A Trip to Komodo Island: Goa Batu Cermin (part 4)

Sebayur Sunset 5Day 6:

Setelah akhirnya memutuskan untuk tidak menyelam pada hari keenam ini, kami segera mencari alternative acara untuk mengisi kekosongan kegiatan hari itu. Saya teringat ketika di Jakarta, saat membeli peralatan diving, ada seorang diver senior yang menyarankan saya ke Goa Batu Cermin di Labuan Bajo.

Yess, kesana saja deh pikir saya, daripada bengong di Pulau Sebayur itu. Nah inilah bedanya turis local dengan turis asing, sementara kita keluyuran kemana-mana, gak bisa diem di tempat, mereka sejak pagi sudah menggelar handuk, terus tengkurap menadah sinar matahari. Kita, begitu kena sinar matahari langsung bingung mencari tempat teduh wkwkwkwk…

Kami segera mengontak pengelola resort untuk mengatur antar jemput ke Labuan Bajo. Untuk urusan ke Labuan Bajo, ternyata bisa menumpang perahu motor yang memang memiliki schedule tetap pulang pergi ke Labuan Bajo. Sedangkan kembalinya terpaksa kami harus mencharter perahu motor di pelabuhan Labuan Bajo, karena jamnya tidak sesuai schedule balik mereka. Dan untuk itu kami harus merogoh kocek Rp. 600.000,- untuk mengantar balik ke resort.

Kamipun segera bersantap pagi dan bersiap-siap menuju ke perahu motor yang sudah menunggu di dermaga. Inilah perahu motor yang digunakan untuk antar jemput ke Labuan Bajo – Resort:

Perahu motor antar jemput LBJ

Perahu motor ini memiliki tempat duduk berhadap-hadapan di bagian depan, sedangkan bagian belakang ditempati oleh nakhoda dan anak kapal. Bagian atas tertutup terpal biru sedangkan kiri kanan terbuka, sehingga kita bebas melihat pemandangan kiri kanan kapal, dan juga menikmati air laut yang berhembus kencang selama perjalanan.

Perjalanan ke Labuan Bajo memerlukan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam, tergantung cuaca dan ombak. Ketika kami meninggalkan dermaga, langit tampak agak mendung2 disana-sini.

Selama awal perjalanan kami sangat menikmati pemandangan sekeliling, namun hal ini tidak berlangsung lama. Sekitar  30 menit, tiba2 hujan menitik. Pelan namun pasti semakin deras. Wajah, badan, punggung, dan akhirnya celana mulai basah.  Anak kapal segera menurunkan terpal di kanan kiri kapal, lumayan, tapi tidak bisa banyak menolong yang duduk di bagian depan kapal.

Saya dan anak2 bisa dikatakan basah kuyup bukan hanya karena air hujan, tetapi juga karena cipratan air laut akibat hempasan kapal. Mertua dan para ibu diselamatkan di bagian belakang, sedangkan yang cowok2 dan anak2 pindah ke depan, berusaha mati2an memegang terpal yang dipasang seadanya J. Wajah dan badan habis diterjang air hingga hampir 45 menit dihajar air hujan yang mirip signal HP, on and off .

Sesampai dipelabuhan Labuan Bajo hujan mereda, namun mendung masih tetap mengancam untuk menurunkan airnya. Kami dijemput sebuah minibus yang kami sewa melalui Komodo Resort dengan harga yang cukup mencekik leher, tapi ya mau apalagi, tidak banyak pilihan.

Kami menyempatkan mengisi perut di sebuah resto di depan airport, kemudian sempat mampir di sebuah Gereja Katholik, berdoa, bertemu dengan Romo Kepala di gereja itu, dan menyerahkan sumbangan seadanya. Kami tergerak menyumbangkan dana gara2 dive master yang mendampingi kami, yang juga beragama Katholik menceritakan betapa kecil kolekte mingguan di tempat itu. Jumlah kolekte yang terkumpul sebulan, lebih kecil dari kolekte sekali misa Gereja saya di daerah Kebon Jeruk, padahal seminggu bisa ada 7 kali misa.

Gereja Katolik Labuan Bajo 1 Gereja Katolik Labuan Bajo 2 Gereja Katolik Labuan Bajo 3

Setelah selesai mengadakan kunjungan singkat dan dadakan ke Gereja Katholik Labuan Bajo, kami langsung menuju Goa Batu Cermin yang ternyata hanya berjarak beberapa kilometer saja dari Gereja. Jika dari pelabuhan Labuan Bajo hanya berjarak 4 km, kurang lebih membutuhkan waktu hanya sekitar 10 – 15 menit saja.

