LASIK: Not for everyone!!… At least not for me… (4/6)

Setelah kedua flap cornea mata saya terbuka, tanpa memindahkan badan saya, dokter menarik alat LASIK di sebelah kanan saya, kemudian memasang ke mata kiri saya. Setelah memberitahu saya bahwa akan ada bunyi ‘tet tet tet…’ dokter mulai memasang alat tersebut, saya hanya melihat secara kabur ada seperti titik2 lampu di kejauhan kemudian terdengar bunyi ‘tet tet tet…’ dan bau hangus seperti rambut terbakar, dan dalam hitungan kurang dari 15 detik mata kiri saya sudah selesai diLASIK. Kemudian dilakukan procedure yang sama untuk mata kanan.

Setelah itu dokter menetesi mata saya dengan antibiotic dan menutup flap cornea saya, meratakan flap cornea mata saya, melepaskan semua yang menempel di mata dan selesai.

That’s it !!! Very simple, dan hampir tidak terasa apa2.

Saya rasa seluruh proses dari saya berbaring hingga selesai operasi hanya perlu waktu sepuluhan menit saja, sangat cepat. Dan selama proses itu, pengunjung yang berada di ruang tunggu bisa melihat prosesnya.

Setelah itu dokter memberikan waktu sebentar ke mata saya untuk beradaptasi, kemudian saya disuruh duduk dan melihat ke jam dinding. Secara jelas namun sedikit berkabut saya sudah bisa membaca angka2 nya.

Saya kemudian digiring keluar, sekali lagi mata saya ditetesi dan diberikan obat tetes antibiotic untuk dibawa pulang dan digunakan hingga habis. Kemudian saya diberikan juga beberapa obat tetes lainnya untuk saya gunakan selama dua minggu ke depan. Saya juga diberi penutup mata agar supaya pada saat tidur, saya tidak secara sengaja “mengucek” mata saya. Dan kacamata hitam karena untuk beberapa saat, mata saya akan sangat sensitive terhadap cahaya.

So that’s it.

Nah, ketika duduk di mobil di dalam perjalanan pulang, saya dengan perasaan penuh antusias mulai mencobai peralatan saya yang baru di “enhance “ ini. Meskipun dengan sedikit kabut, saya sudah bisa melihat dan membaca tulisan2 yang berada dalam jarak yang tidak bisa saya jangkau sebelumnya. Saya coba tolah toleh kesana kemari.  Memang belum mantap betul karena adanya kabut dan sangat sensitivenya mata saya akan cahaya, namun paling tidak saya tidak buta🙂.

Dan kemudian saya mintalah Blackberry yang saya titipkan di dompet istri saya selama operasi tadi, dan saya mencoba membacanya. Tidak terbaca! Saya coba kejap-kejapkan mata saya, tidak terbaca juga! Berulang kali saya coba, mendekatkan dan menjauhkan, SAMA SEKALI TIDAK TERBACA!

Waduhhhh lha kok bisa jadi begini????

Saya pakai kacamata minus saya, yang ada plusnya di bagian bawah, sama saja. Saya mulai agak gelisah, apakah ini permanen atau hanya karena baru operasi? Selama perjalanan itu saya mencoba mata baru saya untuk mengamati object2 dekat, dan semuanya menjadi kabur. Koran, buku, iPad, notebook semua tidak terbaca, hanya terlihat. Setelah mencoba-coba tanpa hasil, akhirnya saya hanya bisa berharap bahwa hal ini hanya karena efek sesaat sehabis operasi, besok pagi pasti akan lebih baik.

Sejak itu hingga sampai di rumah pikiran saya hanya dipenuhi kekhawatiran saya tidak bisa membaca lagi. Tadinya saya pikir, saya tetap bisa membaca, namun saya hanya perlu mendekatkan atau menjauhkan objectnya seperti rekan2 atau senior2 saya yang lainnya. Namun baik saya dekatkan maupun saya jauhkan sepanjang ujung tangan saya, tetap tidak bisa terbaca.

Keesokan paginya, begitu bangun tidur, yang saya ambil pertama adalah BB saya. Saya benar2 penasaran dengan ketidakmampuan mata saya membaca dekat. Saya coba membaca keyboardnya, dan….NIHIL. Saya tidak bisa membacanya. Saya dekatkan dan saya jauhkan sama saja. Saya masih berpikir ini sementara, mungkin karena baru bangun tidur.

Saya cuci muka, mandi, makan pagi dlsb kemudian saya berangkat kantor. Selama di perjalanan, saya yang biasanya pasti membaca Koran atau browsing atau membalas BB teman2 saya, kali ini sama sekali tidak bisa melakukan apa2. Saya masih berharap mata saya akan kembali membaik. Sesampai di kantor, seperti biasa, saya disodori dokumen dan cek2 untuk saya tanda tangani, dan saya kembali tidak bisa melakukannya😦. Saya tunggu sampai siang, sama saja hasilnya. Ketika hingga sore hari, hasilnya tidak membaik, sayapun langsung ke optic di mall terdekat dan mencari kacamata PLUS sesuai ukuran yang sudah diresepkan dokter mata, saya coba membaca, barulah semuanya tampak jelas.

Keesokan harinya saya masih berharap bahwa kemampuan membaca saya membaik tanpa harus menggunakan kacamata PLUS, namun sia2. Saat saya mengetikkan notes ini, berarti sudah dua tahun saya berharap tanpa hasil, si kacamata plus tetap melekat di wajah saya, hanya bedanya kalau dulu kacamata minus digunakan lebih dekat pipi kita, kalau kacamata plus digunakan di ujung hidung…hehehe. Yah seperti kalau dulu kecil kita suka guyonan, orang yang menggunakan kacamata plus, mirip professor2 itulah.

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s