Kejar Setoran

Sejam yang lalu seorang sahabat saya menelpun, membatalkan rencana pertemuan kami pagi ini. Dia meminta maaf karena matanya bengkak sehabis operasi katarak yang semestinya hanya berlangsung lima belas menit.

Hari Rabu minggu lalu ketika dia mengkonfirmasi pertemuan kami hari Sabtu ini, saya sudah mengatakan keraguan saya apakah yakin sudah sehat kembali. Lha dia sendiri mengatakan bahwa hari Jumat kemarin dia ada operasi katarak. Namun ketika itu dia dengan percaya dirinya mengatakan bahwa operasi katarak cuma perlu 15 an menit, dan dia sudah pernah mengalami di mata kirinya, lagian sudah beberapa kali dia mengantarkan orangtua dan paman/tantenya operasi katarak. So, it should be a very simple operation.

Ternyata pagi ini dia memberitahukan bahwa mata kanannya bengkak. Dia mengatakan operasi yang seharusnya kecil itu tidak berlangsung dengan baik. Ketika dokter sedang membedah matanya, si dokter dengan nada santai mengatakan “Wah ini cornea nya sudah hancur ini. Harus diangkat ini, bagaimana pak?”, sembari meminta persetujuan ke teman saya yang shock mendapat pertanyaan seperti itu. Sementara pikiran masih belum jernih karena shock dan obat bius, teman saya mengiyakan saja apa yang dikatakan dokter tanpa tahu akibatnya.

Setelah itu dia merasakan sakit luar biasa di matanya, tidak seperti operasi katarak yang pernah dijalani sebelumnya. Ternyata bola matanya dijahit manual, tanpa laser seperti layaknya operasi katarak modern.

Yang paling parah adalah ketika selesai operasi dia baru menyadari bahwa yang dimaksud dengan pengangkatan cornea artinya dia tidak memiki cornea lagi, alias buta😦. Segera dia mengkonfirmasi hal ini ke dokter mata ybs, dan dokternya dengan enteng mengatakan “Ya, tidak ada bedanya. Memang harus begitu, lagian retinanya sudah sebagian mengeras, ”. Lohhh….

Lohh…lohhh…lohhh…. Gila bener. Padahal tanpa operasi katarak ini, paling tidak maka kanannya masih bisa melihat hingga 50 -75%, sekarang dokter mengatakan tidak akan bisa melihat sama sekali😦.

Untuk keputusan yang sepenting itu, dokter menanyakan keputusan kita sambil lalu, dalam kondisi kondisi kita tidak siap dan yang parah tidak memberitahu apa implikasinya terhadap kita. Padahal sebelum proses operasi dilakukan, sederetan pemeriksaan sudah dilakukan dengan seksama dengan biaya yang sangat mahal. Namun tidak ada sepatah katapun dari si dokter yang mengindikasikan bahwa operasi akan bermasalah.

Teman saya bercerita pada saat awal dokter mengoperasi matanya, dia masih bisa berbincang-bincang, dan si dokter sempat mengatakan bahwa dia dalam sehari bisa mengoperasi 18 pasien. Hmmm…luar biasa, delapan belas pasien sehari. Benar-benar kejar setoran…persis seperti yang saya alami beberapa tahun lalu ketika mata saya di Lasik.

Tanpa analisa yang mendalam dokter langsung melakukan operasi dan yang paling parah adalah tidak memberitahuan apa implikasi tindakannya ke pasien. Semua dilakukan tergesa tanpa memikirkan bahwa sedikit kesalahan analisa / tindakan mereka ditanggung seumur hidup oleh pasiennya😦.

Mereka tidak menyadari pada saat kita ke dokter, nasib kita 100% ada ditangan dokter, apapun yang mereka katakana akan kita iyakan. Apalagi pada saat sudah di meja operasi. Seharusnya dokter menganalisa dengan teliti hasil pemeriksaan pasiennya seakan dia akan membedah dirinya sendiri sehingga tindakan dadakan seperti itu bisa dihindari.

Saya akan me-repost apa yang pernah saya alami dengan proses Lasik mata saya, supaya pembaca sekalian lebih mengerti sebelum melakukan sesuatu terhadap asset paling berharga di tubuh kita ini.

