May We Live a Beautiful Life… (2/3)

Pertanda ketiga:

Tanda ketiga adalah ketiduran ketika sedang menonton TV. Seumur-umur saya selalu disiplin kalau ingin tidur, sikat gigi dulu, beberes ranjang dulu, baru tidur. Tidak ada dalam kamus saya tertidur dalam keadaan tidak siap tidur, misalnya TV atau lampu kamar masih menyala, atau notebook masih hidup atau buku/Koran tergeletak di dada. Namun kebiasaan engkong2 ini sudah bebeberapa kali saya alami tanpa saya sadari. Kelelahan sepulang kantor tidak bisa saya tahan seperti ketika kita masih berusia di bawah 40.

Pertanda keempat

Tanda keempat adalah hasil pemeriksaan darah yang semakin buruk hasilnya. Saya cukup rajin memeriksakan darah saya, meskipun kadang2 bisa sampai 6 bulan atau setahun “lupa” memeriksakannya, tapi saya pasti memeriksakan darah saya. Ketika masih di bawah 35, seingat saya raport saya masih hijau kemudian seiring meningkatnya usia ada beberapa merah, dan sekarang merah semua😦.

Rata2 SGOT, SGPT, Asam Urat, Cholesterol, Trigliserida dll semuanya merah, bahkan Gula darah yang tidak pernah merahpun sekarang merah sedikit. Hmmm….ketika saya tanyakan ke dokter kenapa begini, padahal pola makan saya tidak ugal2an dibanding dengan beberapa teman saya di bagian marketing, jawabannya simple “Onderdilnya sudah tidak seperti dulu pak. Sudah mulai banyak yang aus. Tapi gak usah khawatir rata2 orang seusia Bpk pasti bermasalah di bagian2 ini”. Aduh mak…onderdil rusak…kemana nyari sparepart penggantinya ya? Sayang di bengkel2 sepeda motor deket2 rumah ga ada menyediakan service ginjal, empedu, usus dlsb.

So setelah mengalami sendiri, dan juga dialami oleh teman2 seumuran saya, saya mulai berpikir untuk hidup sehat, meskipun agak terlambat I wanna start a better life NOW. Tapi tidak seperti kakak perempuan saya yang tidak menjelaskan perubahan2 psikis di atas, saya menceritakan latar belakang perubahan psikis ini sehingga kalian, adik2 dan anak2ku, agar tidak terlambat mengatasinya.

Mengapa saya katakan kalianpun bisa terlambat kalau tidak segera aware sedari muda?

Karena saat ini sudah banyak sekali professional muda yang hasil pemeriksaan darahnya sudah bermasalah padahal umurnya masih sangat muda. Kok bisa? Karena jenis makanan sekarang, yang sebenarnya lebih banyak ‘racunnya’, bermunculan bak jamur di musim hujan. Semakin banyak saja makanan olahan / campuran bahan kimia yang kita konsumsi tanpa kita tahu akibatnya bagi tubuh kita. Dulu sayur ya dari tanah, sekarang ada aerophonic, ada organik, ada robotic juga kali🙂.

Rasa sudah bisa dimanipulasi menggunakan bahan2 kimia. Bumbu rasa yang ada di dalam bungkus mie Instant yang sangat digemari anak2 hingga kakek2 semuanya terbuat dari campuran bahan kimia. Kue2 yang warna-warni, yang membuat air liur menetes, mengandung pewarna yang berbahaya bagi tubuh. Daging berformalin, sayur dan buah2an mengandung insectisida bahkan ikan yang seharusnya paling aman dikonsumsi juga terpapar bahan beracun akibat polusi dari daratan😦.

Hal di atas belum lagi ditambah tekanan stress karena tuntutan keluarga/lingkungan dan munculnya kebutuhan2 yang semestinya belum perlu namun karena teman2 lain sudah memiliki terpaksa memaksakan diri mengkuti. Sehingga muda2 sudah stress, rambut sama putihnya dengan saya.

Salah satu pacar dari teman saya, yang juga suka membaca tulisan2 saya, memperoleh hasil pemeriksaan darah yang sangat buruk diusianya yang masih sekitar 25 an. Ketika saya tanya kenapa kok bisa buruk begitu? Alasannya sederhana, karena pola makan yang tidak karu2an. Karena ybs menduduki posisi marketing di sebuah bank besar, sehingga mau tidak mau harus “rajin” mentraktir client atau calon client di resto2 yang asoi geboy makanannya. Akibatnya SGOT, SGPT, Trigliserida dan Cholesterolnya langsung melompat kezona merah, padahal umurnya baru 25 an. Lha kalau umur 25 an sudah hancur lebur begitu, bagaimana 20 tahun lagi ya? Kalau ybs tidak mengubah pola makan dan mengatur pola hidup yang bener, I don’t know what will happen at the golden age.

Tahun lalu ketika saya mengucapkan selamat ulang tahun ke ibu mertua saya di Jember sana, saya mengatakan begini “Selamat ulang tahun, Ma. Semoga Panjang Umur”. Ini adalah ucapan klise yang biasa kita ungkapkan ke orang yang berulang tahun. Namun jawabannya membuat saya terdiam “Terima kasih ya atas ucapan selamatnya. Tapi Mama lebih senang kalau didoakan Sehat Selalu. Karena percuma saja kalau panjang umur tapi tidak sehat”. Blegerrr….saya seperti orang bego begitu mendengar kalimat yang penuh makna ini.

Umur 120 tahun, tapi seumur hidup tidur di ranjang karena sakit, buat apa ya, mending langsung berangkat menghadap YME daripada puluhan tahun harus terbaring sakit, atau bolak balik di ‘edel-edel’ dokter di ruang operasi atau bolak-balik setor ke dokter. Percuma juga punya harta benda dan uang melimpah kalau akhirnya habis di rumah sakit atau dokter. Hmmm….mudah2an kita semua diberi kesehatan yang prima. Amin.

So, capek dengan kelelahan yang saya alami setiap hari maka saya mulai concern dengan tubuh yang satu ini. Meskipun agak terlambat tetapi saya percaya tidak ada kata terlambat untuk memulai hidup sehat kan? Namun bagi adik2ku/anak2ku yang kebetulan membaca tulisan saya ini, cobalah “memaksakan” diri mengubah pola makan dan hidup sehat.

Continue to Part 3…

One thought on “May We Live a Beautiful Life… (2/3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s