They always think the best for you

Tulisan ini adalah merupakan bagian kedua dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul They are not your investment.

Kalau pada bagian pertama saya tujukan buat sesama ortu, maka pada bagian kedua ini saya tujukan khusus bagi anak2/adik2, yang mungkin pernah mengalami perdebatan, perselisihan atau bahkan keributan dengan ortu kalian.

Saya mencoba membagikan pengalaman atas beberapa prinsip dasar dalam kaitan hubungan ortu dengan anak yang mungkin belum kalian mengerti, hingga nanti suatu ketika kalian sudah memiliki keluarga dan anak2 sendiri.

Pada saat ini mungkin sulit bagi kalian memahami kok ortu saya cerewet banget, kok tidak percayaan banget, kok kuno banget, kok nanyaaaa melulu, kok… kok … dan kok lainnya.

Saya tidak bermaksud membela para ortu yang menurut kalian mungkin menjengkelkan, kuno dan serba curigaan itu, tetapi saya akan mencoba membahasnya secara logika. Karena saya yakin kalian semua adalah anak2 pinter yang bisa diajak berlogika🙂.

Prinsip dasar pertama adalah semua orang tua yang “waras” menginginkan yang terbaik buat putra putrinya. SEMUA, kecuali yang tidak waras. Saya perlu tekankan hal ini karena ada juga sih yang merupakan perkecualian, dan kita tidak sedang membahas hal itu.

Saya tidak pernah bertemu dengan orang tua yang tidak khawatir akan kesejahteraan anak2nya, yang cuek terhadap pendidikan anak2nya, yang tidak peduli dengan kesehatan anak2nya. Semua “mbingungi” jika anaknya sakit, tidak memperoleh nilai baik di sekolah, tidak dapat pacar, tidak dapat pekerjaan yang baik dlsb.

Pernahkah melihat atau mendengar ortu yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang jelek. Saya kira tidak, malah saya lebih banyak melihat ortu yang menyisihkan tabungan satu2nya untuk membayar biaya sekolah anak2nya.

Pernah tidak mengalami ortu kalian menyisihkan bagian paling enak dari makanan yang akan dimakannya bagi kalian, padahal kalian juga tahu ortu kalian suka bagian itu? Pernah tidak mengalami ortu kalian pontang panting mencarikan kebutuhan kalian melebihi kebutuhannya sendiri?

Mungkin kalian tidak sadar betapa berita yang menurut kalian tidak ada artinya seperti misalnya kalian telat makan, kehujanan, telat masuk kelas, lagi jalan sendirian, lagi males, lagi gak bisa konsentrasi belajar dll membuat dag dig dug hati ortu kalian.

Mungkin kalian berpikiran ortu kalian terlalu berlebihan, terlalu khawatiran, terlalu possessive, but that is all the parents do.

Sebaliknya, jika kalian mengabarkan test kalian bagus, tadi makan2 seru sama temen2, tadi dikasih project khusus oleh dosen/professor, tadi disenyumi cewek pujaannya, tadi cekakakan dengan teman sekamar dll maka hati ortu kalian juga ikut senang dan bberbunga-bunga sepertinya ortu kalian sendiri yang mengalami.

You will not understand how this could happen to your parents, until you are being a parent.

Semua ortu memikirkan hal yang terbaik bagi putra putri mereka, kenapa?

Karena tidak alasan untuk tidak, karena apa yang mereka perjuangkan selama hidup adalah untuk anak2nya, untuk orang yang disayanginya. Untuk apa mengumpulkan segala macam harta benda dan ketenaran kalau bukan untuk diwariskan.

Emangnya iseng? Masa kerja keras setengah mati mulai dari muda hingga tua, dari pagi hingga malam, dari sesen hingga semilyar, untuk dibagi-bagikan ke tetangga, untuk diwariskan ke kucing atau anjing piaraan???

Jikapun ortu kita tidak bisa/mampu mewariskan sesuatu yang berarti, mereka pasti tidak ingin kita melakukan sesuatu yang salah, yang mungkin pernah terjadi pada mereka.

Mereka tidak ingin kita salah langkah, mereka tidak ingin kita melakukan sesuatu yang nanti kita sesali. Mereka ingin yang terbaik bagi kita, MESKIPUN mungkin kadangkala cara tidak sesuai dengan jalan pikiran kita.

