Ucapan Terima Kasih itu Gratis Lhoo..

“Bloon…begoo…matamu kamu taruh dimana..hahh!!!”. Tiba2 keasyikan makan siang kami terganggu oleh bentakan dari salah satu meja makan di sudut ruang. Serentak semua mata di restoran itu menolehkan kepalanya ke sumber suara teriakan ini, tak terkecuali saya. Diujung ruang sana, tampak seorang nyonya muda dengan tampilan yang sangat perlente, berkacak pinggang sembari matanya melotot terhadap seorang pelayan wanita yang tampak ketakutan.

Tampak si nyonya muda mengebas-kebaskan serbet kebajunya yang tampak seperti ketumpahan sup atau makanan yang dibawa oleh si pelayan wanita. Sesaat si wanita masih tampak sangat gusar hingga seorang yang tampak seperti supervisor/manager pelayan meminta-minta maaf, dan berusaha keras untuk menenangkannya.

Fiuhhh…sejenak saya tertegun dengan peristiwa yang luar biasa itu, untuk kemudian saya menyadari betapa menyedihkan melihat sikap si nyonya muda yang tampak anggun dan berpendidikan itu.

Apakah benar sikap yang dipamerkan oleh si nyonya muda itu???

Apakah pelayan resto / pembantu rumah tangga / supir / office boy / tukang sampah dlsb derajatnya lebih rendah daripada kita para professional / entrepreneur / pedagang ?

Apakah sudah layak dan sepantasnya kita memperlakukan mereka sebagai second / third / fourth class of people?

Saya jadi teringat ketika beberapa waktu yang lalu saya mengajak keluarga untuk menikmati makan malam di Samudra Suki Mal Taman Anggrek. Lokasi resto ini tepat berada disamping ice skating ring yang selalu ramai dikunjungi anak2 dan remaja, ada juga orang tua gaul yang masih ikutan berputar-putar sih🙂.

Malam itu Samudra Suki tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa meja yang terisi, selebihnya hanya meja-meja kosong disana-sini. Saya memilih meja yang tepat berada di sebelah ice ring supaya bisa melihat tingkah polah anak2 yang sedang berputar-putar, ada pula yang terpeleset-peleset karena licinnya lantai ice ring tersebut.

Namun pada saat saya sedang enak2nya menikmati makan malam itu, perhatian saya terpecah oleh ramainya meja diujung seberang sana, yang tampaknya ditempati oleh satu keluarga besar. Mereka ribut sekali, tidak tahu karena keenakan makan atau sedang rebutan makan, yang pasti sangat mengganggu sekali. Meja yang digunakan oleh keluarga besar itu, juga berada di pinggir ice ring, sederet dengan meja yang kami gunakan, hanya terpisah 2 meja dengan kami.

Pada saat saya memandang ke meja itu, mata saya terpaku pada satu pemandangan yang tidak saya harapkan bakal saya saksikan malam itu. Tepat di ujung meja yang menghadap ice ring, duduk seorang pembantu sedang memandang ke arah ice ring sambil mendekap tas mewah berukuran besar, yang saya yakin bukan miliknya. Di sebelahnya duduk nyonya besar yang tampak subur dengan timbunan lemak dan dandanan rambut menggelembung seperti sarang burung (mungkin karena terlalu banyak disemprot hairspray), menggunakan baju berwarna mencolok mirip badut🙂.

Si nyonya besar tampak sibuk menyomot makanan dan membagi-bagi makanan ke sekeliling meja ditingkahi ketawa2 anggota keluargnya yang lain. Semuanya sibuk menyomot dan menyuap makanan ke mulutnya masing2, kecuali satu, si pembantu. Tidak ada piring bahkan minuman di depannya, tidak ada apapun yang menjadi santapannya malam itu kecuali santapan rohani yaitu ‘ngiler2’ melihat lahapnya keluarga tersebut makan.

Saya benar2 terpana oleh pemandangan tersebut. Setiap beberapa saat, saya perhatikan si pembantu melirik ke meja makan yang penuh sesak dengan makanan (Samudra Suki terkenal dengan all-you-can-eat nya). Setelah puas melirik makanan di atas meja, kembali dia memutar tubuhnya menghadap ice ring lagi sambil membekap tas si nyonya besar. Hal ini terjadi berulang-ulang tanpa sedikitpun mengganggu pesta besar yang sedang berlangsung.

