Camino de Santiago: 1.1 What is Camino de Santiago? What is Camino Frances?

Bagian pertama:

I.     Introduction

1.1       What is Camino de Santiago? What is Camino Frances?

Tulisan saya ini akan saya mulai dengan menguraikan sedikit mengenai apa sih Camino de Santiago itu? Dan apa pula bedanya dengan Camino Frances? Saya sendiri awalnya bingung, kok title di YouTube kadang ditulis Camino de Santiago tapi ada juga yang menuliskan Camino Frances, Camino Portuguese, Camino del Norte dll? Apa itu dan apa bedanya?

Camino de Santiago, atau dalam Bahasa Inggris disebut juga “The Way of Saint James” atau “Jalan Santo Yakobus”, adalah merupakan suatu jaringan jalur ziarah kuno yang pada akhirnya berpusat di kota Santiago de Compostela, di bagian barat laut Spanyol. Saya katakan “jaringan jalur ziarah”, karena ada banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menuju kota Santiago de Compostela. Mirip lah seperti pepatah banyak jalan menuju Roma :). Ada puluhan jalur, namun yang paling popular ada 10 jalur.

Lha terus apa hubungannya jalur2 itu dengan kota Santiago de Compostela dan Santo Yakobus?

Jadi konon ceritanya, pada periode Abad Pertengahan, Santo Yakobus yang merupakan salah satu dari dua belas Rasul Yesus, bersama dengan dua orang pengikutnya dipercaya dimakamkan di Cathedral of Santiago de Compostela. Oleh sebab itu, sejak 1000 tahun lalu, berbondong2 manusia dari berbagai daerah dari seluruh Eropa dan bahkan dunia, melakukan perjalanan ziarah untuk memberikan penghormatan kepada Santo Yakobus Yang Agung. 

Nah dari 10 jalur popular, yang nanti akan saya uraikan secara singkat di bawah, kami sendiri menjalani jalur Camino Frances. Jalur Camino Frances ini dimulai dari kota kecil Saint Jean Pied de Port, di bagian selatana negara Perancis hingga ke kota Santiago de Compostela dengan jarak sekitar 500 miles (800 kilometer) yang ditempuh dengan… berjalan kaki.

Kami memilih Camino Frances ini bukan karena memang secara sengaja memilih jalur ini, tetapi karena kami tidak tahu jika ada begitu banyak jalur menuju Santiago . Ketika itu kata Camino de Santiago inilah yang pertama mampir di telinga saya, jadi saya tahunya ya Camino de Santiago. Terus cari2 di YouTube sebagian besar video2 yang ditampilkan adalah sharing dari perjalanan ziarah melalui route Camino Frances. Kadang ada yang memberi judul lengkap Camino de Santiago – Camino Frances, tapi lebih banyak yang tidak menuliskan Camino Frances, seakan-akan jalur Camino de Santiago ini hanya satu . 

Maka jadilah kami menjalani Camino Frances tanpa tahu bahwa banyak jalur menuju Santiago de Compostela… wkwkwk… kacau yaaa… 

Nah dengan penjelasan saya nanti, saya harap pembaca akan jauh lebih ahli sebelum nanti menjalani ziarah ini.

Semoga penjelasan ini bisa memberikan gambaran mengenai perbedaan antara Camino de Santiago dan Camino Frances, serta Camino2 lainnya yang akan saya uraikan secara singkat di bawah ketika berbicara mengenai Route.

1.2       Why did I walked the Camino?

Pertanyaan paling dasar yang saya terima dari teman2 adalah bagaimana dan mengapa saya menjalani ziarah ini?

Banyak teman2 yang bingung, ngapain sih Guntur ini bela2in menyiksa diri berjalan kaki ratusan kilometer atau puluhan kilometer setiap hari selama sebulan lebih? 