Namun mereka ingin yang terbaik bagi kita, percayalah mengenai hal ini.

Prinsip dasar kedua, seberapa tuapun umur kita, mereka akan tetap orang tua kita, DAN kita adalah anak2 mereka. Sekali lagi ANAK2 bagi mereka. Karena sejak kita dilahirkan, beda umur kita ke orang tua tidak pernah berubah meskipun nanti kita sudah beranak cucu. Betul tidak?

Sehingga apapun argumentasi kita, mereka MERASA lebih pintar, lebih benar, lebih bijaksana dlsb. Meskipun belum tentu benar, namun harus diakui memang sebagian besar benar, karena apa yang kita kemukakan kemungkinan besar telah mereka alami sebelumnya, sedangkan kita merasa ide/pendapat kita adalah hal yang luar biasa karena baru terpikirkan sekarang.

Meskipun misalnya ide kita memang ide original / baru, namun ortu kita mungkin melihat dari sudut pandang yang berbeda, dari sudut pandang yang penuh selidik / curiga, sehingga kerap tidak bisa ketemu titik tengahnya.

Selain itu jika ada “kekurang percayaan” ortu ke kita bukannya tanpa alasan lho. Mereka mengikuti perkembangan hidup kita mulai dari bayi hingga kita dewasa. Mereka mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, kebaikan dan keburukan kita, setiap tarikan nafas kita. Mereka bisa menilai, meskipun belum tentu benar, seberapa bisa kita dipercaya.

Berbicara tentang kepercayaan, saya akan mencoba memberikan ilustrasi sebagai berikut: semisal adik2 mempunyai teman yang suka meminjam duit. Jika si teman pinjam uang lima ratus ribu rupiah, kemudian setelah dua minggu meminjam lagi sejuta rupiah, dan dua minggu kemudian meminjam lagi dua juta rupiah. Namun tiap kali pinjam tidak bisa menjelaskan kemana uang yang dia pinjam sebelumnya, apakah adik2 mau meminjamkan uang keempat kalinya?

Semisal pula teman yang sama setelah meminjam uang lima ratus ribu, dua minggu kemudian mengembalikan uang 600 ribu, kemudian meminjam sejuta mengembalikan 1500, dan selanjutnya meminjam 2 juta mengembalikan 3 juta rupiah. Apakah adik2 mau meminjamkan uang ketika dia meminjam keempat kalinya?

Saya rasa bukan hanya bersedia meminjamkan, bahkan kalau dia tidak datang meminjam uang lagi, kita akan mendatangi dia dan menanyakan kok kamu gak pinjam uang lagi sehh?? “Nih gua lagi punya duit 5 juta apa lu kagak butuh?” Betul gak?🙂.

Intinya adalah kepercayaan. Kekurang percayaan ortu ke kita sebenarnya adalah akibat dari tingkah polah kita juga. Hasil dari pengamatan mereka atas perkembangan hidup kita dimata mereka.

Hal ini akan menjadi masalah kalau komunikasi antara orang tua dengan anak kurang lancar, yang kerap menimbulkan salah paham yang berakibat pertengkaran, padahal mungkin keduanya benar.

Jadi perihal kecurigaan atau “ketidakpercayaan” ortu kita ini , janganlah terlalu diperbesar, dijadikan sesuatu yang membuat kita antipati terhadap mereka. Cobalah memandangnya dari penjelasan saya di atas.

Nah apabila kita yakin bahwa ide atau usulan kita benar, cobalah dulu membuktikannya dengan meminta pendapat teman. Jika sudah yakin sekali, namun kebentur “kekeras kepalaan” ortu, maka cobalah strategi sebagai berikut:

