They are not your investment

Tulisan saya ini terinspirasi dari pertanyaan salah seorang peserta training Basic Mentality yang regular saya berikan bagi seluruh karyawan di perusahaan saya.

Dia menanyakan bagaimana caranya dia meyakinkan orang tuanya untuk menyetujui rencana yang dia anggap baik namun ditentang keras oleh ortunya dengan berbagai macam alasan. Dia sudah mencoba keras menjelaskan tetapi ortunya tidak mau mendengarkan, bahkan kadang2 bersikap seakan-akan dia adalah barang investasi yang sudah seharusnya memberikan imbal hasil (return on investment).

Terus terang saya sedih mendengar cerita anak ini, tetapi ini bukan yang pertama saya dengar selama saya mengajar anak2 pintar ini.  Saya sudah sering mendengar perbedaan pendapat antara ortu dengan anak, baik yang kasusnya sederhana hingga memusingkan kepala.

Menurut pendapat saya dua2nya benar, hanya saja tidak ada perantara di antara kedua belah pihak, sehingga diskusi yang seharusnya ada pemecahan menjadi debat kusir kemudian menjadi debat panas dan berujung pada perkelahian.

Saya mencoba menuliskan pendapat saya yang mungkin bisa memberikan sudut pandang berbeda bagi sesama ortu maupun anak2/adik2 sehingga mudah2an bisa memberikan alternative solusi untuk mengatasi kebuntuan komunikasi antar ortu dengan anak2 ini.

Jawaban atas pertanyaan ini saya bagi dalam dua tulisan, satu saya tujukan bagi sesama ortu dengan judul di atas, sedangkan satunya lagi bagi anak2/adik2 dengan judul They always think the best for you .

Tulisan saya ini tidak bertujuan untuk menggurui sesama ortu yang saya yakin jauh lebih bijaksana dan pintar daripada saya, juga tidak bertujuan menguliahi anak2 / adik2 yang juga sudah pandai2, tetapi sebagai bahan masukan saja dari pengalaman yang sempat saya amati dari kejadian di sekitar saya.

Bagian pertama: They are not your investment

Dua minggu yang lalu saya melayat ibu dari salah seorang kenalan saya yang juga merupakan pejabat penting salah satu bank terbesar di Indonesia. Beliau disemayamkan di salah satu rumah sakit di bilangan Slipi, Jakarta. Saya ketika itu terpaksa harus pergi sendiri karena rekan2 lain sedang sibuk dengan pekerjaan masing2.

Setiba di lokasi, ternyata tidak banyak tamu yang hadir, mungkin karena masih sore dan orang2 belum pada pulang kerja. Namun kondisi ini ternyata malah memungkinkan saya untuk lebih leluasa mengobrol dengan kenalan saya ini.

Setelah beberapa saat berbasa-basi ngalor ngidul, pembicaraan berujung pada masalah seputar anak. Kami pun saling bertukar informasi mengenai anak2 kami, ya biasalah kalau sesama ortu bertemu apalagi yang mau dibicarakan selain soal berapa anak sekarang, laki atau perempuan, sudah umur berapa, sekolah atau kuliah dimana, dll dll…

Ketika kemudian saya tanyakan anaknya sekarang kuliah dimana dan mengambil jurusan apa, beliau tampak kurang gembira. Dia mengatakan begini: “Yang pertama sudah kuliah di US, dia mengambil Liberal Arts”

“Liberal Arts??”, tanya saya, “Jurusan apa Liberal Arts nya pak? Karena saya sering dengar tapi belum pernah explore mengenai Liberal Arts ini”

“Liberal Arts ada beberapa pilihan”, beliau menjelaskan, “bisa Philosophy atau Politics atau Economics atau Law, biasa disingkat PPEL”

Hmmm…baru tahu saya J, karena memang saya benar2 tidak pernah mengeksplore jurusan2 ini.

“Lha putera bapak milih jurusan apa??” tanya saya penuh rasa ingin tahu

“Ya itulah, pusing saya. Dia tidak suka Law, apalagi Politics. Saya kira tadinya dia akan memilih Economics, ehhh gak suka juga. Jadi tinggal Philosophy lah pilihan terakhir” jawabnya masih terlihat tidak gembira.

“Oooo…..”, begitu reaksi bego saya,”Terus kenapa pak kalau Philosophy? Ya biar aja kalau dia memang memilih itu dan dia seneng”.

