Cashflow

Tulisan ini saya tujukan bagi adik2 fresh graduate atau professional muda yang baru memasuki dunia kerja agar memahami esensi, bukan definisi, dari cashflow. Dan bagi orang tua, agar tidak memanjakan anaknya berlebihan.

“Siapa yang tahu artinya Cashflow” tanya saya ke seluruh peserta training Basic Mentality di kantor saya. Hampir seluruh tangan mengacung keudara, malah beberapa saya lihat mengacungkan tangan dengan wajah2 penuh senyum, seakan-akan pertanyaan saya itu adalah pertanyaan paling bodoh sedunia🙂.

Ya, siapa sih yang tidak tahu artinya Cashflow. Anak TK dewasa ini juga mungkin sudah tahu Cashflow. Seingat saya dulu ketika masih SMP atau SMA, pada pelajaran Ekonomi, saya sudah pernah dijelaskan apa artinya Cashflow ini. Yakni aliran dana kas, pergerakan dana masuk (cash in) dengan dana keluar (cash out).

“Dasar pak Guntur bloon. Masa nanya pertanyaan gak mutu begitu?”, begitu mungkin yang terbersit di kepala anak2 saya yang pinter2 itu🙂.

Setelah saya mengakurkan arti Cashflow seperti di atas, agar definisinya seragam, kemudian saya lanjutkan lagi pertanyaan saya:”Siapa yang cash-in nya HANYA dari gaji saja, tidak disupport kiriman ortu?”. Eiiittt….kok hanya beberapa yang mengangkat tangan?🙂.

“Jadi sebagian besar dari kalian masih memperoleh suntikan dana dari ortu ya?” tanya saya. Yang tidak mengangkat tangan tadi mengangguk-anggukkan kepala sambil malu2.

“SO, artinya kalian belum memahami apa itu Cashflow” kata saya. Looohhhh… kok bisa?? Mungkin itu yang muncul di kepala mereka, namun saya langsung melanjutkan “Kalian hanya mengerti definisi Cashflow, tetapi belum mengerti esensi dari Cashflow selama cash-in kalian masih tercampur dengan dana tak terhingga dari ortu kalian”.

“Jika kalian ingin mengerti apa artinya Cashflow, setelah selesai training ini, telpun papa mama kalian, dan katakan sejak hari ini tidak perlu lagi mengirimkan uang sepeserpun ke kalian!. Berani nggak?!”, tantang saya. Hehehehe….senyum menghilang di wajah mereka, ganti melongo tidak mengerti.

Ya, mungkin demikian juga halnya bagi adik2 pembaca semua, tentu kalian menganggap saya lagi mabok, kok memberikan usulan yang ‘mboten-mboten’ (terjemahan: enggak-enggak :)). Tapi jangan khawatir, saya pun juga baru memahami esensi Cashflow ini setelah saya bertemu bekas pacar saya, yang sekarang sudah menjadi istri saya.

Ketika saya kuliah dulu, seperti juga halnya kalian yang tinggal tidak sekota dengan orang tua, tentu secara regular dikirimi uang untuk biaya sekolah, kost, biaya hidup, buku dlsb. Saya pun juga demikian, setiap bulan pada tanggal tertentu, orang tua saya mengirimkan jatah bulanan untuk membayar ini itu.

Selama tahun2 pertama kuliah saya, saya tidak melihat ada yang salah dengan hal ini, semua mahasiswa lain juga sama seperti saya, semua memperoleh suntikan dana bulanan dari ortunya. Pada kasus khusus dimana diperlukan dana lebih seperti ikut kursus bahasa Inggris atau kursus computer, ya saya minta dana tambahan dari ortu, dan pasti akan ditransfer.

