Mari Kita Hadapi Corona Dengan Tersenyum…

Smile To Corona

Setahun lebih saya puasa menulis, akhirnya hari ini saya buka puasa gara2 Virus Corona… 🙂 .

Pada posting saya ini, saya tidak bermaksud ikut2an latah membahas apa itu Virus Corona, bagaimana penularan dan lain sebagainya, saya yakin jika pembaca memiliki account WA, pembaca mungkin sudah hampir muntah menerima ratusan atau mungkin ribuan messages bersliweran mengenai VC ini dalam kurun beberapa minggu terakhir.

Saya memutuskan membuat tulisan ini karena saya sudah tidak tahan lagi melihat kekhawatiran orang2 disekitar saya yang sudah mulai, maaf, kehilangan sebagian kecil atau malah sebagian besar akal sehatnya. Saya hanya ingin mengajak pembaca tercinta untuk membantu teman2 / keluarga kita untuk mengubah mindset mereka.

Karena pada saat ini, semua menjadi panik, semua menjadi paranoid. Luar biasa paranoid… bahkan boleh dikatakan paranoid tingkat dewa…

Dua hari lalu saya menerima beberapa messages berupa video mengenai penyemprotan disinfectant di seluruh lingkungan salah satu RT/RW entah dimana, berikutnya saya menerima lagi video message orang yg membuat alat penyemprot disinfectant automatis jika ada warga yang hendak memasuki lingkungan tertentu, ehhh kemudian ada lagi yang mengirim message mengenai salah satu rumah tangga menggunakan bilik penyemprot disinfectant bagi orang yang akan keluar masuk rumahnya. Kemudian, ada lagi yang mengirimkan promosi bilik disinfectant untuk rumah pribadi. Luar biasa…

Kemarin lagi, tiba2 di WAG lingkungan saya ribut membicarakan ide untuk memasang bilik disinfectant serupa untuk perumahan kami. Ramai dibicarakan mengenai bagaimana cara pemasangannya, akan dipasang dimana dlsb, tapi begitu ditanya siapa yang mau volunteer untuk memasangnya, semua langsung silent… 🙂 . Maaf temen2 lingkungan atas sentilan saya ini 🙂 .

Dan sejak kemarin sore, saya memperoleh message mengenai protocol memasuki rumah, yang akhirnya menjadi guyonan di group saya. Salah satu protocolnya adalah melepas baju kalau memasuki rumah. Kami bercanda, dimana melepas bajunya?  Di luar atau dalam rumah. Kalau di dalam rumah, sudah telat dong, virus sudah keburu masuk rumah. Kalau di luar, berarti harus telanjang di halaman dong… Ihhh malu atuhh… 🙂

Yang terakhir, yang membuat saya garuk2 kepala,  saya juga menerima beberapa pesan dari warga saya (kebetulan saya Ketua RT) di lingkungan saya… caillehhh pak RT nih judulnya :). Mereka menanyakan apakah benar di Blok lain ada yg sudah positive Covid 19? Kalau iya kenapa kok gak diberitakan? Terus bagaimana tindakan kita? Apa gak sebaiknya orang itu diisolasi? Apa gak diminta pindah dulu? Dlsb dlsb…

Fiuhhh…

Beberapa hari lalu saya memang mendengar di Blok lain perumahan saya ada warga yang positive tertular, sehingga pak RW dan pak RT setempat, ketika kebetulan ketemu saya pas jalan pagi, sempat bingung harus mengambil tindakan apa. Namun esok harinya, ternyata orang yg diisuekan tertular itu ketemu saya dalam kondisi sehat walafiat sedang naik sepeda. Nahhhh lhooooo…

Kalau seandainya betul ybs tertular, jarak rumah ybs ke lingkungan saya sekitar 500 – 1000 m alias setengah hingga satu kilometer jauhnya. Apa iya virusnya bisa terbang ke lingkungan saya?

Kalau seandainya benar ybs tertular, emang saya bisa mengisolasi mereka atau mengusir mereka dari lingkungan mereka? Walah bisa2 saya yang digebuki oleh warga sana.

