Just be who you are.

Salah seorang ex-teman kuliah saya sangat gemar menggunakan barang2 bermerk, dari mulai dompet, ikat pinggang, sepatu hingga jam tangan, meskipun untuk membeli barang2 tersebut dia harus pontang panting pinjam sana sini atau bahkan dikejar-kejar tukang tagih dari bank penerbit credit card yang dia pakai🙂.

Malangnya setiap kali dia pamer, dompet, ikat pinggang atau jam tangan yang dia pakai, saya dan teman2 sama sekali tidak bisa mengapresiasi barang yang harus dia beli dengan susah payah itu. Jadinya setiap kali dia petentang petenteng dengan maksud untuk pamer, kami2 ini cuek2 aja, sampai akhirnya dia gak tahan sendiri dan menceritakan betapa mahal barang yang dia beli itu…hahahaha…kaciann deh…

Belajar dari pengalaman saya sebelumnya, ketika salah memilih espresso padahal maunya minum cappuccino itu, yang hanya gara2 sok tahu itu (baca tulisan saya: Espresso dan sikap sok tahu), saya kemudian tidak lagi berpura-pura sok tahu jika memang tidak tahu. Just be who I am.

Masih dengan CEO yang ada di cerita saya sebelumnya, namun kemudian menjadi boss saya pada tahun 1997- 1998 itu, saya suatu ketika diundang ke rumahnya untuk membicarakan beberapa rencana kerja kantor. Sesampainya saya di rumahnya yang besar dan asri di bilangan Jakarta Barat,  saya kemudian dipersilakan duduk.

Segera setelah saya duduk di sofa di ruang keluarganya yang menghadap ke taman belakang, saya ditawari minum teh. Beliau dengan penuh semangat mengatakan: “Eh Gun, kamu saya buatkan teh ya. Ini teh uenakkk sekali, pokoke kamu gak nyesel deh datang ke rumah saya sore ini. Ini teh super istimewa. Tunggu ya, saya seduhkan sebentar”

Saya hanya mengangguk sambil mengamati sekeliling rumahnya yang besar dan indah itu. Tidak berapa lama kemudian, beliau terpogoh-gopoh datang membawa sepoci teh berikut cangkir kosongnya. Secara hati2, seakan-akan takut tumpah barang setetespun, beliau menuangkan teh dari poci ke cangkir teh kosong di hadapan saya, dan setelah itu dengan wajah puas dia menyodorkan cangkir teh itu ke saya.

Saya menerima cangkir teh yang masih sangat panas itu, dan setelah meniup permukaan teh supaya tidak terlalu panas, saya pelan-pelan menyeruput teh yang dikatakan istimewa itu. Sruputtt…hmmm…istimewa apa ya…coba sekali lagi…sruputtt…kok rasanya “cea” ya (apa itu ya…ga berasa…tawar aja), saya coba lagi, dan lagi, dan lagi sampai habis, sembari dipelototi oleh ex-boss saya itu dengan wajah penuh harap saya akan mengucapkan kata-kata pujian atas kekhasan rasa teh itu.

“Bagaimana, Gun”, beliau akhirnya tidak tahan juga melihat saya kok gak komentar apa2.

“Hmm…”, bingung juga saya mau menjawab apa, karena memang tidak ngefek ke sayanya wkwkwkwk…dan setelah terdiam sejenak, sayapun menjawab sekenanya “Rasanya…eeee…kok lebih enak Teh Botol ya”. Beliau tertergun sejenak untuk kemudian  langsung mencak-mencak…wkwkwkwk…

“Lu…ahhh…kampungan banget sih… Itu Oolong Tea taukkk..”, ujar beliau gusar luar biasa. “Ini merk yang paling top. Lu tau gak ini teh yang ditanam secara istimewa dan hanya tiga atau empat pucuk daun tea yang telah dipilih secara khusus yang bisa dijadikan bahan teh ini. Ini sekaleng kecil ini harganya dua juta taukkk…”

Saya, yang memang sudah dekat dengan beliau, menjawab seenak jidat saya “Ya biar, mo lima juta kek, mo sepuluh juta kek , kalau gak enak ya gak enak” lanjut saya dengan wajah bloon… hahahahaha…. Mampus dah ex-boss saya…hahahaha…. Sampai sekarang kalau saya ingat wajahnya ketika itu, saya ngakak sendiri.