Hal ini berlangsung hingga suatu ketika pacar saya dinyatakan lulus skripsi dan dengan bangga memberitahu orangtuanya. Tentu saja berita ini menyenangkan hati kedua ortunya, namun selain memberikan ucapan selamat atas kelulusan ini, ortunya juga mengingatkan bahwa setelah ini ransum bulanan yang setiap bulan setia menemani akan dihentikan.

Meskipun sejak menjadi mahasiswa senior pacar saya sudah mulai mengajar di kampus, menjadi penyiar pelajaran bahasa Inggris di stasiun radio local, serta memberikan les bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing yang sering bertandang ke Salatiga, namun tak urung peringatan ortunya ini membuat hatinya ciut juga. Hal ini tampak nyata dari wajahnya setelah selesai memberitahu ortunya.

Saya yang tidak mengetahui mengenai kesepakatan dia dengan ortunya ini jadi bertanya-tanya, kenapa kok wajahnya jadi murung setelah memberitahu ortunya mengenai kabar gembira ini. Diapun menjelaskan bahwa memang telah menjadi kesepakatan di dalam keluarganya bahwa setelah lulus kuliah, maka anak2 sudah harus bisa berdikari sendiri. Wooowwww!!!! Saya terkejut sekali dengan informasi ini.

Lho kok begitu ya? Kok kejam sekali ya? Itu yang pertama terlintas di kepala saya, hingga di kemudian hari saya menyadari betapa luar biasa impact dari keputusan ini.

Saya ketika benar2 tidak mengerti keputusan ortu pacar saya itu. Saya hanya melongo tidak tahu harus mengatakan apa. Namun karena gengsi, masa pacar gak dibiayai saya yang laki2 kok masih dibiayai, maka sayapun ikut2an juga memberitahu ortu saya untuk tidak lagi mengirimkan ransum bulanan setelah saya mulai bisa mencari uang tambahan sendiri. Nggayaa…wkwkwkwk…

Sejak saat itu, saya mulai mencari-cari info bagaimana caranya memperoleh tambahan uang saku, hal yang selama ini jauh dari pemikiran saya. Sejak dari kecil saya terbiasa untuk mengambil sendiri uang saku di laci uang di toko ortu saya. Setiap kali saya minta uang, disuruh membuka laci sendiri. Saya mau ambil berapapun mereka tidak pernah tanya. Sehingga saya tidak pernah memahami apa artinya kekurangan uang. Apalagi ransum yang dikirimkan ortu saya selama kuliah bisa terbilang lebih dari cukup, terutama dibandingkan dengan pacar saya.

Kenekatan saya untuk tidak dikirimi uang saku rupanya membuahkan hasil juga, saya menjadi terpaksa harus bertanya kesana kemari untuk mencari uang, hingga suatu ketika ada seorang teman saya yang menawarkan pekerjaan sebagai pengajar kursus computer di Semarang dengan bayaran yang lumayan ketika itu. Tanpa pikir panjang saya setujui, dan sejak itu saya seminggu 2 atau 3 kali bergelantungan naik bis umum dari Salatiga ke Semarang untuk mengajar.

Ketika itu desktop computer baru mulai populer, tidak terlalu banyak kursus computer seperti halnya sekarang ini. Bahkan di Salatiga belum ada satupun kursus computer untuk umum. Saya mengajar di sebuah rumah yang garasinya disulap menjadi tempat kursus dengan kapasitas sekitar 20 orang. Saya kadang harus berangkat pagi sekali atau pulang malam sekali, atau bahkan sering harus menginap di tempat saya mengajar karena selesai kursus sudah terlalu malam untuk mencari bis kembali ke Salatiga.

Hal ini berlangsung cukup lama, sampai suatu saat saya bersama dengan teman saya mulai membuka kursus computer sendiri di Salatiga, menjalankan bisnis ini selama kurang lebih dua tahun hingga mampu melunasi hutang2 kami, menjualnya ke pengusaha setempat  dengan untung yang lumayan dan kemudian pindah bekerja ke Jakarta sebagai professional.

