Spend as you need, not as you want.

Masih seputar pertanyaan si Marloo pada postingan saya sebelumnya (Leave kids enough to do everything….), ada satu pertanyaan lagi yg lupa saya jawab, dia menanyakan bagaimana sebaiknya dia membelanjakan uangnya? Menarik ya pertanyaannya?🙂

Meskipun tampak sederhana, tidak semua orang memiliki kebijaksanaan di dalam membalanjakan uang yang dia miliki lho, jangan anggap remeh. Saya sendiri seringkali bingung di dalam melawan dorongan rasa ingin membeli barang yang belum tentu saya perlukan.

Berikut ini saya akan share satu kalimat penting yang pernah saya peroleh dari ex-boss saya, yang menjadi pegangan hidup saya di dalam membelanjakan uang yang saya miliki.

Dua puluh tahun yang lalu ketika saya menjabat sebagai IT Manager di anak perusahaan Astra, saya bertanggung jawab penuh untuk memilih, menentukan dan membeli semua kebutuhan software, hardware maupun network perusahan.

Karena beragamnya kebutuhan perusahaan, dan juga kekhawatiran saya akan kesalahan di dalam menentukan harga beli, maka saya sering sekali meminta persetujuan atasan saya. Hal ini mengakibatkan saya harus bolak-balik meminta persetujuan beliau mengenai harga terbaik berapa yang bisa dia disetujui.

Mungkin karena terlalu sering bolak balik ke ruangannya atau mungkin sudah bosan melihat tampang saya,  akhirnya boss saya mengatakan begini:”Spend as you need, but not as you want. Kalau memang perlu, beli aja, semilyar juga bayar saja, tapi kalau gak perlu, sesenpun jangan kamu keluarkan. Ingat itu!!”

“Siap boss…”, jawab saya ketika itu, namun belum memahami sepenuhnya maksud kalimat beliau.

Namun setelah beberapa kali beliau mengatakan kalimat serupa, saya mulai mengerti, dan kemudian kalimat itu menjadi guideline saya di dalam membelanjakan uang perusahaan maupun uang pribadi saya. Kalimat itu ternyata melekat dua puluh tahun lebih di kepala saya, hingga saya menuliskannya hari ini disini.

Yes, spend as you need, not as you want. Saya percaya sebagian besar pembaca sudah langsung mengerti apa yang saya maksud, tapi tidak ada salahnya saya jelaskan tanpa bermaksud sok tahu, agar2 adik2/anak2 yang membaca posting saya ini tidak harus berlama-lama memahami.

Need adalah sesuatu yang kita butuhkan, yang benar2 kita perlukan, yang pemenuhannya harus segera dilakukan, tidak bisa ditunda. Sedangkan want, sesuatu yang kita maui, yang tidak harus kita penuhi sekarang, yang sifatnya “nice to have”.

Kalimat ini sering kali mampu menyelamatkan KEMAUAN saya atas barang2 yang sebenarnya tidak harus saya beli sekarang. Contoh ketika iPhone 4S diluncurkan, wahh…rasanya sudah gatal tangan ingin memiliki, tapi kemudian karena teringat kalimat itu, saya timbang2, saya cari2 justifikasinya (alasannya) apakah saya harus membeli sekarang atau tidak.

Saya bayang2kan apakah iPhone 4 yang saya punya sekarang sudah saya pakai secara optimal, apakah features terbaru 4S saya perlukan sekarang. Saya setiap hari lebih banyak menggunakan BlackBerry daripada iPhone karena layarnya terlalu kecil untuk browsing dan jarang pula main game, sehingga untuk kebutuha selain BlackBerry Messenger saya lebih sering menggunakan iPad. Setelah terombang-ambing antara beli dan tidak, akhirnya saya putuskan tidak membelinya.

Memang terus terang saja tidak semuanya mampu saya bendung, kadang2 ya kebobolan juga sih🙂, namun sebelum kebobolan, paling tidak di kepala saya terjadi peperangan antara si WANT dengan si NEED. Bukan asal beli saja. Jika tanpa guideline itu, saya yakin pasti bablas angine…seperti iklan obat masuk angin itu wkwkwk….

