Saya ini pemalas, makanya saya bekerja keras….

lazyIni adalah pernyataan salah seorang team Inti perusahaan saya ketika masing2 dari seluruh peserta Workshop Enneagram yang kami ikuti beramai-ramai minggu lalu, dimintai pendapat mengenai hasil test pribadi masing2.

Saya sempat terkejut dengan pernyataannya ini apalagi ketika mengucapkan kalimat itu, dia memberikan jeda yang cukup lama antara kata “pemalas” dan kelanjutannya.

Jadi tepatnya dia mengatakan: “Saya menyadari bahwa saya ini termasuk orang pemalas…..”, jeda beberapa saat sebelum melanjutkan “oleh karena itu lah saya bekerja keras”.

Lho, piye toh karepe? (translation: Lho gimana sih maksudnya? :))

Ini anak korslet pikir saya. Mana ada orang males yang bekerja keras.

Saya yang sudah penasaran sejak dia memberi jeda setelah kata pemalas itu tidak tahan lagi untuk tidak menyela:”Maksudnya gimana tuh?”

Lha kan aneh toh, orang pemalasa kok bekerja keras. Gak nyambung banget gitu. Orang pemalas ya bermalas-malasan, gak ngapa2in, main2 aja, sante2, leyeh2….

Itu kriteria orang pemalas. Bukan begitu pembaca?

Namun penjelasannya sangat mengena hingga saya merasa perlu saya share ke pembaca semua. Siapa tahu ada pemalas2 lain yang mau mengadopsi cara berpikir dia ini.

Kira2 begini penjelasannya:

“Iya pak, saya menyadari bahwa saya ini pemalas. Saya itu bawaannya mau santai2, leyeh2 dan jalan2 aja. Saya punya cita2 ingin melakukan hal2 yang saya senangi saja, gak mau stress2.

Tapi…. saya juga menyadari untuk itu semua saya perlu biaya, saya perlu persiapan, sedangkan saya tidak memiliki itu semua.

Jadi supaya saya bisa bermalas2an, bisa melakukan apa yang saya suka semau saya, saya harus punya uang. Saya harus punya tabungan. Makanya saya sekarang harus bekerja keras, supaya nanti saya bisa bermalas2an….

Sekarang setelah saya bekerja keras, lama2 saya tidak merasa lagi itu sebagai beban. Mungkin karena kebiasaan. ”. Demikian penjelasannya🙂.

Wakakakak….saya tidak bisa menyimpan senyum dan kelegaan saya mendengar penjelasannya.

Hmmm….luar biasa.

Menarik sekali caranya memotivasi diri sendiri.

Saya yang sangat percaya bahwa hidup kita itu didasari oleh motivasi, dan motivasi itu bisa di dapat dengan “memanipulasi” cara berpikir, amat sangat tersentuh dengan pernyataan ini.  Oleh karena itulah saya pikir, saya layak membaginya ke pembaca semua.

Siapa tahu ada yang seperti dia, termasuk saya juga, yang tersentuh dengan pernyataan ini, dan merubah cara pandang kita untuk bisa menikmati hidup bermalas2an….nantinya🙂.

 

Salam,

 

Guntur Gozali,

Jakarta, Kebon Jeruk, Minggu, 16 Maret 2014, 10:30

http://www.gunturgozali.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Saya ini pemalas, makanya saya bekerja keras….

  1. Pak Guntur, tulisanya sangat menarik jadi ingin berbagi siapa tau bermanfaat. Saya ini sering mendapat pertanyaan tentang “live balance” padahal menurut saya dan anak istri saya sudah balance yaitu satu hari dari seminggu ada acara makan keluar bersama. Meskipun sudah dipercaya memimpin team saya tidak pernah sampai kantor lebih dari jam 8 pagi, meskipun rumah dan kantor saya cuma 15 menit jam 6 saya sudah berangkat kantor. Bahkan OB yang beresin ruangan saya kalah pagi sama saya.
    Beberap prinsip yang saya percayai bahwa saya harus kerja lebih keras karena belum tentu saya lebih pintar dari teman teman saya, yang kedua saya adalah orang susah sejak kecil makanya saya harus kerja keras supaya anak istri saya tidak susah.
    Saya juga punya tradisi kalau saya mau berangkat kantor anak dan istri saya selalu cium tangan dan pipi saya, itu saya artikan bahwa mereka menitipkan kebanggaan kepada saya, apalagi kalau mereka lewat gedung dimana tempat saya bekerja ada secercah wajah sumringah merasa bangga kalau bapak/suaminya kerja dikantor tersebut, dan saya tidak mau mengecewakan mereka. Bagaimana anak istri bisa bangga kalau bapak/suaminya didalam kantor tersebut cuma jadi genep genepan alias tidak berkontribusi positive terhadap perusahaan. Bahkan waktu diinterview consultant ditanya apa hobby kamu saya jawab “bekerja” karena saya sangat suka dengan pekerjaan saya sehingga tidak pernah terbersit kenapa pangkat/gaji saya tidak naik, saya selalu bergairah kalau menghadapi pekerjaan yang sulit dan mendapatkan kepuasan yang luar biasa saat menyelesaikannya dengan baik dan itu tidak tergantikan oleh uang maupun hobby yang lain.
    Setiap kesulitan adalah portfolio yang menambah kekayaan intelektual kita yang kalau kita pergi dari perusahaan tersebut portfolio itu tidak diminta untuk ditinggal, jadi itu kekayaan abadi kita.
    Saya berbagi ini supaya menjadi bahan pemikiran buat teman2 yang bekerja seperti pedagang, digaji segini ya bekerjanya segini saja itu sangat merugikan diri sendiri karena otot kemampuan berpikir kita tidak pernah dilatih untuk beban yang lebih berat.

    Terimakasih semoga bermanfaat.

    • Mas Juki,

      Terima kasih atas sharingnya yang inspiring. Ini perlu dibaca oleh anak2 muda sekarang yang tampaknya selalu ingin instant. Yang mau mudah saja ya.

      Somehow pengalaman itu perlu waktu lama untuk bisa menghasilkan buah yang “masak pohon” istilahnya🙂, bukan masak karbitan. Bukan begitu Mas🙂.

      Sekali lagi terima kasih atas sharingnya. Meskipun sibuknya luar biasa masih sempat memberikan komentar yang berisi.

      Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s