Worth trying activities you should try before you die: Yeeyy…My First Dive (5/6)

My First Dive

Pengalaman diving pertama saya adalah saat-saat yang sulit saya gambarkan, antara exciting dan sedikit rasa takut juga, karena semua proses di atas kami lakukan secara kilat. Semuanya hanya berlangsung sekali saja, tidak ada repetisi alias pengulangan. Padahal semua teori dan praktek diving ini banyak sekali yang merupakan hal baru bagi saya. Bahkan peralatan selamnya saja tidak ingat bagian2nya, mana yang untuk buoyancy, mana untuk kempesin BCD, mana yg untuk diisap dimulut, mana yang cadangan, bagaimana baca meter yg nempel, aduh komponennya banyakkk banget. Jadi begitulah kira2 perasaan saya saat mencapai lokasi tempat kami menginap di Mimpi Resort – Tulamben Bali.

Begitu sampai di lokasi, saya sempat terkejut dengan hotelnya. Hotel yang kami tempati, bukanlah seperti hotel2 yang biasa kami tempati kalau ke Bali seperti Ramada, Hard Rock, InterContinental, Holiday Inn Baruna atau apalagi Four Season. Hotelnya hanya berisi bungalow dan kamar2 plus resto di pinggir kolam renang yang menghadap ke laut. Kolam renangnya kecil seukuran 6 x 12 meteran. Dan dipinggir jalan menuju kolam berjejer tanki2 udara plus peralatan selam bergeletakan. Pemandangan yang tidak umum.

Yang membuat saya terkejut lagi adalah keesokan paginya ketika sudah hendak memulai penyelaman. Kolam renang itu penuh dengan orang yang berenang menggunakan pakain selam beraneka warna, ada juga yang sudah memasang seluruh peralatan renang berikut tanki udaranya, mereka semua nyemplung seenaknya di kolam renang. Ada juga yang baru selesai menyelam dari pantai, begitu sampai hotel, langsung nyebur juga ke kolam. Jadi kolamnya penuh orang yang di mata saya berpakaian aneh2🙂.

Saya sempat tertawa sendiri membayangkan jika ada sepasang pengantin baru yang hendak honey moon, kebetulan salah pilih hotel ini, dan menganggap hotel ini seperti hotel2 lain, kemudian ketika pagi hari ingin berenang, kolamnya penuh dengan manusia aneh dengan peralatan2 macam2 membasahkan diri di kolam itu🙂. Hmm…pasti binangun dah si pengantin baru..

Selain itu, setiap beberapa saat, berombongan orang dengan pakaian selam berbaris menuju pantai didahului atau diikuti oleh kuli2 pengangkut tanki2 udara yang kebanyakan dilakukan oleh ibu2/anak2 penduduk setempat. Mereka mengangkut 2 – 3 tanki udara di atas kepala mereka, atau tanki berikut BCD yang beratnya kurang lebih 15 – 17 kilogram itu. Mereka dengan santainya, tanpa menggunakan alas kaki, berjalan di pantai yang penuh batu2 sebesar kerikil, kepalan tangan hingga kelapa itu. Wah luar biasa sekali…Dan itu terjadi hampir sepanjang hari hingga malam hari (night dive). Kebanyakan adalah divers asing, baik orang Asia maupun bule.

Entry dan Exit yang membuat frustasi

Kami yang masih pemula ini, sangat beruntung dilayani oleh kuli2 angkut itu, sehingga tidak perlu repot2 membawa seluruh peralatan yang berat minta ampun itu melalui hamparan bebatuan menuju bibir pantai. Kami tinggal menggunakan wet suit dan boots dari hotel, nyemplung bentar di kolam, kemudian sambil menenteng mask, snorkel, dan fin menuju tempat kuli2 itu meletakkan BCD dan tanki. Berikutnya kami mulai memakai pemberat yang waktu itu saya gunakan 5 kilogram, memakai BCD yang sudah dipasangi tanki udara, memasang mask, kemudian sambil menenteng Fin mulai menuju air laut.

Berjalan di pinggiran pantai berbatu itu dengan berat badan yang sudah overweight ditambah peralatan selam yang puluhan kilo bukanlah merupakan impian saya di dalam acara diving ini. Sungguh, benar2 tidak terbayang sulitnya. Karena boots saya dasarnya tipis, dan saya tidak pernah latihan refleksi dengan menginjak batu2 seperti yang sering kita lihat di taman2 itu, maka telapak kaki rasanya sakit luar biasa. Wuah sambil meringis-meringis menahan siksaan reflexology dadakan ini, saya menuju air yang cukup berombak.

