Camino de Santiago: 2.4. Necessary documents and permits

2.4.        Necessary documents and permits

Dokumen yang diperlukan selama perjalanan ini tidak banyak, hanya 3 dokumen yang perlu kita miliki. Pertama tentu Paspport yang telah dilengkapi dengan Visa ke negara tujuan. Saya akan bercerita sedikit panjang mengenai pengurusan Visa ini agar pembaca tidak mengalami seperti apa yang saya alami. Dokumen kedua adalah Camino Pilgrim Passport atau Credential yang akan saya bahas di bawah. Dokumen ketiga tentu saja tiket pesawat… pulang pergi… tentunya ya :).

2.4.1.     Visa

Pada bulan Juni 2023, kami memutuskan untuk menjalani ziarah ini pada awal bulan September 2023, berarti masih ada waktu 3 bulan lagi untuk mengurus dokumen and persiapan lainnya. Saya pikir mestinya lebih dari cukup untuk itu.

Route Camino Frances melintasi dua negara Eropa yaitu Perancis dan Spanyol, namun karena kedua negara ini tergabung di dalam kesatuan Uni Eropa, maka hanya diperlukan satu macam Visa yaitu Schengen Visa. Nah untuk memperoleh Schengen Visa kita bisa mengajukannya melalui negara2 manapun yang tergabung di dalam Uni Eropa. Dalam hal Camino Frances, banyak yang menyarankan melalui Perancis karena SJPP berada di dalam wilayah Perancis.

Kamipun mengikuti saran beberapa YouTuber ini tanpa sempat lagi mempelajari opsi lain selain melalui negara Perancis. Namun sebenarnya dari perbincangan dengan beberapa pilgrims dari negara2 lain, banyak juga yang melalui jalur lain yang akan saya bahas di bawah.

Selama ini berdasarkan pengalaman saya, proses permohonan Visa ke Eropa (Schengen Visa) hanya memerlukan waktu kurang lebih 2 minggu saja. Akan tetapi ketika kami mengajukan Visa Schengen ke Perancis ternyata antrian untuk interview baru bisa kami dapatkan pada 15 Oktober 2023…, berarti 3 bulan dari waktu pengajuan…. wuikkkk… saya terkaget-kaget memperoleh informasi ini.

Saya perhitungkan jika interview baru dilakukan pada tanggal 15 Oktober, dan setelah itu masih ditambah waktu proses di Kedutaan dengan asumsi 2 minggu, maka saya baru bisa berangkat awal November 2023, yang mana sangat tidak direkomendasikan untuk memulai perjalanan Camino de Santiago ini. Karena saat itu sudah mulai masuk musim dingin di benua Eropa.

Kami kemudian disarankan untuk mengajukan Visa Schengen melalui negara Swiss, yang katanya kemungkinan bisa lebih cepat. Kamipun setuju switch melalui Swiss dengan pikiran setelah selesai menjalani ziarah ini kami bisa sekalian menyempatkan diri mengunjungi beberapa lokasi di Swiss yang belum pernah kami kunjungi. Itu cita2nya… :).

Saran untuk switch ke Perancis ini ternyata benar, kami memperoleh jadwal interview pada 26 July 2023. Jika asumsi saya prosesnya 2 – 3 minggu, maka saya harap paling lambat pertengahan Agustus 2023 saya sudah bisa memperoleh Visa Schengen. Berarti saya masih punya waktu untuk mempersiapkan keberangkatan saya.

Namun ternyata banyak kerikil tajam di dalam drama pengurusan Visa ini, dan teman2 pembaca perlu mengetahui juga apa yang saya alami ini. Salah satu syarat pengajuan Visa adalah lampiran rekening bank 3 bulan terakhir. Sayapun memberikan rekening koran saya yang berisi deposito dan investasi dalam bentuk reksadana. Saldo yang tertera menurut saya jumlahnya jauh lebih dari cukup, bahkan untuk membiayai hidup saya cukup lama di Eropa.

Ternyata saya diminta lagi rekening lain, dengan alasan: DANA DI REKENING KORAN YANG DIKIRIMKAN MASIH KURANG. Whatttt??? Saya sampai melotot membaca WA dari sekretaris saya yang membantu saya mengurus Visa ini.

Kurang????… Kok bisa????

Kurang bagaimana??? Bukan sombong nih ya, saldo total di rekening saya, cukuplah untuk menghidupi saya beberapa saat di Negara Eropa tanpa pekerjaan. Lha tabungan puluhan tahun bekerja masa iya gak cukup ya? Saya benar2 terheran2 kok aneh ya?? Namun karena tidak bisa memperoleh penjelasan lebih detail, akhirnya saya berikan rekening dari bank lain dengan jumlah yang lebih besar… Eehhh seminggu kemudian saya dapat berita, tetap dibilang dananya kurang… Edann pikir saya… apa2an ini?

