Sukses itu Apaan Sih?

Pada beberapa kesempatan ketika saya sedang mengajar training Basic Mentality, training yg wajib diikuti oleh seluruh karyawan di perusahaan saya,
saya memperoleh pertanyaan yang tampak sangat mudah ini: Apakah bapak merasa sudah sukses?

Mudah kan pertanyaannya? Namun untuk memberikan jawaban yang tepat, perlu hampir setengah abad bagi saya pribadi memahami hakekat sukses itu.

Hmmm…suksess??

Saya biasanya selalu iseng menjawab pertanyaan ini dengan bertanya kembali: Lha emang menurut kalian sukses itu apa?

Nah lho, mereka biasanya malah bengong sendiri. Orang ditanya kok malah nanya balik. Tapi karena saya yang jadi guru di depan kelas, ya kudu nurut toh ya🙂.

Beberapa menjawab: “Sukses adalah jika saya bisa mencapai apa yang saya inginkan/cita2kan”. Ada pula yang menjawab: “Sukses itu kalau sudah punya uang banyak, rumah bagus dan mobil mewah.” Atau ada pula yang menjawab: “Sukses jika sudah bisa membahagiakan orang tercinta, bisa kemana-mana tanpa mikir (lohhh….kalau gak mikir kan bisa kesasar ya :)), dan ada pula yang iseng mengatakan telah sukses jika sudah beristri banyak hehehehe….belum tahu dia🙂.

Seratus kepala bisa beragam jawaban. Namun secara umum pengertian sukses lebih dikaitkan dengan jabatan atau materi. Sering kita dengar orang mengatakan: “Gila, dia sukses banget sekarang, mobilnya aja Ferrari, rumahnya bak istana, jabatannya Presiden Direktur PT. Ginal Ginul, istrinya bekas Ratu Kecantikan, anaknya pinter2 seperti Albert Einstein, pembantunya bekas Pramugari, supirnya bekas juara Body Builder etc etc”. Semua berhubungan dengan materi.

Apa pernah mendengar orang mengatakan:” Wuikk, gila lho si Donny itu sukses bener, rumah dia tuh pake gedek loh, terus kemana-mana naik angkot sampe beberapa kali kecopetan, orangnya bodo dlsb dlsb…..”. Hehehehe…..gak pernah kan?

Pandangan mengenai sukses yang selalu dikaitkan dengan pencapaian jabatan dan materi ini sudah merupakan rahasia umum, termasuk pula pandangan saya.

Sehingga pada saat awal saya memasuki dunia kerja, saya sering silau dengan orang2 seperti ini. Orang yang berpakaian rapi, ganteng, cantik, dengan mobil mewah, jam tangan mahal dengan bau badan yang harus semerbak. Saya pikir itulah ukuran sukses. Saya ingin seperti itu, bisa petita petiti kesana kemari. Pokoke saya ingin seperti mereka.

Namun sepanjang hidup saya sebagai professional, saya sering berhubungan dengan ratusan bahkan ribuan orang semacam itu. Saya perlahan-lahan semakin terbiasa dengan hal-hal yang berbau materi itu, sehingga saya sudah tidak menjadi silau lagi, dan saya mulai bisa melihat gambaran yang sebenarnya dari manusia2 yang tadinya terbungkus oleh materi itu.

Bahkan semakin lama saya bergaul dengan beragam manusia yang menyilaukan ini, semakin saya menyadari bahwa justru semakin kaya seseorang, semakin sederhana cara berpakaian dan lifestyle mereka.

Nah…kok tidak seperti yang saya bayangkan dahulu ya.

Mereka yang sudah lama berhasil secara materi, sudah tidak perlu lagi menampilkannya dalam segala bentuk kemewahan, mereka lebih banyak menampilkannya dalam bentuk tindakan, membuka lapangan kerja, membangun sekolah dan rumah sakit, melakukan hal2 yang bersifat “charity”.