Selama saya mengajar hingga saya lulus, ortu saya tetap mengirimkan uang saku ke saya karena mungkin mereka tidak percaya saya mampu bertahan hidup dengan tanpa kiriman itu. Namun di kepala saya, saya tidak pernah menganggap kiriman itu ada, saya menabungnya dan tidak menyentuhnya. Hal ini ternyata membuat saya lebih berdikari seperti apa yang juga dialami pacar saya.

Pacar yang sekarang menjadi istri saya, beserta dengan semua saudara2nya telah hidup berdikari dengan keluarga masing2, dengan prestasi yang membanggakan ortunya, dan dengan ikatan keluarga yang sangat kuat.

Saya pikir jika saya tidak mengalami hal ini, saya tidak akan pernah menghargai apa itu yang namanya kekurangan uang, bagaimana nikmatnya gaji pertama, kedua dan seterusnya, bagaimana menghargai usaha orang lain, bagaimana menghargai apa yang kita peroleh dan atau yang tidak kita peroleh.

Banyak anak2 sekarang yang sudah tidak bisa lagi menghargai apa yang mereka miliki karena mereka tidak pernah tahu betapa sulitnya mendapatkan sesuatu itu. Semuanya tersedia, tak terbatas, seakan-akan sudah menjadi kewajiban ortu untuk menyediakan semua itu. Mau HP tinggal telpun, mau sepeda motor tinggal minta, mau mobil tinggal merengek, semua ada, semua tersedia.

Bagaimana kita ingin mengharapkan fighting spirit dari mereka, kalau orang tua memberikan semuanya tanpa batas? Bagaimana kita sendiri akan memiliki fighting spirit kalau kita tahu semuanya pasti akan tersedia tanpa batas?

Oleh karena itu, saya menantang semua anak2 muda yang baru lulus dari kuliah dan sudah memiliki pekerjaan tetap untuk STOP kiriman uang bulanan dari ortu kalian. Kalaupun mereka, karena tidak tega, tetap mengirimkan uang, sisihkan kiriman dari mereka, langsung ditabung.

Cobalah hidup hanya dengan gaji yang kalian terima, cobalah rasakan apa artinya kekurangan, hidup irit, makan kadang hanya dengan nasi dan kecap J, menahan diri untuk tidak ngopi di starbuck atau memencet-mencet gadget terbaru. Cobalah semua pengalaman hidup itu, , maka kalian akan bisa memahami apa artinya Cashflow.

Dan bagi ortu yang amat sangat mencintai anak2nya, termasuk saya juga, penghentian atau pembatasan uang saku ke anak2 bukan berarti kita tidak mencintai mereka, tetapi malah sebaliknya. Kita tidak tahu sampai kapan kita akan bisa menemani mereka, warisan uang / harta tidak bersifat abadi. Uang / harta yang diperoleh tanpa perjuangan akan sangat mudah menguap. Namun nilai2 untuk berjuang, untuk memiliki fighting spirit akan tetap ada meskipun kita sudah meninggalkan dunia ini. And that is matter.

Syaloom…

 

13 thoughts on “Cashflow

  1. Luar biasa Pak. What an insightful and motivating story. Mirip kasus saya juga Pak Guntur. Kalo saya gak pernah ‘nekad’ minta izin ortu utk kerja di luar negeri (saya sudah di Spore selama 11 tahun terakhir sejak 2001), mungkin sampai sekarang saya masih tidak bisa mandiri. Apa2 tinggal minta bantuan ortu. Tinggal di luar negeri gak gampang, apa2 mesti bisa sendiri, belum lagi kultur yg beda, persaingan yg lebih ketat, dll. But looking back, kesulitan dan proses dan tantangan itu yg membuat kita jadi bukan hanya lebih mendiri, tapi juga mental sbg fighter, gak mudah nyerah. Walau banyak suka duka dan kadang2 mesti jatuh bangun. As the late Edwin Luis Cole said:”Champion is not someone who never fails, but never gives up.” Keep posting great articles. ‘fei’

    • Hallo Fei, sorry lama sekali reply saya ini karena kesibukan akhir tahun di kantor. Terima kasih atas komentarnya, saya yakin dengan kesulitan yang Anda alami selama di Singapore membuat Anda menjadi lebih tahan banting, dibandingkan dengan anak2 yang tumbuh karena telah disediakan ‘safety net’ nya. GBU always.