  • Pertama, cobalah memikirkan factor apa yang membuat ortu kita keberatan akan usulan atau ide kita? Cobalah berpikir seperti ortu kita, jika memungkinkan simulasilah cara berpikir ortu kita, dan kemudian setelah itu mencoba membicarakannya dengan ortu kita.
  • Kedua, coba meminta pertolongan pihak ketiga. Yang saya maksud pihak ketiga disini bisa ayah, kalau ibu yang menentang ide kita; atau sebaliknya ibu kalau yang menentang adalah ayah, atau bisa juga kakak atau bahkan mungkin adik. Biasanya yang lebih berpengaruh adalah Om atau Tante yang dipercaya oleh ortu kita.          Secara psikologis susah bagi ortu untuk beragumentasi dengan “anaknya”,   meskipun tentu saja banyak juga yang sudah sangat modern cara pandangnya, yang menurut mereka masih belum atau tidak berpengalaman. Dan juga karena itu tadi, mereka benar2 tahu sifat kita yang bertumbuh detik demi detik.              Mereka, secara umum, akan lebih mudah menerima pendapat atau memuji anak Om dan Tante kita daripada kita sebagai anaknya. Demikian juga halnya Om dan Tante kita akan lebih mudah menerima pendapat kita atau memuji-muji kehebatan kita daripada anak mereka sendiri, karena mereka tidak pernah kita buat sakit kepala seperti yang kita lakukan ke ortu kita wkwkwkwk…
  • Ketiga, cobalah minta seseorang membaca tulisan saya pertama dan kemudian menyarankan ortu kalian untuk membacanya, siapa tahu bisa membukakan jalan pikiran ortu kalian.

Prinsip dasar ketiga, on top of everything, this is about your life. Terus terang lama saya berhenti menulis begitu sampai di prinsip dasar ketiga ini. Saya ragu2 apakah saya akan menuliskan prinsip dasar ketiga ini, namun setelah saya pertimbangkan, akhirnya saya tulis juga.

Saya sering mendengar atau menghadapi beberapa kasus anak2 yang “dipaksa” menuruti kehendak orang tuanya, namun karena anak2 tersebut memiliki kemauann yang kuat atas rencananya sendiri, akhirnya menjadi tersiksa di dalam sisa hidupnya.

Saya tidak ingin lagi mendengar atau paling tidak saya ingin mengurangi ketidak bahagiaan anak2 yang “terpaksa” harus menuruti kehendak ortunya yang belum tentu sesuai dengan keinginan anaknya, demi apa yang disebut sebagai “berbakti”.

Namun saya juga tentu tidak ingin anak2 salah menentukan langkah di dalam hidup, hanya karena “merasa” ide yang kalian miliki adalah yang terbaik dan tanpa cacat.

Oleh karena itu, jika anak2 memiliki dorongan yang sangat kuat untuk melaksanakan idenya, memiliki rencana yang baik dan terukur di dalam pelaksanaannya, sudah menyampaikannya ke ortu dengan sebaik-baiknya, baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga, saya rasa ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan:

  • Pertama, negosiakan ke ortu untuk boleh mencoba rencana yang kalian pikirkan baik itu, misalnya satu atau dua tahun atau lebih, yang mana menurut kalian cukup untuk membuktikan bahwa rencana itu baik adanya. Dengan demikian ortu kalian akan merasa lebih memiliki opsi untuk meminta kalian membatalkan rencana, jika suatu ketika keputusan yang kalian buat itu salah.
  • Kedua, jika semua usaha sudah kalian lakukan dan tidak membuahkan hasil. Maka lakukanlah pilihan yang menurut kalian terbaik buat diri kalian sendiri, bukan untuk orang tua, saudara atau Om dan Tante. This is your life, and you deserve to do it according to your best. Kalian yang nanti akan menjalaninya hingga tua, bukan orang tua, saudara, teman atau Om dan Tante. YOU ARE, not anybody else.

Fiuhhhh…it is damn difficult to suggest you against your own parents, tapi saya harus mengatakannya.

———————–

So, itulah tiga prinsip dasar yang harus adik2 pahami di dalam menyikapi perdebatan atau perselisihan pendapat dengan orang tua kalian. Semoga dengan tulisan ini, kalian lebih mudah mengerti dan mengambil keputusan di dalam menentukan jalan hidup kalian.

Semoga saya tidak salah di dalam memberikan saran di atas.

Percaya atau tidak, ini merupakan salah satu tulisan terberat yang saya pernah saya tulis, namun percayalah tidak ada orang tua yang normal menginginkan hal buruk terjadi pada anak2nya.

Semoga sharing saya ini berguna bagi kalian yang galau di dalam mengambil sikap.