“Lohh…terus mau kerja apa? Mau jadi apa? Mau dapat duit darimana? Mana bisa hidup dengan ilmu seperti itu?” katanya gusar.

Dhiengggg…. Saya langsung menangkap inti masalahnya. Judging, alias menghakimi. Hal yang sudah akrab saya dengar dari berbicara dengan berbagai ortu.

Saya tersenyum tanpa saya sadari ketika itu, dan ini membuat beliau melotot: “Apanya yang lucu?” katanya. Gubrakkk…saya kaget sendiri menyadari ketidak sensitifan saya😛. Padahal senyuman saya itu karena seringnya saya mendengar cerita serupa dari mana2.

“Pak…”, kata saya kalem, caileee gaya bener, “biarkan saja anak bapak memilih apa yang terbaik buat dia, asal kita sudah memastikan itu memang pilihan dia, bukan asal pilih. Biarkan dia mengejar apa yang menurut dia paling baik”.

“Iya, saya sudah berulang kali menanyakan apa beneran mau ambil Philosophy, yang saya aja kagak tau nanti kerjaannya apa. Tapi dia sudah mantap bener katanya. Dasar kepala batu. Padahal mau cari duit pake apa coba dengan ilmu itu. Sudahnya dikuliahin mahal2 gak ada hasilnya, ehhh malah milih jurusan aneh2”, kata beliau masih tetap gusar.

Hmmm…mau cari duit pake apa? Udah dikuliahin mahal2?

Sayapun akhirnya tidak tahan lagi untuk tidak ngecipris seperti ini:

“Pak, saya itu mengajar Basic Mentality untuk karyawan2 saya yang rata2 fresh graduate dari berbagai Universitas. Saya sering sekali mendengar keluhan mereka yang tidak senang IT tetapi atas usulan, dorongan atau paksaan ortunya akhirnya memasuki dunia IT.

Sebagian besar memang bisa mengatasi ketidak sukaan mereka, namun ada juga yang tidak tahan dan akhirnya stress karena ortunya ingin anaknya dapat gaji besar dari industry IT yang katanya luar biasa itu.

Sejauh yang saya perhatikan, yang benar2 berhasil dalam karier mereka adalah anak2 yang memang menjiwai dan menyenangi bidang ini. Selebihnya ada juga yang berhasil, tetapi rasanya mereka tempuh dengan stress yang lebih tinggi.

Memaksakan anak2 sekarang untuk melakukan apa yang kita “anggap” benar dan paling baik, sudah tidak jamannya lagi lho Pak.

Mereka sudah sangat canggih mencari informasi dan memutuskan apa yang “terbaik” bagi mereka. Meskipun kita tidak membabi buta menyetujui semua keputusan yang akan mereka ambil. Menurut saya apa tidak sebaiknya posisi kita hanyalah mengarahkan, memberi masukan dan men’challenge’ apa yang menjadi keputusan mereka”, oceh saya sok tahu

“Kalau mereka sudah mantap, restuilah. Kalau belum mantap, maka tugas kita untuk menguji rencana mereka hingga mantap.

Jika kita yang memutuskan bagi mereka, dan keputusan kita salah, maka kita akan dibenci seumur hidup anak kita. Namun jika keputusan yang mereka buat salah, dan mereka babak belur di kehidupannya, mereka pasti akan kembali dan nurut masukan / nasehat kita.

Pilihannya adalah kompromi atau kuat2an. Kalau kompromi, masih bisa diselamatkan di kemudian hari. Kalau kuat2an, salah satu menang yang lain sakit hati, atau yang lebih parah lagi, putus di tengah2”, saya melanjutka kesok tahuan saya.

Sampai disini kenalan saya itu tampak terkejut, saya hampir menyesal mengatakan hal itu karena saya pikir mungkin saya salah omong, namun untungnya beliau mengatakan:”Iya bener juga sih”.

Fiuhh…untunglah, sayapun merasa mendapat angin dan melanjutkan:

“Ada banyak kejadian, ortunya memaksa anaknya memilih jurusan yang tidak disukai anaknya. Setelah si anak memperoleh gelar dan sertifikat kesarjanaannya, dia serahkan ke ortunya, dan dia pergi untuk melanjutkan apa yang menjadi pilihannya dari dulu.

