Ajaklah Mereka Berbahasa Indo/Daerah (2/2)

Jika saja dulu saya lebih sering mengajak mereka berbahasa Jawa sedari kecil, maka saat ini mereka sudah menguasai 3 bahasa secara gratis, yaitu Jawa, Indonesia dan Inggris. Jika saja….Banyak teman2 saya yg sudah migrate ke US/Australia/Canada/Jerman memiliki putera/puteri yang tidak lagi bisa berbahasa Indonesia, apalagi berbahasa daerah. Padahal ketika saya mengunjungi mereka, saya berbahasa Jawa dengan teman2 saya itu.

Ketika mereka migrate, mereka pasti berpikiran agar supaya putera/puteri mereka cepat beradaptasi dengan lingkungannya, maka mereka berusaha untuk selalu berbahasa Inggris dengan putera/puteri mereka. Padahal semua tahu bahwa anak2 amat sangat cepat beradaptasi dengan lingkungannya, mereka hanya perlu beberapa bulan untuk cas-cis-cus berbahasa local, dimanapun dan bahasa apapun yang digunakan. Correct me if I am wrong.

Ketidak sadaran ini berakibat sangat merugikan bagi si anak, karena seharusnya si anak bisa berbahasa Inggris PLUS bahasa Indonesia, minimal dua bahasa, kini mereka hanya mengenal bahasa Inggris saja.

Jika analisa saya ini masuk akal, maka orang tua tidak perlu lagi susah2 melipat lidah berbahasa Inggris dengan anak2, pakailah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan orangtua semisal bahasa Indonesia atau Mandarin, plus kalau bisa bahasa daerah, sehingga mereka bisa mengusai multi languages.

Dengan demikian pada saat mereka kembali ke Indonesia, jika masih mau kembali, mereka tidak lagi perlu les bahasa Indonesia (aneh ya orang Indo les bahasa Indonesia J). Kecuali memang grand plan orang tuanya sudah memutuskan untuk tidak akan lagi berhubungan dengan negeri dongeng ini J.

Jadi bagi pasangan muda yg bahasa sehari-harinya berbahasa Indonesia atau daerah, sementara anak2 bersekolah di sekolah dengan bahasa pengantar bahasa Inggris/Mandarin/Jerman, ajaklah mereka menggunakan bahasa bukan bahasa pengantar di sekolah. Saya jamin Anda tidak akan menyesal.

Lahh…ngapain belajar bahasa Jawa/Sunda/Batak/Madura…nggak keren atuhhh…kampungan….

Yahh…we just don’t know, what will happen to them someday. Siapa tahu nanti mereka kembali ke Indonesia sebagai pengusaha atau professional, dan mengharuskan mereka bekerja sama dengan pengusaha local. Jika mereka yang jebolah luar negeri omong Madura dengan si pengusaha local, maka saya jamin time to “click” atau waktu “ice breaking”nya akan jauhhhhh lebih cepat. Apalagi kalau mereka tahu si jebolan luar negeri bersekolah di sekolah top seperti MIT/Stanford/Berkeley…wahhh….saya berani jamin pengusaha local itu akan lebih respect lagi.

So sekali lagi, jika logika saya ini masuk akal, mulailah berbicara dengan mereka diluar bahasa pengantar mereka di sekolah…

Saya sangat menantikan kritikan atas analisis ngawur saya ini, supaya ajakan saya tidak salah arah.

4 thoughts on “Ajaklah Mereka Berbahasa Indo/Daerah (2/2)

  1. Analisis bapak persis seperti apa yang diajarkan orang tua dan oom saya. Saya besar di daerah sehingga otomatis bisa berbahasa daerah (hokkian). Bahkan bahasa yg digunakan untuk komunikasi dgn teman2 sekolah adalah bahasa daerah. Saat saya datang ke jakarta untuk melanjutkan ke SMA, bahasa indonesia saya sangat kampungan. Banyak ucapan/kata2 teman2 yang tidak saya mengerti. Jadi selama bulan2 pertama, saya hampir tidak punya teman alias kuper. Namun setelah bbrp lama saya bisa beradaptasi dengan baik. Namun sejak itu saya tergoda untuk berbahasa indonesia dengan sepupu2 saya di rumah. Kebetulan saat itu saya masih menumpang di rumah oom. Setiap kali oom saya mendengar saya berbahasa indonesia di rumah, saya pasti diomelin dan tidak mau diladenin. Saat itu dengan terpaksa saya pakai lagi bahasa daerah. Sekarang saya malah mensyukuri semua itu. Karena saya jd bisa 4 bahasa: indonesia, inggris, hokkian dan mandarin (yg ini hanya cukup memadai untuk memahami daily conversation). So saya setuju juga dgn analisa bpk berdasarkan pengalaman saya sendiri.

    • You are so lucky, Zun. Km sudah semestinya say thank ke mereka🙂, ternyata visi mereka sudah jauh ke depan. Beberapa anak teman saya yang hidup di LN, sdh tdk bs bahasa Indo lagi. Sayang sekali.
      Tq for sharing.

  2. Halo, aku kebetulan mampir di blog anda. Setuju banget sama apa yang anda tulis. Aku tinggal di Perth, di sini banyak orang Indo yang anak2nya gak lancar berbahasa Indonesia. Parahnya pernah aku temui orang tua yang Inggrisnya pas2an mencoba menerangkan sesuatu kepada anaknya cuma passive berbahasa Indonesia dengan pas2an juga. At the end, waktu itu aku kebetulan ada disana jadi ngebantuin nerangin deh.

    Articlenya menarik sekali, aku follow blognya yah… ^^

    • Hallo Shii, terima kasih sudah mampir, dan terutama memberikan komentar yang menguatkan opini saya.
      Sebenarnya tujuannya baik yaitu supaya si anak lancar berbahasa Inggris, tapi lupa saja bahwa anak2 itu sangat cepat menguasainya. Jadi lucu, ortunya terbata2, anaknya sudah wasss wess wusss, dan yang disayangkan anaknya akhirnyat gak bs bahasa Indonesia, pdhl keturunan Indo😦.
      Semoga bagi pasangan muda yang sempat membaca tulisan saya ini, tidak terlambat seperti saya yang “lupa” mengajarkan bahasa Jawa ke anak saya.

      Tq for following my blogs, saya tersanjung sekali.

      GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s