Saya sangat berharap atas segala masukan atas tulisan saya di atas, agar semakin banyak anak2 bingung bisa menentukan sikapnya di dalam memilih jalan hidup.

18 thoughts on “They always think the best for you

  1. nice share pak..
    ntah kenapa baca poin pertama di atas, saya ni sampai merasa terharu
    ntah karena mungkin saya pernah atau bahkan mungkin sering mengalami
    dan saat ini dituangkan oleh seorang ortu, saya jadi terharu sampai berkaca-kaca, hehehe

    untungnya ortu saya saat ini, terlebih mama saya, lebih sering menanyakan untuk segala sesuatu yang dia mgkn tidak suka, bertanya kenapa saya pengennya koq gitu, bukan gini
    tapi tidak pernah ikut campur langsung dalam keputusan akhir yang saya ambil, karena menurut mama, toh saya yang jalani

    sedangkan papa walau bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi saya baru tau kalau papa selalu mendukung saya ketika hari pengumuman ACE angkatan saya
    kala itu saya tidak berani sama sekali untuk kasi tau papa, dan ga berani menghubungi papa soal hasil yang saya terima bahkan saya ga brani terima telpon papa. akhirnya kayanya si mama yang kasi tau papa, dan ajaibnya papa bilang, kalo papa pasti dukung apa yang saya lakukan dan keputusan apapun yang akan saya ambil. hehehehe , malah waktu papa bilang kek gitu, saya makin nangis kenceng2 *wedew buka rahasia ni saya *

    *koq saya malah jadi curcol ya pak…
    maaf nebeng cerita ya pak

    intinya dulu saya tidak pernah merasa ortu ngertiin saya, tapi sekarang ini saya merasa ortu saya adalah ortu terbaik buat saya, dan ga bisa digantikan oleh orang lain.😀

    • Duhhh jangan minta maaf, justru menurut saya sharing kamu ini bagus sekali. Sharing/comment seperti ini yang saya perlukan untuk mengkonfirmasi opini saya, dan juga mungkin menjadi masukan bagi teman2 lain.
      This is the comment supposed to be🙂.
      Thank you Pep.

  2. Pak Guntur ini tulisan sangat bagus seandainya anak2 belum paham saya yakin para orang tua bisa memahami apa yang telah diperbuat oleh orang tuanya, sukses yang dicapai saat ini adalah sukses orang tuanya. Saya menantang pak Guntur untuk menulis 3 prinsip suami terhadap istri, rasanya juga benar bahwa hanya suami yang tidak waras yang tidak ingin membahagiakan istrinya. Ayo wani po ora?

  3. wah…good good, bagus pak ceritanya.
    tapi emang sih, buat anak2, kadangkala susah ngertiin maunya orang tua, apalagi ketika kita udah beranjak dewasa, udah mulai berasa berhak ambil keputusan sendiri, berhak melakukan ini itu, tanpa perlu lagi pendapat dan persetujuan orang tua.

    mengenai keinginan orang tua yang selalu ingin yang terbaik buat anaknya, saya rasa sih itu rahasia umum pak, hehehe.
    kayaknya semua orang tau kok, bahkan mungkin sejak masih umur2 abg sih udah tau dan saya kira sih udah yakin tentang hal itu,
    tapi masalahnya….ya itu, seringkali kita berasa kalo yang dimaui orang tua itu, cuman nyusahin kita, hahahaha 😛

    misalnya, waktu kecil, pengen beli komik, orang tua gak mau beliin, tapi disuruh nabung sendiri dari uang saku,
    nah, dimata anak2 –> ah papa/mama pelit, gak rela kasih uang saku, dll2.
    tapi dibalik itu, ada tujuan mulia orangtua melakukan itu, misalnya gamau manjain anak, pengen anaknya juga tau kalo mereka butuh usaha untuk mendapatkan sesuatu, dll.
    terus nanti kalo udah kerja, dah punya penghasilan sendiri, peristiwa ganti hp baru mungkin bisa jadi bahan perselisihan.
    bagi anak2 –> ini uangku sendiri kok, kan suka-suka mau dipake buat apa, kok dilarang, diatur2, dll
    bagi ortu –> hp lama kan masih bagus, masih belom lama pake, buat apa buang2 uang, mending ditabung, dll.
    susah yah??? hehehehe….