Justru yang baru kaya atau setengah kaya yang suka petita petiti dengan mobil2 supermewah, jam tangan bertahta berlian dlsb. Justru OKB ini yang lebih sering tampil berlebihan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar dibenak saya. Jika ada dua orang superkaya, sama2 sukses, sama2 kaya materi, sama2 memiliki segalanya, apakah dua2nya sama suksesnya?

Sementara yang satu menghambur-hamburkan uangnya untuk kesenangan pribadi, sedangkan yang satunya menghamburkan uangnya dalam kegiatan2 sosial. Apa dua2nya sama suksesnya ya ?

Mana yang lebih sukses??

Pada saat saya mengikuti city tour di Paris, tour guide saya menunjuk salah satu hotel yang paling mahal di Paris.

Dia bercerita bahwa di hotel itu pernah menginap seorang mahabintang film Elizabeth Taylor dengan menyewa 4 kamar dengan tariff 3.500 poundsterling semalam (berarti lebih dari 50 juta rupiah per malam). Luar biasa kan? Tapi itu belum apa2, yang luar biasa adalah 3 kamar lainnya dipakai oleh 3 ekor anjing si Taylor🙂.

Saya tertegun mendengar cerita si Tour Guide, hah…3 kamar untuk 3 anjing? Dasar edan… Saya jadi bertanya-tanya, orang kalau sudah terlalu kaya, mungkin malah bingung membuang uangnya ya? Tapi apa dia ingat kalau jutaan orang gak bisa makan? Apa yang sudah dilakukannya untuk itu?

Untuk contoh yang lebih riil, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri seorang pengusaha/professional menghabiskan 1.2 milyar hanya untuk sebuah jam tangan. Namun ketika saya minta ikutan nyumbang ke panti asuhan, jawabannya “mbulettt” seperti benang kusut😦. Sementara teman saya yang hidup sederhana, merogoh kantongnya dengan enteng, tanpa ba bi bu menyerahkan uang ke tangan saya.

Jadi apa sih makna sukses itu?

Memiliki jabatan dan harta benda berlimpah namun hanya untuk dirinya sendiri, itukah yang disebut sukses? Atau tidak memiliki apa2 secara materi, tetapi bermakna banyak bagi orang lain, itu yang dinamakan sukses??

Saya tidak berani menyimpulkannya bagi para pembaca. Tetapi bagi saya pribadi, setelah sedemikian lama menghadapi berbagai macam type orang, saya menetapkan arti sukses bagi diri saya sendiri sebagai berikut: Sukses adalah jika seseorang di dalam hidupnya secara optimal berguna bagi orang lain, bermanfaat bagi orang, menjadi berkat bagi sesama.

Saya tidak peduli seberapa kayanya seseorang, jika dia tidak berguna bagi orang lain, she/he is nothing for me. Namun sebaliknya, meskipun seseorang hidupnya sederhana, namun dia di dalam kekurangannya selalu menolong orang lain, menjadi inspirasi bagi sesama, he/she is a hero for me🙂.

Tapi yang top markotop adalah sudah kaya, ganteng/cantik tapi murah hati dan memiliki jiwa social yang tinggi. Nah itu super sukses menurut saya.

That’s it….:).

Cuma begitu?? Iya cuma begitu hakekat sukses bagi saya … dan untuk memahami hal ini perlu waktu hampir setengah abad bagi saya.

Syaloomm…

6 thoughts on “Sukses itu Apaan Sih?

  1. Sangat setuju dengan jawaban Bapak tentang pengertian sukses. Kalau begitu seandainya Bapak punya perusahaan terus ada orang yang butuh pekerjaan, apa bapak bantu menerimanya jadi karyawan Bapak?

    • Hehehehe… It is an internal training actually, for my company’s new employees. I talk more on how to become a professional, organization, 7 Habits, some of Astra’s philosophy and my life’s experiences🙂. I don’t mind, but not sure, that you can join that session with my other employees🙂.
      If there are at least 10 people interested, I can do it in my office on Saturday, for free🙂.

  2. Sukses adalah ketika kita menyelesaikan kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita. Seperti Yesus berkata : It is finished.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s