See, dari dua kejadian di atas, saya menyimpulkan, tidak ada gunanya pamer ke orang yang belum kelasnya untuk tahu. Mirip mengajak orang dari pedalaman yang belum pernah ke kota, ke butik seperti Hermes atau LV dan menyuruh mereka membeli tas tangan seharga 50 juta. Mereka pasti bingung kok ada tas tangan 50 juta🙂.

Atau sebaliknya, buat apa kita berusaha naik kelas lifestyle hidup kita, kalau memang belum waktunya. Tidak ada gunanya semua accessories berlebihan yang kita gunakan atau pamerkan jika orang sekitar kita, lingkungan kita tidak bisa mengapresiasinya. Meskipun kita membeli untuk dipakai sendiri, tapi masa iya gak untuk juga pamer sih, pamer status sosial kita sudah lebih tinggi gitu lho🙂.

Ada saatnya nanti kita berada di kelompok masyarakat yang bisa menghargai apa yang kita gunakan, kalau memang sudah tiba waktunya. Tidak perlu terburu-buru untuk naik kelas, apalagi kalau harus memaksakan diri untuk itu.

Banyak orang yang membeli segala kemewahan hanya karena gengsi, padahal sebenarnya belum saatnya dia membeli, sehingga dari body language, cara bicara dan sebagainya kita bisa tahu dia terlalu memaksakan diri. Alih2 orang terpesona dengan apa yg dia gunakan, malah jadi bahan tertawaan, jadi bahan gunjingan dan orang2 malah bisa2 mikir ahhh palsu semua yang dipakainya.

Tetapi sebaliknya, kalau memang sudah saatnya untuk menggunakannya, orang akan mengangguk-anggukkan kepala tanda terkesan. Malah pada  orang2 tertentu yang sudah terkenal, selebritas, pengusaha sukses yang kaya lama, bahkan barang palsupun jadi asli di tubuh mereka.

Saya pernah melihat seorang bapak2, yang dari penampilannya tampak seperti pengusaha, menggunakan jam tangan Rolex Daytona Everose yang harganya sekitar 30.000 USD, dan saya katakan ke istri saya. Istri saya hanya melengos, ahhh…apa bagusnya katanya, wkwkwkwk…

Coba sekarang bayangkan saya petentang petenteng di depan pembaca menggunakan jam tangan seperti di bawah ini, apa kira2 yang ada di benak pembaca sekalian?

Apakah kira2 pembaca akan terpesona dan mbatin: Wuihh gila kaya bener? Hebat bener? Keren bener? Atau sebaliknya mengguman : Jam apaan itu, kok jelek amat?

Bagaimana kalau saya katakan bahwa jam jelek di atas adalah jam tangan terkenal Audemar Piguet type Large Date Tourbillon? Nggak ngefek juga? Bagaimana kalau saya tambahkan harganya 235.000 USD (iya gak salah ketik, dua ratus tiga puluh lima ribu US Dollar) atau setara dengan 2011 Bentley Continental GTC Speed Convertible seharga 236.100 USD di bawah ini:

Bagaimana pula pendapat pembaca kalau saya menggunakan jam tangan berikut ini?

Mirip jam tangan anak2 yang sering ditemukan di emperan toko itu ya wkwkwkw….Jam tangan di atas adalah merk Ulysse Nardin type Minute Repeater Safari Jaquemarts, harganya hanya…. 405.000 USD… What???? Hehehe… yang bener??? He eh bener… hanya empat ratus lima ribu US Dollar, bukan Rupiah, sama dengan harga dua mobil berikut ini: 2011 Bentley Continental seharga 205.000 USD plus bonus 2012 Audi R8 seharga 200.000 USD

 

Terus bagaimana pula dengan yang berikut ini Vacheron Constantin seharga 760.000 USD

atau bisa dapat dua unit 2012 Lamborghini Aventador seharga 375.000 USD:

Dan jam tangan jelek ini:

Namanya mengerikan, semengerikan harganya Vacheron Constantin – Metiers d’art Lady Kala Flame  seharga 1.010.000 USD atau bisa ditukar 3 unit Lamborghini Aventador di atas wkwkkwk….

Jadi, janganlah terlalu berlebihan membeli accessories, ingatlah bagaimana lingkungan pergaulan kita. Kalau ngumpul sama saya, ya jangan pakai yang mahal2 lah, saya gak bakalan ngerti barang2 mahal begituan. Casio aja cukup wkwkwk… Saya mungkin malah bisa memberi komentar daripada pakai jam seperti di atas, terus ntar kalau saya bilang kok jamnya mirip mainan anak2 yang harganya 50 ribuan…sakit gigi dehh…kakakakak

Just be who you are, jangan niru2 orang2 yang memang sudah layak memperolehnya, yang kalau beli gak sakit perut dan tidak diuber-uber debt collector. Karena jaman sekarang iklan2 produk konsumen semakin mengerikan saja, rumah seharga puluhan milyar pake diembel-embeli HANYA sekian milyar, besok naik harga🙂. Jadi…sabar…sampai tiba saatnya…

Bagaimana pembaca yang baik? Apakah benar opini saya ini? Atau saya nih yang kurang pergaulan?