Sedang bagi yang tidak mampu melanjutkan pilihan hidupnya, maka dia akan melakukan hal yang tidak dia senangi seumur hidup demi apa yang disebut dengan “berbakti kepada orang tua”. Dan pada kondisi tertentu bisa menyebabkan si anak menjadi stress dan menyimpan dendam.”

Sampai disini kenalan saya itu tampak termenung-menung. Sayapun kemudian melanjutkan kotbah saya🙂.

“Saya tuh pak, pernah mendengar cerita nyata, dimana si anak akhirnya tidak mau kembali ke ortunya karena ortunya beranggapan si anak harus melanjutkan bisnis keluarganya. Karena si ortu merasa sudah mahal2 membiaya kuliahnya ke luar negeri, maka si ortu BERHAK atas si anak, yaitu menyuruh dia kembali dan menggantikan ortunya.

Menurut saya pandangan itu tidak tepat. Prinsip seperti ini mungkin bisa dipaksakan ke anak2 yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Namun bagi anak2 yang sudah memikul gelar sarjana apalagi sempat bersekolah ke luar negeri, sulit untuk dipaksakan.

Banyak ortu (tentu tidak semua), terutama dari kota2 kecil, yang memiliki uang banyak, tanpa pernah mengalami pendidikan tinggi, mengirim anak2nya ke luar negeri, ke Singapore, Malaysia, Australia bahkan ke Eropa atau Amerika.

Sekembali anaknya, mereka kaget kok anaknya jadi tidak seperti dulu lagi. Cara bicaranya beda, pandangannya berbeda, pilihan makanannya berbeda, semua berbeda. Kok jadi kayak bule sekarang, sedikit2 SH*T, sebentar2 F*CK, kalau marah keluar dua2nya.

Ortu itu lupa bahwa selama 4 – 6 tahun anaknya berada di lingkungan bule, yang menomor satukan HUMAN RIGHT. Saya ingat salah seorang teman saya yang pindah ke Canada, setelah beberapa saat anaknya yang masih SD sekolah disana mengatakan begini :”Daddy, don’t push me to do that. I know my right, or I will sue you” (terjemahannya kira2: Papa, jangan paksa saya melakukan itu. Saya tahu hak saya, atau saya tuntut papa ke pengadilan).

Coba berani ngomong begitu disini, kalau gak merah pipinya digampar oleh ortunya wkwkwkwk….

Nah ketika prinsip2, nilai2 atau idealisme2 baru itu masuk ke pikiran anak2, mereka sudah bukan our baby girl or boy lagi, mereka sudah menjadi pribadi2 yang merupakan kombinasi nilai2 keluarga yang kita ajarkan semasa mereka kecil dengan yang baru mereka terima selama kuliah.

Lha kalau ORANG seperti ini kita paksakan dengan kehendak kita, apalagi mulai mengungkit-ungkit biaya yang kita keluarkan bagi mereka. Yahhh….bencanalah akhirnya. Perdebatan hingga perkelahian dan yang paling parah putus hubungan keluargalah ujungnya.

Jadi kalau memang anak2 sudah memiliki keputusan bulat, sudah kita challenge keputusannya itu, dan dia mantap dengan hal ini, biarlah dia tentukan hidupnya sendiri”.

Saya narik nafas bentar dan melanjutkan lagi.

“Saya pernah berbicara dengan ortu yang sangat bijaksana, yang saya pikir merupakan solusi yang paling bijaksana yang pernah saya tahu.

Beliau sama seperti cerita saya diatas, menyekolahkan anak2nya ke luar negeri. Kemudian si anak2 merasakan nikmatnya hidup di LN, tenang, damai, teratur, tidak ada serobot2an, tidak dikompasin orang, tidak dimintai uang oleh pegawai kelurahan untuk urus surat ini itu dlsb.

Setelah anak2nya lulus, beliau meminta mereka melanjutkan usaha keluarga, sama juga seperti cerita saya di atas. Namun, anak2nya tidak mau. Mereka ingin hidup di negeri orang saja, daripada mengurus usaha ortunya yang menurut mereka kurang keren. Masa lulusan sekolah top di USA, ujung2nya jadi pedagang, mungkin demikian pikir si anak.