Hmm…nafsu makan saya langsung hilang. Emosi saya naik ke atas kepala, saya mulai mengomel panjang pendek ke istri saya. Ingin rasanya saya samperin dan saya damprat keluarga tersebut jika tidak ditenangkan istri saya.

Bagaimana mungkin hal ini terjadi di jaman yang sudah modern seperti ini? Bagaimana mungkin hal ini terjadi di kota Jakarta yang katanya megapolitan ini? Bagaimana mungkin….

Hehhh…gemas sekali rasanya melihat orang memperlakukan orang lain seperti itu. Apakah memang sepatutnya pembantu itu dianggap sebagai boneka / patung ? Apakah mereka kira pembantu itu tidak memiliki perasaan seperti yang mereka punya? Tidak memiliki rasa lapar, selera, keinginan, mimpi dlsb seperti yang mereka punya? Apakah si pembantu tidak memiliki indra penciuman, mata, telinga yang memungkinkannya menginginkan semua yang ada di atas meja????

Mengapa si pembantu tidak disuruh saja menunggu di luar resto yang memang telah disediakan tempat duduk bagi yang belum memperoleh meja atau bagi yang memesan makanan ‘take away’? Atau biarkan dia berjalan-jalan seputaran Taman Anggrek selama mereka makan? Atau kalau mau lebih manusiawi lagi berilah uang 25 atau 50 ribu untuk makan di sekitar sana yang dikelilingi KFC, CFC, A&W dan food court?

Mengapa dia harus dipanjer (tahu artinya dipanjer gak ya, ya begitu deh, tolong cari kamus bahasa Jawa :)), disuruh diam, dan tersiksa selama keluarga tersebut berpesta. Apakah ada alasan lain, selain rasa tidak peduli terhadap orang lain, selain rasa tidak menghormati orang lain? Atau saya salah kah mempertanyakan hal ini?

Sikap seperti ini terus terang masih ada di keluarga yang masih kuno/kolot, yang rela makanan tumbuh jamur atau keluar ulatnya daripada diberikan ke pembantu. Sikap yang menganggap pembantu / supir / office boy dll berbeda kelas dengan mereka. Sikap feodal yang entah tumbuh mungkin sejak jaman VOC dulu.

Tapi itu kan duluuuuu….lain halnya kalau di meja tersebut hanya ada 2 Oma – Opa yang mungkin selama hidupnya hanya pernah memperoleh cara pendidikan model Belanda, yang memang lebih menekankan pada feodalisme. Tapi dilihat dari tampilan mereka, adalah orang2 berpunya dan berpendidikan apalagi penampilan anak2 atau menantu2nya😦.

Pernah pula suatu pada suatu saat ketika sedang hendak lunch meeting, saya pergi semobil dengan teman saya. Ketika sampai di tujuan, kemudian saya katakan ke supir saya bahwa saya mungkin hanya akan berada di tempat itu sekitar 2 jam, jadi dia boleh sholat atau makan siang. Eh teman saya menegur saya, “Ngapain pula elu britahu, kan emang tugasnya nunggu. Biarin aja”. Heh…saya tertegun.

Emang kenapa kalau saya beritahu supir saya berapa lama saya akan stay di suatu tempat, supaya dia bisa mengatur waktu lebih baik. Meskipun salah satu job description supir adalah menunggu majikannya kapanpun dan dimanapun, namun apa salahnya kita memberitahu mereka supaya mereka tidak harus memasang telinga sepanjang waktu, supaya mereka tidak harus siaga 100% setiap detik.

Saya membayangkan betapa tidak enaknya kerja supir yang harus menunggu di basement atau tempat parkir yang pengap, bau asap, bau pesing dlsb. Belum lagi dibeberapa tempat parkir amat sangat tidak manusiawi sehingga pernah beberapa kali terjadi ada yang keracunan CO2. Dan selama kita masih ngobrol2 / meeting / belanja, mereka harus stay put memasang telinga agar kalau dipanggil segera datang. Kalau tidak, wahhhh…bakal kena damprat dah.

Setelah saya katakan alasan saya di atas, dia melengos sambil ngedumel tidak mempercayai cara pandang saya yang dia anggap gak bener🙂.