 

10 thoughts on “Just be who you are.

  1. Saya sangat setuju dg Pak Guntur untuk selalu menjadi diri sendiri, pada saat posisi saya cukup senior saya masih suka ke kantor dg naik motor bebek, ternyata anak buah dan kolega saya ada yg negor bahwa saya tdk bisa menghargai diri sendiri, padahal naik motor adalah menghargai waktu saya yg terbuang percuma dijalanan, akhirnya sayaharus stir mobil kekantor bukan karena trguran kolega saya, tetapi karena anak buah saya kecelakaan motor sampai kakinya patah dan bibirnya dijahit. Saya takut wajah yg sudah pas2an ini menjadi lebih jelek lagi kalau sampai harus dijahit. Jangan pamer pada orang yg belum levelnya gak ngaruh. Malah berabe dengan alasan ingin membahagiakan ibu satu2 nya orang tua yg masih hidup waktu datang ke jkt saya ajak makan kerestoran yg enak dan cukup mahal untuk ukuran saya tdk tau bagaimana sampai ibu sempat membaca bon makanan, tiba2 raut wajah beliau rada datar tdk seenjoy waktu makanan. Pas perjslanan pulang ditegur ibu “makan enak itu cuma dimulut Saja kalau sudah sampai tenggorokan sudah tidak ada bedanya”

    • Hahahaha…membaca pengalaman mas Juki dengan ibu, saya teringat pengalaman saya juga ketika mengajak kedua mertua saya makan di Taichan, Plasa Senayan. Ketika itu makanan Jepang belum menjamur spt sekarang, dan semangkuk mie Taichan itu masih termasuk sangat mahal.
      Jadi dengan pikiran menyenangkan si mertua, sayapun mengajak makan malam disana. Setelah selesai makan, dengan penuh harap saya tanya: “Bagaimana ma, enak gak?”
      Jawabnya “Enakan Indomie”
      Wakakakakak…hahahaha…wajah saya mungkin mirip ex-boss saya yang nawari saya teh Oolong itu wkwkwk…
      Minal aidzin wal faidzin mas Juki, semoga berkatNYA turun atas mas Juki dan keluarga.

  2. Kata-kata bijak dibawah ini mungkin cocok utk menjadi comment atas naskah diatas :
    1. Kenalilah dirimu (Socrates)
    2. Jadilah orang yang berbijaksana, biarkanlah akal, bukan nafsu, menjadi pembimbing hidupmu. (Kahlil Gibran)
    3. Masalahnya bukan apa yang anda miliki, melainkan apa yang bisa Anda lakukan dengan apa yang Anda miliki, untuk membuat perbedaan. (Anonim)

  3. kalo komentar saya…….. setujuuuu sama pendapat pak Guntur.
    Yaa.. kalo uang nya udah ngga ada digitnya (keakehan), baru oke lah beli-beli barang yang “nice-to-have”, memang mampu, dan mungkin secara life style dan lingkungan pergaulannya nya juga seperti itu, misal nya artis n pengusaha kuaaayaaaa rayaaaa. suka-suka dah.

    Lah tapi kalo kekayaan dari bapake sich……kalo sayaaa nich… hmmm tetep malu sih walo bisa pakai jam tangan Vacheron Constantin – Metiers d’art Lady Kala Flame seharga 1.010.000 USD.
    hihihihihihi

    Yang ngenes nya nich, kalo masih jadi kuli IT kayak saya gini, terus saya pake tas LV asli, terus ngumpul2 ama temen2 … boro-boro bisa pamer… jangan2 pada ngira nya itu tas LV ala MangDu or ala KasKus lagi :p wkwkwkwk

    Kebanyakan sih (sepanjang yang saya tau & saksikan dari beberapa teman saya), banyak yang maksa pakai barang mewah yang sebenernya belum mampu atau belum butuh, sedikit banyak karena pengaruh dari pergaulan nya, advertisement, dan promo2 cicilan 0% 12 bln ala kartu kredit :p dan yang bahaya itu adalah karena “gengsi”, ingin mendapat pujian, ingin dilihat bahwa derajat nya lebih tinggi.

    so, sebanyak apapun materi tetap hidup sederhana (napak bumi, ngga sombong/borju), hati senang, ngga punya utang, bisa bikin keluarga bahagia, punya jiwa sosial, mau melangkah juga ringan..😀 just be who you are.