Ya sudah, beliaupun tidak memaksa, malah mensupport usaha anak2nya. Tetapi, tentu saja aliran uang berhenti setelah mereka lulus kuliah dong. Mereka tentu harus hidup dan berjuang sendiri dong. Apalagi itu semua keputusan anaknya sendiri.

Nah, pada saat2 masih single sih tidak apa2. Gaji pas2an, kontrakan seadanya, makanan itu2 aja dan hiburan secukupnya masih ok, wong masih single. Masih adventurer. Namun setelah menikah, dan memiliki anak, lain lagi ceritanya. Kompetisi kerjaan, kerasnya kehidupan, sama saja di belahan dunia manapun kita hidup.

Sementara kalau pulang ke rumah ortunya di kampung, dilayani bak raja. Rumah ortunya segede istana, pembantu dan supir entah berapa. Semuanya pakai voice recognition (pengenalan suara), tinggal teriak “Mbakkkkk….minta makan dongggg”. Cringggg …. semuapun tersedia.

Lha kalau di US, suami istri harus bekerja karena kalau tidak gaji nggak cukup, anak terpaksa dititipkan ke daily care kalau tidak bisa dipenjara atas tujuan penelantaran anak. Pergi pagi, pulang malem, sama seperti di Indo. Sabtu minggu beberes rumah, cuci baju dan mobil. Semuanya kudu dilakukan sendiri, beda dengan di rumah ortunya yang sudah pake voice recognition tadi.

Setelah beberapa tahun, akhirnya si anak sadar juga. Ortunya kaya raya, usaha sudah mantap, tinggal dikembangkan, apalagi yang mau dipiih…dan akhirnya pulang meneruskan usaha ortunya. Akhirnya ceritanya happy ending.”

“Sooooo….”, begitu saya mulai melanjutkan lagi”biarkan saja pak. Biarkan dia melakukan yang terbaik menurut dia. Beri dia kesempatan, asal sudah kita challenge keputusannya itu.

Lagian siapa tahu dia bisa berhasil. Who knows? Lha wong orang jual bakso di dekat kantor saya aja sukses. Orang jual ayam goreng doang juga sukses.

At the end kan urusan perut juga yang dicari🙂, daripada sekarang kita paksa diluar kemauan mereka. Iya kalau berhasil, semuanya happy ending. Kalau gagal??? Pasti ortu yang disalahkan sampai mati” demikian saya tutup keceriwisan saya.”

Beliau terdiam sejenak, kemudian sembari mengambil nafas lega (menurut saya sih :)), beliau mengatakan:”Iya bener juga, biar dia coba apa yang dia pikir bagus ya.”

Hmmm…duhh mudah2an saya tidak salah omong…

———————

Pembaca, ortu, bapak/ibu yang saya kasihi, saya mohon maaf apabila opini saya ini terlalu menggurui atau tidak pada tempatnya, saya hanya berharap bagi ortu2 yang mengalami perdebatan dengan anak2 seperti yang dialami salah satu peserta training saya di atas, bapak ibu bisa melihat dari perspective lain.

Terakhir saya ingin mempersembahkan puisi yang indah sekali, yang ditulis oleh seorang penyair terkenal Kahlil Gibran.

Puisi Kahlil Gibran Tentang anak 

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur, dan anak-anakmulah, anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, 
Sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap 

 —ooOOOoo—

25 thoughts on “They are not your investment

  1. Klo saya sebetulnya setuju mengenai pilihan si anak untuk menentukan masa depannya dan kita mengarahkan dan support saja (kondisi bukan Beta version)
    , tp klo nanti punya anak susah juga yach melakukannya?

    klo nanti dia pilih jurusan kuliah yg aneh2x .. contohnya: dia pilih Apple dibanding Microsoft😛
    Dan klo masalah religion apa juga itu terserah siech anak pak?

    ehm … puisinya bagus pak, kecil pula sizenya …
    Klo saya upload bisa2x “Kapak Merah” melayang …😛

    • Agama apa dulu, Apple or Microsoft? Wkwkwk..kalau ini kan gampang mutusinnya Den🙂.
      Tapi kalau masalah religion, memang lebih rumit, tp menurut saya, fungsi ortu tetap hanya sebagai pembimbing, pengarah, suara hati, keputusan akhir tetap ada di anak ybs. Bagaimana menurut kamu? Setuju atau tidak?

