Secuil cerita dibalik banjir 2013

banjir di bunderan hiTinggg…tiba2 sebuah message muncul di BB saya hari Rabu malam, tgl 16 January 2013 lalu. Saya sudah hendak berdiri dari sofa di ruang keluarga untuk masuk kamar dan tidur. Hujan di luar rumah sedang mengamuk, deras sekali.

Saya lihat jam di BB saya, sudah pukul 21:30, siapa malam2 begini mengirim message ke saya? Eh ternyata teman kuliah saya. Dia menanyakan apakah punya info atau akses atau perahu karet untuk menolong managernya, seorang wanita dan mamanya, yang terjebak banjir di daerah perumahan Grenville, Jakarta Barat.

Hmmm…perahu karet?? Dimana ya?? Setengah enggan karena kantuk, saya katakan saya akan mencoba mencari tahu apa yang dia tanyakan. Ketika itu badan saya kurang begitu fit karena flu, tapi begitu teringat “seorang wanita dan mamanya terjebak banjir” semangat saya langsung bangkit.

Saya bb lagi teman saya, saya bilang saya akan samperin kesana deh sambil membawa makan, lilin, korek, air dan beberapa kebutuhan dasar lainnya. Saya pikir juga akan meminta kedua ibu itu untuk mengungsi sementara.

Ketika itu yang ada di kepala saya adalah banjir2 yang masih sering saya terobos menggunakan Kijang atau mobil berbadan tinggi lainnya. Saya pikir saya pasti bisa mencapai lokasi, kalau perlu saya akan mencoba meminjam mobil Fortuner teman yang badannya tinggi untuk kesana. Namun sesaat pikiran sehat saya bekerja, bagaimana menuju kesananya ya? Mungkin saya bisa mencapai rumah dia, tapi bagaimana menuju kesananya?

Memang daerah perumahan saya tidak ada genangan sama sekali, tetapi di beberapa titik sudah diberitakan tingginya hingga 60 – 100 cm. Dengan ketinggian air itu, mobil tidak bisa tembus, even menggunakan Fortuner.

Hmmm…gimana nih, sudah kadung janji mau menolong, apalagi pikiran saya mengenai dua orang ibu terkurung banjir itu menjadi beban. Saya samperin gak kesana?

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya saya telpun kantor saya. Saya tanya apakah ada supir atau office boy di kantor? Mereka memang sebagian tidur dan menjaga kantor saya. Ternyata ada beberapa standby di kantor.

Saya instruksikan dua orang untuk mempelajari daerah sekitar lokasi manager teman saya itu. Hujan masih turun dengan derasnya ketika itu, namun tetap saya minta mereka memakai jas hujan dan pergi kesana.

Sementara saya menunggu kabar supir saya menuju lokasi. Istri saya mencoba mencari tahu ke teman2 yang tinggal di daerah sana. Setelah mencoba menghubungi beberapa teman, akhirnya ada satu yang menjawab. Ternyata dia dan keluarga baru saja meninggalkan rumah untuk mengungsi ke rumah adiknya.

Info yang diberikan ke kami membuat saya terkejut dan lemas. Dia katakan bahwa ketika dia meninggalkan rumah sekitar pukul 20:00, air sudah masuk lebih dari 1 meter di rumahnya, sedangkan lokasi rumah manager teman saya itu menurut dia lebih rendah lagi. Dan kondisi lokasi gelap gulita karena PLN mematikan aliran listrik daerah itu.

Degggg….kaget sekali saya. Untung gak nekat berangkat kesana. Kalau saya nekat, malahan saya nanti yang perlu di rescue🙂.

Sekarang saya benar2 segarrr…saya jadi sangat khawatir sekali nasib kedua orang ibu itu. Saya bayangkan rumah mereka terendam banjir, gelap gulita, kehabisan air dan makanan, sementara hujan terus mengguyur. Duhh…gimana mereka? Kalau masih ada laki-laki di rumah itu, masih tenang lah rasanya, meskipun kadang laki-laki bisa lebih pengecut daripada perempuan🙂.