Ketika saya bertemu dengan beberapa teman2 SMA pada pertengahan November 2023, setelah saya kembali dari Camino, tidak ada satupun yang menganggap ziarah saya ini hal yang normal. Secara umum response teman2 hampir sama: ”Gillaaaa …”, “Sinting…”, ”Sarappp… “, “Pengangguran…”, “Gak ada kerjaan…” dan sejenisnya lahhh… hahahahahaha… 

Tapi sedikitpun saya tidak sakit hati… Karena seperti ini pula response saya ketika pertama kali mendengar mengenai Camino de Santiago sekitar 5 – 6 tahun silam, jauh sebelum kita semua mengalami wabah Covid yang mengerikan itu… Jadi sayapun ketika itu menggila-gilakan teman saya yang pertama kali memperkenalkan kata itu di telinga saya… bwahahahaha…

Kejadiannya kurang lebih begini: 

Saat itu, sebelum terjadinya wabah Covid yang mengerikan itu, suatu pagi ketika saya sedang JJP (Jalan Jalan Pagi) bersama dengan teman2 di lingkungan perumahan saya, salah seorang teman tiba2 mengajak ziarah: “Eh kita ziarah ke Camino de Santiago yukkk…” katanya waktu itu.

Saya diam saja, karena saya bukan orang yang religious seperti teman2 JJP saya, sehingga saya tidak terlalu menanggapi ajakan ini. Namun ketika ada yang bertanya apa itu Camino de Santiago dan beliau menjelaskannya, saya terperanjat. “Itu lho ziarah yang tiap hari jalan kaki sejauh 700 kilometer (waktu itu beliau hanya mengatakan 700 kilometer), jadi TIAP HARI kita harus jalan kurang lebih 25 – 30 kilometer untuk menuju ke kota berikutnya hingga tiba di Santiago”… Begitu penjelasannya… seketika telinga saya berdiri… JALAN TUJUH RATUS KILOMETER… TIAP HARI 25 – 30 kilometer ??? Ciyussss luuuu…

Saya langsung nyeletuk:”Gilaaaaaakkkk… seriussss…. 700 kilometerrrr ??? Setiap hari kudu jalan 25 – 30 kilometer????!!!!”

“Iyaaaa…”, jawab teman saya santaii…

Saya benar2 terperanjat ketika itu. Ajakan itu benar2 tidak masuk di akal sehat saya. Coba, ngapain tiap hari selama sebulan lebih jalan kaki 25 – 30 kilometer??? Edannn… ide gak masuk akal… sinting… sarappp… dan semua yang sekarang diucapkan teman2 ke saya itu keluar berhamburan… wkwkwkwk….

Coba teman2 bayangkan… semisal tidak ada angin tidak hujan, ada teman yang ngajakin ziarah seperti itu, bagaimana kira2 tanggapan teman2? Kalau ngajakin ziarah aja sih mungkin masih bisa dipertimbangkan ya, tergantung kapan dan kemana? Tapi kalau lanjutannya ada tambahan TIAP HARI harus jalan 25 – 30 kilometer selama sebulan lebih… saya yakin bakal keluar juga tuh kata2 yang sama… wkwkwkwk…

Saya ketika itu termasuk orang yang paling lemah dan lambat kalau jalan pagi bareng di Group JJP kami. Sementara bapak2 yang lain sudah terbiasa jalan pagi, dan dengan pace (kecepatan) tinggi, saya termasuk anak kemarin sore yang baru belajaran jalan pagi. Setiap kali saya mencoba mengikuti pace bapak2 itu, saya bakal cuti JJP tiga hari karena kaki saya sakit semua. Jadi ide itu saya anggap benar2 GILA… dalam artian sebenarnya :).

Setelah itu, setiap kali teman saya mengungkapkan ide ini, saya tidak meresponse. Cuma mbatin… GENDENG!!! Wakakakak…. Ngapain meresponse hal gila, ya nggak ?. Mending membahas hal2 yang normal2 saja kan ya :).

Saya kemudian melupakan sama sekali ide Camino de Santiago ini… total lupa.

Hingga kurang lebih 1 tahun lalu, sekitar pertengahan tahun 2022, ketika saya sedang browsing video2 di YouTube, yang suka kepo menyodorkan video2 random ke kita, ehhhh tiba2 muncul satu video mengenai seorang Ibu menjalani ziarah ini. 