      • wah entahlah pak, versi saya belum sampe punya anak. tp emang susah banget kayaknya, saya cari2x di MSDN aja gak ketemu2x pak😛

        Belum lagi masalah pasangan hidup anak nantinya, nanti dia pulang bawa pacarnya dari bangsa bar-bar (dekil, bertato, muka ditindik 17, klo gondrong gpp … )
        klo dikomplain nanti saya di Sue kayak Apple ke Samsung.😛

        tp klo bekal “source code” sekarang yach seperti itu Puisi Chairil eh Kahlil untuk technical support anak.

  2. Setuju sekali dengan tulisan diatas, apalagi saya dibesarkan tanpa ada paksaan sama sekali dari orang tua saya, baik dari memilih sekolah, kota tempat sekolah, jurusan sekolah sampai pekerjaan. Setelah menjadi orang tua, selalu dihantui perasaan kuatir, tapi pemikiran Kahlil Gibranlah ini yang selalu saya tanamkan di kepala saya.

    Satu hal kunci adalah menjadi orang tua harus ikhlas. Oh ya saya pernah nulis hal serupa disini.
    http://applausr.net/2012/07/03/menjadi-orang-tua-dan-anak. Di Monggo kalau mau dibaca, maklum tulisan tidak sebagus Bapak.

    • Lho kok kejadiannya mirip ya wkwkwk…good writing Plaus. Iri nih lihat pembaca blog kamu yang sangat spontan memberikan komentar, sehingga membaca komentarnya merupakan keasyikan tersendiri🙂.
      Perlu banyak belajar dari kamu bagaimana encourage reader to comment🙂
      GBU

  3. Kalau abis selesai SMA, terus mesti milih jurusan di univ…. gimana seorang anak bisa memilih dengan baik jurusan yg disukai nya?

    Apakah SMP or/and SMA sudah mebekali mereka untuk memlih dengan baik?
    Atau mesti pake jurus lain? Bila ada, apa saja pilihan nya?

    • Pak Eddy?
      Waktu saya mau lulus SMU biasanya ada test psikologis yg membantu pengarahan bakat dan minat siswa/siswi.

      walaupun hasilnya tidak akurat, tp hasil dari test itu biasanya bisa digunakan sebagai acuan siswa.

      contohnya saya, setelah hasil psikologis test itu keluar dan diantara output itu ternyata semuanya adalah hal yg saya sukai.

      lalu saya gunakan itu sebagai keputusan pemilihan jurusan saya.

    • hmmm…kalo soal pilih jurusan waktu mau masuk universitas sih, waktu itu saya memang nurutin apa kemauan papa.
      karena saya sendiri juga bingung mau ambil jurusan apa, karena masih gatau suka nya apa, pengen apa, ato jurusan yang cocok dan gampang yang mana, jadinya minta saran orang tua.

      karena kalo menurut saya, sepertinya orang tua biasanya tau batas kemampuan dan juga hobi atau kesukaan anaknya, plus pertimbangan2 dan pengalaman hidup, nah dari situ orang tua bisa bantu untuk memberikan masukan tentang jurusan yang akan diambil.

      • Saya termasuk group yg binun.. ngak tahu suka nya apa.. terus kakak saya bilang kayak elu cocok ambil teknik mesin (salah satu dari hasil psikotest saat itu)… saya bilang … ok deh…. padahal ngak pernah ngutaktik mesin or mobil. Ya kuliah di jalankan lah sekedar untuk membuktikan saya ini ngak bodo2 amat… jadi rada possesed untuk dapat high score…itu doang…. passion saya baru tahu 6 tahun yg lalu… weleh2…nyasar nya kelamaan. Saya salah satu dari ratusan juta anak yg get lost didunia ini. Kalau ngak salah GG bilang ada finger print test… katanya lumayan juga…. harga nya 1 juta rupiah. Saya mau iseng bawa anak saya kesitu . Sayanya sih dah ngak mau buat apa…dah telat… mending 1 juta nya buat makan2. Teman istri saya di test, bilangnya dia cocok untuk guru anak2… dan memang bener passion nya dia disitu. Walaupun kerjaannya sebagai merchandiser. Anaknya ada 2 yg di test…salah satunya di bilang will be OK, he can take care of himself…namun yg satunya labil. Memang bener.

        Kalau saja sejak muda, manusia diberikan jalan untuk menemukan passion nya…wah… the entire world will be a different place to live… manusia berkarya dalam kapasitas maximal nya dan menyukai nya. There will be thousands steve jobs and guntur gozali, Tanti, Denny versi large, medium, small and extra small.