Ketika virus ini mulai merebak di Wuhan, saya sempat mengikuti perkembangannya setiap hari dengan perasaan was-was. Dan setelah itu saya memang sempat mengalami keresahan tingkat tinggi, bahkan beberapa hari saya sempat merasa gloomy dengan berbagai macam pertanyaan di kepala saya… What if saya kena? What if istri saya tertular? What if anak saya… What if keluarga saya… duhhh…

Dan sekitar sebulan lebih yang lalu, ketika saya mengikuti acara reuni teman2 SMA saya di Batu, Malang. Pada akhir acara ketika perpisahan, kami bersalam-salaman dan berpeluk2an, sementara ketika itu ada salah satu peserta yang tiba2 demam tinggi hingga harus dibawa ke UGD.

Sepulang dari Reuni itu saya “merasa” seperti demam, “merasa” tenggorokan saya kering… saya “merasa” mengalami symptoms seperti yang saya baca mengenai symptoms ketularan Corona.

Untunglah itu semua hanya perasaan takut saya saja…

Perasaan takut itu pulalah yang saat ini semakin santer “menular” melalui WAG yang kita ikuti, setiap detik menyebarkan “penyakit” dan “ketakutan” melalui handphone kita.

Tapi itu hanya perasaan saja. Perasaan karena ketakutan yang kita terima dari berita2 negative itu.

Ketakutan yang menyebabkan ribuan orang “merasa” demam, “merasa” tenggorokannya kering, kemudian menyerbu Rumah Sakit untuk memeriksakan diri dan akhirnya tertular di Rumah Sakit.

So bagaimana dong, tentu itu yang pembaca tanya?

What should we do?

Masa diam saja? Masa gak perlu pasang bilik disinfentant? Masa yang tertular di lingkungan kita gak kita suruh pindah?

Saya bukannya menyarankan untuk diam saja atau tidak melakukan apa2. Akan tetapi.. waspada but stay calm, tidak panik.

Gimana gak panik???? Orang sudah ratusan ribu yang tertular??? Kota2 sudah di lock down??? Yang mati beribu-ribu???? Gimana gak panikkkk????

Tentu pembaca emosi nih membaca tulisan saya…

Ya silakan panikkk dehhhh… tapi bentaran ya… jangan lama2… 🙂

Mari saya ajak untuk berpikir logis.

Misalkan saja, kita membungkus diri kita di rumah dengan pakaian berlapis-lapis seperti yang dipakai oleh perawat yg menangani pasien ternjangkit Covid 19, PLUS masih dibungkus plastic lagi. Lengkap dahhh… tertutup rapatttt…

Apakah ada pembaca yang berani menjamin PASTI tidak akan tertular?

Kecuali setelah itu masuk ke dalam kamar / goa, dan menguncinya dalam dalam hingga Corona bosan dan meninggalkan di dunia ini…

Mungkin iya bisa…

Tapi kalau kita masih ketemu orang lain, masih makan, masih minum, masih berbelanja kebutuhan sehari2, rasanya masih akan tertular. Dan itu masih akan kita alami dalam jangka waktu yg kita tidak tahu sampai kapan.

Karena penularan virus Corona di Indonesia ini baru pada tahap awal, baru mulai. Saat ini banyak perusahaan yang dihimbau untuk WFH (Work From Home) paling tidak 2 minggu, seperti juga yang perusahaan kami lakukan. Jadi rasanya TIDAK MUNGKIN kita menghindari interaksi dengan orang lain di luar rumah kita.