Anehhh… padahal biasanya YouTube menyodorkan random video berdasarkan video2 yang kita tonton sebelumnya, atau dari keyword yang kita ketikkan, seingat saya sudah lama tidak mencari informasi mengenai Camino… jadi aneh juga kok tiba2 nyelip satu video sharing mengenai perjalanan ke Camino…

Iseng saya click, ehhh… ternyata isinya cukup menarik, mengenai seorang Ibu berusia sekitar 60 tahunan sedang menjalani ziarah Camino ini. Dia mendokumentasikan hari demi hari perjalananan ziarahnya dari Saint Jean Pied de Port hingga Santiago dalam 37 hari… SENDIRIAN !!!! Wowww… pikir saya, hebat benar si Ibu ini. 

Dari satu video hari pertama perjalanan si Ibu ini, penasaran saya click berikutnya, eh tambah penasaran saya click lagi video berikutnya dan berikutnya hingga tuntas keseluruhan serinya saya tonton terus menerus dalam 2 atau 3 hari non-stop . Setelah itu, saya mulai iseng menonton video2 lain seputar Camino ini.

Ide yang tadinya saya anggap gila, yang tadinya sudah hilang dari ingatan saya, pelan2 mulai muncul lagi, semakin jelas dan masuk akal bagi saya. Secara perlahan2 tumbuh rasa penasaran di benak saya… “Hmmm… menarik juga ya… Gila juga ya… Kuat gak ya… kuat gak jalan 25 – 30 kilometer tiap hari… Kuat gak ya???”… wkwkwk… Pikiran ini berputar-putar di benak saya. 

Bukan mau refleksi diri, atau mencari jati diri atau mendekatkan diri ke Sang Pencipta atau hal2 religius lain lho, tapi “Kuat gak yaaaaaa???…”

Itu aja… hanya rasa penasaran, kuat gak jalan 20 – 30 kilometer SETIAP HARI !!!!

Kenapa kok saya penasaran sekali dengan hal ini? 

Selama hidup saya, saya pernah melakukan hal2 yang juga dianggap gila oleh teman2 saya, seperti hiking ke Angels Landing, Zion National Park yang termasuk Top 10 Dangerous Hiking di US, kemudian belajar terbang menggunakan pesawat yg lebih mirip shopping cart, belajar paragliding sampai babak belur jatuh bangun, hiking ke Kinabalu padahal bukan pendaki Gunung dan hal2 lain yang “kurang normal”… akan tetapi baru satu ini benar2 membuat saya berpikir panjang… KUAT GAK YA??? 

Kenapa saya kok ragu atas kemampuan saya?

Karena sekitar 5 tahun lalu, saya pernah melakukan hal yang ketika itu saya anggap gila, yaitu jalan pagi setiap hari selama sebulan dengan jarak rata2 per hari sekitar 12 kilometer atau kurang lebih 15.000 langkah tiap hari. Saya lakukan selama sebulan penuh, setiap pagi mulai dari pukul 4.30 pagi hingga sekitar pukul 8.00, baik lagi cerah atau hujan. Dan hasilnya, setiap malam kaki penuh tempelan koyo dan obat gosok, setiap bangun pagi, kaki terasa sakit dimana2. 

Itu baru sekitar 12 kilometer per hari, bagaimana kalau 20, 30 atau 35 kilometer??? Ini 2 – 3x lipat… Hmm… kuat gak ya???…

Itulah motivasi awal saya menjalani ziarah ini… kemudian pelan2 muncul juga keinginan untuk refleksi diri. Kebetulan tahun ini saya memasuki umur 60 tahun, salah satu indikasi bahwa saya sudah memasuki masa Remaja… wkwkwkwk… Jadi ada juga keinginan untuk merenung atas apa yang telah saya lakukan atau capai selama ini…  Jiahhhh…

Tidak ada yang istimewa kan ya :). Hanya rasa penasaran apakah saya masih KUAT atau tidak menjalaninya. Sedangkan istri saya lebih jelas motivasinya, dia ingin membawa atensi / doa2 bagi orang2 yang dikasihinya. Setiap hari dari pagi hingga siang dia berdoa, sementara saya menemani sambil mendengarkan music :).

Next…

1 thought on “Camino de Santiago: 1.1 What is Camino de Santiago? What is Camino Frances?

Leave a comment