Project Olahraga Nasional

Geli sekaligus gemas saya membaca judul berita di salah satu harian terkemuka beberapa hari yang lalu. Judul yang tampak sangat biasa itu, sebenarnya merupakan sindiran yang menyakitkan, kalau saja orang2 yang terlibat di dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional yang dulu sangat dibanggakan itu, punya perasaan.

PON yang dulu menjadi ajang olahraga yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat Indonesia, semakin lama menjadi semakin memprihatinkan. Pada Pekan Olahraga Nasional XVIII di PTPN V, Pekanbaru, Riau, berbagai fasilitas tampak belum siap, bahkan satu panel kaca kanopi di pintu masuk stadion tenis yang akan digunakan, runtuh sebelum digunakan, sehingga berakibat tiga orang luka-luka.

Hal ini semakin memperkuat tudingan2 miring bahwa ajang olahraga yang seharusnya menjadi ajang pertarungan sportifitas itu malah menjadi ajang perebutan medali rupiah, dollar, euro dll, makanya kemudian diplesetkan menjadi Project Olahraga Nasional.

Kompas.com edisi pagi ini, Sabtu, 8 September 2012 | 09:28 WIB, mengangkat berita dengan judul Rp 16 Miliar Belanja PON di Riau Tidak Jelas. Diberitakan demikian: Ketidakjelasan itu adalah aset eks Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2011 senilai Rp 21 miliar. Aset itu kini tidak jelas keberadaannya. Selain itu, terdapat kekaburan pembelian peralatan untuk PON Riau 2012. Pembelian senilai Rp 16 miliar itu tak didukung bukti pembayaran.

Duhhh…rasanya gemes, benci, marah, gregetan, jengkel bercampur menjadi satu di dada ini, rasanya ingin meledak melihat semua tingkah polah penguasa ini. Tidak ada satupun area yang luput dari hal yang berbau permainan uang, belum lagi  headline di Koran Tempo pagi ini yang menampilkan foto setengah halaman tersangka kasus proyek pengadaan Al-Quran di mobil tahanan. Haizzzz….

Saya sebenarnya bukan penikmat olahraga sejati, bukan orang yang menukar waktu membaca atau menonton film saya dengan menonton pertandingan olahraga, saya bukan penggila olahraga. Tetapi saya tidak tahan untuk tidak berkomentar mengenai ketidak arifan (ini kata halus dari ketololan) pemimpin2 kita di dalam menyikapi event olahraga.

Saya yakin sebagian besar pembaca pernah menonton film berjudul Invictus yang diperankan oleh Morgan Freeman dan Matt Damon serta disutradarai Clint Eastwood. Film ini menceritakan bagaimana Nelson Mandela, sebagai pemimpin baru Afrika Selatan, pada tahun 1995 mempertaruhkan jabatannya mensponsori team rugby untuk memenangi Rugby World Cup 1995.

Ketika itu Negara Afrika Selatan sedang dicabik-cabik oleh masalah perbedaan warna kulit antara kulit putih dan hitam. Perbedaan ini sangat buruk sehingga sudah mengarah pada perang saudara antara kedua kelompok ini.

Nelson Mandela, yang diperankan Morgan Freeman, mengambil keputusan berani dengan mensponsori habis2an team Rugby kulit putih yang dikapteni oleh Matt Damon. Keputusan ini secara politis tentu saja sangat ditentang oleh pemimpin garis keras kelompok hitam…lha kok malah pemain kulit putih yang disponsori.

Namun Mandela tidak mundur, dia membuat program untuk mempromosikan team rugby kulit putih ini ke seluruh pelosok Afrika Selatan, dia juga secara pribadi memberikan support moral ke team. Hal ini menyebabkan team Rugby yang secara langsung disupport habis2an oleh pimpinan tertingginya ini terbakar semangatnya. Dan singkat cerita memenangi Rugby World Cup 1995.

Begitu team pimpinan Damon memenangi kejuaraan ini, seluruh masyarakat Afrika Selatan, tua muda, laki perempuan, kaya miskin, dan… yang paling penting…hitam putih, berpelukan, meloncat-loncat kegirangan, berteriak, berdansa, semua bergembira atas kemenangan ini. Dan Mandela juga bergembira atas lumernya perbedaan warna kulit karena hal ini.

Saya rasa semua merasakan, pada saat team sepak bola Indonesia bertanding melawan siapa saja diluar negeri sana, terutama melawan Malaysia, rasanya seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke bersatu padu memberikan support ke team pujaannya ini. Tidak ada lagi Jawa – Madura – Sunda – Tionghoa – Ambon – Dayak dlsb, semua lebur jadi satu. Saya rasa semua menyadari itu.

Tapi kenapa alat pemersatu bangsa yang paling efektif ini tidak pernah menjadi perhatian penguasa negeri ini? Kenapa kok dari 250 juta penduduk tidak ada 11 orang pemain bola yang handal? Kenapa kok tidak ada lagi medali dari bulutangkis? Kenapa kok tidak ada lagi Elyas Pikal yang pernah menjadi pujaan rakyat? Kenapa? Kenapa?

Duuhhhhh Olahraga memble, hasil bumi memble, tingkat pendidikan memble…errrrgggghhhh….gemesnyaa😦.

 

Update:

Komentator setia saya Denny Lim🙂, memberikan saya link berita mengenai : Mengapa Tong Sin Fu Memilih Kembali ke China. Dari sini kita bisa melihat betapa kacaunya pembicanaan olahraga di negara kita ini😦. Silakan dibaca.

 

7 thoughts on “Project Olahraga Nasional

  1. Hi Om, duluuu banget tepatnya aku nggak inget kapan, tapi kalau gak salah aku pernah denger cerita katanya malah ada atlet yang mau bertanding membawa nama Indonesia gak dapet visa atau ada masalah imigrasi deh sampai akhirnya Megawati sendiri yang turun tangan biar mereka bisa pergi… maluin banget yah

    • Maluin, nggemesin, ngamukin, campurin jadi satu deh 🙂. Sy tdk tahu kenapa tidak ada satupun yg bisa dibanggakan dari negara yang luar biasa ini😦.
      Semoga nanti muncul satu entah dimana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s