Saya mempost ini agar kita selalu meminta second opinion dari dokter lain sebelum melakukan tindakan berbahaya atas beberapa organ tubuh kita yang sangat berharga. Kalau hanya flu atau batuk ya salah2 dikit tidak apa2lah tapi jangan atas mata, ginjal, jantung dll.

Lebih baik bersikap paranoid dehh daripada nyesel seumur hidup…

*) Picture taken from sim

8 thoughts on “Kejar Setoran

  1. saya mau menambahkan, dokter lokal punya satu kekurangan vital yaitu sangat malas menjelaskan. mertua saya juga melakukan operasi katarak. ketika konsultasi sebelum tindakan dokter tidak menjelaskan apa itu katarak, dan tindakan yang akan dilakukan untuk menyembuhkan katarak tersebut. hanya satu kalimat saja yang disebut. “operasinya hanya 15 menit saja”. dengan nada sombong dan anggap remeh.
    berbeda sekali ketika suami saya cek pembuluh darahnya yang tersumbat di singapore, dokter bahkan menggambarkan jantung disecarik kertas agar suami saya mengerti apa yang namanya tersumbat, dan impactnya. lama konsulatsi mencapai hampir 1 jam. seperti dosen memberikan kuliah. sehingga kami mengerti penyakit apa sebenarnya yang diderita suami saya.
    saya tidak berharap dokter lokal memberikan konsultasinya selama itu, hanya saja yang basic harus tetap harus dijelaskan ke pasien, karena dokter kan yang ngerti, pasien adalah orang awam, jangan anggap pertanyaan pasien sebagai pertanyaan bodoh dan dijawab dengan nada sebal.
    suatu kali suami saya kejang perut sampai demam tinggi, sampai akhirnya diopname di salah satu rs swasta. dari awal masuk sampai keluar kami tidak tahu penyakit apa sebenarnya suami saya, padahal sudah dicek seluruh badan, rontgen, ambil darah setiap hari, dan pembiakan kuman. kalau tanya dokternya selalu sepertinya mau marah marah. memang dokternya terkenal galak. walah, kok bisa terkenal karena galak, bukan karena kehebatannya ya, lucu. jawabnya. ” ya karena ada infeksi”. tapi infeksinya dimana? karena apa, sampai sekarang masih merupakan misteri. kami habis 8 juta pada saat itu. tanpa tahu penyakit apa dan apakah bisa berulang lagi. saat itu tahun 2010.
    dokter lokal memang selalu kejar setoran, ya kualitasnya tidak ada. wong mainnya grosiran. sampai sekarang ketemu banyak dokter ya memang tidak ada satupun yang benar benar seperti dokter ya. kalau penyakit ringan ringan ya boleh lah berobat disini. tapi kalau yang ada resikonya ada baiknya di luar negri saja. di penang, Malaysia misalnya biayanya tidak semahal singapur, kualitas dokter nya lebih baik dari dokter lokal.

    • Hahahaha… memang betul apa yang Anda ceritakan di atas, secara umum dokter lokal sudah terkenal kurang informatif, meskipun tentu ada dokter2 yang seperti Anda ceritakan di Singapore itu.

      Saya rasa kemungkinan besar ya karena kejar setoran itu, sementara dokter di Sing katanya dibayar fix bulanan. Jadi pasien banyak atau sedikit sama saja. Sedangkan disini ada Rumah Sakit mata yang dibangun oleh beberapa dokternya. Lha kalau kita ke RS itu, apa gak jadi sapi perahan🙂.

      Kacian deh ya kita ini.

      Salam

  2. oh ya sekarang. mata mertua saya sedang bengkak tetapi untungnya tidak sakit. mungkin allergi obat tetes mata yang mengandung antibiotik. tapi minum obat allergi juga tidak kempes kempes tuh mata. jadwal pemeriksaan dokter berikunta adalah hari kamis ini. kita lihat saja dokternya jawab apa lagi? paling juga mungkin alergi lagi….. pusing deh.

    • Hahahaha…sabar sabarr katanya orang sabar disayang Tuhan🙂.

      Ya begitulah menghadapi dokter di Indo, ususnya kudu tebal🙂. Dan kadang kudu nekat nanya meskipun wajah dokternya sudah dilipat delapan🙂. Lha wong kita mbayar kok🙂.

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s