Camino de Santiago: 2.5 Duration and Accomodation

2.5.        Duration and Accomodation

2.5.1.     How long?

Pertanyaan yang sering muncul di berbagai forum dan juga menjadi pertanyaan saya sendiri sebelum menjalani ziarah ini adalah berapa lama sih waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan keseluruhan Camino Frances ini?

Jawabannya: tergantung… wkwkwk… ini jawaban yang menjengkelkan ya… gak jelas gitu lho, tetapi sejujurnya memang tergantung kita. Tidak ada batasan harus sekian hari atau sekian minggu atau sekian bulan atau bahkan sekian tahun… beneran ini…

Ada banyak faktor yang akan menentukan lamanya perjalanan ziarah ini:

Pertama adalah adalah route mana yang akan kita pilih. Seperti yang sudah saya uraikan di atas, ada bermacam2 rute Camino de Santiago, paling tidak ada 10 yang terkenal dengan jarak dan kondisi alam yang berbeda2. Pemilihan route ini tentu berpengaruh pada lamanya perjalanan kita.

Kedua, ketersediaan waktu kita. Apakah waktu kita bebas, seenaknya? Atau hanya bisa meninggalkan rumah / pekerjaan dalam waktu tertentu? Lha kalau misalnya kita mengambil route Camino Frances, tapi hanya punya waktu dua minggu, gak bisa selesai dong? Iya benar gak selesai, tapi ya gapapa toh, next time dilanjut lagi. Tidak ada yg mengejar, tidak ada yg menunggu. Atau usahakan paling tidak 100km kalau ingin dapat sertifikat. Jika tidak, ya semampunya dalam 1 atau 2 minggu itu. Tidak ada yang mengharuskan dan tidak ada pula yang melarang kita harus jalan berapa jauh dan berapa hari.

Ketiga, kemampuan fisik kita, berapa kilometer kira2 jarak rata2 yang mampu kita tempuh per hari. Saya, berdasarkan perkiraan kemampuan maksimal saya, pada awalnya merencanakan menempuh jarak2 rata2 20 kilometer per hari. Itu saja sudah 2 – 3 kali lipat kebiasaan jalan pagi saya, dengan medan jalan rata di perumahan. Nah karena route yang saya pilih adalah Camino Frances, 500 miles, atau 800 kilometer, maka diperlukan minimal 40 hari, non-stop, tanpa ada jeda beristirahat di satu kotapun. Akan tetapi kenyataan berkata lain, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, oleh karena Visa Schengen saya hanya di-approve selama 45 hari, akhirnya kami “terpaksa” harus “ngebut” dan menyelesaikannya dalam 37 hari.

Keempat, do you want to enjoy or to conquer it? Ini pertanyaan yang tidak pernah terbersit di kepala saya sebelumnya. Namun saya pikir ini pertanyaan yang sangat penting kita amini sebelum memulai perjalanan ini.

Kami, karena keterbatasan waktu, akhirnya terjebak pada pilihan “to conquer” it. Setiap hari sudah seperti robot, bangun pagi tergesa2 untuk bersiap jalan, sepanjang hari jalan kaki supaya cepat tiba di tujuan, sesampai di tempat tujuan, cari makan, cari air dan sarapan pagi buat besok, setelah itu malamnya siap2 buat besoknya lagi, tanpa sempat exploring kota yang bersangkutan karena sudah kelelahan. Semua itu hanya supaya SELESAI… Tidak banyak desa / kota yang sempat kami explore, hanya satu dua saja. Jadi jika merencanakan menjalani ziarah ini, saya rasa perlu juga memasukkan kriteria keempat ini.

Jadi baik jawaban singkat maupun panjang tetap sama, berapa lama waktu yang kita butuhkan sangat tergantung beberapa hal di atas, tergantung kita sendiri mau seperti apa.

2.5.2.     Accomodation

Pertanyaan berikutnya yang juga sering menjadi topik pembicaraan di berbagai forum adalah mengenai penginapan, terutama apakah kita perlu mereservasi keseluruhan tempat penginapan dari awal perjalanan hingga akhir?

Ini adalah pertanyaan umum dari hampir semua pilgrim yang berencana ke sana. Hal ini juga yang membuat saya pusing tujuh keliling ketika mengatur itinerary saya, karena saya masih belum yakin harus berhenti di kota mana dan selain itu informasi penginapan di kota2 yang kita tuju tidak mudah kita dapat. Tambahan lagi type penginapannya macam2, ada Albergue, Casa, Hostel, atau Pension yang terasa asing di telinga kita.

Oya selain dibingungkan oleh macam penginapan, ada satu pertimbangan lagi yang perlu kita perhatikan saat melakukan reservasi penginapan, yakni jauh dekatnya lokasi penginapan terhadap jalur / route Camino ini. Jangan sampai mereserve penginapan yang jauh dari jalur, wahhhh bisa bikin frustasi. Mengapa?

Pertama pada saat kita tiba di kota yang kita tuju, kita terpaksa harus menyimpang dari jalur Camino. Padahal pada saat kita tiba di kota itu, kondisi kita sudah sangat capek sekali, dan masih harus mencari makan serta supermarket untuk persedian besok pagi, akan tetapi karena di luar jalur Camino, terpaksa harus menambah beberapa kilometer jalan kaki lagi. Ini sangat menyiksa.