  2. Saran ini jangan di anggap spele…. hal ini akan menentukan who you are in the coming future… karena ini bagian dari pembentukan karakter. Inisiatif ini akan lebih bisa berjalan bila dilakukan dari sisi si anak dari pada sisi orang tua. Karena orang tua, by nature, biasa nya , ngak tegaan karena sifat dari mekanisme proteksi ortu thd anak….apalagi ortu zaman sekarang yg udah kenal teknologi… wah lebih susah lagi.

  3. horeeeeeee……
    kalo baca tulisan pak guntur, saya rasa saya harus bahagia, karena saya termasuk yang bisa berbangga karena bisa mandiri sejak lulus kuliah, soalnya seiring dengan berakhirnya masa kuliah, saat itu juga aliran dana berakhir, dan untungnya saya juga bisa langsung dapat kerjaan ketika baru lulus.
    dan jujur, gaji pertama sungguh bikin bahagia, ga peduli berapa pun nilainya.
    saking bahagia nya, saya traktir semua orang, keluarga, temen2 deket, sampe pembantu, meskipun mungkin hanya sekedar traktir bakso ato makan batagor 😀
    dan hasilnya….gaji pertama habis dalam waktu seminggu, tapi gpp lah, senangnya kan dibagi2😀
    dan ternyata cari duit itu susah, jadinya sekarang bisa lebih bijak untuk pake uang.

    setuju pak!
    kalo terus2an dapet suntikan dana dan dikasih kesempatan buat hidup cukup hanya dengan gaji yang ada, saya rasa kesian anak itu.
    dia gak bisa ngerasain rasa nunggu2 tanggal gajian, semangatnya bangun pagi ketika tau hari itu bakal gajian, makan cukup mewah ketika tanggal muda, mulai panik pas udah tengah bulan liat saldo tinggal dikit, ngirit2 pas udah akhir bulan, sampe akhirnya nunggu2 lagi kapan gajian.
    hehehehehe.
    lagian menurut saya sih sebaiknya emang begitu udah kerja, idealnya yah aliran dana dari ortu ikut berhenti, kan mumpung masih muda, masih kuat menghadapi kenyataan kalo dana bakal brenti.
    daripada kalo udah kelamaan, umur udah semakin tua, tiba2 aliran dana brenti, kan lebih shock, belom lagi kalo udah terbiasa hidup dengan pengeluaran yang lebih gede dari gaji yang dipunya, kan lebih sedih lagi.

    • Hi Tanti, sorry baru response your comment. Saya senang dan bangga kalau ternyata kamu sudah mengalaminya🙂. Meskipun setengah mati, pengalaman menunggu gaji tiap bulan dan setengah matinya mengatur cash flow akan sangat berguna nantinya🙂. Coba mulai sekarang sebagian disisihkan buat saya ya wkwkwkwkw….

  4. Setuju banget, Om!! Kalau saya boleh menambahkan dari pengalaman saya: bukan hanya untuk melatih fighting spirit dan appreciation towards money, tapi secara ga langsung juga akan membentuk dan meng-improve diri kita sebagai individu yg lebih dewasa dalam menghargai akan segala sesuatu di sekitar kita maupun yg terjadi pada kita. In other words understanding ‘respect’; respect kepada orang yg diatas dan dibawah kita (dalam bentuk jabatan, umur, status sosial, dll).