Lagian apa kuat seharian dibungkus pakaian seperti itu? Yang bener aja…

Secara nyata kita masih menerima kiriman barang atau dokumen dari orang lain atau kantor (ada kemungkinan bisa tertular courier yang membawa barang/dokumen itu), kita masih memesan makanan (bisa tertular dari courier juga), kita masih berbelanja ke pasar / supermarket (bisa tertular orang lain atau uang yg kita gunakan), masih mungkin ada tamu yg datang ke rumah kita, mungkin dari supir yang bekerja di rumah kita, atau dari pembantu kita yang bertemu dengan penjual sayur atau satpam yang mengirimkan surat edaran dari RW / lingkungan dll dll…

Jadi pintu masuk tertularnya banyak sekali…

Even setiap kali masuk rumah disemprotpun, emang setiap centimeter tubuh kita tersemprot dengan sempurna. Bagaimana kalau si Corona sembunyi di lipatan2 baju atau celana atau kuku kita atau alas sepatu kita??? Dan apakah disinfectant itu aman untuk disemprotkan berulang-ulang secara langsung ke tubuh kita, terhirup oleh kita???

Duhhhh sedemikian banyak cara si Corona menghampiri kita, lha wong doi kecill banget sampe gak kelihatan mata…

Soooo… pembaca mulai sebel nih… Jadi ngajakin cuek nihhh???

Nope… TIDAK !!!

Yang pertama harus kita lakukan adalah TIDAK PANIK… Karena kalau sudah panik, saya jamin pikiran kita gak lurus. Dan katanya juga kepanikan membuat imunitas tubuh kita menurun, dan ini adalah kondisi paling mudah tertular Covid 19.

Saya, pada kondisi seperti ini biasanya menurunkan harapan saya pada titik nadir. Saya me-reset otak saya pada kondisi terburuk. The worst would happen to me. Saya akan berasumsi bahwa orang sekeliling saya tertular.

Kalau sampai semua tetangga2 saya tertular, bagaimana? Masa saya bisa menyuruh mereka pergi? Malahan saya yang diusir pergi.

Kalau semua orang sekitar saya tertular apa yang harus saya lakukan?

Saya harus berperang sendiri, saya harus mempersenjatai diri sendiri dengan imunitas atau kekebalan tubuh yang sebaik-baiknya.  Itu saja.

Dengan berpanik diri, kita jadi kepikiran, kita jadi gak bisa tidur, karena otak kita akan sangat creative membuat asumsi2 buruk, jadi stress sendiri, akibatnya kita kekurangan tidur, akibatnya imunitas tubuh menjadi turun, akibatnya lagi kita malah jatuh sakit.

Kita malahan sakit bukan karena Corona, tapi karena kebanyakan membaca WA, karena panik karepe dewe (= maunya sendiri). Si Corona bakal ketawa sendiri, gue belum nyamperin, sono sudah keok duluan… 🙂 .

Jadi saran saya, mari kita tetap Waspada, mengikuti petunjuk ahli kesehatan yang sudah banyak beredar di WAG. Stay at home, hindari tempat2 keramaian, hindari berkumpul, hindari bepergian yang tidak perlu, rajin mencuci tangan, dlsb dslb yang sudah banyak di WAG dan TINGKATKAN daya tahan tubuh. Itu saja.

Bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh? Rasanya juga banyak saran2 bertebaran di WAG, namun kurang lebih seperti ini:

Pertama,  makan makanan yang bersih dan bergizi

Kedua, tidur yang cukup (usahakan jangan begadang) dengan kualitas yang baik (tidur lama belum tentu kualitasnya bagus jika pikiran kita penuh kekhawatiran),

Ketiga, usahakan berolah raga setiap hari (akan sangat baik jika bisa terpapar sinar matahari),

Keempat, kurangi stress (kalau bisa hindari berita2 buruk mengenai Covid 19, baca yang positive2 saja, yang lucu2 saja, yang menyenangkan hati saja). Ajak temen2 di WAG untuk memilih topik2 yang positive saja, misal orang yang sembuh dari Corona, cara mengatasi Corona dll, jangan posting yang mengerikan / mendirikan bulu roma yang biasanya paling demen dibagikan oleh temen2 🙂 . Dan mencoba meditasi (atau at least belajar meditasi). Atau mengerjakan yang pembaca suka selama WFH ini.

Kelima, konsumsi vit C sesuai dosis (kata para ahli bisa meningkatkan daya tahan tubuh juga).