    saya sendiri sih punya orang tua yang bisa mengerti kemauan saya, tapiiii…..emang sejak kecil, saya dibiasakan untuk menceritakan apapun yang saya rasakan dan saya lakukan ke papa dan mama.
    mereka selalu ingin dilibatkan, meskipun sebenernya adakalanya mereka cuman bilang “yah terserah kamu aja, pengennya yang mana”, tapi intinya dan yang penting, mereka ingin saya cerita ke mereka, gini loh pa/ma, aku lagi mau begini begitu, jadi aku melakukan ini itu, dll..

    saya akui, memang susah sih ambil sikap ke orang tua, tapi memang kadangkala, anak2 punya egoisnya sendiri, udah crita2, minta pendapat, tapi nanti kalo dikasih pendapat yang beda ama keinginan, malah berontak, berasa orang tua gak ngerti kemauan kita, hahaha 😛
    yah, kadang saya juga gitu sih, adakalanya tetep maksain keinginan saya, tapi juga kadang2 milih jalan “berbakti” daripada berantem, meskipun dengan hati terpaksa.
    tapi kayaknya saya yakin kok, dibalik sikap menentang itu, kalo pas dipikir2 lagi, biasanya keliatan sih benernya pendapat orang tua.
    dan biasanya sih orang tua juga diam2 juga tetep kasih dukungan dan tetep berharap yang terbaik, meskipun anaknya tetep maksain keinginannya yang beda ama keinginan orang tua.

    • Tanti, comment kamu ini bagus sekali. Saya senyum2 sendiri membacanya. Terima kasih mau sharing apa yang kamu alami, semoga semakin banyak yang mau sharing dan berani mengungkapkan apa yang pernah mereka alami dalam hubungan dengan ortunya, sehingga semakin terbuka pikiran anak2 dan ortu yang membacanya.
      GBU

  4. Wah jadi merasa bersalah nih setelah membaca tulisan bapak. Saya seorang gamer berat dan cita2 ingin terjun dalam bidang industri game. Semasa sekolah dulu saya setiap main game dirumah pasti diomelin setiap harinya sama mama (bukan hiperbola, tapi memang diomelin setiap hari :p pernah saya coba hitung dalam 1 minggu apa ada satu hari saja saya tidak diomelin ketika main game, hasilnya 7/7 saya diomelin hahhaha).

    Ketika beranjak di bangku SMP, saya mulai berontak ketika diomelin, hasilnya jadi sering bertengkar sama mama. Saya juga pernah cerita kalau cita2 ingin di dunia game nanti kalau sudah lulus kuliah, mama selalu membalas dengan “apa gunanya game”, “gak ada gunanya”, “mending belajar yg lain”, dll sebagainya.

    Menurut saya, ortu diindo cenderung melihat game sebagai sesuatu yang negatif dan tidak ada gunanya, mereka tidak tahu kalau industri game itu besar dan banyak peluang disana(mungkin diindo masih belum populer), saya mendapat banyak hal positif dari bermain game, salah satu contohnya : saya mulai tergila2 dengan yg namanya game bergenre RPG ketika beranjak kelas 6 SD, karena inggris amburadul seringkali ngak ngerti storyline dr game tersebut, cm bisa ngeliat gambarnya doang, lama2 akhirnya rasa penasaran muncul dan kamus bahasa inggris yg tersimpan rapi didalam lemari pun saya keluarkan, dan setiap main game selalu pake kamus di samping (kalau diingat2 seperti orang autis haha), tp hasilnya vocab jadi lumayan😀

    Setelah lulus SMA, saya ngambil IT dan omelan mama saya sudah berkurang banyak, mungkin karena mama saya udah cape setiap kali marah2 juga saya tetep stay dengan apa yg saya mau. Sekarang sih saya programmer di AdIns dengan harapan suatu hari bisa jadi game dev(mungkin bapak mau buka divisi baru di AdIns untuk develop games hehe).

    Jadi curhat nih pak hehe. Sekali2 boleh donk pak nulis artikel tentang pandangan bapak di industri game. Saya selalu penasaran apa pandangan perusahaan IT di industri game terutama di indo, apakah ada peluang? Apalagi sekarang kan udah ada yg namanya “Steam Greenlight”, jadi developer2 game indie untuk promosi game mereka lebih gampang dan chance mrk untuk survive lebih besar, gak kaya dulu.