Areal Goa Batu Cermin tidak terlalu jauh dari pinggir jalan raya, mungkin hanya sekitar 100 – 200 meter melewati jalan yang bisa dilalui mobil. Kita akan tiba disebuah warung dengan tempat parkir mobil. Kita membayar tiket masuk disana, diberikan topi proyek warna kuning yang pada awalnya kami buat mainan namun ternyata merupakan peralatan mutlak jika tidak ingin kepala benjol semua, dan kita akan ditemani seorang guide local.

Goa Batu Cermin Labuan Bajo 1

Dari area parkir kita berjalan kaki melalui jalan setapak yang sudah dirapikan menggunakan con-block menuju ke Goa. Jarak dari area parkir ke goa sekitar 300 an meter. Di kiri kanan jalan ditumbuhi dengan pohon bamboo berduri, mirip seperti duri yang kita temui di bunga mawar.

Goa Batu Cermin Labuan Bajo 2

Sesampai di depan Goa, guide kami, seorang siswa magang dari Sekolah Pariwisata di Flores menjelaskan mengenai Goa Batu Cermin yang “katanya” terbentuk pada jutaan tahun yang lalu. Goa ini kemudian ditemukan oleh sorang misionaris pembawa kabar baik ke Flores. Goa ini diberi nama Goa Batu Cermin, karena pada salah satu lokasi di dalam gua, terdapat celah yang jika tersiram sinar matahari, pada waktu2 tertentu, batu di goa yang mengandung crystal itu memantulkan sinar cahaya seperti cermin. Kalau tidak salah begitu deh sejarah singkat. Saya tidak begitu memperhatikan karena sibuk memotret sana sini.

Goa Batu Cermin Labuan Bajo 3 Goa Batu Cermin Labuan Bajo 4 Goa Batu Cermin Labuan Bajo 5 Goa Batu Cermin Labuan Bajo 6 Goa Batu Cermin Labuan Bajo 7 Goa Batu Cermin Labuan Bajo 8

Memasuki Goa Batu Cermin memberikan pengalaman yang sangat menarik bagi anak2 karena bentuk goanya yang tidak beraturan. Topi proyek yang tadinya kami jadikan mainan, dan terus terang saja awalnya saya anggap tidak berguna atau berlebihan, ternyata merupakan alat pelindung kepala yang mutlak digunakan. Beberapa kali kepala kami terantuk stalaktit di dalam gua itu.

Goa Batu Cermin Labuan Bajo 9 Goa Batu Cermin Labuan Bajo 10Pada beberapa bagian gua sangat gelap gulita, totally dark. Guide kami sempat meminta kami untuk mematikan senter yang kami bawa untuk menunjukkan betapa gelap tempat itu. Gilanya setelah itu kami menemukan seekor laba2 di area kami mematikan senter, yang menurut si guide merupakan laba2 sangat beracun dan bisa melompat untuk menempel di tubuh kitaGoa Batu Cermin Labuan Bajo - Laba2 Beracun
Kami juga sempat melihat fosil kura2 yang sudah membatu, serta melihat tetesan air kapur yang membentuk wujud seorang wanita. Penduduk setempat percaya bahwa wujud yang terbentuk adalah wujud Bunda Maria, bunda Yesus.

Goa Batu Cermin Labuan Bajo - Bunda Maria Goa Batu Cermin Labuan Bajo - Fossil Kura2

Mertua saya, yang sudah berumur, yang juga ikut ke lokasi untungnya tidak ikut-ikutan masuk ke dalam goa, wah kalau ikutan masuk bakal susah sekali untuk melewati beberapa lobang yang hanya bisa dilalui dengan setengah membungkuk, atau mengesot dengan posisi duduk.