Proses tek tok ini memakan waktu hampir 2 minggu tanpa kejelasan kapan kira2 Visa bisa diterbitkan, benar2 membuat saya deg2an…  padahal saya sudah mereservasi dan membayar 3 hotel pada 3 hari pertama.

Terakhir, setelah cari info sana sini, saya baru tahu, ternyata yang mereka minta adalah rekening AKTIF yang dipakai sehari2. Mereka ingin melihat aktifitas transaksi kita sehari-hari… rekening tabungan yang isinya transaksi Tokopedia, Shopee, Gojek dll kriwil2 itu lhooo…  Yaaaa amploppp…

Saya tidak memberikan rekening sehari2 karena saldonya sangat kecil dibandingkan dengan saldo deposito atau investasi saya. Lha buat apa dana saya nganggur di tabungan, kan lebih baik saya investkan, betul tidak? Makanya saya berikan rekening dengan saldo lebih besar tetapi dalam bentuk deposito dan atau investasi lain. Namun ternyata yang diharapkan yang isinya daily transaction… Haizzz… Semestinya mereka mikir, kalau saya punya dana nganggur yang cukup besar, mereka bisa mengira2 kebutuhan sehari2 saya mestinya tercukupi… ya nggak? Tapi ya sutralahhh…

Nah karena drama di atas, akibatnya saya baru memperoleh kepastian bahwa aplikasi Visa Schengen saya disetujui pada tanggal 21 Agustus… fiuhhhhhh… padahal saya berencana berangkat tanggal 31 Agustus agar bisa memulai ziarah saya pada tanggal 4 September 2023. Jadi hanya tinggal 10 hari untuk mempersiapkan semuanya, dari detail itinerary, perlengkapan2 dan reservasi yang diperlukan. Benar2 mepet waktunya…

Yang lebih mengejutkan lagi… saya hanya memperoleh Visa selama 45 hari… baca: EMPAT PULUH LIMA HARI doang… hikssssss… Terweluuuu…

Waduhhhh lha kok cuma 45 hari ya, padahal biasanya saya paling singkat dapat Visa Schengen 3 bulan, makanya saya sempat berencana untuk mampir beberapa tempat di Swiss setelah menyelesaikan Camino ini. Lha ini kok cuma 45 hari, boro2 mampir2 segala, untuk menyelesaikan Camino aja apakah cukup ya? Kan masih perlu 6 – 8 hari untuk perjalanan Jakarta – SJPP dan dari Santiago – Jakarta. Artinya saya harus bisa menyelesaikan Camino dalam waktu 37 hari an… Oh Mai Got… 1000 kilometer dalam 37 hari? …. Mati dah pikir saya…

Selama beberapa hari saya mencoba mengutak-atik itinerary saya… kok sepertinya masih mungkin, karena banyak juga orang yang menyelesaikan SJPP ke Santiago dalam 33 hari bahkan kurang dari itu, jadi jika ditambah 4 hari ke Finisterre dan Muxia, sepertinya masih mungkin. Hmm saya pikir masih mungkin, meskipun rata2 perhari yang tadinya saya rencanakan 20 kilomenter menjadi 27 kilometer… Hmm… mungkin gak ya… kalau rata2 27 kilometer berarti ada hari2 tertentu saya harus berjalan sejauh 30 km bahkan 35 km… Ediannn … kepala saya keluar keringat dingin…

Hmmm… kuat gak ya…??? Sedangkan dengan rata2 20 kilomenter per hari saja saya masih belum yakin… apalagi rata2 27 – 30 kilometer per hari. Saya kembali mengutak-atik itinerary saya, dan selama mengutak-atik itinerary ini, saya mencoba membayangkan jarak tempuh dibandingkan dengan kemampuan saya. Saya pikir sepertinya masih mampulah 27 kilometer per hari. Mampuuu dehhh…

Namun ada yang hampir lupa saya pertimbangkan, yakni kemampuan istri saya. Begitu saya teringat saya tidak jalan sendirian, tetapi bersama istri saya… wallahhhh… TIDAK MUNGKIN !… IMPOSSIBLE ! Boro2 27 kilometer, 20 kilometer per hari aja saya masih khawatir gak kuat… apalagi kalau di beberapa kota harus jalan 35 kilometer.

Akhirnya saya merubah seluruh itinerary saya menjadi 36 hari dan membuang mimpi saya ke The End of The World, yaitu Finisterre. Itupun, masih ada beberapa kota yang berjarak di atas 30 kilometer.