    Regards,
    Anton

  5. Semester depan, bisa saya terapkan🙂 cashflownya. Jatah dari ortu buat beli kit2 robot, mulai membuka les-lesan robotika kecil-kecilan.
    “every big step start with an inch” 🙂

  6. Hi Pak Guntur, perkenalkan saya hgunawan, alumni ftje uksw juga angkatan 92. saya mengenal blog bapak dari teman2 ftje juga. saya sudah baca beberapa tulisan yang ada dan saya rasa bagus.

    membaca topik ini, membuat saya bernostalgia di masa awal-awal kerja saya. saya setuju dengan setiap keterbatasan (baik yang diciptakan, maupun yang tidak dapat kita hindari) membuat kita bergerak maju mencari peluang. dan dengan mensyukuri setiap langkah demi langkah yang kita lalui, semua terasa menjadi suatu berkat.

    kalau saya boleh usul dan jika bapak berkenan dan punya waktu untuk menulis, saya ingin mengusulkan topik mengenai bagaimana bapak menerapkan ini ke putra2 bapak waktu masa2 muda mereka seperti masa SD, SMP, SMA. kenapa saya tertarik, karena saat ini saya memiliki 2 anak yang masih duduk di SD dan terkadang saya masih gamang, antara mengetatkan duit dan rasa iba terhadap mereka. saya ingin mendengar/ mengetahui pengalaman bapak.

    satu topik lagi yang ingin saya ketahui, mungkin bapak bisa tulis pengalaman bapak dari setelah kuliah sampai bisa memimpin perusahaan yang ada sekarang. bgmn merintisnya dan bagaimana mempertahankan dan membesarkannya. saya tertarik, karena saya juga memiliki keinginan memiliki usaha mandiri, dimana saya bisa memiliki fleksibilitas waktu yang lebih ketimbang saat menjadi pekerja.

    salam,
    -hgunawan

    • Hi Hgunawan,

      Terima kasih atas komentarnya, sorry baru reply, beberapa hari terakhir sibuk banget, plus masih ada utang tulisan yang harus saya post. Kalau sudah seperti itu saya gak sempet lagi meresponse comment2🙂.

      Terima kasih atas pujiannya, jadi tersanjung, mudah2an gak tersandung wkwkwk…

      Wah pesanan topik kamu itu cukup berat🙂, karena saya tidak merasa jago mendidik anak dan yang lebih parah lagi saya tidak sempat memperoleh didikan dari orang tua saya secara penuh, karena sejak kecil sdh terpisah dari ortu utk mencari sekolah bagus di Surabaya (saya lahir di Kotabaru, Kalimantan Tenggara). Semua nilai yang saya anut saya serap dari mana2, dari orangtua yang paling penting atas segalanya adalah nilai mengenai KEJUJURAN. Selebihnya ya itu comot sana comot sini🙂. Ntar kalau saya tulis, bisa sesat🙂.

      Kalau mengenai pengetatan duit, saya selalu menjelaskan ke anak2 kenapa saya lakukan itu, tapi berulang-ulang sampe telinga mereka tebal🙂. Rasanya tidak ada lagi cara paling efektif selain itu🙂.

      Sedangkan mengenai pengalaman mendirikan usaha sendiri, pernah terpikir untuk saya tulis, tetapi saya ragu apakah cukup menarik, terus terang saya masih mempertimbangkannya. Kesulitan menulis di blog ini adalah tebaran pembacanya yang sangat beragam, tidak bisa saya batasi hanya untuk kalangan gender atau umur tertentu, sehingga saya harus selalu membayangkan dan kemudian menyesuaikan tulisan saya dengan perkiraan audiencenya. Kadang takut juga kalau tulisan saya menyinggung atau malah tampak sok menggurui🙂. Tapi topik itu pernah terpikir, mudah2an one day entah kenapa akan saya tulis🙂.

      Again thank you atas komentarnya.

      Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s