Meskipun tempat wisata ini cukup menarik untuk dikunjungi, namun sayangnya tidak banyak yang mengetahui. Pada saat pertama kali saya mendarat, saya menanyakan perihal Goa ini, tapi baik supir yang menjemput saya, nakhoda kapal dan bahkan juga pegawai resort tidak tahu apa yang saya tanyakan. Selain daripada jalan setapak yang sudah baik, dalam goa tidak diapa-apakan oleh Pemda setempat. Tidak seperti gua stalaktit stalakmit di luar negeri yang diberi siraman cahaya lampu warna warni sehingga tampak indah.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di Goa Batu Cermin, kami memutuskan untuk kembali ke pelabuhan untuk ke resort. Namun di dalam perjalanan kami sempat mampir ke Hotel Jayakarta yang tampak nyaman dan asri. Hotel ini bisa dijadikan sebagai salah satu alternative jika pembaca tidak ingin menyelam tanpa mengalami ‘liveaboard’ seperti yang saya alami.

Jayakarta Labuan Bajo 1 Jayakarta Labuan Bajo 2 Jayakarta Labuan Bajo 3 Jayakarta Labuan Bajo 4 Jayakarta Labuan Bajo 5 Jayakarta Labuan Bajo 6 Jayakarta Labuan Bajo 7

Kami tiba kembali di resort tanpa berbasah kuyup seperti ketika kami tiba. Perahu motor yang kami sewa kembali ke resort, sama bentuknya mirip seperti yang membawa kami ke Labuan Bajo, sehingga jika dihadiahi hujan ketika itu, sudah pasti kami bakal basah kuyup yang kedua kalinya🙂.

Perahu balik ke KR

Kami tiba di Komodo Resort sudah mendekati senja. Sejak tiba di Pulau Sebayur saya ingin sekali mendaki bukit yang ada tepat di belakang resort, namun tidak pernah memiliki waktu. Saya pikir senja itu saya harus naik dan memotret sunset dari sana.

Berdua dengan keponakan saya, Stefani, kami mendaki bukit yang berbatu-batu tajam itu. Saya tadinya agak khawatir juga, apalagi sebelumnya sudah ditakut-takuti bakal ketemu ular dan binatang berbisa🙂. Namun keinginan memotret sunset tidak tertahankan, jadi ya diniat-niatin lah.

Ketika kami sampai di puncak bukit, ternyata bukan ular atau binatang beracun yang menggigit kami, namun puluhan nyamuk hutan yang ganasnya minta ampun. Duhhh berhenti bergerak sedikit saja, kaki, tangan, leher digigiti habis2an. Jadinya saya memotret sambil garuk2 dan berdangdut ria🙂.

Berikut beberapa jepretan seenaknya dari atas bukit Pulau Sebayur. Beberapa foto tampak mirip, namun saya bingung memilihnya karena posisi sama difoto pada jam berbeda hasilnya :

Sebayur Sunset 1 Sebayur Sunset 2 Sebayur Sunset 3 Sebayur Sunset 3b Sebayur Sunset 3c Sebayur Sunset 3e Sebayur Sunset 3f Sebayur Sunset 4 Sebayur Sunset 4b Sebayur Sunset 4c Sebayur Sunset 4e Sebayur Sunset 4g Sebayur Sunset 5 Sebayur Sunset 5b Sebayur Sunset 6 Sebayur Sunset 6a Sebayur Sunset 7 Sebayur Sunset 8 Sebayur Sunset 9 Sebayur Sunset 10 Sebayur Sunset 10b Sebayur Sunset 10c Sebayur Sunset 10d Sebayur Sunset 11

14 thoughts on “A Trip to Komodo Island: Goa Batu Cermin (part 4)

  1. wah memang ternyata sungguh luar biasa sekali pulau komodo ini
    tampaknya sebelom berwisata ke negeri orang lebih baik mengelilingi negeri kita terlebih dulu.
    daripada nanti sudah banyak wawasan wisata di negeri orang, ditanya keindahan negeri sendiri plonga-plongo😀

    kalo Pak Guntur ga ikut masuk takut karena usia nanti kesusahan menunduk dan ngesot,
    kalo saya ga masuk takut ga cukup atau malah nyangkut di lubang2nya pak.. hohohoho
    lebih lagi kalo berhasil masuk ga bisa keluar😛

    • Can not agree more Pep. Banyak yang belum ke Komodo, tapi sudah berkali-kali ke Eropa, China, Jepang bahkan Alaska. So sad😦.

      Kalau kamu sampe nyangkut di goa itu, bakal lebih ngetop tuh, ntar namanya kudu diganti Goa Peppy Bercermin🙂

  2. You didn’t close your story properly sir…seems something missing on this article, readers expect you to draw whole journey summary before ending your trip report. Please consider to write a sequel number 5 as a trip summary! …anyway, good job pak Guntur, I enjoy reading all…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s