        • Pantes di rumahmu banyak mobil yang rusak padahal masih kelihatan baru ya wkwkwkw…bisa bongkar tidak bisa pasang kembali wkwkwk….
          Perlu pembaca ketahui, sobat saya Eddy ini, jago membaca chart2 pergerakan saham. Sampai2 chart2 itu bisa berbicara sendiri ke beliau. Mudah2an nanti suatu ketika beliau juga mau membuat blog untuk share bagaimana kita boleh menikmati riding the wave🙂.
          Kita tunggu saja tulisan beliau🙂

      • Itu memang betul, ortu yang paling tahu minat bakat sang anak. Beruntunglah kamu punya ortu yang penuh perhatian, yang sempat mengawasi setiap detik perkembangan hidupmu sehingga bisa memberikan masukan atas jurusan yang kamu ambil.
        Saya tidak memiliki kemewahan seperti yang kamu punya, karena ortu saya berada jauh di Kalimantan dan tidak banyak mengerti mengenai dunia pendidikan, sehingga saya harus mencari tahu sendiri🙂.
        Mudah2an saya bisa share buat adik2 yang masih bingung mengambil jurusan apa nantinya. Let me think about it🙂

    • Hallo Om Eddy, lama gak nongol, bagaimana kondisi persahaman Indonesia nih. Tolong bagi2 ilmunya dong🙂.
      Bagaimana nasib saham group Bakrie? Ada peluang untuk cari untung dikit2 atau dijauhi aja🙂
      Pertanyaan sampeyan lebih baik saya jadikan topik tulisan aja ya, siapa tahu ada juga adik SMA yang baca🙂

  4. Tahun 1983 duluu…
    Ortu mengharuskan saya masuk jurusan elektro UKSW mengikuti jejak kakak saya yang alumni sana.
    Karena gak suka yang berbau elektro, bahkan daftarpun tidak.
    Tahun 1984 gelombang II, saya baru mau daftar ke sana setelah gak diterima di mana-mana.
    Saat itu pilihan pertama saya adalah fakultas ekonomi dimana uang pangkalnya saya isi lebih besar dari elektro, dan elektro hanyalah pilihan terakhir karena tak boleh memilih hanya 1 jurusan.
    Nasib ternyata berkata lain…
    Sampai sekarang yang saya sesali hanyalah kenapa tak mau nurut ortu saat itu sehingga waktu 1 tahun terbuang percuma.
    Andai waktu bisa diputar ulang, tanpa ragu lagi elektro menjadi pilihan pertama saya.
    Itu yang namanya tak kenal maka tak sayang kalee…

    • Kalau memang sudah menyukai bidang elektro, mestinya tidak ada yg perlu disesali. Fokus saja terus dengan bidang yang ditekuni sekarang, kecuali waktu itu memang lagi “mbeling2” nya, seperti semua anak muda lainnya ya, pokoke kalau disuruh ortu selalu kita challenge🙂.
      Jadi akhirnya memutuskan untuk menjadi Sarjana Ekonomi ya? Bukannya sarjana ekonomi skr lagi laku2nya🙂.
      Tp yg paling utama sih senang dgn pilihan, meskipun tidak menentukan keberhasilan / kesuksesan kita, tetapi plg tdk tidak tersiksa menjalaninya.
      Salam

      • Bukan begitu endingnya…
        Nasiblah yang menentukan saya harus di elektro, karena saat interview dengan pak Thomas AP, beliau tak percaya elektro pilihan kedua, demikian juga saat interview dengan pak Johnson Dongoran, walau besarnya sumbangan sudah sangat jelas menunjukkannya.
        Mungkin nilai tes saya cukup memadai kali di elektro walau kena remediasi.
        Setelah terjun ke dalamnya, barulah mulai menyukainya…
        Pokoke gak nyesel rek kuliah di sana.

        • Hahahahaha…berarti dulu minatnya memang di elektro ya🙂. Saya sendiri tidak cakap bermain-main dengan komponen2 elektronik itu, makanya kemudian memilih Minor Komputasi, dan fall in love with it, until today🙂
          Semoga semakin sukses di bidang ini.