Terakhir, setelah utak atik sana sini, saya putuskan hanya menjalani Camino Frances dari SJPP ke Santiago de Compostela sejauh 500 miles (800 kilometer) selama 36 hari. (Note:  Kenyataannya kami menjalaninya selama 37 hari, karena ada satu hari kami break di kota Leon yang katanya harus kami explore lebih lama, dan jarak total yang kami tempuh menjadi 826 kilometer atau sekitar 1.4 juta langkah… hehehe… ).

2.4.2.     Many routes to SJPP

Sebelum saya lanjut ke topik berikutnya, saya ingin share beberapa alternative ke SJPP yang baru saya tahu setelah disana. Kebanyakan info yang saya peroleh, rute yang disarankan adalah Jakarta terbang ke Paris (Perancis) kemudian terbang ke Biarritz (Perancis) terakhir naik kereta api / taxi atau bis ke SJPP (Perancis). Inilah rencana awal saya. Namun karena tidak memperoleh Visa Perancis, akhirnya saya melalui rute Zurich terbang ke Paris kemudian terbang  ke Biarritz terakhir naik kereta api / taxi atau bis ke SJPP. Jalur ini panjang dan melelahkan.

Ada jalur lain yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya, yaitu melalui negara Spanyol, bisa mendarat di Madrid atau Barcelona. Jadi kita terbang dari Jakarta ke  Madrid atau Barcelona kemudian terbang atau naik bis ke Pamplona, terakhir naik bis atau taxi ke SJPP. Sepertinya ini jauh lebih singkat waktunya. Semoga ilustrasi di bawah ini benar:

2.4.3.     Camino Pilgrim Passport or Credential

Camino Pilgrim Passport atau Credential, berupa semacam booklet terbuat dari karton tipis yang didalamnya telah tercetak 54 kotak kosong untuk kita tempeli cap / stamp dari berbagai tempat yang kita kunjungi. Cap / stempel ini merupakan bukti bahwa kita sudah pernah mengunjungi kota / tempat tertentu.

Berikut ini adalah Credential yang saya peroleh dari Pilgrim Office di SJPP:

Dan berikut ini beberapa contoh Credential yang saya beli di hotel dan mini market disana, serta dua credential yang di bawah saya peroleh dari sekelompok Ibu2 pilgrim dari Jepang. Mereka memiliki program “Dual Pilgrim” antara Camino de Kumano di Jepang dan Camino de Santiago di Spanyol, keduanya sudah diakui sebagai World Heritage Pilgrimage Routes.

Kita bisa memperoleh Camino Passport ini di Pilgrim Information Office (39 Rue de la Citadelle, 64220 Saint-Jean-Pied-de-Port, France) dengan memberikan donasi 2 Euro. Atau kita juga bisa membelinya di beberapa hotel / toko.

Setiap kali kita mencapai satu desa/kota kita diwajibkan untuk menambahkan cap/stempel di Credential ini. Kita bisa menemukan cap ini di tempat2 umum seperti bar/café atau gereja atau hotel/albergue atau bahkan kadang2 ada juga orang yang berjualan souvenir di pinggir jalan yang kita lalui atau bahkan juga pengamen yang membawa cap/stempel.

Berikut ini berbagai macam cap / stempel yang saya peroleh selama perjalanan:

Credential ini sangat diperlukan kalau kita menginap di Albergue, mereka akan meminta kita menunjukkan bukti kita memiliki Credential. Tanpa Credential ini kemungkinan besar kita akan ditolak menginap di Albergue. Setelah kita menyerahkan Credential, mereka akan memberi tanggal dan membubuhkan cap di Credential kita.

Selain untuk keperluan menginap di Albergue, Credential ini juga menjadi syarat kalau kita ingin memperoleh Sertifikat / Compostela dalam Bahasa Latin ketika kita tiba di Santiago. Syarat untuk memperoleh Compostela ini adalah minimal sudah melakukan ziarah dengan berjalan kaki sejauh 100km dan atau 200km kalau bersepeda. Oleh karena itu banyak sekali peziarah yang memulai perjalanan dari Sarria yang berjarak 115 km.

Kadang saya merasa mengejar cap / stempel ini mirip kalau lagi di pasar malam kita diminta mengumpulkan cap / stempel dari beberapa kiosk agar bisa memperoleh hadiah / discount tertentu :). Kadang juga ada rasa kompetisi saling berlomba mengumpulkan cap terbanyak, padahal tidak ada hadiahnya bagi yang mengumpulkan sedikit atau banyak cap :).

Di beberapa tempat kita bisa dengan mudah menemukan cap ini diletakkan di pintu depan café / gereja, namun di beberapa café kita baru bisa memperoleh cap kalau kita membeli makanan atau minuman.

Satu catatan penting: setelah melalui kota Sarria, kita diwajibkan untuk memperoleh minimal 2 cap / stempel per hari.

Next…

1 thought on “Camino de Santiago: 2.4. Necessary documents and permits

Leave a comment