Setengah jam menunggu dengan perasaan khawatir akhirnya supir saya menelpun. “Tidak bisa tembus pak! Saya hanya bisa sampai di pinggir jalan Panjang. Dari situ ke dalam masih jauh sekali. Air sudah penuh, dan hanya ada satu petugas disini” lapornya.

“Tanyakan dimana poskonya dan bagaimana bisa pinjam perahu karet” perintah saya.

“Katanya sudah pada pulang pak. Tadi sih ada yang diangkut pake perahu karet tapi karena sudah gelap, mereka sudah pulang semua. Cuma ada 1 bapak ini. Dan poskonya ada disisi sebelah pak” begitu lanjut supir saya.

“Coba kamu cari dimana poskonya, tujuannya cari perahu karet” balas saya.

Setengah jam kemudian dia menelpun lagi. Ternyata yang namanya memutar itu, tidak seperti yang saya bayangkan, dia harus menembus 3 genangan air yang hampir membuat mogok motornya untuk sampai disisi sebelah perumahan yang sangat besar itu. Dan…hasilnya sama, tidak ada posko, hanya satu orang petugas yang juga tidak bisa berbuat apa2.

Lokasi terakhir ini mungkin hanya sekitar 500 meter dari rumah yang menjadi sasaran. Namun tanpa perahu karet, tidak akan bisa dicapai. Itupun kalau kita mempersiapkan diri dengan senter dslb. Duhhh….

Saya minta dia menanyakan poskonya. Si petugas hanya bisa menyuruh supir saya ke kelurahan yang dia juga tidak tahu dimana lokasinya, sementara sekitar gelap gulita dan hujan.

Saya jadi bingung, serba salah, kasihan dlsb campur aduk jadi satu. Kekhawatiran utama saya adalah bagaima nasib kedua ibu itu?? Bagaimana cara mencapai mereka?

Saya minta supir saya untuk tetap mencari dimana kelurahan dan mencari perahu karet.

Kurang lebih seperempat jam kemudian supir saya menelpun mengatakan bahwa dia sudah di kelurahan, tapi hanya ada beberapa orang berjaga-jaga namun tidak ada perahu karet atau apapun juga.

Setelah berusaha lebih kurang 2 jam lebih tanpa hasil, akhirnya saya perintahkan supir saya untuk pulang. Dan saya mengabarkan teman saya bahwa misi malam itu sama sekali tidak membawa hasil. Terpaksa harus menunggu keesokan harinya untuk dilanjutkan.

Saya meminta maaf dan tidur tidak tenang malam itu.

Paginya saya memperoleh kabar bahwa mereka sudah ditangani oleh kantornya dan inilah kondisi rumah yang hendak saya samperin malam itu:Rumah di Grenville

Saya yakin banyak sekali kejadian serupa dalam beberapa hari ini. Dan kelurahan lumpuh tidak bisa berbuat apa2. Memang kejadian kali ini tidak pernah terbayang akan sedemikian dahsyat, namun juga bukan sekali ini terjadi. Seharusnya setiap kelurahan memiliki SOP (Standard Operating Procedure) untuk tanggap darurat Banjir yang tiap tahun menyerbu Jakarta, ya nggak sih?

Paling tidak ada tempat2 tertentu yang langsung dijadikan posko jika terjadi hal seperti ini. Yang paling mudah adalah kantor kelurahan yang sudah dipersiapkan dengan perahu karet, handy talky, obat2an, dlsb.

Nomor2 telpun posko darurat banjir yang beredar di BB sama sekali tidak bisa dihubungi, mungkin karena petugasnya juga mabok ditelpuni sana sini atau mungkin tidak ada yang standby :p.

Apapun juga, semoga Pak Jokowi dan Pak Ahok, beserta jajarannya, memikirkan langkah2 darurat jika festival tahunan ini terjadi lagi. Semoga…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s