    Maaf tulisan amburadul, jarang ngepost sih, tapi saya pembaca setia kok.

    • Hehehehe…sharing yang bagus.
      Semua bidang itu bagus kalau memang kita sukai, apapun juga bidangnya.
      Memang sulit bagi ortu melihat potensi di bidang developer game, yang diluar negeri termasuk peringkat tinggi di dalam penerimaan gaji.
      Namun kalau kamu menjadi ortu, kamu akan tahu betapa sebelnya melihat anak2 kalau sudah main game. Beruntung kalau tidak menjadi maniac game, tapi kalau sudah termasuk kecanduan, game bisa sangat berbahaya karena dunia gamer itu hanya selebar layar monitor (monitor hp, monitor PC, monitor notebook or TV). Dan kalau lagi asyik main dipanggil bantu ortu, saya berani bertaruh wajahnya ditekuk seribu wkwkwkwk…tull gak. Mana ada sih lagi asyik main game dipanggil ortu untuk bantuin langsung dengan sigak bangun dan menjawab dengan manis: Ya mom, how may I help you, my beloved mother?🙂
      Ayo jawab yang jujur, pasti deh ngomel. Dipanggil makan susah, disuruh mandi susah, apalagi disuruh bantuin ortu.
      Nah ini penyebab ortu benci sekali dengan game.
      Namun kalau kamu bisa meyakinkan positivenya main game, saya yakin ortu kamu akan setuju sejuta persen dengan rencana kamu🙂.
      Mungkin begitu cara pandang ortu kamu🙂.
      Nanti saya pikir idenya untuk saya tulis deh wkwkwk🙂

  5. Good writing, Om.. and also good sharing from other commenters as well.

    Saya mau share pengalaman saya, which is not really a good example as in this writing, but… I thought to just share it anyway. It wasn’t the best solution for me, wasn’t the best lesson, but there are always things I can learn from it. So here I am just sharing what I went through, what I felt, and what I learned from it.

    Kalo pengalaman saya, dl saya sempet menyesal kenapa saya turutin aja apa kata ortu saya. Lebih tepatnya, saya tidak dikasih kebebasan. Dulu saya mau ambil jurusan musik, tapi dipaksa ambil jurusan komputer. Untungnya masih searah, walaupun bukan dijalan yg saya inginkan. Dulu saya ingin jadi music composer for game, tapi berhubung disuruhnya ambil komputer saya mau jadi game developer. Setelah ambil jurusan komputer, saya malah disuruh fokus ke software programmer in general, walaupun saya pinginnya as a game developer. Waktu itu saya lumayan argued sm guardian saya, we had heated and intense argument. Tapi alasannya dia, game development back in 2003 was not as big, and the future may not be as bright. So I ended up giving up the argument and choosing my focus as a software engineer. Then around 2006, gaming industry was booming. It was about time I graduated as well (I graduated in 2007), however by then it was already late for me to switch focus. If I were to switch to game developer, it could take me 1-2 more years. So, back then I felt regret and anger as well. Not to my guardian, but to myself… how come I couldn’t even defend myself, how come I couldn’t protect myself…. Unfortunately, I really couldn’t do anything about it, the situation was just not an option for me to take another action.

    That was what I felt about 5 years ago. But today, I am glad I am just a general software engineer. Throughout a series of event, some of them were really discouraging, and some of them were OK. I went through job cuts couple times, and it wasn’t pleasant. However, I met with many people. And, today I am working with some of the best people. I like where I am now. I have really awesome and challenging project I am working on as a software engineer and I am proud of what I’m capable of doing this moment.

    So, throughout my experience, I can say that one thing for sure is in the end everything is for the best for us. Your path may seem rough, but as long as you keep your standing ground, you will be fine. I keep thinking that: “things happen for a reason… the better reason…” so just remember that life is like a wheel, sometimes up and sometimes down. Regret is something that everybody has to feel, and you will become mature from it. Things to keep in mind is: never sunk too deep into those negative feelings, instead try to get back to the surface so you can take a look below from above. Whether it is something pleasant or not, it is part of your life, and it is what makes you into who you are today. So, relating to this post, my advice to teens out there is: what you’ve gone through today may not be pleasant for you, but take time to re-read this blog post by Om Guntur for the 2nd or 3rd time, Om has laid out some good point and good solution that is worth to try. It may or may not work depending on your parents/guardians, but trying is better than nothing. I hope you find a better solution than I was.