Kejadian2 seperti di atas, seperti perlakuan seenaknya terhadap satpam, tidak mengucapkan sepatah katapun seperti terima kasih kepada office boy yang mengantarkan minuman dslb masih sering kita jumpai terjadi di sekitar kita. Masih sering saya melihat perbedaan perlakuan mereka terima hanya karena jabatan mereka yang rendah.

Padahal jam tangan yang terbaikpun kalau kehilangan salah satu sekrup atau komponen yang paling kecilpun tidak akan berfungsi dengan sempurna. Kalau pembantu kita pulang kampoeng dua tiga hari saja, rasanya dunia kiamat. Kalau tukang sampah tidak mengambil sampah seminggu saja, wahhh ribut seluruh keluarga. Kalau supir tiba-tiba sakit, geger seisi rumah.

Jadi….salah dimana ya? Pendidikan? Keluarga? Lingkungan?

Padahal semua manusia katanya sama di mata Tuhan kita, padahal mengucapkan terima kasih, tersenyum, bersikap ramah ke mereka itu seingat saya masih gratis lhooo🙂.

Syalooomm,

6 thoughts on “Ucapan Terima Kasih itu Gratis Lhoo..

  1. Pertama kali baca link ini dari status bbm ibu, akhirnya kebuka juga sekarang.
    Congratz pak buat nlognya, semoga tetap setia menulis untuk berbagi dengan sesama ya.
    *seperti teman saya yg sekantor sama bapak* hehehe

    • Hi Miss Dee, saya jadi malu nih… Ini juga gara teman sekantor kamu, makanya saya ikut2an ngeblog. Cuma masih cupu, kalau teman sekantor kamu sudah kelas advance…saya masih belajaran.

  2. Be honest, abis lulus ACE, saya baru sadar kondisi sosial kaya gini, hampir tiap saya ke mall selalu ketemu at least 1 keluarga yang KORET kaya gini… berani pake babysitter, makan di mall, tp pelit cuma buat traktir org yg kesehariannya ngurus anak sendiri…. Rasanya kesel banget kl ketemu keluarga kaya gini…..

    • Hallo, RD, saya senang sekali membaca komentar kamu ini, artinya apa yang saya share di training Basmen bisa melekat di hati kamu. Tapi jangan dilabrak ya orang2 yang tidak tahu artinya respect for individual itu🙂
      GBU

  3. itu budipekerti dah hilang,sekaya apapun orang macam begini , tetap saja miskin dimata Tuhan..kita hrs kasi contoh nyata perbuatan kita se hari2 , minimal ke anak2 supaya tidak boleh membedakan orang.alm. ortu saya dulu miskin sekali , saking miskinnya kalau kita 4 bersaudara makan, dibuatkan 1 dadar telur dibagi 4,masing2 mendapat 1/4 bagian.itu kalau bisa beli telur , seringnya makan sama sayur bayem pake garam biar tdk tawar.sering kalau beras tinggal sedikit , mama buat bubur biar berasnya lebih lama habisnya. tapi tiap bulan mama masih bisa menyisihkan beras dan kadang uang sedikit buat saudaranya yg jauh lebih miskin , yg cuma jadi pencuci mobil dibengkel dan tiap hari berangkat kerja jalan kaki , padahal dari rumahnya kebengkel itu jaraknya 4km…anaknya 5 orang dan sekolah anak2 ini tdk tamat sd.tapi sepeninggal ortu mereka dalam keadaan ngenes begitu , anak2 ini bisa survive, padahal yg tertua baru berumur 18 th.dan dibebani adik yg terkecil baru kira2 10 th.tapi kompak dan rukun.
    sekarang semua mapan, usaha mulai dari distributor udang ke hotel2 ,pabrik tinta printer, toner, kertas sampai toko makanan.dsb.alm. mama kalau datang pasti disambut spt .ratu,padahal menolong kan bukan bertujuan cari balasan.intinya kita tdk boleh serakah dan semua orang sama dihadapan Tuhan.

    • Terima kasih atas sharingnya pak/bu.
      Saya senang sekali membaca bagaimana perlakuan bpk/ibu terhadap ibunda tercinta, memang begitulah seharusnya kita berterima kasih ke orang tua kita.
      Semoga keluarga bpk/ibu selalu diberkati kerukunan dan kesuksesan olehNYA.
      GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s