Keenam, KETAWA yang banyak dan MEMBANTU yang lain… Bantu sebisanya orang2 yg tidak semampu kita, beri bantuan Vit C atau beras atau Indomie buat supir, satpam, petuga kebersihan atau office boy di kantor, agar mereka juga tenang menghadapi Pandemik ini. Konon katanya membantu orang dan pikiran yang happy meningkatkan imunitas tubuh lho… Ini ada penelitiannya lho, beneran…

Itu saja…

Eh satu lagi, dan yanbg terakhir … mari kita berdoa, memohon petunjuk dan lindunganNYA, bagi kita sekeluarga, bagi para dokter dan perawat yang saat ini menjadi prajurit terdepan dalam perang melawan Corona ini, dan bagi pemimpin dan bangsa kita tercinta ini agar diberikan kebijaksanaan di dalam memutuskan yang terbaik bagi rakyatnya.

Mari kita hadapi Corvid 19 dengan tersenyum penuh percaya diri dan penuh cinta di hati…

Semoga badai ini segera berlalu dan pembaca semua beserta seluruh keluarga serta seluruh bangsa Indonesia tercinta ini diberikan berkat dan perlindunganNYA…

Aminnn…

NB: Mohon maaf jika tulisan saya di atas terasa sangat kasar dan tidak berperasaan… bukan maksud saya meremehkan ganasnya Virus ini, tetapi adalah buat kita semua berpikir logis dan menghadapinya dengan tenang… Jika pembaca sependapat dengan saya, mohon diforward ke teman2/keluarga tercinta, mari kita lawan virus ini dengan tersenyum

 

Salam,

Guntur Gozali,

http://www.gunturgozali.com

Jakarta, Kebon Jeruk,

Rabu, 25 Mar 2020, 18:15

18 thoughts on “Mari Kita Hadapi Corona Dengan Tersenyum…

  1. very nicely put chief!!

    semangat nulis lagi paaak….. sejak ga di adins saya tetap sering nengok blog bapak dan menanti tulisan bapak loh…

  2. Saya termasuk yg setujuuuuu. Wa grup sekarang memang rusuhh pak, malesin bacanya. Sementara kami yg tiap hari terpapar PDP juga nggak gitu2 amat. Semoga pandemi segera berlalu. Aamiin

    • Semoga Anda dan teman2 beserta seluruh keluarga diberikan berkat dan perlindungan olehNYA… Kami semua mendoakan teman2 yang berjuang di garis depan.
      Doa kami beserta teman2 semua…

  3. Bgs Tur. Spy kita smua gk trll panik. Nek over panik tmbh ambruk duluan.Jia You. Dari kakak lu di Balikpapan..

  4. Saya mengajak berpikir positif saja, lihat petugas sampah , tiap hari dengan sampah yang bau, mereka tersenyum sehat , inilah keadilan Allah .
    Bagaimana dengan kita ?
    Harus seperti mereka , tawakal kepada Allah

  5. I can’t agree more Pak sama tulisan bapak ini. Setuju banget! Itu juga yang saya selalu usahakan infokan ke orang-orang terdekat. WAG emang terkadang suka bikin jengah, harus sabar-sabar menghadapinya hahaha

    • Beruntung kalau kita sdh sadar betapa berbahayanya WAG, banyak yg belum sadar malah ikut2an menyebar “penyakit” dan “ketakutan”… Yuk kita bantu mengingatkan teman2 n sanak saudara…

  6. Mantap kali pak guntur ! Panjang tp bnyk isinyaa.. btw pak terkait vitamin, saya baca’ ada baiknya konsumsi vitamin d3 dan magnesium juga pak, buat menjaga stamina ttp terjaga gk gampang cape gitu pak biar seger teruss..

    • Thanks Frendy, maaf baru reply ya.

      Betul itu perlu tambahan D3 dan juga katanya Vit E, tp yang paling penting sebenarnya: olga + makanan da istirahat yg cukup. 🙂

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s