    Om Guntur, for a moment, I wish I read this blog of yours several years ago and I can give it to my guardians. But on 2nd thought, I took that back.. it was better for me to experience it personally myself. And for those who have not experienced what I had, I can tell that this blog post is a really good post. Hats off to you, Om Guntur!

    Regards,
    Anton

  6. Forgot to add that: In the end, the path my guardian chose for me is the right path for me. So I thank him for guiding me! 🙂

  7. I just had a heated argument with my son earlier today for abandoning my advice to focus more on his study, academic achievements and so on. I start feeling hopeless as if I’m a failed mom to bring him up normally over his addiction on DotA game!He even brags that he makes money from OL competition already, which doesn’t change my perspective on its negative impacts for teenager who strive studying in a competitive public high school.
    Thanks to Anonymous and Anton for thoughtful sharing on your lovely time and benefit as gamer…but I still doubt whether gaming will guarantee your future life in Indonesia.

    • Tante Yeti, sorry for the late reply. Saya jarang cek blog-nya Om Guntur (walaupun saya salah satu pembaca setia).

      Sebelumnya, thank you for reading my long story, saya harap itu bisa menjadi insight from different perspective.
      Untuk sekedar informasi, saya kuliah dan bekerja di luar negri, tante. Bukan di Indo hehe, jadi saya kurang tau sama trend karir di indo.
      Lagipula saya memang ada passion di game, tapi perjalanan karir saya bukan di game industry. Bahkan saya sendiri sekarang udah hampir ga pernah main game lagi. =]
      To be honest, my addiction when I was a teenager was “removed” by my situation, tante. I had quite hard and rough times jg, dimana saya harus kuliah full time + 3 kerjaan sampingan untuk membiayain uang sekolah saya sendiri + kehidupan sehari2. Saat itu saya ga ada kesempatan untuk bermain game, tidur aja udah cuman 4 jam sehari, kecuali hari sabtu ke minggu bisa nebus waktu tidur hahaha… karena ga ada waktu bermain, lama kelamaan addiction saya jadi hilang.

      Aside from my background, Saya setuju dengan pendapat tante mengenai gaming industry. In general, gaming industry is probably not the best path for career. As a hobby is still OK, karena itu bisa menghilangkan stress. Tapi saya sangat TIDAK merekomendasikan untuk terjun ke dunia gaming. Menurut saya, kalau udah masuk ke dunia gaming, biasanya orang cenderung akan mengabaikan kehidupan sosial lainnya, dan itu bisa sangat berbahaya untuk masa depan. Alasan saya bilang ini, karena itulah diri saya yang sebelumnya. Saya cuek akan situasi sekitar saya, saya ga peduli akan hal lain kecuali game. Sekarang saya sadar kalau itu semua salah. Tapi saya punya temen yg bisa mem-balance hidupnya antara bermain game dan kehidupan sosial dia. Jadi untuk hal ini, akan saya kembalikan ke orangnya masing2.

      Kalau saya boleh memberikan komentar ke post tante:
      “I start feeling hopeless as if I’m a failed mom to bring him up normally over his addiction on DotA game!”.
      Sebelum tante try to persuade anak tante, tante harus ganti mindset anda tentang diri anda sendiri. Do NOT feel hopeless and do NOT feel failed as a mom. Kalau tante berpikir demikian secara tidak sadar pikiran, emosi, dan badan anda akan “failed” before you even try. jadi lebih baik coba lihat apa yang bisa tante improve dari cara interaksi tante dengan anak tante. Be positive thinking.