    • Wakakakak….LV ala MangDu or ala KasKus wkwkwk…udah belinya susah2, pake antri segala kalau di Paris, eh dikatain dari MangDu. Sakittt yaaa hahahaha….
      Saya senang kalau kamu sejak muda sudah punya prinsip, jangan ikut2an karena iklan sekarang memang “kurjar”, kita yang gak butuh dipaksa beli juga🙂.
      Nice comment Pat🙂.

      • Wah, sebagai kuli IT pemakai tas LV, saya mesti ikut berkomentar nih😀

        It doesnt matter how much the price of things that we bought, as long as we like it, we use it and we could afford it🙂

        Menurutku, memang benar rata2 cewe doyan belanja (cowo jg kali yah klo berhubungan dg gadget😀 ), slama barangnya mampu dibeli gpp asal jangan sampe utang sana sini.

        Belanja bukan berarti harus untuk pamer ato menaikkan status lho, bisa juga karena butuh ato sekedar suka🙂 buktinya, byk yg beli smart phone, gak slalu karena gaya kan, bisa aj beli cellphone jaman dulu yg item putih, tetep bisa dipake untuk nelpon kq hihihi tapi by the end orang mulai butuh video conference, atau mengakses internet dari smart phonenya dan alesan2 lainnya

        Nah, kembali ke topik tas, dulu saya gemar belanja tas, kyknya tas gak pernah cukup2, saya beli beragam tas termasuk tas2 di mangdu😀 tapi bontot2nya, sebagai pengguna yg agak ceroboh terus tas suka diisi penuh2, tas2 ku suka rusak, terus beli baru lagi. Sejak pakai LV, saya gak pernah blanja2 tas lagi, karena tasku ini cocok untuk hampir semua event, terus kuat dan gak pernah rusak, benar2 berkualitas, jadi overall saya tidak menyesal sudah membeli tas ini

        Menurutku jam tangan juga begitu, klo beli yg abal2, biasanya batere cepet abis, ato jam tangannya cepet rusak, kulitnya gampang terkelupas. Klo memang sehari2 dipakai, ga ada salahnya beli yg bagusan dikit (tapi bukan berarti beli yg tll mahal ampe utang sana sini loh yah hehehehe).

        Dengan beli barang yg qta butuh dan berkualitas, menurutku malah lebih bagus karena mengurangi spend qta untuk beli barang2 yg kurang berkualitas walau jumlahnya banyak🙂

        • Good thinking Eva, ada satu kata kunci yang Eva tulis juga…as long as you can afford it…
          Kalau sempat kamu baca posting saya KEPUASAN BATIN, mungkin menjawab komentar Eva🙂.

          Betul belilah barang bermutu, yang sesuai kantong, jangan memaksakan diri karena ingin pamer🙂.

          GBU🙂

    • Hi Patty…. emangnya kalau pake yg Mangdu , apa ada orang yg bisa tahu itu made in mangdu? Kalaupun orang tahu, bilang saja gua mau nya yg mang paris cuman ngak mampu jadi gua beli yg mangdu aje.. lumayan juga…. masih bisa gaya namun kantong ngak kempesss…. Bisa beli dua lagi. Elu mau? Terus bilang begini…gua juga heran tuh… ada yg lebih murah , model persis sama, koq kenapa nyari yg mahal ya? Kalau kualitas pun ngak sama… yg pertama rusak…gua masih punya yg kedua.

      He he he… memang susah nya.society manusia.. derajat manusia itu masih suka diukur dari made in mangdu or made in ciamplas nya paris ….

      • Klo menurut saya Itu karena kita lihat dari sudut pandang customer pada umumnya, tapi klo kita liat dari sisi yang lain misal designers, cara mereka lihat sangat berbeda. result lain juga bisa berbeda dari segi ukuran waktu dan masyarakat.

        Contoh: Si A menggunakan tas merek D&G dan dia live in public.
        ternyata life scenario bisa berubah. tiba2x demam D&G dan merk mangdunya keluar.

        Pertama kali company paid si D&G dengan biaya sekian, lalu dia merancang design tas yang menurut mereka wah dan akan menjadi trend. anggap saja US$ 10.000 per unit. dan karena ada masyarakat lain yang tidak mampu dengan harga segitu baru value mahal itu kita rasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s