Kemudian pada saat iPad New diluncurkan, saya juga sudah kepingin sekali memilikinya, kemudian saya pikir2 lagi apa sih hebatnya dibandingkan dengan iPad 2 yang sudah lama menemani saya, apakah promosi feature2 dari Apple itu benar2 saya butuhkan, apakah retina display akan sering saya pakai? Saya lakukan research di internet plus minusnya, hingga akhirnya saya tidak jadi membelinya.

Namun ada beberapa hal yang saya rasa saya cukup berani untuk mengeluarkan uang antara lain adalah dalam urusan pendidikan anak, saya berani bayar mahal untuk itu, selain itu untuk buku, saya juga berani membayar mahal karena saya anggap ini sebagai investasi, makan dan pakaian seadanya saja🙂, sekali2 makan fine dining, tapi makan di wartegpun tidak masalah buat saya, pakaian juga seadanya asal enak dipakai.

Yang saya berani membayar juga, meskipun termasuk kategori WANT adalah gadget, nah disinilah prinsip yang sudah saya pegang itu berperan besar, biasanya dalam hal ini sering terjadi perang barata yudha antara si WANT dengan NEED di kepala saya wkwkwk….

Tapi terlepas dari kemenangan atau kekalahan NEED atau WANT di dalam keputusan saya membeli barang, akibat dari guideline ex-boss saya itu, saya jadinya harus benar-benar mencari justifikasi yang tepat sebelum saya membelinya, tidak asal comot dan bayar.

Tentu saja masing2 orang memiliki NEED and WANT yang berbeda-beda, kita sendiri yang bisa menjustifikasi mana yang terbaik bagi kita. iPad New mungkin WANT bagi saya, namun bagi orang yang kerjaannya mereview gadget2 baru, yang memperoleh penghasilan dari hasil review dia, iPad New adalah NEED.

Sehingga, jika menurut kita memang sesuai NEED kita, belilah berapapun harganya, namun kalau tidak jangan buang uang sesenpun juga.

Semoga guideline yang sederhana ini bisa membantu di dalam menghadapi promosi produk yang semakin brutal saja akhir2 ini …happy shopping🙂.

8 thoughts on “Spend as you need, not as you want.

  1. Like this guideline! Tapi buat saya sekali2 boleh lah pak menghadiahi diri sendiri dengan something that we want misalkan traveling. Bisa ditunda, tidak mendesak tp tetap pengen dilakukan hahaha…

  2. Horeeee…dpt 1 lg kalimat yg gampang diinget. Dr dulu sy slalu menerapkan prinsip “talk with data”. Skr dpt lagi “spend what you need, not what you want”. Ini bener bgt pak. Tp sometimes ada pikiran gini, sy dah kerja cape2 pengen bgt ngrasain beli brg yg saya suka, meskipun gk butuh. Sekali2 belilah yg agak mahal (sy termasuk yg ckp perhitungan n pembanding sejati klo soal harga). Kan dah kerja cape2 yg nikmatin hasil ya diri sendiri. Sekali2 gpp ya pak? Hehehehh….

    • Hahaha…kok mirip bener justifikasinya dengan Zuniani ya Jo wkwkwk… Ya itulah asal keywordnya gak lupa, “sekali-sekali” sebagai hadiah buat diri sendiri yang sudah bekerja 365x7x24 itu🙂.
      GBU

  3. Almarhum ortu selalu bilang seperti yg bapak bilang ,spent what you need , but not what you want , tapi masih ditambah lagi “apakah uang yg kukeluarkan sepadan dengan manfaat barang yg kubeli ?”.Alm. memang sederhana dan pelit buat diri sendiri , tapi tidak buat orang lain .Pakaiannya pun sederhana , jas nya cuma 1, walaupun kedudukannya orang no 2 di perusahaan tempatnya bekerja .Staf2 nya jauh lebih glamor. .Tapi hidupnya tenang , damai dan tidak pernah sakit , waktu mau meninggal juga dia cuma bilang sudah waktunya .sesudah ogah makan sehari.

    • Sorry for this late reply. Saya percaya Anda sangat beruntung telah memperoleh prinsip hidup yang luar biasa dari orang tua Anda. Semoga semakin sukses di dalam karier dan hidup Anda ya, Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s