Kedua, besoknya ketika akan menuju kota berikutnya, kita juga harus menambah beberapa kilometer agar berada di jalur Camino. Nanti saya akan jelaskan bagaimana cara mencari penginapan yang berada di jalur Camino.

Kembali pertanyaan di atas, jadi perlu reservasi keseluruhan perjalanan atau nanti saja ketika sudah di Spanyol?

Untuk menjawab pertanyaan ini tergantung dari tingkat kepetualangan atau tingkat adventurous kita.

Kalau suka hal2 yang membuat jantung berdebar2 sedikit, gak perlu reservasi. Ini menurut pendapat saya pribadi amat sangat menarik. Ada beberapa pilgrim yang saya temui di perjalanan, bukan hanya belum mereservasi tempat penginapan, bahkan belum menentukan kota mana yang akan mereka tuju hari itu. Mereka akan menentukannya pada saatnya, bisa karena kotanya menarik untuk di explore, atau karena sudah capek atau terlalu malam dll. Jadi tergantung situasi dan kondisi.

Pendekatan ini bisa kita lakukan JIKA kondisi kita fit sekali, berjalan 25 – 35 km atau bahkan lebih tidak menjadi masalah yang berarti. Karena di desa / kota yang kita tuju, belum tentu ada penginapan yang kita harapkan. Apalagi kalau maunya kelas hotel atau minimal hostel, lebih sulit lagi. Kalaupun mau apa adanya, misalnya Albergue, belum tentu ada ranjang. Kalau tidak dapat, ya harus jalan lagi menuju desa / kota berikutnya, kalau gak dapat ya lanjut jalan lagi atau seperti salah satu pilgrim yang saya temui, dia menginap di kantor pemadam kebakaran, satu lagi di pinggiran jalan di atas pohon… wkwkwk. Ngeri2 sedap bagitu lah… tapi seruuu…

Akan tetapi jika tidak berani mengambil resiko, maka kita harus mereservasi sepanjang perjalananan, dari hari pertama hingga terakhir. Dan bukan pekerjaan yang mudah. Pertama belum tentu itinerary kita pasti benar, dalam arti bisa saja salah pilih desa/kota, atau karena jaraknya terlalu dekat / jauh, sehingga perlu kita adjust selama perjalanan. Kedua, beberapa tempat penginapan, terutama di kota kecil dan atau tempatnya favourite, kita diharuskan membayar di depan. Akibatnya, jika kita mengalami sesuatu di satu hari yang mengakibatkan kita harus menambah semalam, maka keseluruhan reservasi kita harus kita atur ulang, kecuali jika kita bersedia untuk melewati kota berikutnya dengan naik taxi atau bis.

Kami sendiri, memilih yang agak2 adventurous dikit, jadi tidak melakukan reservasi keseluruhan perjalanan… wkwkwk… Sebenarnya bukan karena by plan sih, tapi lebih karena terpaksa melakukannya dikarenakan tidak percaya diri apakah mampu menjalani ziarah ini.

Sehingga saya memutuskan untuk mereservasi hanya 3 hari pertama dari seluruh 37 hari perjalanan kami. Saya pikir test the water dulu deh 3 hari, kalau gak kuat ya sudah kami batalkan dan kami jalan2 ke Swiss aja, kebetulan saya juga sudah lama sekali ingin berlatih paragliding dengan lebih baik di Interlaken. Pikiran ini ternyata membuat saya jauh lebih tenang… hihihi… jadi beban pikiran saya menjadi lebih ringan, cukup test 3 hari pertama kalau gak koattt… ya sudah bubar jalan… wkwkwk…

Untuk hari2 berikutnya kadang kami mereservasi hanya satu atau dua kota berikutnya pada sore / malam hari sesampai kami di kota tujuan. Pada awal perjalanan,  kami masih bisa memperoleh konfirmasi dengan cepat, eh lama2 semakin susah, sehingga akhirnya setelah kurang lebih sepertiga perjalanan, dan sudah lebih merasa yakin akan kemampuan kami, saya putuskan untuk mereservasi hingga akhir perjalanan.

Next…

4 thoughts on “Camino de Santiago: 2.5 Duration and Accomodation

    • Ada beberapa kemungkinan: pertama, betul, ada kemungkinan setelah kota besar ada tambahan pilgrim yang bergabung. kemungkinan kedua, karena pilgrim yang tadinya tidak mereservasi penginapan, mau coba2 seperti kami, kemudian mengalami kesulitan memperoleh penginapan, sehingga yang tadinya mereservasi hanya satu kota di depan, kemungkinan mengubah strateginya seperti kami juga, mereservasi beberapa kota ke depan :). Ketiga, pada awal2 perjalanan, kota yg dilewati kecil2, bahkan boleh dibilang kelasnya dusun kalau di Indonesia, yg populasinya di bawah 100 penduduk, sehingga hanya tersedia sedikit sekali penginapan.
      Kemungkinan ketiga hal tersebut.
      Terimakasih atas komentarnya.

      Salammm

Leave a comment