz….menyedihkan sekali😦.

      Salam,

  4. Kalau nonton film kartun gmn kira2? Anak sy umur 2thn
    Filmnya emang cocok, tp suaranya yg keras itu kira2 bikin trauma ga y? (Kagetan klo denger suara keras). Need advice nihhh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s