      Saya bukan psikiatris yang bisa memberikan nasihat yg terbaik. Tapi saran saya mengenai tentang anak tante: mungkin tante bisa mencoba different approach? Ada bbrp hal mengenai different approach:

      1) Hard approach (which cenderung ujung2nya malah jadi heated argument) dan Soft approach (yg cenderung membuat orang jadi berpikir).
      Hard approach itu biasanya dalam bentuk “memberikan informasi”, jadi kita cuman mau kasih tau ke dia aja, dari pihak si anak ini adalah faktor external (pengetahuan dari luar).
      Soft approach itu biasanya lebih ke “memberikan pertanyaan”, jadi kita meng-trigger supaya dia jadi berpikir, dari pihak si anak ini adalah faktor internal (mencari jawaban dari dalam diri).
      Setiap orang butuh 2-2nya, harus balance, ga bisa hard approach terus atau soft approach terus. Pick between the two based on the situation.

      2) Understanding the target audience, dalam kasus ini audience-nya anak anda. Biasanya anak cowo lebih rasional, dalam hal ini rasional dia adalah: bermain bisa menghasilkan uang. Yang jadi masalah adalah saat ini dia BELUM mengerti mengenai dunia kerja. Jadi sekeras apapun tante berusaha bilang ke dia kalau gaming industry is not good, anak tante ga akan ‘mengerti’ dan ‘menerima’ kata2 tante karena argumen tante itu ngga make sense for him (again, it’s because he doesn’t understand tentang dunia kerja). Saya rasa, mungkin lebih efektif kalau tante sedikit sedikit meng-expose pelan2 ttg dunia kerja/masa dewasa ke anak tante. (related to point (3) below)
      Daripada tante, berusaha keras “ngasih tau” ke anak tante. Mungkin, tante bisa balik tanya ke anak tante: dia ke depannya mau jadi apa? Kalau mau jadi gamer, mau kerja dimana? dapet uangnya sekarang berapa? Sekarang ini dia pakai uang yg dia dapat untuk apa? Apakah cukup? Kalau nanti udah besar kan bakal ada biaya lain2 lagi, kira2 cukup ngga? kalau misalnya sampai jadi gamer ga berhasil, backup plan-nya apa (ini pertanyaan yang sangat penting <- biasanya ini yang bikin orang berpikir keras)? Kalau tidak berhasil trus ga dapet uang, mau gimana? (Basically try to utilize the question words: WHAT, WHY, WHEN, WHERE, HOW)
      Jadi tujuan anda disini (mindset) adalah untuk mengerti jalan pikiran anak anda, lalu mencoba untuk mempengaruhi jalan pikir dia perlahan2. Bikin ini seakan2 keputusan anak tante sendiri, dan bukan karena pengaruh dari orang lain. Biasanya cowo punya pride for making his own decision, so your part will be GUIDING and INFLUENCING his decision (and NOT making the decision for him).

      3) Apa yang ingin anda sampaikan ke anak tante. Ini related sama point ke (2) di atas. Pertanyaan yang tante buat harus berdasarkan pada apa yang ingin tante sampaikan ke anak tante.

      Kalau tante mau berusaha mengerti anak tante, saya yakin dia akan jadi lebih terbuka sama tante. Perubahan tidak akan terjadi mendadak, jadi ini bisa dalam waktu mingguan atau bulanan. Tapi selama tante tetap keep positive, saya yakin tante pasti bisa.

      So, once again, JANGAN feel hopeless nor feel a failure. Keep positive thinking, and I'm sure you can persuade your son.

      N.B.: Harap maaf kalau ada tulisan saya yang menyinggung tante. Secara saya tidak tahu jelas kondisi dan situasi tante, jadi saya hanya bisa mengasumsikan bbrp hal.

      Regards,
      Anton

      • Thanks Anton for your considerate respond. Indeed, you are RIGHT on the case that sometime I feel hopeless to handle my son, which isn’t appropriate for a mom to say so, since whoever mother is a child’s pillar of his/her future.
        Lately, I use a personal approach to talk to my son on OL gaming, and he agrees to focus more on his left behind study. At least it relieves me now. Somehow, I still need to monitor him indirectly.
        Reading all your suggestions give me a strength for not giving up on my son cause you experience a big transformation yourself. I bet your mom is proud of having you now!
        Regards
        Yeti

        • Tante Yeti, its’ great to hear the good news from you. Seems like things has started going to the right direction. Keep the positive thinking, and be patient. Things always happen for the better reasons, so never ever give up! I’ll pray for you and your family as well. =)

          Regards,
          Anton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s