Sesampai di air, batu2an yang kami injak sudah berbeda dengan di pinggir pantai, batu2an yang di air besar2 dan licin, sebesar buah kelapa gitulah. Jadi saya selain harus menahan beban supaya tidak terjengkang ke belakang juga harus berusaha supaya tidak terpeleset, namun semua usaha ini gagal karena si ombak yang kurang ajar itu juga rupanya tahu kalau saya masih rookie. Jadi sementara saya kepleset dan terguling-guling karena diayun-ayun ombak pantai, ditambah kepala ditempeli mask dengan snorkel bergelantungan dan badan penuh pemberat, BCD dan tanki, saya masih harus memasang Fin😦. Duhhh…rasanya pingin udahan aja… Enak di hotel aja baca Koran sambil berjemur…ergghhh…

Sedangkan di darat saja susah membungkukkan badan, apalagi di pinggir pantai dengan ombak yang kurang ajar begitu. Jadilah saya terguling-guling sembari minum POCARI SWEAT asli dari laut, terbalik-balik berusaha memasang Fin🙂. Wuah… I really hate this part. And also another part, yaitu pada saat EXITnya juga sama seperti ini, hanya bedanya kalau ENTRY nya masang Fin, kalau EXIT melepas Fin. Sama saja gilanya dah.

Setelah Fin terpasang, dengan tanpa berkeringat, karena gak bisa berkeringat di laut🙂, dan nafas tersengal-sengal, saya mulai membenarkan letak mask, memasukkan regulator ke mulut dan mulai bernafas dengan mulut. Hmmm….ini juga satu hal yang sangat berbeda dengan latihan di kolam. Kalau di kolam kan airnya tenang, maka kita dengan damai memasukkan regulator ke mulut, sedangkan di laut yang berombak begitu, memasukkan regulator ke mulut selalu dibonusin air laut. Haiyaa…

Pada kondisi dimana badan sedang terayun-ayun oleh ombak pantai, dan beberapa kali terjengkang / terguling karena hantaman ombak, dan posisi berdiri yang tidak firm karena kaki sudah terpasang Fin, plus nafas masih terengah-engah, kita disuruh menutup hidung dengan mask. Padahal kan semestinya semestinya kita justru butuh hidung untuk menarik nafas sebanyak-banyaknya. Edan ! Tapi ya karena disuruh instruktur, ya nurut lah🙂. Mask kami pasang, regulator kami gigit, dan mulai bernafas dengan mulut. Kemudian kami digiring ke agak ketengah agar bisa tenggelam.

Untuk bisa tenggelam kita perlu mengempeskan udara di BCD kita, barulah badan bisa tenggelam. Setelah badan dan kepala mulai di dalam air, tiba2 muncul sedikit rasa panic karena kita tidak terbiasa dengan situasi sekeliling kita. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kondisi di atas tadi, yang mana pikiran dan nafas masih kacau balau, kita sudah harus segera masuk air.

Untuk beberapa saat saya tidak bisa mengontrol nafas, sehingga bebeberapa kali kacau menarik dan menghembuskan nafas dari hidung. Selain itu karena tubuh mulai tenggelam, telinga mulai sakit karena tekanan air. Jadi lengkap sudah, pikiran kacau, nafas kacau, telinga sakit😦. Namun untunglah masih ingat pelajaran di kolam bagaimana mengatasi tekanan air, jadi saya pencet hidung dan meniupkan ke telinga sehingga berbunyi “ngikkk” dan lepaslah tekanan tersebut.

Setelah saya mulai menginjak dasar laut, instruktur saya mengajarkan lagi beberapa praktek seperti membersihkan mask dari kabut, yaitu dengan sengaja memasukkan sedikit air ke mask, menggoyang2 mask supaya bersih, dan meniupkan udara melalui hidung ke mask supaya air tadi keluar. Hal ini sebenarnya sudah kami lakukan di kolam, namun di laut tentu berbeda, karena ketika kita mamasukkan air laut ke mask, mata terasa pedih, pedih sekali, karena uap air laut. Kemudian kami juga diajarkan beberapa praktek lain seperti melepas dan memasang pemberat/bcd/regulator, menggunakan kompas dll.

Continue…Under The Sea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s