  5. Saya setuju sama tulisan Om…

    Unfortunately untuk saya, pengalaman hidup saya sedikit berbeda dan extreme. I grew up with my parents till my teen age, then I moved in with my guardian. So, walaupun not necessarily related to my parents, but my guardian acted as my parents as well. He’s like a dictator, and very controlling up. Setiap tindakan saya harus sesuai apa yang dia harapkan, bahkan taro gelas di tempat yg salah aja (beda sisi: saya taro di kanan, seharusnya tempat saya dikiri), bisa dimarahin abis2an, sempet juga dibilang kalau belajar gitu aja ngga becus (extreme banget yah hahaha, tapi ini beneran loh…). Dari cara saya bicara, cara saya bertindak harus nurut + ikut dia, tanpa boleh bertanya. Kalau saya tanya atau ngelawan, dibilangnya kurang ajar (padahal saya cuma try to express myself). Ada saatnya dimana saya ebrubah jadi seorang introvert dan seorang pengecut. Saya takut untuk bertindak sesuatu, karena takut dimarahin (walaupun saya yakin orang lain ngga bakal marahin saya). You may say it was a scar of life that I have to burden throughout my life. BUT, please remember that we as an individual has an option whether we want to be positive or negative. So, instead of complaining what happen to our live, we should be grateful that it happen to our life so we can learn from it.

    I’ve gone through a lot, at one point I was so mad and fed up. But, what I want to share is “try to see things in different perspective”. Prinsip ini yang menolong saya untuk bertahan dalam situasi itu. Dan dengan prinsip ini juga, saya belajar lesson of life. Saya alami langsung pengalaman yang lumayan pahit dan tidak enak ini, tapi justru karena saya mengalami ini, saya berjanji pada diri saya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kepada orang lain. Ditambah juga, setelah saya mengalami hal itu, secara tidak saya sadari, saya menjadi lebih kuat ‘mentally’. Sering kali saya mendapat tekanan2 dari luar, yg berat dan ringan. tapi saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa yg saya alami sekarang ini tidak separah yg saya alami dulu.

    Long story short, sekarang saya have independent and happy life, and I’m glad and grateful to have gone through all those experience. I often listen to other people’s stories, and most of the time I can give them my advice so they can stay on the right path. I am glad I can help others through my own experience.

    So, what I want to emphasize is: bahwa apapun pengalaman yg kita alami. Baik atau buruk, senang atau sedih, semuanya itu ada hikmah and some ‘lesson of life’ for us to learn. Keep up your positive thinking and attitude, and you will learn a lot more than you realize yourself.
    And in addition, seperti yang Om Guntur mention di blog ini atau di blog satu lagi: everybody will experience both feelings as a parents and as a kid. As a kid, we just need to tolerate our parents and learn from it. And One day, as a parent, we will understand how our kid feels.

    Sorry yah, tulisan saya sangat berantakan dan kurang mengalir. I really want to share this to everybody hoping they could learn from it, but haven’t had much time these days. Jadi, saya ngga sempet untuk review nor revise my writing, I was just expressing what my thought was at the moment. I will revisit my writing next time and revise it, meanwhile I hope it will be useful for everybody.

    Regards,
    Anton

    • Anton, tulisanmu bagus dan expressive.

      Saya berharap suatu waktu nanti puluhan bahkan ratusan orang seperti kamu mau berbagi cerita, jadi sharing saya tidak dilihat hanya dari satu sisi saja.

      Saya kagum atas prinsip hidup kamu, bukannya hancur lebur malah bisa membalikkan cara berpikir spy lebih positive. Mungkin Tuhan memang memilih kamu, untuk menjadi alatNYA mengarahkan orang/anak2 lain yang tidak sekuat kamu.

      Keep sharing ya.

      May God bless you and your family.

      • I agree with pak Guntur that Anton could be ‘a choosen one’ to share his life experiences to others(one of them is me). Just wonder, how old are you for having those kind of wisdom Anton?
        After all, my big appreciation for pak Guntur who welcomes anyone to have free discussion over his ‘homy blog’, thx a bunch sir!

        • Thank you for the kind and encouraging words, tante. You’re flattering me, I’m 28 this year and not that wise either. I learned a lot from my experience, yet I realize that there are still many things I don’t know/understand. There are many people out there much much better than me, and I am trying my best to learn from them. I hope that someday I can contribute and help others as well.

          Regards,
          Anton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s